Hidup dengan diabetes? Anda tidak sendiri. Ikut komunitas kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenali Gejala Hipoglikemia Ringan hingga Berat

Kenali Gejala Hipoglikemia Ringan hingga Berat

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah (glukosa) lebih rendah dari rentang normal hingga menimbulkan berbagai gejala.

Bila kadar glukosa sangat rendah, tubuh akan kekurangan energi untuk menjalankan fungsinya dengan benar.

Anda sebenarnya bisa cepat mengatasi hipoglikemia dengan mengonsumsi makanan sumber karbohidrat, apalagi bila mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Apa saja tanda-tanda tersebut? Simak jawabannya dalam ulasan berikut.

Gejala hipoglikemia menurut tingkat keparahannya

kadar gula darah rendah hipoglikemia

Hipoglikemia biasanya dialami oleh pasien diabetes (diabetesi) yang memakai insulin secara rutin.

Terapi insulin sebenarnya membantu menjaga kestabilan gula darah. Namun, obat ini juga bisa menurunkan gula darah hingga ke level yang sangat rendah.

Selain itu, orang yang tidak mengidap diabetes juga dapat mengalami hipoglikemia.

Bedanya, penyebab hipoglikemia pada nondiabetesi berkaitan dengan pola makan dan aktivitas sehari-hari.

Melansir laman Endocrine Society, berikut gejala hipoglikemia berdasarkan tingkat keparahan yang Anda alami.

1. Hipoglikemia ringan

Seseorang dikatakan mengalami hipoglikemia ringan bila gula darahnya kurang dari 70 miligram per desiliter (mg/dL), tapi lebih tinggi dari 54 mg/dL.

Kondisi ini biasanya terjadi akibat puasa yang berlebihan, olahraga yang terlalu berat, atau konsumsi alkohol yang berlebihan.

Pada tahap ini, Anda mungkin mengalami gejala awal berupa:

  • badan gemetar,
  • pusing atau berkunang-kunang,
  • sakit kepala,
  • kulit lembap, serta
  • jantung berdebar.

Akan tetapi, beberapa orang mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut.

Kondisi yang dikenal sebagai “hypoglycemia unawareness” ini sering kali terjadi pada diabetesi yang mengalami hipoglikemia kronis (menahun) dan rutin menggunakan insulin.

2. Hipoglikemia sedang

Kadar gula darah kurang dari 54 mg/dL menandakan hipoglikemia sedang atau disebut juga hipoglikemia level 2.

Pada tahap ini, Anda mungkin mengalami gejala hipoglikemia ringan dan beberapa gejala tambahan sebagai berikut.

  • Munculnya perasaan cemas atau lemah.
  • Perubahan perilaku, seperti mengantuk, mudah marah, dan linglung.
  • Kesulitan untuk berbicara dengan lancar, misalnya kata-kata Anda menjadi tidak jelas.
  • Pandangan menjadi kabur, ganda, berbayang, atau buram.

3. Hipoglikemia berat

Hipoglikemia berat ditandai dengan kadar gula darah kurang dari 40 mg/dL.

Sebagian besar kasus hipoglikemia berat terjadi pada diabetesi yang rutin menggunakan insulin atau obat diabetes tertentu, misalnya sulfonilurea.

Umumnya, pasien diabetes tipe 1 rentan mengalami hipoglikemia berat karena mereka memakai insulin setiap hari.

Namun, pasien diabetes tipe 2 pun bisa mengalami kondisi ini bila tidak memantau pola makan dan aktivitasnya selama pengobatan.

Selain tanda hipoglikemia yang telah disebutkan sebelumnya, Anda dapat mengalami linglung, kejang, hingga pingsan.

Hipoglikemia berat bisa membahayakan jiwa, jadi orang yang mengalaminya harus segera mendapatkan penanganan medis.

Gejala hipoglikemia pada malam hari

Pasien diabetes bisa saja mengalami hipoglikemia ketika tidur dan tidak menyadarinya.

Saat Anda tertidur, produksi hormon yang mengatur gula darah seperti insulin produksinya akan menurun, sedangkan glukagon akan meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai hipoglikemia nokturnal.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa hampir sebagian kasus hipoglikemia terjadi saat seseorang tertidur.

Lebih dari setengahnya merupakan hipoglikemia berat yang memiliki potensi bahaya bagi kesehatan.

Tanda-tanda hipoglikemia nokturnal yang harus Anda waspadai yakni:

  • berkeringat pada malam hari,
  • gelisah saat tidur,
  • kulit panas atau lembap,
  • badan gemetar,
  • sakit kepala,
  • jantung berdebar,
  • mengigau hingga berteriak,
  • mimpi buruk, serta
  • napas tiba-tiba menjadi lebih cepat atau lebih lambat.

Maka dari itu, pasien hipoglikemia nokturnal sebaiknya memeriksaan gula darah di rumah pada pukul 2 pagi selama 2-3 hari.

Cara tersebut dapat membantu memantau kadar gula darah tetap terkendali.

Kapan Anda harus ke dokter?

dokter

Kadar gula darah yang sangat rendah bisa membahayakan jiwa. Maka dari itu, jangan abaikan gejala apa pun yang Anda alami.

Jika hipoglikemia terdeteksi dengan cepat, Anda pun dapat mengurangi kemungkinan munculnya komplikasi diabetes yang berbahaya.

Bila Anda bukan pasien diabetes dan mengalami tanda-tanda hipoglikemia, segeralah kunjungi dokter.

Walaupun kondisi Anda membaik setelah mengonsumsi gula, Anda tetap harus pergi ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Nondiabetesi yang sering mengalami hipoglikemia mungkin mempunyai kondisi medis tertentu.

Anda harus mengetahui penyebabnya sebelum hipoglikemia bertambah parah dan menimbulkan komplikasi.

Sementara bagi pasien diabetes, Anda mungkin sudah terbiasa mengatasi hipoglikemia dengan makan makanan manis atau tablet glukosa sesuai anjuran dokter.

Selama gula darah Anda bisa kembali normal, Anda tidak perlu cemas.

Namun, lain halnya bila gula darah Anda tidak juga naik atau gejala hipoglikemia tidak berkurang bahkan setelah Anda mengonsumsi makanan manis.

Segera periksakan diri Anda ke dokter untuk mencari tahu penyebab dan solusinya.

Komplikasi hipoglikemia

penyebab badan lemas

Hipoglikemia ringan merupakan hal yang sangat umum bagi pasien diabetes.

Namun, jika Anda membiarkannya kambuh tanpa penanganan, hipoglikemia bisa menyebabkan kejang, pingsan, koma, hingga kematian.

Kadar gula darah yang rendah juga bisa menimbulkan beberapa dampak tak langsung akibat kondisi tubuh yang menurun.

Anda mungkin jadi lebih rentan mengalami cedera, jatuh, hingga kecelakaan saat berkendara.

Selain itu, membiarkan gula darah terlalu rendah juga berdampak buruk bagi otak dan saraf Anda.

Otak sangat membutuhkan glukosa untuk bisa berfungsi dengan normal. Tanpa asupan glukosa yang cukup, otak akan kehabisan bahan bakarnya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu fungsi tertentu pada otak dan menyebabkan kerusakan saraf.

Studi dalam jurnal Aging Cell pun menemukan bahwa kurangnya asupan gula ke otak bisa meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

Inilah pentingnya memantau gula darah setiap hari, khususnya bagi Anda yang memiliki penyakit diabetes.

Meski hipoglikemia merupakan kondisi umum yang bisa Anda atasi dengan mudah, dampak jangka panjangnya sangatlah besar.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Anda atau keluarga hidup dengan diabetes?

Anda tidak sendiri. Ayo gabung bersama komunitas pasien diabetes dan temukan berbagai cerita bermanfaat dari pasien lainnya. Daftar sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hypoglycemia – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 4 October 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypoglycemia/symptoms-causes/syc-20373685

Hypoglycemia. (2018). Retrieved 4 October 2021, from https://www.hormone.org/diseases-and-conditions/diabetes/diabetes-complications/hypoglycemia

Severe Hypoglycemia. (2019). Retrieved 4 October 2021, from https://www.hormone.org/diseases-and-conditions/diabetes/severe-hypoglycemia

Low blood sugar (hypoglycaemia) . (2017). Retrieved 4 October 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/low-blood-sugar-hypoglycaemia/

Hypoglycemia: Nocturnal. (2021). Retrieved 4 October 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diabetes/hypoglycemia-nocturnal

Cryer, P. (2007). Hypoglycemia, functional brain failure, and brain death. Journal Of Clinical Investigation, 117(4), 868-870. doi: 10.1172/jci31669

Lauretti, E., & Praticò, D. (2015). Glucose deprivation increases tau phosphorylation via P38 mitogen-activated protein kinase. Aging cell, 14(6), 1067–1074. https://doi.org/10.1111/acel.12381

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 26/10/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan