5 Penyebab Kematian yang Paling Umum Terjadi di Indonesia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18/06/2020 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Tidak ada yang bisa memprediksi kapan dan bagaimana seseorang meninggal dunia. Meski begitu, ada beberapa penyebab kematian di Indonesia yang paling umum terjadi. Kebanyakan bisa dicegah dengan langkah pencegahan yang tepat. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut lima hal yang paling bertanggung jawab dalam bertambahnya angka kematian di Indonesia.

Penyebab kematian di Indonesia yang paling sering terjadi

1. Penyakit kardiovaskuler

Dikutip dari buletin Infodatin milik Kemenkes, penyakit kardiovaskuler menempati peringkat pertama sebagai penyakit non-menular penyebab kematian di Indonesia. Penyakit kardiovaskuler adalah golongan berbagai penyakit yang terkait dengan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, hipertensi, dan stroke. Masalah jantung lainnya meliputi angina dan aritmia.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 milik Kementerian Kesehatan, dari seluruh angka kematian di Indonesia akibat penyakit kardiovaskuler, 7,4 juta (42,3 persen) di antaranya disebabkan oleh PJK dan 6,7 juta (38,3 persen) lainnya disebabkan oleh stroke. Kasus penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, dan stroke di Indonesia diperkirakan lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan masing-masing kelompok umur 45-54 tahun, 55-64 tahun, dan 65-74 tahun.

Penyakit kardiovaskuler dapat terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun penyakit ini dapat dicegah dengan melindungi kesehatan jantung dan mewaspadai gejala serangan jantung. Mengendalikan tekanan darah dan kolesterol selalu dalam batas normal lewat gaya hidup sehat dan aktivitas fisik rutin dapat sangat menekan risiko Anda terkena penyakit jantung.

2. Diabetes

Diabetes atau kencing manis merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kelainan metabolik akibat dari kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau bisa juga karena kurangnya respon tubuh terhadap insulin, atau bisa juga akibat dari adanya pengaruh hormon lain yang menghambat kinerja insulin.

Kondisi ini menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi, atau kegagalan fungsi dari berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, pembuluh darah, dan jantung. Diabetes dikenai sebagai “silent killer” karena sering tidak disadari gejalanya dan baru diketahui saat sudah terjadi komplikasi.

Melansir data Riskesdas teranyar, jumlah orang di Indonesia usia 15 tahun ke atas yang memiliki diabetes hingga tahun 2013 mencapai 12 juta jiwa. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dari jumlah populasi penderita diabetes tahun 2007.

3. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Penyakit saluran pernapasan bawah kronis adalah kumpulan penyakit paru-paru yang menyebabkan penyumbatan aliran udara dan masalah terkait pernapasan, terutama penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga bronkitis, emfisema, dan asma. Angka kasus asma secara nasional diperkirakan lebih banyak ditemukan pada perempuan. Sementara itu, kasus PPOK lebih banyak ditemukan pada laki-laki.

Sekitar 80 persen kematian di Indonesia akibat PPOK dapat dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Risiko penyakit paru kronis dapat ditekan dengan berhenti merokok, menghindari asap rokok, polusi udara, asap bahan kimia dan debu. Pencegahan dan pengobatan dini dapat membantu menghindari kerusakan paru serius, masalah pernapasan serius, hingga bahkan gagal jantung. 

4. TBC

Tuberkulosis atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke tubuh melalui pernafasan. TBC bisa ditularkan lewat udara yang sudah terkontaminasi saat penderita TBC batuk atau meludah/membuang dahak sembarangan. TBC paling sering menyerang paru-paru. Akan tetapi penyakit ini juga bisa menyebar ke organ tubuh lainnya.

Penyakit TBC merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia setelah HIV, sehingga harus ditangani dengan serius. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TBC di Indonesia mencapai satu juta kasus dan jumlah kematian akibat TBC diperkirakan lebih dari seratus ribu kasus setiap tahunnya.

TBC bisa disembuhkan secara total, asal Anda mengikuti semua petunjuk dokter dan minum obat sampai tuntas. Terapi dan pengobatan TBC biasanya memakan waktu setidaknya enam hingga sembilan bulan agar bisa sembuh total. Hal ini pun tergantung dari tingkat keparahan penyakit TBC yang dialami.

5. Kecelakaan

Data Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa ngka kasus cedera secara menyeluruh di Indonesia adalah 8,2 persen. Angka ini meningkat cukup tinggi jika dibandingan dengan data tahun 2007 yang melaporkan jumlah kasus cedera nasional sebanyak 7,5 persen. Wilayah dengan kasus cedera terbanyak adalah Sulawesi Selatan (12,8 persen) dan terendah di Jambi (4,5 persen). Tiga jenis cedera yang paling banyak dialami orang Indonesia adalah luka lecet/memar, terkilir, dan luka robek.

Penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (49,9 persen), yang disusul dengan kecelakaan sepeda motor (40,6 persen). Kasus cedera akibat jatuh lebih sering ditemukan pada penduduk umur kurang dari 1 tahun, perempuan, tidak bekerja, dan berada di pedesaan. Sementara itu, cedera akibat kecelakaan bermotor paling banyak terjadi pada umur 15-24 tahun, laki-laki tamatan SMA dengan status pegawai.

Kecelakaan memang sifatnya tidak disengaja, namun harusnya bisa dihindari. Anda bisa mengurangi risiko kematian dan cedera dengan memastikan keselamatan diri saat berkendara. Gunakan sabuk pengaman ketika berkendara dengan mobil, dan pakai atribut lengkap (helm dan jaket) ketika berkendara dengan motor. Hindari mengemudi sambil mabuk, ngantuk, kelelahan, dan sambil bermain ponsel.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Orang Merokok VS Orang Obesitas: Siapa yang Risiko Kematiannya Lebih Tinggi?

Merokok dan memiliki berat badan berlebih sama-sama bahaya. Tapi ketika harus dibandingkan, mana yang lebih merusak kesehatan: orang merokok atau obesitas?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 22/04/2018 . 4 menit baca

5 Penyebab Kematian yang Paling Umum Terjadi Pada Wanita di Seluruh Dunia

Tidak ada yang bisa memprediksi kematian, baik waktu dan penyebabnya. Tapi 5 hal ini sering menjadi penyebab utama dari kematian wanita di seluruh dunia.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/11/2017 . 4 menit baca

5 Penyebab Kematian yang Paling Umum Terjadi Pada Pria di Seluruh Dunia

Penyebab utama kematian pria di Indonesia kebanyakan berasal dari penyakit jantung dan beberapa jenis kanker. Apa saja, dan bagaimana cara mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/11/2017 . 6 menit baca

Penyebab Kematian Terbesar Pria dan Wanita Paruh Baya Ternyata Beda

Berdasarkan survei terbaru, penyebab kematian pria dan wanita di usia paruh baya ternyata berbeda dibandingkan usia lanjut. Ketahui selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 29/10/2017 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

didi kempot meninggal

Didi Kempot Tutup Usia Diduga Kelelahan, Bagaimana Hingga Jadi Fatal?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 05/05/2020 . 5 menit baca
kematian novel coronavirus

Apa yang Membuat Novel Coronavirus Menyebabkan Kematian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 07/02/2020 . 5 menit baca
angka kematian kanker menurun

Angka Kematian Akibat Kanker Terus Menurun Setiap Tahun

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 14/01/2020 . 4 menit baca
depresi setelah serangan jantung

Depresi Setelah Serangan Jantung Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 03/10/2018 . 7 menit baca