Galau kerap kita ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu karena beban pekerjaan, keuangan, atau yang paling sering menjangkiti kaum muda adalah karena soal asmara, putus cinta. Tapi, tahukah Anda bahwa penyakit patah hati memang benar-benar ada? Dalam dunia medis, penyakit yang menyerang jantung ini disebut Broken Heart Syndrome.

Apa itu broken heart syndrome?

Broken heart syndrome (BHS) alias sindrom patah hati atau disebut juga Tako-tsubo cardiomyopathy adalah salah satu bentuk kelainan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler (jantung). Pada BHS terjadi gangguan fungsi bagian jantung yaitu ventrikel, yang berhubungan dengan ketidakcukupan aliran darah melalui arteri koroner (pembuluh jantung yang menghidupi jantung). Sindrom ini memiliki banyak nama yang terdengar rumit, di antaranya transient left ventricular apical ballooning syndrome atau stress cardiomyopathy atau ampulla cardiomyopathy atau neurogenic myocardial stunning.

Tahun 1986, di Massachusetts General Hospital dilaporkan satu kasus gagal jantung akibat stres emosional berat. Mulai tahun 2000, banyak publikasi kasus broken heart syndrome dari seluruh dunia. Pada akhirnya, di tahun 2006, stress cardiomyopathy resmi diklasifikasikan dalam kelompok acquired cardiomyopathies, alias kardiomiopati yang didapatkan (bukan diturunkan). Ini membuktikan bahwa ada banyak faktor selain penyakit jantung koroner yang dapat menyebabkan serangan jantung, salah satunya masalah psikologi. Riwayat adanya stress emosional yang berat juga menjadi pembeda BHS dengan penyakit jantung koroner.

Siapa saja yang dapat terkena broken heart syndrome (bhs)?

Broken heart syndrome tergolong dalam kelainan psikosomatis yang spesifik pada sistem kardiovaskuler. BHS dijumpai pada 86-100% wanita berusia sekitar 63-67 tahun. Sebagian besar kasus BHS dialami wanita setelah masa menopause. Walau begitu, BHS dapat menyerang semua usia tanpa terkecuali, jika terdapat riwayat stress emosional yang berat dan tidak mendapat terapi yang mencukupi.

Di Amerika Serikat, BHS dialami oleh 4,78% pasien dengan gambaran klinis STEMI atau unstable angina, sebuah gambaran yang mirip penyakit jantung koroner. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus BHS belum diketahui dan hanya sebatas pada laporan kasus.

Faktor pemicu broken heart syndrome

BHS tidak disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah jantung. Stresor sebagai satu-satunya faktor pemicu broken heart syndrome dan dikelompokkan menjadi stres emosional dan stres fisik. Setidaknya satu macam stres terdeteksi pada 98% penderita.

Stres emosional

  • Kecelakaan, kematian, cedera/luka, atau sakit berat yang menimpa anggota keluarga, sahabat, atau hewan peliharaan;
  • Bencana alam seperti trauma setelah gempa bumi, tsunami, tanah longsor
  • Krisis keuangan hingga bangkrut
  • Terlibat perkara hukum
  • Pindah ke tempat tinggal baru
  • Berbicara di depan umum (public speaking)
  • Menerima kabar buruk (diagnosis penyakit utama setelah medical check-up, perceraian, konflik keluarga
  • Tekanan atau beban kerja berlebihan

Stres fisik

  • Upaya bunuh diri
  • Penyalahgunaan obat-obat terlarang seperti heroin dan kokain
  • Prosedur atau operasi selain jantung, seperti: cholecystectomy, histerektomi
  • Mengidap penyakit berat dan menahun yang tidak kunjung sembuh
  • Nyeri berat, misalnya akibat patah tulang, kolik ginjal, pneumothorax, pulmonary embolism
  • Penyakit hipertiroid tirotoksikosis

Mekanisme terjadinya broken heart syndrome

  1. Tekanan stress yang berat bisa memicu keluarnya hormon katekolamin ke pembuluh darah dalam jumlah yang banyak. Hormon ini bersifat toksik di otot jantung sehingga menyebabkan kegagalan kontraksi otot jantung.
  2. Menopause. Hormon estrogen bersifat kardio-protektor. Pada saat menopause terjadi penurunan kadar hormon estrogen dalam pembuluh darah yang menyebabkan penurunan fungsi adrenoreseptor jantung. Hal ini berdampak pada penurunan aktifasi otot jantung. Oleh karena itu, kebanyakan kasus dialami oleh wanita yang tengah menopause.
  3. Rangsangan simpatik yang berlebihan serta ketidaknormalan bentuk anatomis arteri koroner menyebabkan aliran darah berkurang/menghilang sesaat.

Gejala broken heart syndrome

  • Terjadi dengan cepat sesaat setelah mengalami stress yang berat.
  • Nyeri dada seperti tertekan benda besar
  • Napas pendek dan sesak napas yang tiba-tiba
  • Nyeri lengan/punggung
  • Tenggorokan terasa tercekik
  • Nadi tidak teratur dan jantung berdebar-debar (palpitasi)
  • Tiba-tiba pingsan (sinkop)
  • Sebagian kasus bisa mengalami syok kardiogenik (sebuah keadaan di mana jantung tidak bisa memompa darah sesuai kebutuhan tubuh sehingga berdampak kematian)

Mencegah dan mengobati broken heart syndrome

Pencegahan yang utama adalah manajemen stress. Seorang yang sedang mengalami masalah perlu bersikap dan berpikir dengan luas dan komprehensif. Selalu bijaksana dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan pendekatan. Pola hidup yang seimbang perlu dilakukan, terutama pola makan, aktivitas fisik, dan pola berpikir serta berperilaku.

BHS dapat sembuh tanpa meninggalkan kecacatan permanen pada ventrikel jantung, berbeda dengan penyakit jantung koroner yang meninggalkan sisa pada struktur jantung. Hanya saja, dalam sebagian kasus bisa menyebabkan kondisi yang fatal atau kematian bila pasien yang terserang BHS tidak mendapat pertolongan segera. Dokter biasanya memberikan pengobatan suportif.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca