4 Jenis Vaksin yang Direkomendasikan untuk Lansia

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020
Bagikan sekarang

Tidak hanya anak-anak yang butuh imunisasi, kakek dan neneknya pun juga. Pasalnya, sistem imun tubuh akan semakin melemah seiring kita bertambah tua. Inilah yang menyebabkan orang tua lebih rentan sakit dan terinfeksi. Vaksin alias imunisasi bisa menjadi cara yang tepat mencegah lansia tertular penyakit agar bisa lebih produktif di masa senjanya. Apa saja vaksin untuk lansia yang direkomendasikan oleh dokter?

Rekomendasi jenis vaksin untuk lansia

Vaksin terbuat dari mikroba penyebab penyakit (entah virus, jamur, racun, atau bakteri; tergantung dari jenis penyakit yang ingin dicegah) yang telah dilemahkan atau mati sehingga tidak akan menyebabkan penyakit.

Di dalam tubuh, vaksin bekerja meniru terjadinya infeksi penyakit itu untuk memicu sistem imun tubuh membangun perlawanan terhadapnya. Hal ini kemudian membuat tubuh selalu bersiap atas serangan penyakit yang sebenarnya karena sudah “ingat” organisme mana yang berbahaya dan perlu diberantas.

Beberapa vaksin yang direkomendasikan untuk lansia, yaitu:

1. Vaksin flu

Meski umum dan seringkali diremehkan, flu bisa mematikan jika gejalanya terus dibiarkan. Apalah pada lansia yang sistem imunnya sudah lebih lemah, sehingga flu akan lebih sulit dan lama sembuhnya.

Beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes dan penyakit jantung juga makin melemahkan daya tahan tubuhnya sehingga bisa memperburuk flu bahkan menyebabkan komplikasi, seperti pneumonia.

Virus influenza bisa dicegah dengan vaksin flu, yang bisa didapatkan satu kali setiap tahun. Tubuh lansia butuh waktu sekitar dua minggu untuk merespons vaksin dan membangun kekebalan tubuhnya.

2. Vaksin herpes zoster

Vaksin herpes zoster perlu orang tua Anda dapatkan, terlebih apabila ia sudah pernah terkena cacar air di masa mudanya. Virus cacar air bisa terus berdiam dalam tubuh selama bertahun-tahun, bahkan setelah Anda sembuh, dan “kambuh” di kemudian hari dalam versi cacar ular alias herpes zoster. Ya! Baik cacar air dan cacar ular (herpes zoster) sama-sama disebabkan oleh satu virus, yaitu Varicella virus.

Virus ini bisa bertambah kuat seiring dengan kekebalan tubuh lansia yang melemah. Komplikasi yang paling umum terhadap penyakit ini adalah neuralgia postherpetik, yang ditandai dengan nyeri kronis selama berbulan-bulan setelah herpes zoster akut.

Itu sebabkan lansia juga perlu mendapatkan vaksin herpes zoster apabila belum pernah mendapatkannya. Vaksin ini diberikan kepada orang berusia 50 sampai 60 tahun, baik dalam keadaan sehat maupun sedang menderita herpes sekalipun.

Kemanjuran vaksin ini bertahan selama lima tahun.

3. Vaksin pneumococcal

Vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptocossus pneumoniae atau lebih sering disebut kuman pneumokokus. Vaksin pneumococcal berfungsi mencegah pneumonia (infeksi paru-paru), meningitis (infeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang), dan sepsis (infeksi darah).

Penyakit akibat bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan ketulian, kerusakan otak, kehilangan anggota tubuh, dan bahkan kematian.

Biasanya, vaksin untuk lansia ini diberikan dalam dua tahapan, yaitu vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan vaksin pneumokokus jenis polisakarida.

4. Vaksin hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi virus menular yang bisa menyebabkan kerusakan hati. Vaksin hepatitis B dibutuhkan lansia karena organ hati dan fungsinya mengalami penurunan akibat penuaan alami, sehingga membuatnya rentan terinfeksi virus.

Seorang lansia juga rentan tertular hepatitis B apabila sudah lebih dulu punya penyakit hemofilia, diabetes, ginjal, dan penyait lainnya yang menyebabkan daya tahan tubuhnya melemah.

Vaksin hepatitis B pada umumnya sudah diberikan sejak bayi dengan tiga atau empat rangkaian suntikan selama enam bulan. Namun, bila Anda tidak yakin bahwa dirinya sudah mendapatkan vaksin ini atau belum, konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan vaksin ini lagi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Kelebihan dan Kekurangan Panti Jompo untuk Lansia

Istilah panti jompo untuk lansia mungkin sudah tidak asing, tetapi jarang diperbincangkan di Indonesia. Apa saja kelebihan dan kekurangan fasilitas ini?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Jalan Panjang Indonesia dalam Membuat Vaksin COVID-19

Sudah banyak lembaga dan negara meneliti untuk mengembangkan vaksin COVID-19, termasuk Indonesia. Bagaimana Indonesia membuka jalan dalam mencari vaksin?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 30/04/2020

5 Tips Memilih Perawat yang Tepat untuk Lansia

Pastikan orang yang terkasih berada dalam penanganan yang tepat, berikut adalah hal yang harus dipertimbangkan saat memilih perawat lansia.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Masalah Tidur Lansia: Sering Mengantuk dan Banyak Tidur Siang

Lansia sering memiliki masalah tidur, terlihat mengantuk dan banyak tidur di siang hari. Kalaupun tidak tertidur, lansia sering menguap dan terlihat lesu.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Direkomendasikan untuk Anda

kebutuhan vitamin dan mineral

Ragam Vitamin dan Mineral yang Baik untuk Sistem Imun Lansia

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
aktivitas sehat otak lansia

Perkuat Otak Lansia dengan Rutin Melakukan Aktivitas Sehat Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020
vaksin covid-19 indonesia

Apa Bedanya Vaksin mRNA dengan Vaksin Biasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020
vaksin untuk pasien ginjal

Mengapa Pasien Ginjal Perlu Diberikan Vaksin Tertentu? Ini Penjelasannya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020