home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Agar Cepat Sembuh, Kenali Pengobatan yang Tepat untuk Trikomoniasis

Agar Cepat Sembuh, Kenali Pengobatan yang Tepat untuk Trikomoniasis

Penyakit trikomoniasis sangat mudah menular melalui hubungan seks, terutama jika dilakukan tanpa memakai kondom. Meski penyakit kelamin trikomoniasis terdengar mengerikan, deteksi dini penyakit ini dapat mempermudah proses pengobatan. Nah, bagaimana cara mengobati trikomoniasis? Ikuti ulasan lengkapnya di sini, ya!

Apa saja pengobatan untuk mengatasi trikomoniasis?

Trikomoniasis adalah salah satu jenis penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi parasit protozoa Trichomonas vaginalis.

Penyakit menular seksual yang satu ini tergolong sangat umum terjadi. Kendati demikian, penyakit ini sering kali sulit terdeteksi karena tak semua pasien mengalami gejala trikomoniasis setelah terinfeksi.

Menurut CDC, diperkirakan hanya sekitar 30% pasien trikomoniasis yang mengalami gejala.

Oleh karena itu, cara terbaik untuk mendeteksi penyakit ini adalah dengan periksa ke dokter, terutama untuk kondisi sebagai berikut:

  • Sering melakukan hubungan seks tanpa kondom.
  • Sering bergonta-ganti pasangan seksual.
  • Pernah terkena trikomoniasis atau penyakit menular seksual lain sebelumnya.

Dengan memeriksakan diri ke dokter, Anda bisa mengetahui secara pasti kondisi kesehatan sekaligus mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Untuk penyakit trikomoniasis sendiri, pengobatan yang diberikan biasanya berupa obat-obatan antibiotik golongan nitroimidazole.

Antibiotik nitroimidazole adalah satu-satunya obat kelas antimikrobial yang efektif melawan infeksi parasit protozoa, termasuk parasit penyebab trikomoniasis.

Nah, biasanya trikomoniasis akan ditangani dengan 2 jenis obat golongan nitroimidazole, yaitu metronidazole dan tinidazole.

Kedua obat ini tidak diberikan bersamaan, melainkan akan ditentukan oleh dokter jenis obat mana yang perlu diminum sesuai kondisi Anda.

Berikut penjelasan mengenai masing-masing antibiotik untuk pengobatan penyakit trikomoniasis:

1. Metronidazole

Metronidazole adalah antibiotik yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai macam infeksi, terutama yang terjadi pada kulit.

Obat ini juga bisa digunakan untuk mencegah infeksi bakteri atau parasit pada luka terbuka. Cara mengobati trikomoniasis dengan obat metronidazole yakni melalui oral (diminum).

Meski obat ini juga tersedia dalam bentuk gel, metronidazole gel tidak direkomendasikan karena kurang efektif untuk membasmi parasit T. vaginalis yang mungkin menginfeksi uretra atau saluran kencing.

Dosis obat metronidazole yang biasanya diresepkan dokter adalah 2 gram (gr) untuk diminum 1 kali sehari. Ada juga dosis alternatif yakni 400-500 miligram (mg) yang bisa diminum 2 kali sehari selama 5-7 hari.

Pada beberapa orang, metronidazole mungkin dapat menimbulkan beberapa efek samping ringan, seperti:

  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Rasa logam di mulut

Untuk menghindari risiko efek samping semakin parah, sebaiknya hindari konsumsi minuman beralkohol selama minum obat metronidazole dan 24 jam setelah pengobatan selesai.

2. Tinidazole

Tinidazole adalah alternatif lain untuk pengobatan trikomoniasis. Biasanya, tinidazole diberikan apabila pasien telah mengalami resistensi terhadap antibiotik metronidazole.

Resistensi antibiotik banyak ditemukan pada pasien yang tidak minum antibiotik dengan tepat.

Selain untuk mengobati trikomoniasis, tinidazole juga biasanya diresepkan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit infeksi lain, seperti giardiasis, amebiasis, serta vaginosis bakterialis.

Tinidazole sebagai cara mengobati trikomoniasis biasanya disarankan untuk diminum 1 kali dengan dosis sebanyak 2 gram.

Tinidazole tergolong sebagai antibiotik yang lebih mahal. Namun, efektivitasnya lebih tinggi dan diyakini memiliki efek samping yang lebih ringan jika dibandingkan dengan metronidazole.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan efek samping tetap bisa muncul pada beberapa orang. Berikut adalah berbagai efek samping yang mungkin timbul karena minum obat tinidazole:

  • Sakit perut
  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Konstipasi
  • Rasa logam di mulut

Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani pengobatan trikomoniasis dengan tinidazole.

Sampaikan semua hal mengenai riwayat penyakit serta obat-obatan yang sedang rutin diminum. Obat tinidazole tidak boleh dikonsumsi oleh kelompok berikut ini:

  • Orang dengan penyakit tertentu (kelainan perdarahan atau penyakit hati).
  • Orang yang sering minum alkohol.
  • Wanita yang sedang hamil dan menyusui.

Hal yang harus dilakukan selama pengobatan trikomoniasis

Setelah dokter meresepkan obat-obatan untuk mengatasi trikomoniasis yang Anda alami, pastikan Anda memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  • Minum obat sesuai dengan resep dan anjuran dari dokter.
  • Hindari mengubah dosis atau berhenti minum obat sebelum habis meskipun Anda merasa sudah baik-baik saja.
  • Pasangan Anda sebaiknya juga harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan agar risiko tertular trikomoniasis tidak kembali terjadi.
  • Hindari melakukan hubungan intim selama pengobatan dan seminggu setelah selesai.
  • Hindari berbagi obat-obatan dengan orang lain.

Tidak menutup kemungkinan Anda bisa terkena infeksi menular seksual lagi setelah sembuh, termasuk trikomoniasis.

Maka itu, pastikan Anda selalu menggunakan kondom dan menjalani tes skrining untuk mendeteksi penyakit menular seksual secara berkala.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Trichomoniasis: Fact Sheet – CDC. (2020). Retrieved January 19, 2021, from https://www.cdc.gov/std/trichomonas/stdfact-trichomoniasis.htm 

2015 Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines: Trichomoniasis – CDC. (2015). Retrieved January 19, 2020, from https://www.cdc.gov/std/tg2015/trichomoniasis.htm 

Trichomoniasis (Trich) – Planned Parenthood. (n.d.). Retrieved January 19, 2021, from https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/trichomoniasis 

How do I get treated for trichomoniasis? – Planned Parenthood. (n.d.). Retrieved January 19, 2020, from https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/trichomoniasis/how-do-i-get-treated-trichomoniasis 

Treatment: Trichomoniasis – NHS. (2018). Retrieved January 19, 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/trichomoniasis/treatment/ 

Metronidazole – NHS. (2018). Retrieved January 19, 2020, from https://www.nhs.uk/medicines/metronidazole/ 

Metronidazole – MedlinePlus. (2017). Retrieved January 19, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a689011.html 

Tinidazole – MedlinePlus. (2017). Retrieved January 19, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a604036.html 

Tinidazole tablets – Cleveland Clinic. (n.d.). Retrieved January 19, 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/18069-tinidazole-tablets 

Kissinger, P. (2015). Trichomonas vaginalis: a review of epidemiologic, clinical and treatment issues. BMC Infectious Diseases, 15(1). https://doi.org/10.1186/s12879-015-1055-0 

Sherrard, J. (2017). How to diagnose and manage Trichomonas vaginalis The Pharmaceutical Journal. https://doi.org/10.1211/pj.2017.20203485 

Jenks, P. (2010). Nitroimidazoles. Antibiotic And Chemotherapy, 292-300. https://doi.org/10.1016/B978-0-7020-4064-1.00024-5 

Hager W. D. (2004). Treatment of metronidazole-resistant Trichomonas vaginalis with tinidazole: case reports of three patients. Sexually transmitted diseases, 31(6), 343–345. https://doi.org/10.1097/00007435-200406000-00004

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 05/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x