Apakah Makan Makanan Terlalu Pedas Berbahaya Bagi Kesehatan?

Oleh

Menurut beberapa penelitian terbaru, makan makanan pedas dapat memberikan umur panjang.

Sebagai gambaran singkat dari penelitian tersebut, disimpulkan bahwa risiko kematian dini telah menurun sebesar 14 persen jika orang mengkonsumsi makanan pedas 6-7 kali seminggu, dibandingkan dengan mereka yang makan makanan pedas kurang dari sekali seminggu.

Tapi, pernahkah Anda penasaran mengapa makan makanan pedas sering menyebabkan gerah, muka memerah, hidung berair, dan tubuh berkeringat deras?

Otak “bingung” saat kita makan makanan pedas

Makanan pedas merangsang reseptor di kulit yang biasanya menanggapi panas. Kumpulan reseptor ini, yaitu serabut saraf nyeri, secara teknis dikenal sebagai nosiseptor polimodal. Mereka menanggapi suhu ekstrem dan stimulasi mekanik intens, seperti cubitan dan goresan benda tajam; tapi, mereka juga menanggapi pengaruh kimia tertentu. Sistem saraf pusat dapat bingung atau tertipu ketika serat nyeri ini dirangsang oleh bahan kimia, seperti capsaicin yang umum ditemukan dalam cabai, yang memicu respon saraf ambigu.

Jadi, bagaimana otak memutuskan apakah mulut sedang terjepit, tergores, terbakar, atau terpapar bahan kimia? Para ilmuwan tidak yakin bagaimana proses ini bekerja, tapi mereka menduga otak membuat penilaian berdasarkan jenis dan variasi rangsangan yang diterima. Stimulus ke nosiseptor sendiri mungkin menunjukkan temperatur ekstrim dan berbahaya. Tapi, capsaicin juga merangsang saraf yang merespon hanya untuk peningkatan suhu ringan — yang memberikan sedikit rasa hangat atau gerah saat “kepedesan”. Jadi, capsaicin mengirimkan dua pesan ke otak: ‘Saya adalah stimulus yang intens,’ juga sekaligus ‘saya adalah kehangatan.’ Bersamaan, rangsangan ini menentukan sensasi terbakar, bukan cubitan atau luka goresan.

Sistem saraf pusat bereaksi terhadap sinyal apapun yang dikirim sistem sensorik soal apa sedang terjadi. Oleh karena itu, pola aktivitas dari rasa sakit dan serabut saraf hangat memicu kedua sensasi dan reaksi fisik dari panas, termasuk pelebaran pembuluh darah, berkeringat, menangis, dan kulit memerah.

Alasannya, tubuh Anda memandang capsaicin sebagai zat asingyang perlu untuk segera dibilas. Hal ini menyebabkan kelenjar lendir tubuh untuk bekerja ekstra keras memperbaiki “kerusakan”. Hasilnya, hidung meler dan mulut berair, yang diikuti oleh peningkatan air liur dalam mulut.

Selain itu, setelah reseptor nyeri sensitif panas diaktifkan, otak Anda percaya bahwa tubuh Anda terlalu panas dan akan berusaha keras untuk membalikkan kondisi ini. Akhirnya, tubuh akan memicu salah satu pertahanan terbaik terhadap panas: keringat.

Efek makan makanan pedas sama seperti rasa panas akibat kerokan

Kebanyakan orang berpikir soal “sengatan” dari makanan pedas sebagai bentuk dari suatu rasa — seperti asin, manis, asam. Padahal, dua pengalaman sensorik sebenarnya terkait tapi sangat berbeda. Keduanya “menyalakan” saraf-saraf lidah dengan cara yang sama, namun sistem nyeri yang dipicu oleh capsaicin ada di sekujur tubuh, sehingga Anda bisa mendapatkan efek gerah di setiap centimeter lekuk tubuh Anda.

Sebagai perbandingan: beberapa obat gosok mengandung senyawa yang sama-sama dapat merangsang perubahan suhu di kulit. Menthol bertindak dalam banyak cara yang sama seperti capsaicin, tetapi dalam kasus ini, merangsang serabut saraf yang bertugas mengenali suhu dingin, bukan serabut saraf untuk suhu panas. Inilah sebabnya mengapa produk yang mengandung menthol memiliki nama seperti ‘Icy Hot’ — mentol merangsang kedua reseptor panas (nyeri) dan dingin, mengirimkan otak sinyal yang benar-benar ambigu. Perbedaan ini menjelaskan mengapa tidak ada kebingungan bagi tubuh untuk mendeteksi mana yang merupakan stimulasi menthol dan mana stimulasi capsaicin: salah satunya memberikan efek “panas dingin”, sementara yang lainnya hanya memberikan efek panas dan gerah yang membuat emosi bergejolak.

Sensasi yang dihasilkan oleh menthol dan capsaicin merupakan anomali fisiologi manusia — kita jelas tidak mengembangkan reseptor untuk bereaksi terhadap dua senyawa ini. Bahan kimia menipu reseptor rasa sakit yang sebenarnya memiliki tujuan hanya untuk mengenali peristiwa penting dan mengancam keselamatan, seperti kerusakan kulit dan peradangan. Tekstur lunak di sekitar cedera sebagian disebabkan oleh respon saraf yang sama untuk bahan kimia yang dilepaskan di kulit. Manusia adalah makhluk unik — kita dapat memanfaatkan respon saraf yang biasanya memberikan sinyal bahaya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Menariknya, meskipun cabai ditemukan di banyak masakan di seluruh dunia, capsaicin sebenarnya adalah racun saraf dan dalam konsentrasi yang cukup besar dapat menyebabkan kejang, serangan jantung, hingga bahkan kematian.

Apakah makan makanan pedas terlalu sering dalam jumlah banyak membahayakan kesehatan?

Makanan pedas bisa membakar kulit, mulut, perut dan usus Anda — namun tenang, ini hanyalah hiperbolik. Seperti yang telah dijelaskan di atas, capsaicin yang terkandung dalam cabai hanya mengaktivasi serabut saraf yang bertugas memproduksi rasa nyeri dan peningkatan suhu tubuh, tidak benar-benar membakar dinding usus Anda.

Seberapa parah “luka bakar” yang Anda rasakan akan tergantung pada sensitivitas Anda untuk makanan pedas dan berapa banyak cabai yang Anda sentuh atau konsumsi. Dalam beberapa kasus, makanan pedas dapat mempengaruhi atau memperburuk sebuah kondisi medis, yang hanya meningkatkan intensitas gejalanya namun bukan sebagai faktor risiko penyebab penyakit.

Jika Anda memiliki ulkus lambung, sindrom iritasi usus (IBS), atau gangguan pencernaan lainnya, makan makanan pedas dapat menyebabkan begitu banyak sensasi terbakar yang menyakitkan yang mungkin membuat Anda menangis. Jika Anda memiliki GERD, makanan pedas dapat memicu heartburn (asam lambung naik yang menyebabkan tenggorokan terasa panas). Jika Anda memiliki gangguan usus, seperti sindrom iritasi usus atau penyakit Crohn, sensasi “pembakaran” mungkin tidak dimulai sampai makanan mencapai usus Anda dan masuk ke dalam saluran usus Anda.

Beberapa rempah-rempah, seperti mustard dan lobak, jika dikonsumsi dalam jumlah besar benar-benar dapat merusak jaringan, dikutip dari SF Gate.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca