Fakta Suhu Tubuh Normal pada Manusia

    Fakta Suhu Tubuh Normal pada Manusia

    Suhu tubuh normal manusia bisa berubah-ubah sepanjang hari. Ini karena tubuh manusia mampu menyesuaikan temperatur internalnya (suhu inti tubuh) sesuai dengan kondisi cuaca dan lingkungan sekitarnya. Suhu tubuh orang yang sehat bisa naik-turun sekitar 0,5 derajat Celsius dalam sehari.

    Apa yang bisa menyebabkan perubahannya?

    Berapa suhu tubuh normal manusia?

    termometer

    Suhu tubuh yang selalu berubah sebenarnya adalah bagian alami dari mekanisme pertahanan tubuh (homeostasis). Apalagi di tengah pandemi COVID-19 dengan merebaknya varian Omicron ketika Anda harus waspada jika timbul gejala COVID-19.

    Kebanyakan orang menganggap temperatur normal badan manusia sudah pasti berada di angka 37 derajat Celsius. Namun, konsep ini agak menyesatkan dan telah dibantah oleh banyak studi medis.

    Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) menemukan bahwa suhu rata-rata bagi orang dewasa yang sehat adalah 36,7 derajat Celsius.

    Secara umum, dunia medis menyepakati bahwa suhu tubuh normal manusia berkisar antara 36,1–37,2 derajat Celsius.

    Sementara itu, temperatur tubuh cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Satu studi dari American Geriatrics Society menemukan bahwa orang lanjut usia memiliki suhu tubuh yang lebih rendah daripada “standard” di atas.

    Dari 150 orang lanjut usia dengan usia rata-rata 81 tahun, peneliti menemukan bahwa temperatur rata-rata tubuh mereka tidak pernah mencapai angka 37 derajat Celsius.

    Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan ketika lansia sakit sekalipun, temperatur tubuh mereka tidak naik hingga mencapai titik yang dianggap sebagai demam (lebih dari 37 derajat Celsius).

    Sementara itu, temperatur tubuh yang terlalu rendah (di bawah 35 derajat Celsius) pada umumnya menjadi pertanda penyakit tertentu.

    Penyebab suhu tubuh bisa naik-turun

    Tubuh mengubah suhunya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitar. Anda akan berkeringat saat berada di lingkungan yang panas untuk membantu menjaga tubuh tetap dingin.

    Di sisi lain, tubuh akan berusaha membuat dirinya tetap hangat saat suhu di sekitar Anda rendah. Otak akan mengirim sinyal ke seluruh tubuh agar memasok lebih banyak darah dari pembuluh kapiler menuju bagian tubuh yang lebih dingin.

    Respons ini akan membuat Anda gemetar dan menggigil. Menggigil bisa menghasilkan panas sehingga tubuh bisa menjaga suhunya. Berikut merupakan beberapa alasan lain di balik naik-turunnya suhu badan normal.

    1. Pertumbuhan badan

    penyebab tinggi badan berkurang

    Suhu tubuh yang naik-turun umumnya dialami oleh bayi. Alasannya karena mereka masih berada dalam masa tumbuh kembang sehingga sistem internal tubuhnya belum mencapai fungsi yang optimal.

    Perubahan suhu tersebut sangat wajar dan sama sekali berbeda dengan demam yang naik-turun pada bayi.

    Temperatur tubuh bayi bisa meningkat dalam beberapa hari kelahiran, lalu akan turun sedikit seiring berkembangnya kemampuan bayi untuk mengatur suhu tubuhnya.

    2. Perubahan hormon

    Suhu tubuh sangat sensitif terhadap kadar hormon. Jadi, suhu seorang wanita mungkin lebih tinggi atau lebih rendah saat berovulasi atau mengalami menstruasi.

    Hal yang sama akan terjadi setelah menopause. Sebaliknya, perubahan metabolisme selama kehamilan menyebabkan peningkatan panas tubuh.

    3. Ritme sirkadian

    Suhu tubuh mungkin berubah-ubah mengikuti perubahan jam biologis (ritme sirkadian) tubuh. Suhu tubuh biasanya paling rendah selama dua jam terakhir sebelum Anda bangun tidur.

    Anda juga bisa merasa lebih kedinginan pada waktu-waktu tertentu, terlepas dari temperatur sekitar yang stabil.

    4. Demam

    Demam merupakan suatu gejala, bukan sebuah penyakit. Anda akan demam jika terjadi infeksi dalam tubuh yang disebabkan oleh virus atau bakteri.

    Pada bayi dan anak-anak, demam biasanya muncul saat temperatur tubuh mencapai lebih dari 37 derajat Celsius. Sementara itu, orang dewasa akan demam ketika suhu tubuhnya mencapai 38–39 derajat Celsius.

    Penyakit yang dapat menyebabkan demam antara lain:

    Sementara pada anak-anak, demam juga bisa muncul ketika anak selesai imunisasi atau tumbuh gigi.

    5. Hipotiroidisme

    hipotiroidisme adalah hipotiroid

    Hipotiroidisme merupakan salah satu penyebab naik-turunnya temperatur tubuh Anda. Ini merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid kurang aktif sehingga hanya menghasilkan sedikit hormon tiroid.

    Hormon tiroid berperan dalam metabolisme serta bagaimana sel tubuh menggunakan energi yang dihasilkan dari proses tersebut. Namun, hipotiroidisme dapat membuat metabolisme menjadi lebih lambat.

    Jika metabolisme melambat, produksi energi dan panas akan berkurang sehingga Anda lebih mudah kedinginan. Gejala hipotiroidisme yang paling umum yakni kelelahan, sembelit, nyeri otot, dan mood yang depresif.

