Apa Itu Herd Immunity dan Hubungannya dengan COVID-19?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi COVID-19 telah membuat banyak orang bertanya-tanya kapan dan bagaimana wabah dapat mereda. Penelitian terus dilakukan dan terus berkembang, segala cara dan kemungkinan mulai disuarakan. Belakangan Inggris dan Belanda membunyikan soal kemungkinan herd immunity (kekebalan kelompok) dalam melawan COVID-19.

Apa itu kekebalan kelompok atau Herd immunity dan apakah diperlukan dalam penanganan COVID-19? Berikut ulasannya. 

Usul herd immunity (kekebalan kelompok) untuk penanganan COVID-19

herd immunity covid-19

Sir Patrick Vallance, kepala ilmiah pemerintah Inggris mengatakan membuka pilihan untuk membentuk herd immunity sebagai salah satu pilihan penanganan COVID-19. Ia mengusulkan untuk membentuk kekebalan kelompok dengan membiarkan lebih kurang 60 persen dari populasinya terinfeksi COVID-19.

Pada Jumat (13/3), kepala penasihat medis dan urusan sains pemerintah Inggris, Sir Patrick Vallance, mengatakan di BBC Radio4 bahwa salah satu hal utama yang perlu kita lakukan adalah membangun semacam kekebalan kelompok.

“Sehingga lebih banyak orang kebal terhadap penyakit ini dan kami mengurangi perpindahan,” ujarnya.

Selain Inggris, Belanda juga menyuarakan hal serupa. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan lockdown tidak menjadi salah satu pilihan mereka.

Rutte menyebut akan mencari cara lain salah satunya  pilihannya adalah “penyeberan terkontrol dalam kelompok yang memiliki risiko paling rendah.” Maksudnya adalah membiarkan virus menginfeksi kelompok muda dan sehat.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

207,203

Terkonfirmasi

147,510

Sembuh

8,456

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Usul tersebut lalu memunculkan banyak komentar dan kritik dari para ahli.

Dua hari kemudian Matt Hancock, Sekretaris Negara untuk Perawatan Kesehatan dan Sosial Inggris, menyangkal hal usulan tersebut. Ia mengatakan bahwa “kekebalan kelompok adalah cara lain yang alami dari suatu epidemi”.

“Kami akan mendengarkan semua ilmuwan yang kredibel dan kita akan melihat semua buktinya,” katanya. “Herd immunity bukan tujuan atau kebijakan kami, ini adalah konsep ilmiah.”

Apa itu herd immunity dalam penanganan hal menular semacam COVID-19?

herd immunity covid-19

Menurut Proyek Pengetahuan Vaksin Universitas Oxford, herd immunity (kekebalan kelompok) adalah kondisi di mana sekelompok besar orang menumbuhkan kekebalan imun atas suatu penyakit. 

Ketika cukup banyak orang di suatu komunitas kebal terhadap suatu penyakit, maka akan sulit bagi virus tersebut untuk menyebar karena tidak banyak orang yang dapat terinfeksi. 

Sebagai contoh, saat satu orang sakit campak dikelilingi oleh orang yang sudah divaksin dan kebal terhadap campak, maka penyakit itu akan sulit untuk menular ke individu lain. Lalu orang-orang yang kebal ini jadi semacam benteng pertahanan. 

Dengan begitu akan dengan cepat menghilang karena virusnya tidak mudah ditularkan kepada kelompok yang rentan (atau tidak kebal).

Efek Coronavirus COVID-19 pada Lansia, Ibu Hamil hingga Anak

Herd immunity, atau kekebalan kelompok, atau perlindungan kawanan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang rentan seperti bayi yang baru lahir, orang tua, dan mereka yang terlalu sakit untuk divaksin,” tulis University of Oxford.

Hanya saja, kekebalan kelompok tidak melindungi dari semua macam penyakit menular yang dapat divaksin.

Contohnya pada penyakit tetanus yang berasal dari bakteri di lingkungan dan bukan dari orang ke orang. Jadi tidak peduli berapa banyak orang yang divaksinasi atau kebal pada tetanus, itu tidak akan melindungi satu individu yang rentan untuk terinfeksi hal tersebut.

Dalam konsep kekebalan kelompok ini, tidak penting bagaimana cara mereka kebal terhadap virus, apakah itu karena vaksinasi atau karena sudah tertular.

Kekebalan kelompok biasanya dicapai melalui vaksinasi daripada melalui penyebaran atau membiarkan sebagian besar orang terinfeksi yang lalu disembuhkan.

Mengapa kekebalan kelompok tidak perlu dilakukan?

COVID-19 bertahan di udara

Dengan belum adanya vaksin, berarti membentuk herd immunity yang disampaikan Inggris dan Belanda  tersebut adalah dengan membiarkan sebagian besar orang terinfeksi.

Ide tersebut ditentang banyak ahli. Mereka mengingatkan bahwa membiarkan COVID-19 menyebar di antara masyarakat yang lebih muda dan lebih sehat merupakan cara berbahaya untuk membangun kekebalan.

Beberapa ahli menjelaskan mengapa herd immunity tidak bisa melawan penyebaran infeksi COVID-19 dan tidak perlu dilakukan.

Di balik tercetusnya pembentukan kekebalan kelompok ini adalah meminimalkan penyebaran COVID-19 seperti gelombang flu Spanyol pada 1918.

Skenario kekebalan kelompok yang termasuk berhasil adalah saat populasi satu kawanan terinfeksi, sembuh, dan berhasil membentuk imunitas. Membuat mereka resisten terhadap infeksi ulang.

Menurut Sir Patrick Vallance, agar bisa terbentuk herd immunity seperti ini di Inggris, virus COVID-19 perlu menyebar ke sekitar 60 persen populasi Inggris. 

gejala dan komplikasi coronavirus

Berikut perhitungan yang dilansir Vox.

Total ada 66 juta orang yang tinggal di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Dengan strategi herd immunity tersebut, berarti COVID-19 harus dibiarkan menginfeksi sekitar 40 juta orang. 

Mengingat minimnya akses ke perawatan medis dan faktor-faktor lainnya, tingkat kematian dari pembentukan kekebalan kelompok tersebut akan mencapai angka 300 ribu sampai satu juta jiwa.

Hal tersebut menyebabkan lebih dari 200 ilmuwan dan profesional medis menentang strategi kekebalan kelompok dalam sebuah surat terbuka.

Para ahli berpendapat bahwa kekebalan kawanan bukanlah pilihan yang layak. “Cara ini akan membuat tingkat stres bertambah dan tentunya membahayakan banyak nyawa,” tulis para pakar dalam surat tersebut.

Sebaliknya, mereka menyerukan langkah physical distancing yang ketat dan lebih serius daripada yang direkomendasikan pemerintah saat ini.

“Dengan menerapkan langkah-langkah social distancing, penyebaran dapat diperlambat, dan ribuan nyawa dapat terhindar dari bahaya. Langkah-langkah tambahan dan lebih ketat harus segera diambil, karena sudah menyebar di negara-negara di seluruh dunia.” ujar mereka.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 Berbahaya yang Datang Diam-diam

Happy hypoxia adalah gejala COVID-19 yang baru-baru ini diketahui dan dinyatakan sebagai salah satu gejala berat yang membahayakan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 7 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Pria 33 tahun yang tertular COVID-19 dua kali setelah dinyatakan sembuh pada akhir Maret. Apakah kekebalan terhadap infeksi kedua tidak terbentuk?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Amerika Izinkan Perawatan COVID-19 dengan Plasma Darah Pasien Sembuh, Apa itu?

Plasma darah pasien sembuh dipercaya mampu menjadi terapi untuk menangani pasien COVID-19. Meski begitu keefektifannya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Melawan COVID-19: Jangan Ada Lagi Tenaga Medis yang Gugur

Penyebaran COVID-19 belum bisa dihentikan, ratusan nyawa tidak berhasil diselamatkan, termasuk para dokter dan tenaga medis yang melawan di garis depan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 2 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jenis masker

Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit
uji coba vaksin covid-19

Perkembangan Terakhir Sejumlah Calon Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 7 menit
anak covid-19 peradangan multisistem

Sindrom Peradangan Multisistem, Gejala COVID-19 Berbahaya pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit