home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mata Buta

Definisi|Gejala|Penyebab|Diagnosis dan pengobatan|Pencegahan
Mata Buta

Definisi

Apa itu buta?

Buta adalah suatu kondisi ketika penglihatan seseorang menghilang sebagian atau secara keseluruhan. Kondisi buta sebagian disebut dengan buta parsial, sedangkan buta yang menyebabkan mata tidak bisa melihat sama sekali adalah buta menyeluruh.

Pada kondisi buta parsial, Anda mungkin memiliki penglihatan kabur, sehingga tidak dapat mengenali objek dengan baik. Sementara itu,

Kebutaan merupakan kondisi yang sangat menakutkan bagi banyak orang. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah kenyataan yang tak terhindarkan. Di dunia ini, banyak sekali orang yang menghadapi perubahan negatif dalam kemampuan penglihatan mereka. Jika Anda hingga saat ini masih bisa membaca, Anda sangatlah beruntung.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Kebutaan adalah kondisi yang cukup umum. Pada tahun 2015, diperkirakan terdapat 253 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan penglihatan, di mana 36 juta orang memiliki mata buta dan 217 juta mengidap gangguan penglihatan sedang hingga berat.

Sementara itu, menurut data dari Kementerian Kesehatan tahun 2013, sebanyak 900 ribu penduduk Indonesia mengalami kebutaan, sedangkan sekitar 2,1 juta memiliki gangguan penglihatan berat.

Selain itu, menurut WHO, sebagian besar kasus kebutaan ditemukan pada orang-orang berusia 50 tahun ke atas. Namun, tidak menutup kemungkinan mata buta dapat dialami di segala usia.

Kebutaan dan penurunan penglihatan juga banyak ditemukan pada negara-negara dengan fasilitas kesehatan yang kurang memadai.

Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala buta?

Apabila Anda mengalami kebutaan total atau menyeluruh, Anda tidak akan bisa melihat sama sekali. Namun, jika kebutaan hanya terjadi sebagian atau Anda mengalami gangguan penglihatan berat, berikut adalah gejala-gejala yang mungkin muncul:

  • Penglihatan berbayang atau berkabut
  • Penglihatan buram
  • Ada beberapa bagian yang tak terlihat oleh mata, seperti bagian tengah atau pinggir
  • Kesulitan melihat di malam hari
  • Lensa mata terlihat keruh dan terdapat bercak atau noda
  • Mata merah
  • Mata terasa sakit dan tidak nyaman

Apabila Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut, jangan tunda waktu untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis mata.

Dalam beberapa kasus, seperti kebutaan yang disebabkan oleh penyakit glaukoma, gangguan pada mata terkadang tidak disertai gejala apapun. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara berkala agar Anda terhindar dari risiko kebutaan.

Penyebab

Apa penyebab kebutaan?

Mata buta adalah kondisi yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit atau gangguan pada mata. Namun, pada dasarnya, kerusakan pada mata merupakan penyebab utama dari kebutaan.

Kerusakan pada mata bisa terjadi akibat penyakit yang sudah ada sebelumnya, atau cedera yang memengaruhi mata. Berikut adalah beberapa penyebab mata buta yang paling umum:

1. Katarak

Katarak adalah munculnya bercak atau noda pada lensa mata, sehingga penglihatan pun terganggu. Sebagian besar kondisi katarak berkembang secara perlahan dan akan memengaruhi penglihatan seiring dengan berjalannya waktu.

2. Glaukoma

Glaukoma merupakan penyakit kerusakan saraf optik yang disebabkan oleh peningkatan tekanan bola mata. Kondisi ini sulit dideteksi pada tahap awal karena sering kali tidak menimbulkan gejala apapun.

Glaukoma adalah salah satu penyebab utama kebutaan di usia 60 tahun ke atas. Penyakit ini memang bisa menyerang di segala usia, namun kasus kejadiannya paling banyak ditemukan di usia tua.

3. Degenerasi makula

Degenerasi makula juga merupakan gangguan penglihatan yang umum ditemukan pada orang-orang berusia lanjut. Serupa dengan glaukoma, degenerasi makula adalah penyebab mata buta yang sangat umum pada usia 50 tahun ke atas.

Kondisi ini terjadi ketika salah satu bagian retina, yang disebut dengan makula, mengalami kerusakan. Kebutaan akibat degenerasi makula biasanya dimulai dengan hilangnya kemampuan melihat di bagian tengah.

4. Retinopati diabetik

Retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi umum dari diabetes. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah pada retina.

Kondisi ini mungkin tidak akan menimbulkan gejala apapun pada tahap awal. Seiring dengan berkembangnya penyakit, kemampuan melihat pun semakin menurun.

5. Neuropati optik toksik

Neuropati optik toksik adalah gangguan penglihatan yang disebabkan keracunan akibat zat tertentu. Jika kondisi ini tak ditangani dengan cepat dan tepat, hal tersebut akan menimbulkan kebutaan.

Beberapa zat yang berpotensi menimbulkan keracunan pada mata adalah sebagai berikut:

  • Alkohol
  • Penggunaan obat-obatan dosis tinggi dalam jangka waktu lama yang tidak terkontrol
  • Rokok
  • Logam berat seperti timbal dan merkuri

6. Pemakaian obat tetes steroid yang tidak tepat

Pemakaian obat tetes mata yang sembarangan dapat meningkatkan risiko glaukoma dan mata buta. Risiko ini semakin tinggi pada pemakaian obat tetes mata steroid, terlebih lagi jika tidak digunakan sesuai resep dokter.

Obat mata steroid yang digunakan setiap hari dan dalam jangka waktu panjang akan meningkatkan penumpukkan glikosaminoglikan, yaitu komponen struktural utama dari tulang rawan yang ditemukan dalam kornea. Penumpukan glikosaminoglikan ini akan menyumbat aliran cairan di dalam mata.

Karena aliran cairan di dalam mata terbendung akibat terjadinya penyumbatan, hal tersebut membuat tekanan di bola mata meningkat dan menyebabkan glaukoma. Akibatnya, lama kelamaan luas pandangan pun akan semakin menyempit. Jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama, hal tersebut dapat berujung pada kebutaan.

7. Penyebab lainnya

Selain kondisi-kondisi di atas, mata buta juga bisa disebabkan oleh beberapa hal di bawah:

  • Penyumbatan pada pembuluh darah
  • Komplikasi kelahiran prematur (retrolental fibroplasia)
  • Komplikasi dari operasi mata
  • Mata malas (amblyopia)
  • Neuritis optik
  • Stroke
  • Retinitis pigmentosa
  • Tumor atau kanker mata, seperti retinoblastoma atau glioma optik
  • Trauma atau cedera parah pada mata
  • Infeksi mata parah, seperti endoftalmitis

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana proses diagnosis buta?

Tes diagnosis bertujuan untuk mengetahui apa penyebab utama dari kebutaan yang Anda alami, baik pada kasus kebutaan parsial maupun total.

Dalam proses diagnosis, dokter akan menjalani serangkaian tes untuk mengetahui ketajaman penglihatan Anda, fungsi otot mata Anda, serta bagaimana pupil mata bereaksi terhadap cahaya.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan mikroskop lampu celah atau slit lamp. Mikroskop tersebut dilengkapi dengan cahaya berkekuatan tinggi, sehingga dokter dapat memeriksa dengan jelas bagian mata Anda.

Bagaimana cara mengobati mata yang buta?

Pengobatan untuk kebutaan tergantung kepada penyebabnya. Misalnya, untuk kasus seperti katarak, dapat disembuhkan dengan melakukan operasi. Untuk kasus yang disebabkan oleh inflamasi dan infeksi, dapat disembuhkan dengan obat dalam bentuk tetes atau pil. Transplantasi kornea juga dapat membantu orang yang memiliki kehilangan visi akibat jaringan parut kornea.

Meski 80% kasus gangguan penglihatan dapat dicegah atau disembuhkan, tetap ada 20% kasus yang tidak dapat disembuhkan. Kasus tersebut biasanya terjadi pada orang yang berhadapan dengan hilangnya penglihatan secara bertahap hingga mereka buta secara total.

Gangguan degenerasi retina tidak dapat disembuhkan, karena penyakit tersebut memecah lapisan jaringan yang mengandung sel-sel pendeteksi cahaya. Ada sejumlah penyakit degeneratif, termasuk retinitis pigmentosa, degenerasi makula, dan sindrom Usher.

Kesembuhan untuk penglihatan yang hilang tergantung pada penyebabnya juga. Pasien yang kehilangan penglihatan akibat kerusakan optik saraf atau stroke biasanya tidak dapat disembuhkan. Pasien dengan ablasi retina yang berlangsung lama, pada umumnya tidak dapat diperbaiki dengan operasi perbaikan ablasi tersebut. Pasien yang memiliki jaringan parut kornea biasanya memiliki peluang kesembuhan yang baik jika mereka dapat melakukan perawatan setelah operasi.

Selain itu, orang yang mengalami kebutaan total tentunya perlu melakukan berbagai perubahan dalam beberapa aspek hidupnya. Beberapa contohnya adalah seperti belajar membaca huruf Braille, menata ulang perabotan rumah, serta melipat uang dengan cara tertentu agar lebih mudah ditemukan.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah kebutaan?

Berikut adalah sejumlah langkah sederhana yang dapat diambil untuk memelihara kesehatan mata, seperti:

  • Tidak merokok. Merokok telah dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena katarak, kerusakan saraf optik, dan yang berkaitan dengan degenerasi makula.
  • Mengonsumsi makanan yang bergizi, yaitu dengan kandungan lutein, zeaxanthin, vitamin A, C, E, asam lemak omega-3, serta zink.
  • Membersihkan tangan dan lensa kontak dengan benar untuk mengurangi risiko infeksi mata.
  • Mengetahui riwayat kesehatan mata keluarga. Banyak gangguan mata serius yang merupakan keturunan, seperti retinitis pigmentosa.
  • Mengikuti tes mata secara teratur.

Meskipun sudah ada teknologi canggih yang dapat memulihkan beberapa penyakit mata, namun jika kita dapat mencegahnya, hal tersebut dapat memberikan banyak manfaat di kemudian hari. Sama seperti kata pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Blindness and vision loss – MedlinePlus. (2018). Retrieved September 30, 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/003040.htm#:~:text=Blindness%20is%20a%20lack%20of,and%20DO%20NOT%20see%20light

Eye Health Data and Statistics – National Eye Institute. (2019). Retrieved September 30, 2020, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/resources-for-health-educators/eye-health-data-and-statistics 

Boyd, K. (2020). What is Macular Degeneration? – American Academy of Ophthalmology. Retrieved September 30, 2020, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/amd-macular-degeneration 

Diabetic retinopathy – Mayo Clinic. (2018). Retrieved September 30, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetic-retinopathy/symptoms-causes/syc-20371611 

Glaucoma – Mayo Clinic. (2019). Retrieved September 30, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glaucoma/symptoms-causes/syc-20372839 

Cataracts – Mayo Clinic. (2018). Retrieved September 30, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cataracts/symptoms-causes/syc-20353790 

See the Full Picture of Your Health with an Annual Comprehensive Eye Exam – American Optometric Association. (n.d.). Retrieved September 30, 2020, from https://www.aoa.org/healthy-eyes/caring-for-your-eyes/full-picture-of-eye-health?sso=y 

Blindness and vision impairment – WHO. (n.d.). Retrieved September 30, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/blindness-and-visual-impairment 

Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan – Infodatin Kementerian Kesehatan RI. (2014). Retrieved September 30, 2020, from https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-penglihatan.pdf 

Lin, SY. (2020). Toxic Optic Neuropathy – EyeWiki. Retrieved September 30, 2020, from https://eyewiki.aao.org/Toxic_Optic_Neuropathy 

Steroid-Induced Glaucoma – Glaucoma Australia. (n.d.). Retrieved September 30, 2020, from https://glaucoma.org.au/what-is-glaucoma/types-of-glaucoma/steroid-induced-glaucoma 

Sharma, P., & Sharma, R. (2011). Toxic optic neuropathy. Indian journal of ophthalmology, 59(2), 137–141. https://doi.org/10.4103/0301-4738.77035 

Tripathi, R. C., Parapuram, S. K., Tripathi, B. J., Zhong, Y., & Chalam, K. V. (1999). Corticosteroids and glaucoma risk. Drugs & aging, 15(6), 439–450. https://doi.org/10.2165/00002512-199915060-00004

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adinda Rudystina Diperbarui 17/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x