Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Hustle Culture, Kebiasaan Gila Kerja yang Bahayakan Tubuh

Hustle Culture, Kebiasaan Gila Kerja yang Bahayakan Tubuh

Anda mungkin punya kolega yang selalu mementingkan pekerjaan di atas segalanya. Sampai-sampai, ia sering kerja berlebihan hingga larut malam demi menyelesaikan tugas lebih cepat dari tenggat waktu. Memang, sekilas kebiasaan dari hustle culture ini dapat mendorong produktivitas pekerja. Namun, apakah dampaknya sepadan dengan usaha yang telah dilakukan?

Mengenal hustle culture pada kalangan pekerja

menghadapi stres lembur kerja dari kebiasaan hustle culture

Menurut Cambridge Dictionary, hustle sendiri secara harfiah berarti bertindak cepat dengan berenergi.

Hustle culture” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan bekerja melebihi target yang telah menjadi gaya hidup.

Orang-orang yang menerapkan budaya kerja ini percaya, sekadar menyelesaikan tugas dengan baik saja belum cukup. Sukses baru bisa tercapai bila mereka mengerahkan kemampuan yang maksimum pada pekerjaan.

Mereka akan sangat perfeksionis dan memastikan segala pekerjaan selesai sesempurna mungkin sekalipun ini akan merenggut sebagian besar waktu istirahat mereka.

Hustle culture sebenarnya telah terjadi selama bertahun-tahun di kalangan pekerja. Namun, fenomena ini baru ramai dikenal beberapa tahun belakangan.

Maraknya fenomena hustle culture tidak lepas dari campur tangan teknologi, terutama setelah masa pandemi.

Kemudahan teknologi memungkinkan para pekerja dalam berkomunikasi tentang pekerjaan kapan pun dan di mana pun tanpa harus bertatap muka.

Karena hal ini, para pekerja diharapkan mampu meningkatkan produktivitas. Toh, mereka tak perlu lagi melakukan perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Alhasil, waktu bekerja jadi lebih banyak.

Adanya media sosial juga memainkan peranan penting dalam hustle culture. Banyak orang berlomba-lomba untuk menunjukkan pencapaiannya di berbagai platform media sosial.

Pernyataan semacam “no pain no gain” yang kerap digaungkan oleh figur-figur berpengaruh dijadikan inspirasi bagi banyak anak muda untuk terus mengejar kesuksesan.

Mungkin hal-hal tersebut bisa menjadi motivasi yang mendorong semangat kerja. Namun, hustle culture juga bisa menjerumuskan Anda ke dalam lingkaran burnout.

Dampak hustle culture untuk kesehatan

hustle culture adalah

Beberapa orang menganggap bahwa menerapkan hustle culture artinya mereka semakin dekat menuju jalan yang memudahkan kesuksesan.

Padahal, ada berbagai dampak negatif yang bisa terjadi akibat terlalu sibuk bekerja, baik dari segi fisik maupun mental.

Hustle culture bisa membuat seseorang selalu merasa kurang atau tak cukup berusaha. Ditambah dengan adanya media sosial, kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain semakin meningkat.

Sebagai contoh, salah satu teman Anda berhasil mendapatkan promosi atau pindah ke kantor baru yang lebih bergengsi.

Anda yang tadinya merasa baik-baik saja karena masih bisa bertahan di tengah ketidakpastian pandemi jadi berkecil hati.

Anda pun mulai berpikir, andai saja Anda berusaha lebih keras, Anda bisa mendapatkan posisi yang lebih baik daripada saat ini.

Ketika Anda membiarkan diri tenggelam dalam hustle culture, tanpa sadar Anda kehilangan kendali atas diri sendiri.

Hidup seakan bergantung pada tuntutan pekerjaan, tenggat waktu, atau keharusan untuk menyenangkan atasan dan orang lain.

Ujungnya, Anda akan dirundung kecemasan yang berlebihan akan pandangan atasan mengenai diri Anda.

Anda selalu khawatir sang atasan tidak menyukai hasil pekerjaan Anda, apalagi jika Anda tidak sanggup mengerjakan tugas sesuai dengan tenggat waktu.

Dengan kata lain, Anda terus memiliki kekhawatiran tentang masa depan atau penyesalan tentang hal-hal yang telah berlalu. Segala tekanan ini lama-kelamaan dapat membentuk stres yang tidak perlu.

Akhirnya, stres berdampak pada tubuh, menimbulkan lelah dan melemahkan kemampuan Anda dalam beraktivitas.

Alih-alih memberikan performa yang lebih baik, berbagai tekanan itu malah menjadi bumerang yang membahayakan posisi Anda.

Dampak hustle culture tak cuma mengenai kesehatan mental Anda, tapi juga kesehatan fisik. Bekerja lembur sampai larut malam sudah sering dikaitkan dengan risiko gangguan kesehatan.

Berbagai kondisi seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penyakit infeksi, atau masalah detak jantung yang tidak teratur rentan menyerang orang-orang yang bekerja terlalu keras. Bahkan, sudah ditemukan beberapa kasus kelelahan yang berujung kematian.

Cara menghindari hustle culture

istirahat santai

Meski bisa mendorong produktivitas, nyatanya hustle culture bukanlah jaminan untuk keberhasilan Anda. Sebelum jatuh dalam jebakannya, lakukan hal-hal berikut ini.

1. Tentukan arti sukses bagi Anda sendiri

Bila Anda mulai merasa jatuh ke dalam siklus bekerja yang negatif, barangkali ini saatnya Anda mempertimbangkan kembali arti sukses dan cara untuk menggapainya.

Sukses tak selalu harus dicapai dengan bekerja 80 jam per minggu sebagaimana yang dikatakan oleh Elon Musk.

Lebih baik, tetapkan tujuan Anda dan pikirkan langkah-langkah yang tidak akan terasa menyiksa saat Anda menjalaninya.

Pastikan hal yang ingin dituju tidak membuat Anda kehilangan waktu untuk merawat diri atau mengganggu waktu Anda dengan orang-orang terdekat.

2. Buat jadwal bekerja dan beristirahat

menjaga stamina

Coba rencanakan kegiatan sehari-hari Anda sampai seminggu ke depan. Buat jadwal akan berapa lama Anda bekerja dalam sehari dan pada jam berapa Anda akan beristirahat.

Sebagai contoh, Anda mulai bekerja pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Selipkan waktu berisitrahat selama beberapa menit atau satu jam di antara jam bekerja.

Anda juga bisa meluangkan waktu di malam hari untuk menulis apa saja yang telah Anda kerjakan di siang hari.

Bila ternyata waktu istirahat Anda kurang, rencanakan agenda bersantai di akhir pekan atau jadwalkan kegiatan selingan di antara hari-hari bekerja.

Dengan begitu, Anda tidak akan tergoda untuk menerapkan hustle culture. Pasalnya, Anda sudah memblokir slot waktu khusus untuk diri sendiri.

3. Lakukan hal yang menyenangkan dan menenangkan

Jangan lupa, temukan hobi sehat yang dapat mengalihkan perhatian Anda dari mumetnya pekerjaan.

Cobalah hal-hal yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya atau wujudkan hal yang sudah ingin dilakukan sejak dahulu, misalnya mendaftar kursus memasak.

Selain itu, latihan teknik-teknik menenangkan diri juga penting. Beberapa latihan seperti meditasi atau yoga bisa membantu membuat pikiran lebih tenang.

Bila dilakukan dalam jangka panjang, manfaatnya pun dapat bertahan lebih lama.

Sembari itu, jangan lupa batasi kegiatan di media sosial. Mulailah merekatkan hubungan Anda dan orang-orang terdekat dengan menghabiskan waktu bersama.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What is Hustle Culture and How Does it Impact Your Health? (2020). Right as Rain by UW Medicine. Retrieved June 24, 2022, from https://rightasrain.uwmedicine.org/life/work/hustle-culture

Why We Need to Address Hustle Culture. (2021). Psychology Today. Retrieved June 24, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-shameless-psychiatrist/202107/why-we-need-address-hustle-culture

The ‘Rise and Grind’ of Hustle Culture. (2019). Psychology Today. Retrieved June 24, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-right-mindset/201910/the-rise-and-grind-hustle-culture

The Truth About The Hustle Culture. (2021). Taylor’s University. Retrieved June 24, 2022, from https://university.taylors.edu.my/en/campus-life/news-and-events/news/the-truth-about-the-hustle-culture.html

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 2 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa