6 Hoax Tentang Vaksin yang Sudah Terbukti Salah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Hoax tentang vaksin banyak beredar di masyarakat. Kabar yang menyesatkan tersebut membuat sejumlah masyarakat memilih untuk tidak memberikan vaksin kepada anak mereka. Penting bagi Anda untuk mengetahui fakta-fakta dari hoax yang beredar agar anak Anda tetap terlindungi dari berbagai penyakit.

Apa saja hoax tentang vaksin yang sering beredar?

“Vaksin tidak aman dan punya efek samping yang merugikan”

Fakta: Vaksin aman digunakan untuk manusia.

Semua vaksin yang memiliki izin telah diuji berkali-kali sebelum diperbolehkan untuk digunakan pada manusia. Peneliti juga selalu memonitor setiap informasi yang didapat mengenai efek samping yang muncul setelah pemberian vaksin.

Sebagian besar efek samping yang timbul setelah pemberian vaksin hanyalah efek samping yang ringan. Penderitaan yang dialami oleh karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin lebih berat dibandingkan pemberian vaksin itu sendiri.

“Vaksin tidak alami”

Fakta: Vaksin menggunakan respon alami manusia terhadap penyakit untuk memicu sistem pertahanan tubuh manusia. Sebagian orang percaya bahwa pemberian vaksin tidak alami, dan jika seseorang terinfeksi penyakit secara langsung akan memberikan kekebalan tubuh yang lebih kuat. Namun, jika Anda lebih memilih untuk menderita penyakit tertentu agar mendapat kekebalan dan tidak dilakukan vaksin,  justru Anda harus menerima konsekuensi yang lebih serius.

Penyakit seperti tetanus dan meningitis dapat membunuh Anda, sedangkan vaksin dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh dan efek samping yang ringan. Dengan perlindungan vaksin, Anda juga tidak perlu merasakan penderitaan karena penyakit untuk mendapatkan kekebalan sekaligus menghindari komplikasi yang terjadi akibat penyakit.

“Vaksin menyebabkan autisme”

Fakta: Pada tahun 1998 terdapat sebuah penelitian yang mengatakan bahwa terdapat kemungkinan hubungan antara pemberian vaksin MMR dengan autisme, namun ternyata penelitian tersebut salah dan hanyalah sebuah penipuan. Penelitian tersebut telah ditarik dari jurnal yang mempublikasikannya pada tahun 2010.

Sayangnya, hal tersebut sempat membuat kepanikan pada masyarakat sehingga pemberian vaksin berkurang dan muncul wabah. Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

“Vaksin menyebabkan asma atau alergi”

Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa pemberian vaksin dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit asma atau alergi. Justru mereka yang menderita asma atau alergi dianjurkan untuk mendapat vaksin yang lengkap karena penyakit seperti pertusis dan flu dapat memperburuk kondisi asma. Pada beberapa orang memang dapat terjadi alergi pada pemberian vaksin, namun risikonya sangat rendah. Angka kejadian terjadinya alergi berat hanya 1 dari satu juta pemberian vaksin.

“Penyakit infeksi adalah hal yang normal, bagian dari pertumbuhan anak”

Fakta: Penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin sebagian besar adalah penyakit-penyakit yang serius dan mematikan, namun berkat pemberian vaksin, penyakit-penyakit tersebut sudah jarang ditemukan. Sebelum pemberian vaksin, banyak penderita polio yang harus bernapas dengan alat bantu pernapasan, anak-anak yang saluran napasnya tersumbat akibat difteri, ataupun anak-anak yang mengalami kerusakan otak akibat infeksi campak!

“Vaksin mengandung pengawet yang beracun”

Fakta: Setiap vaksin mengandung pengawet untuk mencegah pertumbuhan bakteri ataupun jamur. Pengawet yang paling sering digunakan adalah thiomersal yang mengandung ethyl mercury. Ethyl mercury sendiri tidak memiliki efek buruk terhadap kesehatan. Merkuri yang beracun adalah methyl mercury yang memiliki efek beracun terhadap sistem saraf manusia sehingga tidak digunakan sebagai pengawet.

Ethyl mercury sendiri telah digunakan sebagai pengawet vaksin selama 80 tahun lebih dan tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa thiomersal yang mengandung ethyl mercury berbahaya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Para ahli menemukan mutasi baru pada coronavirus yang membuatnya lebih mudah menginfeksi. Apakah virus ini lebih berbahaya dari sebelumnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 25 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin Rotavirus, Bermanfaat untuk Mencegah Diare Parah pada Anak

Vaksin rotavirus termasuk ke dalam imunisasi tambahan yang dianjurkan IDAI. Mengapa vaksin ini perlu diberikan dan adakah efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Juni 2020 . Waktu baca 7 menit

Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Tumbuh kembang anak selama pandemi COVID-19 harus tetap terkontrol meski pelayanan kesehatan anak banyak terganggu. Simak ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 17 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin Cacar Air (Varisela), Ketahui Manfaat dan Jadwal Pemberiannya

Cacar air salah satu penyakit paling menular dan bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Ini penjelasan seputar vaksin varisela untuk cegah cacar air.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Imunisasi untuk Remaja

Daftar Imunisasi Penting untuk Anak Usia 9-16 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit
imunisasi vaksin hib

Vaksin HiB: Manfaat, Efek Samping, dan Jadwalnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit
masker n95 mencegah penularan covid-19

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin pcv

Vaksin PCV : Ketahui Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 24 Juli 2020 . Waktu baca 9 menit