10 Penyebab Kulit Ketiak Anda Menghitam

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Kulit ketiak hitam kadang menyebabkan rendahnya rasa percaya diri. Hal yang menyebabkan kulit ketiak menghitam terkadang tidak kita sadari, padahal mungkin penyebab tersebut sering kita lakukan. Berbeda dengan kulit lain pada tubuh yang biasanya menghitam karena bekas luka atau terbakar matahari, penyebab kulit ketiak menghitam ternyata tidak sama.

Apa saja penyebab kulit ketiak hitam?

1. Beberapa deodoran dan antiperspirant

Beberapa orang mengemukakan bahwa terdapat deodoran dan antiperspirant yang menyebabkan menghitamnya kulit ketiak. Faktanya, ketika mereka berhenti menggunakan deodoran tersebut, terjadi perubahan warna pada ketiak mereka. Meskipun hal tersebut jarang terjadi, namun ada kemungkinan terdapat beberapa komposisi yang menyebabkan menghitamnya kulit ketiak.

2. Acanthonis nigricans

Ini adalah suatu kondisi kesehatan yang dapat membuat hitam kulit ketiak, selangkangan, leher, siku, lutut, buku jari, ataupun pada lipatan kulit. Acanthonis nigricans dapat terjadi pada pria maupun wanita, namun kondisi ini kebanyakan terjadi pada orang yang berkulit gelap dan memiliki obesitas. Hal tersebut berkaitan dengan gangguan produksi insulin dan kelenjar yang mempengaruhi penderita pra-diabetes, diabetes, ataupun mereka yang memiliki kemungkinan diabetes.

3. Hiperpigmentasi

Hiperpigmentasi bisa membuat perubahan warna pada ketiak, pangkal paha, selangkangan, dan area leher menghitam. Hal tersebut terjadi ketika kulit Anda memproduksi melanin, meski biasanya cukup jarang mempengaruhi ketiak.

4. Infeksi bakteri

Erythrasma, infeksi bakteri yang disebabkan oleh corynebacterium minutissimum, menyebabkan adanya bercak coklat kemerahan yang sedikit besisik dengan batas yang tegas. Bercak tersebut terasa agak gatal dan umumnya muncul saat cuaca hangat. Anda akan memiliki kemungkinan lebih besar menderita infeksi ini jika memiliki berat berlebih atau diabetes.

5. Masa kehamilan

Beberapa wanita mengalami ketiak menghitam ketika hamil. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon yang dapat meningkatkan produksi melanin, khususnya estrogen yang meningkatkan produksi melanosit, sel yang memproduksi melanin. Ketiak menghitam pada masa kehamilan merupakan masalah musiman yang tidak hanya menyebabkan warna kulit tidak merata, tetapi juga menghitamnya ketiak, hidung, dan bibir atas.

6. Pakaian ketat, banyaknya sentuhan dan gesekan

Ketika ketiak menggesek sesuatu, hyperkeratosis atau kulit menebal mungkin terjadi sebagai sarana pencegahan tubuh terhadap iritasi gesekan, yaitu hiperpigmentasi pasca-inflamasi.

7. Mencukur

Mencukur merupakan penyebab umum ketiak menghitam. Mencukur tidak bisa mencabut rambut ketiak dari akarnya. Folikel rambut tetap masih terlihat di bawah permukaan ketiak ketika bercukur. Rambut di bawah permukaan kulit akan membuat kulit seolah-olah terlihat lebih gelap, mirip seperti pria yang mencukur wajah mereka.

8. Kumpulan sel kulit mati

Terdapat ribuan lipatan kulit di ketiak yang dikenal sebagai “bukit dan lembah”. Oleh karena itu, ketiak biasanya terlihat dalam. Selain itu, karena kurangnya perawatan, sel-sel kulit ketiak akan kering, pecah-pecah atau mati. Kulit yang mati akan terlihat lebih gelap.

9. Smoker’s melanosis

Ini adalah suatu kondisi yang diakibatkan oleh merokok tembakau. Dalam kasus ini, hiperpigmentasi disebabkan oleh rokok. Bercak hitam muncul di area ketiak selama merokok berlanjut. Ketika Anda berhenti merokok, bercak tersebut akan hilang dengan sendirinya.

10. Krim pencukur rambut

Krim pencukur rambut cenderung dipakai untuk menghilangkan rambut yang tidak diinginkan secara halus. Namun, krim ini juga mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi kulit dan menghitamnya ketiak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Fototerapi, Terapi Cahaya untuk Penyakit Kulit dengan Sinar UV

Pengobatan penyakit kulit dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan fototerapi atau terapi cahaya. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesehatan Kulit 9 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ragam Penyebab Eksim Beserta Faktor Pemicu Kekambuhannya

Eksim membuat kulit memerah, kasar, pecah-pecah, terasa amat gatal, dan sangat kering. Apa sebenarnya penyebab eksim alias dermatitis atopik?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Ciri Kulit Sensitif dan 8 Cara Jitu Mengatasinya

Ciri kulit sensitif termasuk ruam kemerahan dan gatal-gatal setelah memakai produk perawatan kulit atau produk wewangian. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Kecantikan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat ampas teh bagi kecantikan

7 Cara Memanfaatkan Ampas Teh untuk Kecantikan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
dermatitis numularis

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
dermatitis atopik eksim

Dermatitis Atopik (Eksim)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 9 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit