Penyebab kebutaan bisa dari berbagai kondisi, tapi sering kali ia disebabkan oleh penyakit atau gangguan mata tertentu. Pada mata normal, cahaya yang masuk ke mata melalui kornea dan lensa akan difokuskan oleh iris sehingga membentuk gambar. Cahaya tersebut lalu diproyeksikan ke dinding belakang mata, di mana hal itu dirasakan oleh jutaan ujung saraf kecil yang membentuk retina. Dari sini, retina menerjemahkan gambar menjadi rangsangan saraf yang diteruskan ke otak melalui saraf optik. Ketika salah satu dari bagian mata ini rusak, baik karena sakit atau cedera, kebutaan dapat terjadi. Oleh karena itu, Anda harus selalu waspada terhadap kesehatan mata Anda, khususnya pada berapa kondisi di bawah ini sebagai faktor penyebab kebutaan yang paling sering terjadi.

Apa yang disebut sebagai kebutaan?

Orang yang akan menderita kebutaan biasanya mengalami gangguan penglihatan terlebih dahulu, yang kemudian akan berkembang menjadi kebutaan. Kebutaan dapat memengaruhi satu atau kedua mata, dan tidak selalu menyebabkan kegelapan total. Banyak orang yang dianggap buta masih bisa melihat beberapa cahaya atau bayangan, tapi tidak dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

Apa saja penyebab kebutaan yang paling sering terjadi?

1. Katarak

Katarak adalah keburaman (opacity) pada lensa mata. Dalam pengobatan katarak, lensa di dalam mata diambil dan diganti dengan lensa buatan yang jernih. Pada retinopati diabetik, pembuluh darah retina akan terkena dampaknya dan mulai mengalami kebocoran. Pengobatan melibatkan photocoagulation dengan menggunakan laser untuk menghancurkan pembuluh darah yang bocor dan mencegah pertumbuhan pembuluh darah abnormal (angiogenesis). Katarak biasanya dapat langsung dikenali dengan adanya bagian keruh di pupil.

2. Glaukoma

Glaukoma biasanya terjadi ketika tekanan cairan di dalam salah satu atau kedua mata meningkat secara perlahan. Tekanan ini merusak saraf optik dan retina, yang menyebabkan penurunan penglihatan tepi secara bertahap. Kehilangan penglihatan akibat glaukoma tidak dapat dikembalikan, tetapi penyakit ini dapat dikelola melalui penggunaan tetes mata resep atau operasi. Penting untuk melakukan cek mata secara berkala, sehingga Anda dapat menyadari kondisi ini lebih awal. Dengan begitu, Anda dapat menyelamatkan penglihatan Anda sebelum terlambat.

3. Degenerasi makula

Penyebab kebutaan yang paling umum terkait dengan penuaan adalah degenerasi makula. Degenerasi makula dapat menyebabkan hilangnya pusat penglihatan akibat ketiadaan fotoreseptor (sel sensor cahaya). Kondisi ini melemahkan orang tua yang memiliki kesulitan berjalan dan sering menetap di dalam rumah. Degenerasi makula adalah penyakit yang mempengaruhi makula, yaitu daerah yang bertanggung jawab untuk pusat penglihatan yang detil dan baik.

4. Retinopati diabetik

Retinopati diabetik terjadi ketika kerusakan sistemik yang disebabkan oleh diabetes mulai mempengaruhi retina. Secara khusus, pembuluh darah yang memberi nutrisi retina dapat terpengaruh secara negatif oleh diabetes, sehingga menyebabkan kebutaan akibat perdarahan dan kerusakan pada retina. Pengobatan terbaik untuk retinopati diabetik adalah dengan mengontrol diabetes lebih ketat. Jika penyakit ini lebih parah, maka pasien dapat menjalani operasi untuk melindungi mata mereka.

5. Retinitis pigmentosa (RP)

Retinitis pigmentosa (RP) mempengaruhi 1,6 juta orang di seluruh dunia dan merupakan suatu penyebab kebutaan yang diwariskan. RP dapat menyebabkan kebutaan yang lambat namun progresif pada keseluruhan penglihatan. Sama seperti retinopati diabetik, penyakit ini berhubungan dengan hilangnya fotoreseptor. Untuk saat ini, tidak ada pengobatan yang tepat untuk RP. Terapi genetik mokuler mungkin dapat memberikan secercah harapan, meskipun memiliki risiko yang besar. Penting untuk diingat, bahwa perbaikan fungsi genetik yang sukses sekalipun hanya bisa memperlambat atau mencegah kerusakan lebih lanjut.

Retinitis pigmentosa adalah kondisi mata yang diwarisi. Ia memengaruhi bagian perifer pertengahan retina, namun pusat penglihatan tidak terkena. Secara kinis, tanda-tanda yang pertama kali bisa diamati adalah penyempitan arteriol retina (arteri kecil di retina). Kemudian, formasi pigmen retina yang dikenal sebagai “spika tulang” dan yang mengubah penampilan kepala saraf optik terlihat sangat jelas.

BACA JUGA:

Yang juga perlu Anda baca