    6. Diabetes

    Diabetes juga memiliki hubungan dengan suhu normal tubuh Anda. Para ilmuwan menemukan bahwa ketika insulin disuntikkan ke area otak tertentu pada tikus, hal itu dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh dan tingkat metabolismenya.

    Ini menunjukkan bahwa diabetes sedikit-banyak dapat menyebabkan perubahan pada temperatur tubuh Anda.

    Fakta unik suhu tubuh manusia

    mengatasi kepanasan saat puasa

    Tahukah Anda bahwa ada sejumlah fakta unik mengenai suhu tubuh manusia? Bahkan, temperatur tubuh bisa digunakan untuk mendeteksi apakah Anda tengah berbohong atau tidak. Berikut beberapa faktanya.

    1. Merokok bisa bikin suhu tubuh naik

    Tahukah Anda jika merokok dapat menaikkan temperatur tubuh? Sebenarnya, hal ini disebabkan karena Anda menghirup asap rokok.

    Temperatur pada ujung rokok rata-rata sebesar 95 derajat celcius. Saat asap terhirup ke dalam hidung, kemudian masuk ke paru-paru, suhu dalam organ pernapasan akan meningkat.

    Ketika paru-paru Anda panas, organ ini tidak dapat melakukan fungsi pentingnya untuk mendinginkan atau mengeluarkan panas dari tubuh. Saat Andabaru berhenti merokok, maka suhu tubuh akan kembali normal dalam waktu sekitar 20 menit.

    2. Berbohong juga bikin tubuh lebih panas

    Para peneliti Spanyol di University of Granada masih menyelidiki fenomena in. Diduga bahwa hal ini terjadi karena respon tubuh saat Anda berbohong.

    Ketika seseorang berbohong, rasa cemas dan takut ketahuan akan muncul. Saat itu juga, tubuh Anda akan menimbulkan beberapa respons seperti detak jantung semakin kencang dan meningkatnya suhu badan. Akhirnya, area sekitar hidung dan mata akan terasa lebih hangat.

    3. Suhu dingin bikin tidur lebih nyenyak

    Temperatur tubuh juga dapat memengaruhi seberapa baik kualitas tidur seseorang. Semakin sejuk suhunya, tidur Anda akan semakin nyenyak.

    Beberapa saat sebelum manusia tertidur, tubuh akan menurunkan suhunya sekitar 1 hingga 2 derajat Celcius. Perubahan suhu ini yang membantu tubuh jatuh ke dalam siklus tidur.

    Oleh karena itu, mandi air hangat atau mandi saat sebelum tidur menjadi obat insomnia yang sering direkomendasikan. Pasalnya, setelah mandi air hangat, tubuh akan mengalami penurunan suhu yang cukup drastis sehingga merangsang rasa kantuk.

    Dr. Rachel Salas, MD, seorang ahli saraf di Johns Hopkins University, AS, menyatakan bahwa suhu kamar terbaik untuk tidur yakni sekitar 18–22 derajat Celcius.

    4. Menandakan waktu kematian seseorang

    perawatan jenazah penyakit menular

    Ketika seseorang meninggal, suhu tubuhnya akan perlahan menurun. Temperatur tubuh ini sering digunakan para penyidik jenazah untuk memperkirakan kapan waktu kematian.

    Penyidik bisa mendapatkan gambaran tentang berapa lama seseorang telah meninggal dengan meletakkan tangannya di bawah lengan jenazah.

    Jika suhu jenazah cukup hangat, artinya kematian terjadi beberapa jam sebelumnya. Namun, jika suhu jenazah dingin dan lembap, setidaknya waktu kematian berkisar antara 18–24 jam yang lalu.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Fernandez, J; Emilio, G. (2019). Types of questions, lies and thermography. Thermography in psychological processes. http://dx.doi.org/10.13140/RG.2.2.11152.35846

    Irving H. Gomolin; Myo M. Aung; Gisele Wolf-Klein; Charles Auerbach (2005). Older Is Colder: Temperature Range and Variation in Older People. American Geriatrics Society. 53(12), 2170–2172. https://doi.org/10.1111/j.1532-5415.2005.00500.x 

    Mackowiak, Philip A. (1992). A Critical Appraisal of 98.6°F, the Upper Limit of the Normal Body Temperature, and Other Legacies of Carl Reinhold August Wunderlich. JAMA: The Journal of the American Medical Association. 268(12), 1578–. https://doi.org/10.1001/jama.1992.03490120092034

    Fever: First aid. (2019). Mayo Clinic. Retrieved February 11, 2022, from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-fever/basics/art-20056685 

    Harvard Health Publications. (n.d.). Normal Body Temperature : Rethinking the normal human body temperature. Harvard Medical School. Retrieved February 11, 2022, from https://portal.flsouthern.edu/ICS/icsfs/mm/normal_body_temperature___rethinking_the_normal_human_body_temperature_-_harvard_health.pdf?target=ec037093-e3d9-4f87-a840-da38fb0bbcf6 

    Lewinski, J. C. (2015). The Best Room Temperature for Sleeping. Men’s Health. Retrieved February 11, 2022, from https://www.menshealth.com/health/a19547551/best-sleeping-temperature/ 

    National Institute of Aging. (2018). Cold Weather Safety for Older Adults. National Institutes of Health. Retrieved February 11, 2022, from https://www.nia.nih.gov/health/cold-weather-safety-older-adults 

    Vital Signs (Body Temperature, Pulse Rate, Respiration Rate, Blood Pressure). (n.d.). University of Rochester Medical Center. Retrieved February 11, 2022, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=85&ContentID=P00866 

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui Oct 27
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa