Kulit Gatal Berlebihan Hingga Mengelupas Setelah Minum Obat? Waspada Gejala Stevens-Johnson Syndrome

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Sindrom Steven-Johnson (SJS) termasuk penyakit yang cukup jarang di Indonesia, namun merupakan kondisi yang serius. Penyakit ini menyebabkan kulit penderitanya gatal-gatal, melepuh, bahkan sampai mengelupas akibat dari reaksi berlebihan terhadap obat dan infeksi tertentu.

Orang yang terkena Stevens-Johnson Syndrome harus buru-buru dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sedangkan masa pemulihannya bisa memakan waktu berminggu-minggu. Bahkan jika gejalanya sangat parah, penyakit ini bisa mengakibatkan kematian. Baca terus untuk mengetahui sindrom Steven-Johnson selengkapnya.

Apa itu sindrom Steven-Johnson?

Sindrom Stevens-Johnson adalah suatu sindrom (kumpulan gejala) langka yang terjadi karena kulit dan membran mukosa menimbulkan reaksi berlebihan terhadap suatu obat atau infeksi. Membran mukosa adalah lapisan kulit dalam yang melapisi berbagai rongga tubuh yang memiliki kontak dengan lingkungan luar dan organ internal tubuh. Di beberapa bagian tubuh, membran mukosa menyatu dengan kulit, misalnya pada lubang hidung, bibir, pipi dalam, telinga, daerah kemaluan, dan anus.

Apa saja tanda dan gejala sindrom Steven-Johnson?

Sindrom ini diawali dengan gejala mirip flu seperti demam, batuk, mata terasa panas, dan radang tenggorokan. Namun setelah beberapa hari akan  diikuti ruam merah atau keunguan di kulit yang terasa sakit dan menyebar atau bahkan melepuh, nyeri persendian, hingga pembengkakan di wajah dan lidah. Dalam berbagai kasus, sel-sel di lapisan kulit terluar akan mati sehingga kulitnya mulai mengelupas.

Apa saja penyebab munculnya sindrom Steven-Johnson?

Sindrom langka ini umumnya dipicu oleh penggunaan obat. Ada beberapa jenis obat-obatan yang paling sering memicu sindrom Steven-Johnson antara lain adalah sebagai berikut:

  • Obat-obat anti-asam urat, misalnya allopurinol
  • Obat-obat Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS) yang banyak dipakai untuk meredakan nyeri, misalnya asam mefenamat, ibuprofen, asam salisilat, piroxicam
  • Obat antibiotik, khususnya Penicillin
  • Obat kejang, biasanya dipakai oleh pengidap epilepsi.

Meski demikian, gejala Steven-Johnson pada sebagian orang bisa juga dipicu oleh infeksi virus atau kuman tertentu, antara lain sebagai berikut.

Dalam kasus tertentu, Stevens-Johnson Syndrome juga bisa dipicu oleh rangsang fisik seperti radioterapi dan sinar ultraviolet. Namun kadang-kadang, penyebab pastinya tidak selalu bisa dipastikan sehingga sulit untuk dicegah. 

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat sindrom Steven-Johnson?

Beberapa komplikasi yang akan muncul akibat sindrom Steven-Johnson, yaitu:

  • Infeksi kulit sekunder (selulitis). Selulitis dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa, termasuk sepsis.
  • Infeksi darah (sepsis). Sepsis terjadi ketika bakteri dari infeksi memasuki aliran darah Anda dan menyebar ke seluruh tubuh Anda. Sepsis adalah kondisi yang cepat berkembang dan mengancam jiwa yang dapat menyebabkan kegagalan perfusi dan organ.
  • Masalah mata. Ruam yang disebabkan oleh sindrom Stevens-Johnson juga dapat menyebabkan peradangan di mata Anda. Dalam kasus ringan, sindrom ini bisa menyebabkan iritasi dan mata kering. Pada kasus yang parah, dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang luas dan jaringan parut yang menyebabkan gangguan penglihatan bahkan kebutaan.
  • Keterlibatan paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal napas akut.
  • Kerusakan kulit permanen. Ketika kulit Anda tumbuh kembali, mungkin ada kulit Anda tidak akan bisa 100 persen kembali seperti semua. Umumnya terdapat benjolan, kelainan warna, dan sangat mungkin akan menimbulkan bekas luka. Selain masalah kulit, sindrom ini juga akan menyebabkan rambut Anda rontok, dan kuku jari tangan dan kuku kaki Anda mungkin tidak tumbuh normal.

Bagaimana cara pengobatan sindrom Stevens-Johnson?

Pertolongan pertama untuk mengatasi alergi obat pada sindrome Stevens-Johnson adalah menghentikan konsumsi obat yang memicu alergi. Selanjutnya, penderita sindrom Steve Johnson harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Beberapa obat yang biasanya diberikan dokter untuk mengatasi sindrom Steven-Johnson adalah memberikan obat antialergi (antihistamin) untuk meredakan gejala, atau kortikosteroid untuk mengontrol peradangan yang terjadi jika gejalanya cukup parah.

Selain itu, terapi penunjang yang diberikan di rumah sakit meliputi rehidrasi atau penggantian cairan tubuh yang hilang dengan menggunakan infus. Jika terjadi luka, lapisan kulit mati harus dibersihkan kemudian lukanya ditutup dengan perban supaya tidak terjadi infeksi.

Bagaimana cara mencegah sindrom Steven-Johnson?

Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk mencegah sindrom langka ini, yaitu:

  • Umumnya bagi masyarakat Asia, dianjurkan untuk melakukan uji genetika sebelum mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti carbamzepine.
  • Konsultasikan ke dokter jika Anda memang memiliki riwayat penyakit ini.
  • Hindari mengonsumsi obat-obatan yang bisa memicu kekambuhan jika sebelumnya Anda pernah mengalami sindrom Steven-Johnson. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Bedanya Eksim Basah dan Eksim Kering?

Eksim adalah kondisi peradangan kulit yang membuat kulit gatal, memerah, dan pecah-pecah. Lantas, apa bedanya eksim kering dan eksim basah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Ciri Kulit Sensitif dan 8 Cara Jitu Mengatasinya

Ciri kulit sensitif termasuk ruam kemerahan dan gatal-gatal setelah memakai produk perawatan kulit atau produk wewangian. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Kecantikan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Penyebab Telinga Gatal dan Cara Mengobatinya

Jika telinga Anda gatal, jangan digaruk atau dicungkil dengan jari. Ketahui dulu, penyebab telinga gatal, baru Anda akan tahu bagaimana cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 7 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Efek Samping Aromaterapi yang Harus Diwaspadai

Terlepas manfaatnya bagi tubuh, romaterapi ternyata menyimpan efek buruk yang dapat merugikan kesehatan. Simak efek samping aromaterapi berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alergi bawang putih

Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
apa itu intuisi

Dari Mana Datangnya Intuisi? Dan Kenapa Harus Kita Turuti?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
bra kawat

Mana yang Lebih Sehat Buat Payudara: Bra Biasa Atau Berkawat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
dermatitis atopik eksim

Dermatitis Atopik (Eksim)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 9 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit