home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kaki Diabetes, Salah Satu Komplikasi Diabetes yang Bisa Berujung Amputasi

Kaki Diabetes, Salah Satu Komplikasi Diabetes yang Bisa Berujung Amputasi

Diabetes melitus atau kencing manis adalah penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius apabila tidak diobati. Nah, salah satu risiko komplikasi yang paling umum terjadi adalah luka pada kaki (ulkus diabetikum) atau disebut juga dengan kaki diabetes. Cari tahu lebih dalam mengenai komplikasi diabetes pada kaki dalam ulasan berikut ini.

Penyebab ulkus diabetikum (luka kaki diabetes)

fungsi tulang jari kaki

Kaki diabetik adalah komplikasi pada kaki penderita diabetes akibat kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) yang tidak terkontrol.

Komplikasi ini umumnya berupa ulkus diabetikum atau luka akibat infeksi atau kerusakan jaringan kulit pada kaki penderita diabetes. Saat kadar gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), Anda berisiko mengalami kerusakan saraf.

Menurut National Institute of Diabetes, ketika kerusakan saraf (neuropati diabetik) terjadi, penderita diabetes tidak bisa merasakan sakit atau sensasi ganjil ketika kaki mengalami luka.

Itulah yang kemudian menyebabkan penderita diabetes tak menyadari adanya luka pada kaki sampai akhirnya membuat luka semakin parah karena tak dirawat.

Di saat yang bersamaan, pembuluh darah di kaki yang rusak tidak dapat mengalirkan darah kaya nutrisi dan oksigen dengan lancar.

Padahal, aliran darah kaya oksigen dan nutrisi sangat penting untuk proses penyembuhan luka. Hal ini diperparah dengan daya tahan tubuh yang lemah sehingga infeksi semakin menjadi.

Tanpa aliran darah yang baik, luka diabetes pada kaki sulit sembuh atau bahkan mungkin tidak bisa sembuh sama sekali.

Lambat laun, luka pada kaki akan berubah menjadi ulkus diabetik atau borok yang terinfeksi dan akhirnya mengalami kematian jaringan (gangren).

Kondisi ulkus diabetikum yang semakin parah dapat menyebabkan kecacatan kaki permanen.

Pada kebanyakan kasus, infeksi parah harus ditangani dengan amputasi kaki untuk memutus penyebaran infeksi ke area tubuh lainnya.

Selain itu, mereka yang mengalami kaki diabetik juga mudah mengalami kesemutan dan kesulitan menggerakkan kaki akibat kerusakan pada saraf kaki.

Bentuk-bentuk gangguan kaki diabetik

mengobati kaki kapalan

Ulkus diabetikum bisa ditandai dengan kerusakan atau kematian jaringan pada kaki karena berbagai faktor, termasuk iritasi kulit, infeksi, dan masalah saraf kaki.

Berikut beberapa kondisi ulkus diabetikum dan gangguan kaki yang mungkin dialami penderita diabetes menurut American Diabetes Association.

1. Infeksi jamur

Infeksi jamur pada kulit kaki penderita diabetes biasanya disebabkan oleh Candida albicans. Jamur ini dapat menyerang bagian kulit yang lembap, kurang sirkulasi udara, dan tidak terkena sinar matahari.

Gangguan kaki pada penderita diabetes yang mengalami infeksi jamur menyebabkan gatal dan bercak merah di permukaan kaki.

Kondisi ini selanjutnya mengarah pada terbentuknya ulkus diabetik. Infeksi jamur yang umum terjadi adalah athlete’s foot atau dikenal dengan kutu air.

2. Borok

Borok adalah bentuk luka terbuka pada kaki akibat kaki diabetik. Kondisi ini akan butuh waktu yang sangat lama sampai akhirnya luka tertutup kembali.

Borok bisa menjadi gerbang bagi kuman dari luar yang kemudian menginfeksi kaki apabila tidak ditangani sedini mungkin.

Saat infeksi terjadi, borok bisa bertambah parah dan menjadi ulkus diabetik yang ditandai dengan keluarnya cairan dan bau tak sedap dari kaki.

3. Hammertoes

Hammertoes adalah masalah yang menyebabkan jari-jemari kaki tampak menekuk ke bawah.

Kondisi ini terjadi karena otot yang melemah dan tendon (jaringan yang menghubungkan otot ke tulang) menjadi lebih pendek.

Hal serupa juga dapat terjadi pada ibu jari kaki yang melengkung ke arah jari kaki kedua. Kondisi ini disebut dengan bunion.

Gangguan kaki diabetik ini menyebabkan penderita diabetes dapat mengalami kesulitan berjalan dan menimbulkan rasa sakit.

4. Kulit kering dan pecah-pecah

Kondisi neuropati diabetik dapat membuat kulit di bagian kaki menjadi kering. Gangguan ini juga menjadi salah satu gejala diabetes yang umum dialami.

Sekilas mungkin tidak berbahaya, tetapi kulit yang kering dapat mengakibatkan retakan yang mungkin menjadi luka diabetes dan selanjutnya menyebabkan ulkus diabetik yang sulit sembuh.

5. Lenting

Selain kapalan, masalah kaki diabetik yang umum dialami oleh penderita diabetes adalah lenting. Gangguan pada kaki ini disebabkan oleh gesekan terus-menerus pada permukaan alas kaki.

Lenting berbentuk seperti gelembung yang berisi cairan. Pada penderita diabetes, biasanya lenting akan berukuran lebih besar di permukaan kaki.

Anda tidak disarankan untuk memecahkanlenting karena ini bisa menimbulkan luka pada kaki yang berisiko terinfeksi dan membentuk ulkus diabetik.

6. Kapalan

Kapalan atau callous adalah bentuk gangguan kaki diabetik yang menimbulkan penumpukan kulit sehingga akhirnya mengeras. Gangguan ini biasanya muncul di sekitar tumit atau telapak kaki.

Proses penumpukan kulit akan lebih cepat terjadi terjadi pada individu yang mengalami diabetes sehingga terbentuk kapalan.

Kapalan pada penderita diabetes biasanya dipicu oleh alas kaki yang tidak cocok dengan bentuk kaki yang berubah karena hammertoes.

Perlu diingat, meskipun menyebabkan rasa tidak nyaman, jangan memotong penumpukan kulit ini karena dapat menyebabkan perdarahan dan ulkus diabetikum.

7. Kaki Charcot

Kerusakan saraf akibat neuropati diabetik dapat menyebabkan perubahan bentuk kaki atau kaki Charcot.

Gejala kaki diabetes ini awalnya ditandai dengan peradangan, kemerahan, dan bengkak.

Saat bengkak kaki semakin membesar, penderita diabetes biasanya mulai merasakan nyeri hingga akhirnya tulang di bagian kaki yang membengkak pun bergeser dan retak.

Kondisi ini sering menyerang bagian atas kaki dekat pergelangan. Pergeseran dan retaknya tulang menyebabkan kaki bagian atas menjadi melengkung.

Cara mencegah luka diabetes pada kaki

sepatu diabetes mencegah luka kaki diabetik

Tidak sedikit pasien diabetes yang mengalami luka pada kaki akibat beraktivitas dan berolahraga.

Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya luka diabetes yang bisa mengarah pada komplikasi kaki diabetik.

Berikut adalah cara untuk mencegah luka yang bisa berkembang menjadi ulkus diabetikum.

1. Hindari olahraga yang memberikan banyak benturan ke kaki

Meskipun harus berolahraga rutin, Anda tetap perlu memperhatikan jenis olahraga untuk mencegah terjadinya luka, terutama pada kaki.

Olahraga yang terlalu berat memiliki risiko cedera yang besar bagi penderita diabetes. Beberapa jenis olahraga yang bisa jadi pilihan Anda seperti yoga, tai chi, berjalan santai dan berenang dibandingkan berlari.

Ketimbang olahraga yang lainnya, berlari dapat memberikan benturan berulang pada telapak kaki Anda.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko cedera yang mengakibatkan ulkus diabetikum.

2. Pilih sepatu sesuai dengan aktivitas yang dilakukan

Cara lain untuk mencegah luka diabetes adalah selalu gunakan alas kaki yang sesuai dengan kegiatan yang akan Anda lakukan, misalnya menggunakan sepatu lari untuk jogging.

Penggunaan alas kaki yang tepat dapat membantu kelancaran aliran darah ke bagian kaki saat beraktivitas. Sebaliknya, memakai alas kaki yang tidak sesuai bisa membuat Anda berisiko mengalami luka.

Pastikan pula ukuran sepatu pas dan tidak sempit agar tidak menimbulkan kapalan yang berpotensi jadi luka atau ulkus diabetik.

Terdapat beberapa tips yang bisa Anda pertimbangkan dalam memilih sepatu untuk diabetes yaitu.

  • Pilihlah sepatu yang dalam, sekitar 0,6-1,2 cm dari sepatu biasanya, agar kaki tidak terlalu sempit.
  • Pilihlah sepatu yang ringan dengan bahan fleksibel, seperti kulit atau kanvas.
  • Pilih sepatu yang talinya bisa Anda kendorkan atau kencangkan, sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi kaki.
  • Sepatu harus memiliki bagian belakang yang kuat dengan sol yang empuk dan menyerap keringat.
  • Jangan pilih sepatu yang sempit, berikan jarak sekitar setengah sentimeter dari ujung jari ke ujung sepatu.

4. Selalu gunakan alas kaki lengkap dengan kaos kaki

Saat beraktivitas, jangan lupa untuk menggunakan alas kaki termasuk di dalam rumah.

Alas kaki yang tepat dan cukup tebal dapat melindungi telapak kaki Anda dari berbagai benda tajam yang bisa melukai kaki.

Kaos kaki membuat kaki Anda selalu kering dan lebih terjaga dari benda-benda luar yang mungkin melukai kaki.

Tak hanya itu, kaki Anda juga akan terasa nyaman karena adanya kaos kaki yang berperan menjadi bantalan lembut dalam sepatu.

5. Periksa dan cek kondisi kaki setiap hari

Biasakan untuk memeriksa kaki sebelum dan sesudah melakukan olahraga karena Anda bisa saja mengalami luka tetapi tak merasakan sakit.

Selain itu, biasakan untuk mencuci kaki dan segera mengeringkannya agar kaki selalu bersih.

Jaga kaki agar selalu kering sebagai bentuk pencegahan sebelum terbentuknya luka. Hindari membersihkan kaki dengan air yang terlalu panas.

Periksa kaki secara rutin untuk setiap perubahan yang tidak biasa, termasuk adanya sakit, luka, atau borok kulit.

Luka terbuka, luka gores, atau luka pada kaki harus diperiksa oleh dokter segera.

Diabetic foot atau ulkus diabetikum dapat dihindari jika Anda menjalani pola hidup sehat untuk mengendalikan kadar gula darah dan mengikuti anjuran minum obat diabetes dari dokter jika memang diperlukan.

Perawatan dan pemeriksaan kaki harus dilakukan rutin setiap hari.

Bila mengalami gejala yang berhubungan dengan kaki diabetik, segera konsultasi ke dokter untuk mendapat perawatan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ibrahim, A., Jude E., Langton, K., et. al. (2017). Clinical Practice Recommendations
on the Diabetic Foot. International Diabetes Federation. Brussels, Belgium. Available at https://www.idf.org/component/attachments/?task=download&id=1152

Kruse, I. (2006). Evaluation and Treatment of Diabetic Foot Ulcers. Clinical Diabetes, 24(2), 91-93. https://doi.org/10.2337/diaclin.24.2.91

American Diabetes Association. (2020). Foot Complications. Retrieved 18 August 2020, from https://www.diabetes.org/diabetes/complications/foot-complications?referrer=https%3A//www.google.co.id/

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2020). Diabetes and Foot Problems . Retrieved 18 August 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/preventing-problems/foot-problems

Pendsey S. P. (2010). Understanding diabetic foot. International journal of diabetes in developing countries, 30(2), 75–79. https://doi.org/10.4103/0973-3930.62596

WHO. (2020). About diabetes. Retrieved 18 August 2020, from https://www.who.int/diabetes/action_online/basics/en/index3.html

American Diabetes Association. (2020). Skin Complications. Retrieved 18 August 2020, from https://www.diabetes.org/diabetes/complications/skin-complications?referrer=https%3A//www.google.co.id/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 08/09/2020
x