Yang Terjadi Pada Tubuh Jika Anda Kurang Makan Protein

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 21/11/2017 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Protein adalah salah satu nutrisi penting bagi tubuh untuk membantu membangun otot dan jaringan tubuh, Sayangnya, tubuh tidak dapat menyimpan protein dalam waktu lama. Oleh karena itu Anda akan perlu mencukupi kebutuhan protein setiap hari. Lantas, apa jadinya jika tubuh kekurangan protein?

Kelompok orang yang paling rentan mengalami kekurangan protein adalah…

Defisiensi protein adalah suatu kondisi yang umum terjadi ketika seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan protein harian dari makanan sumber protein.

Kekurangan protein juga bisa terjadi ketika seseorang mendapatkan asupan proteinnya dari jenis protein berkualitas rendah. Daging hewan dan beberapa sayuran diketahui mengandung protein, namun jumlah rangkaian asam aminonya sebagai bentuk dasar protein tersebut bisa bervariasi. Hal ini juga memengaruhi asupan protein seseorang.

Pada individu yang sehat, defisiensi protein sangat erat kaitannya dengan pola makan. Diperkirakan 10 juta orang di dunia mengalami defisiensi protein akibat pemilihan jenis makanan harian, dengan proporsi tertinggi di negara berkembang. Risiko defisiensi protein paling tinggi terdapat pada kelompok vegetarian dan vegan.

Akibatnya pada tubuh jika kekurangan protein dari defisiensi protein

Karena protein diperlukan dan digunakan dalam menjalankan berbagai fungsi tubuh, maka defisiensi protein berkaitan dengan berbagai macam gangguan seperti:

1. Gangguan kognitif

Fungsi kognitif otak dapat terganggu ketika Anda tidak mencukupi kebutuhan protein harian. Pasalnya, otak merupakan salah satu organ tubuh yang menggunakan banyak protein untuk bisa berfungsi. Kekurangan protein dapat menghambat produksi hormon pengatur mood dan ketajaman berpikir.

2. Bengkak di bagian tubuh tertentu

Defisiensi protein menyebabkan Anda rentan kekurangan serum albumin. Serum albumin merupakan salah satu jenis protein yang disimpan dan diedarkan dalam darah. Kekurangan albumin dapat menyebabkan munculnya pembengkakan di bagian tubuh yang terpengaruh.

Pembengkakan atau edema tersebut juga dapat terjadi pada sekitar rongga perut yang merupakan tanda dari penyakit kwashiorkor.

3. Perlemakan hati

Perlemakan hati biasanya disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol dalam jumlah banyak. Namun hal ini juga bisa disebabkan oleh defisiensi protein.

Tubuh yang kekurangan protein tidak mampu memproduksi cukup lipoprotein, protein yang bertugas untuk mengangkut lemak. Akibatnya, penumpukan lemak pada hati dapat menyebabkan kegagalan fungsi hati.

4. Rambut, kulit, dan kuku mudah rapuh

Protein adalah zat gizi yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan rambut, kulit dan kuku. Itu sebabnya, defisiensi protein dapat menyebabkan masalah kulit kering, kuku kusam dan mudah patah, perubahan tekstur rambut, hingga rambut yang lebih gampang rontok.

5. Gampang sakit

Sel darah putih bertanggung jawab sebagai pasukan pelindung imun tubuh. Ketika tubuh kekurangan protein, produksi sel darah putih juga akan mengalami penurunan. Akibatnya tubuh akan lebih rentan sakit akibat infeksi kuman dan virus pembawa penyakit.

6. Asupan nutrisi lainnya jadi tidak seimbang

Defisiensi protein dapat menghambat fungsi peredaran nutrisi lainnya ke setiap bagian tubuh. Jika terjadi dalam waktu yang lama, maka keseimbangan nutrisi tubuh dapat terganggu.

Kekurangan gizi secara umum dapat menyebabkan nafsu makan menurun emosi jadi tidak stabil, sulit tidur (insomnia), serta mudah merasa lemas dapat merasakan penurunan nafsu makan, gangguan emosi, insomnia serta merasa lemas.

Pada anak-anak, kekurangan protein dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya sehingga meningkatkan risiko anak mengalami stunting dan gangguan perkembangan lainnya.

7. Kehilangan masa otot

Jaringan otot tubuh merupakan bagian yang paling banyak menyimpan dan menggunakan protein. Ketika tubuh kekurangan protein, maka protein dalam otot rangka akan diambil secara perlahan untuk memenuhi kebutuhan protein tersebut. Dalam waktu yang lama defisiensi protein dapat menyebabkan penurunan massa otot yang serius.

8. Lebih mudah lapar

Ketika asupan protein tidak mencukupi, Anda jadi lebih mudah merasa lapar. Lapar merupakan insting alami tubuh untuk mengingatkan Anda agar mencukupi asupan gizi. Gampang lapar pada akhirnya sering tidak disadari dapat memicu kegemukan.

Berapa banyak asupan protein yang dibutuhkan tubuh dalam satu hari?

Pada dasarnya kebutuhan protein setiap orang dapat bervariasi bergantung pola aktivitas dan karakteristik tubuh. Untuk mencegah defisiensi protein, seseorang membutuhkan asupan makanan tinggi protein sekitar 0,8 gram protein untuk setiap kilogram berat badan.

Utamakan sumber protein hewani seperti daging, ikan dan susu serta tambahan lainnya dari makanan protein nabati seperti gandum dan kacang-kacangan.

Orang-orang dengan kondisi ini justru harus membatasi asupan protein

Defisiensi protein adalah hal yang harus dihindari jika Anda ingin menjaga kesehatan tubuh tetap optimal. Namun ini bukan berarti Anda harus berlebihan makan protein, terutama jika Anda memiliki penyakit ginjal.

Penyakit ginjal menyebabkan ginjal Anda kesulitan memecah protein. Asupan protein yang berlebihan dapat semakin memberatkan kerja ginjal, yang dapat berakhir pada kegagalan fungsi ginjal.

Hal serupa juga terjadi pada orang-orang yang punya penyakit hati, karena organ tersebut juga berperan dalam mencerna protein. Dengan mengurangi asupan protein, Anda akan meringankan beban kerja hati.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memahami Kebutuhan Protein Bayi dan Pilihan Sumbernya

Sama halnya dengan asupan karbohidrat dan lemak, peran protein di dalam tubuh juga tidak kalah penting untuk bayi. Berapa kebutuhan protein bayi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak 09/04/2020 . 7 menit baca

Mengenal Marasmus, Masalah Gizi Penyebab Kematian Anak

WHO mencatat marasmus adalah penyebab kematian pada 500 ribu anak di negara berkembang. Apa itu marasmus dan apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Parenting, Nutrisi Anak 01/04/2020 . 14 menit baca

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Dalam penularan penyakit tuberkulosis ada yang disebut infeksi TB laten. Apa itu infeksi TB laten? Apakah hal ini berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 31/03/2020 . 6 menit baca

5 Penyakit dari Kucing yang Bisa Menular ke Anak Anda

Bermain dengan kucing memberikan manfaat bagi perkembangan anak. Namun, orangtua tetap perlu waspada karena anak juga bisa tertular penyakit dari kucing.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Anak, Parenting 25/02/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

bakteri pada uang kertas

Mengenal Bakteri pada Uang Kertas dan Koin dan Dampaknya bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . 4 menit baca
gedung perkantoran ditinggal kosong

Ancaman Kesehatan Selain COVID-19 Saat Masuk ke Gedung yang Lama Tak Dihuni

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . 5 menit baca
puasa saat flu saat puasa

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020 . 3 menit baca
kebutuhan protein balita

Panduan Seputar Kebutuhan Protein untuk Balita Usia 2-5 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 10/04/2020 . 7 menit baca