Sementara orang-orang Barat terobsesi dengan kulit cokelat keemasan, kita di Indonesia justru sering kurang menyadari akan betapa dipujanya warna kulit alami kita, dan malah terobsesi memiliki kulit putih.

Fenomena pemutih kulit di Indonesia merupakan sebagian kecil dari industri besar miliaran rupiah yang mendesak wanita untuk menanggapi godaan memiliki kulit putih. Di Indonesia, kulit putih digembar-gemborkan sebagai pendorong kesuksesan, indikator status sosial, kekuasaan, kekayaan, dan yang paling tegas: kecantikan. Pesan yang dibawa cukup jelas. Kulit  bernuansa cokelat gelap memiliki kedudukan yang lebih rendah, dan entah bagaimana dipandang jelek, kotor, bahkan tidak sehat.

Di tengah masyarakat yang menganggap memiliki kulit putih bercahaya adalah simbol kecantikan, semakin banyak wanita yang kini beralih pada produk pemutih kulit guna mencapai dan mempertahankan rona kulit yang selama ini diimpi-impikan. Krim pemutih kulit dilaporkan selalu menjadi primadona di pasar perawatan kulit Indonesia, dengan angka penjualan yang terus menjulang tinggi.

Tapi, banyak orang tidak menyadari bahaya yang mengintai mereka saat mengoleskan adonan bahan kimia ke wajahnya.

Bahan kimia berbahaya apa yang ada di dalam krim pemutih?

Sulit untuk dapat memastikan apa yang terkandung dalam produk pemutih kulit karena produsen sering tidak sepenuhnya mengungkapkan daftar bahan baku yang terlibat. Beberapa bahan (petroleum jelly, vitamin E, dan asam ekstrak buah, misalnya) terbukti tidak berbahaya. Produk-produk ini juga mungkin mengandung bahan-bahan aktif yang dapat mengurangi konsentrasi melanin, sel pemberi warna kulit.

Tetapi, di saat yang bersamaan, beberapa produk krim pemutih mengandung bahan kimia beracun yang dapat menyebabkan efek samping serius — merkuri dan hydroquinone.

Efek merkuri dalam krim pemutih

Meskipun merkuri dikenal sebagai bahan aktif yang dapat mencerahkan warna kulit dan mengurangi noda hitam, logam berbahaya ini mengandung sejumlah efek samping yang mengkhawatirkan.

Penggunaan berlebihan krim pencerah yang mengandung merkuri telah dikaitkan dengan kerusakan otak, masalah ginjal, dan gagal ginjal. Laporan lain menunjukkan bahwa kontak dengan merkuri dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif, sakit kepala, kelelahan, tremor tangan, depresi, mual, produksi air liur berlebih, peradangan lidah dan gusi, dan sejumlah gejala lainnya. Kemungkinan efek samping lain dari penggunaaan produk pemutih kulit mengandung merkuri termasuk pigmentasi refraktori dan kecacatan janin saat digunakan selama masa kehamilan.

Hydroquinone

Kadar hydroquinone tinggi dalam produk pemutih kulit dapat mengelupaskan lapisan teratas kulit dan perlindungan alami kulit terhadap infeksi dan radiasi matahari, juga menghasilkan penampilan kulit belang yang berwarna lebih gelap dan bersifat permanen. Selain itu, hydroquinone merusak urat elastis dalam kulit yang justru akan mendorong proses penuaan dini dan pelemahan struktur kulit secara keseluruhan.

Hydroquinone telah terbukti ampuh dan aman untuk mencerahkan noda dan bintik hitam, stretch mark, hingga perubahan warna kulit akibat penuaan jika dilakukan dalam pengawasan dosis ketat oleh dokter. Namun, zat logam ini tidak boleh digunakan sebagai agen pemutihan kulit gelap.

Paparan berlebihan terhadap hydroquinone dapat menyebabkan neuropati, sebuah penyakit sistem saraf. Lebih lanjut, para ahli percaya bahwa hydroquinone dapat meningkatkan risiko kanker kulit, kerusakan hati dan ginjal saat terserap dalam aliran darah, katarak, perubahan warna kulit, dan dermatitis, jika dibiarkan terkena kontak dengan kulit.

Cara mengenali krim pemutih kulit berbahaya

Krim harus digunakan terus menerus untuk dapat mempertahankan efek pemutihan, jika tidak kulit akan kembali memproduksi pigmen warna asli kulit. Kadang, kulit bahkan bisa menjadi ketergantungan dengan krim tersebut — dalam bentuk ruam saat “sakau” — sehingga akan sulit untuk berhenti menggunakannya.

Apa yang membuat keracunan bahan-bahan kimia ini begitu menakutkan? Banyak dari gejalanya tidak spesifik dan cukup sulit untuk diketahui. Gejala bisa termasuk lekas marah, depresi, sulit berkonsentrasi, insomnia, mati rasa, kesemutan hingga tremor.

Biasanya, ketika pengguna krim mulai mengalami gejala seperti tangan gemetar dan sakit kepala, dokter akan menganjurkan mereka menjalani tes urin. Analisis urin dapat mengidentifikasi konsentrasi merkuri tinggi yang hadir dalam tubuh. Untuk kasus sperti ini, pasien dapat lebih lanjut meminta pengujian pada produk pemutih wajah terhadap kandungan merkuri.

Namun, sering kali produk-produk ini tidak dapat teridentifikasi karena terkemas dalam wadah yang tidak bertanda. Di Indonesia, krim ini tidak dijual bebas di konter-konter kecantikan di pusat perbelanjaan, tetapi mereka terbilang murah dan mudah diakses secara online.

Sekalipun Food and Drugs Association US (FDA) dan Uni Eropa telah menetapkan peraturan ketat terhadap penggunaan merkuri dan hydroquinone dalam produk perawatan kulit, serta mewajibkan produsen untuk secara transparan membeberkan setiap komposisi pendukung dalam kosmetik dan obat-obatan, tetap diperlukan kewaspadaan dan kebijakan ekstra saat membeli produk perawatan kulit impor. Merkuri telah ditemukan dalam beberapa krim pemutih kulit impor, termasuk dari Amerika Latin, India, dan Cina.

Bahan-bahan yang harus dihindari dalam krim pemutih kulit

Selalu teliti daftar komposisi produk pemutih kulit Anda dan hindari nama-nama berikut: mercurous chloride, calomel, mercuric, dan mercurio untuk nama lain merkuri; 1,4-Benzenediol, p-Benzenediol, p-Dihydroxybenzene, p-Dioxybenzene, p-Hydroquinone, p-Hydroxyphenol, Arctuvin, Benzohydroquinone, Bezoquinol, 1,4-dihydroxybenzol, Tequinol, Aida, dan Benzene untuk nama lain hydroquinone.

Krim pemutih kulit yang mengandung tinggi kadar hydroquinone dapat berubah menjadi warna kecokelatan yang aneh saat terpapar oleh udara luar atau sinar matahari dalam waktu yang lama dan berkelanjutan. Sementara itu, krim pemutih kulit yang mengandung merkuri dapat berubah warna menjadi keabuan gelap atau hijau saat terkena kontak dengan sinar matahari langsung.

Ada banyak alternatif yang lebih aman jika Anda menginginkan perawatan kulit yang dapat khusus mencerahkan noda hitam, stretch mark, atau warna kulit yang tidak merata. Anda juga dapat meminta resep rejimen perawatan kulit yang tepat untuk masalah Anda dari dokter kulit.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca