home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sudah Pakai IUD (KB Sprial) Masih Bisa Hamil, Apa Penyebabnya?

Sudah Pakai IUD (KB Sprial) Masih Bisa Hamil, Apa Penyebabnya?

IUD atau KB spiral termasuk satu dari berbagai jenis alat kontrasepsi dengan tingkat keampuhan bisa mencapai 99,7 persen. Itu sebabnya, IUD cukup populer digunakan oleh wanita yang ingin menunda atau tidak ingin hamil lagi. Namun, nyatanya wanita yang sudah pakai IUD atau KB spiral tetap bisa kebobolan hamil, meskipun kemungkinannya sangat kecil.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi dan apa risiko bila hamil saat pakai IUD? Berikut ulasan lengkapnya.

Mengapa wanita pakai IUD bisa hamil?

KB IUD adalah apa itu IUD

IUD adalah salah satu alat kontrasepsi yang paling efektif untuk mencegah kehamilan jangka panjang.

Bentuk alat kontrasepsi ini menyerupai huruf T yang dipasang di dalam rahim. Jika berencana pakai KB IUD, ada 2 jenis IUD yang bisa jadi pilihan Anda, yaitu hormonal dan non hormonal.

IUD hormonal adalah kontrasepsi yang bekerja dengan cara melepaskan hormon progestin guna mengentalkan lendir di leher rahim (serviks).

Lendir di leher rahim yang kenatl dapat menghentikan pergerakan sperma untuk membuahi sel telur sehingga kehamilan tidak akan terjadi.

Sementara IUD non-hormonal adalah KB spiral yang dilapisi oleh tembaga.

Fungsi tembaga pada IUD non-hormonal adalah untuk mencegah sel sperma agar tidak bertemu dengan sel telur.

Dengan begitu, tidak bisa terjadi pembuahan sebagai awal mula kehamilan selama Anda pakai KB IUD ini.

Bisakah tidak menstruasi saat pakai IUD?

Untuk mencegah kehamilan, IUD memiliki alat kontrasepsi berisiko gagal kurang dari 1 persen.

Artinya, hanya 1 dari 100 wanita yang pakai KB spiral atau IUD yang bisa saja hamil setiap tahunnya.

Sayangnya, meski tergolong sangat jarang, seorang wanita bisa hamil dapat terjadi pada wanita yang sedang pakai IUD, baik hormonal maupun non-hormonal.

Ketika Anda pakai IUD tetapi kebobolan hamil, otomatis Anda tidak akan mengalami menstruasi seperti biasanya.

Risiko hamil dan tidak menstruasi setelah pakai KB spiral bisa terjadi pada tahun pertama pemasangan.

Penyebab pakai IUD tetapi tidak menstruasi karena hamil bisa dipengaruhi oleh beberapa hal berikut ini:

1. Posisi IUD bergeser

IUD yang bergeser sebagian atau seluruhnya hingga keluar dari rahim bisa meningkatkan risiko telat menstruasi atau bahkan kehamilan, meskipun pakai IUD.

Beberapa faktor yang menyebabkan IUD bergeser yaitu dipasang saat berusia masih sangat muda, setelah melahirkan normal, dan setelah mengalami keguguran.

2. IUD hormonal belum mulai berfungsi

IUD hormonal baru bekerja efektif ketika dipasang pada 7 hari pertama periode menstruasi.

Jika pemasangan IUD tidak dilakukan dalam siklus menstruasi, IUD baru akan efektif 7 hari kemudian. Kasus ini bisa terjadi pada sekitar 5% wanita selama tahun pertama pemakaian.

Itulah mengapa dokter menyarankan agar wanita yang baru menggunakan IUD melakukan kontrol satu bulan kemudian untuk memastikan IUD-nya masih terpasang dengan benar di dalam rahim.

3. IUD telah melewati batas kedaluwarsa

Beberapa produk IUD hormonal tidak lagi efektif untuk mencegah kehamilan apabila digunakan lebih dari tanggal kedaluwarsanya.

Itu sebabnya, Anda bisa berisiko telat atau bahkan tidak menstruasi sama sekali karena hamil meski pakai IUD.

Bagaimana bila hamil saat pakai IUD?

tanda-tanda kehamilan selain telat haid

Wanita yang hamil saat sedang pakai IUD mengalami tanda dan gejala yang sama seperti kehamilan pada umumnya.

Hal ini disebabkan ada wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur pada bulan-bulan awal setelah pemasangan IUD.

Bahkan, beberapa wanita bisa telat atau tidak mengalami menstruasi sama sekali setelah pakai KB spiral.

Jika Anda merasakan salah satu gejala tersebut, berikut yang perlu dilakukan untuk mengetahui apakah Anda hamil atau tidak meski sudah pakai IUD, yakni:

1. Melakukan tes kehamilan

Jika Anda merasa hamil meski sudah pakai IUD, Anda bisa melakukan tes kehamilan. Tes ini bisa juga secara mandiri dilakukan di rumah Anda sendiri.

Hal ini bisa dilakukan untuk mengkonfirmasi apakah Anda benar-benar hamil atau tidak meski sudah pakai KB spiral.

Selain melakukan tes kehamilan secara mandiri di rumah, Anda bisa menjadwalkan tes darah dengan dokter agar bisa lebih yakin dengan hasilnya.

2. Menemui dokter

Bila Anda sedang hamil, pakai IUD bisa menjadi penyebab Anda mengalami kehamilan ektopik.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk menemui dokter jika merasa tanda hamil meski sudah pakai KB spiral.

3. Segera lepas IUD

Jika dokter Anda sudah menyatakan bahwa Anda hamil, pakai IUD tetap bisa membahayakan kondisi Anda dan janin.

Oleh karena itu, lebih baik Anda meminta dokter agar membantu Anda melepas IUD. Anda tidak disarankan untuk melepasnya sendiri.

Sebaiknya, minta bantuan dokter atau ahli medis profesional yang sudah tahu bagaimana prosedur melepas IUD yang tepat.

Namun, Anda juga harus tahu bahwa ada risiko keguguran ketika IUD Anda dilepaskan. Meski begitu, kemungkinan Anda bisa keguguran saat hamil dengan tetap pakai KB spiral juga lebih tinggi.

Jadi, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter agar bisa ditentukan keputusan terbaik sesuai kondisi kesehatan Anda.

Berbagai risiko yang bisa dialami wanita hamil saat pakai IUD

risiko endometriosis saat hamil

Tahukah Anda ada berbagai risiko yang bisa terjadi jika Anda tetap pakai IUD saat hamil?

Ya, memaksakan diri untuk pakai KB spiral saat hamil bisa menyebabkan Anda mengalami berbagai risiko kesehatan.

Hal itu tidak hanya berlaku pada ibu hamil, tetapi juga pada bayi yang ada di dalam kandungan.

Oleh karena itu, agar tidak membahayakan ibu dan janin, sebaiknya IUD segera dilepas.

Berikut ini adalah beberapa risiko yang mungkin dialami jika tetap menggunakan IUD saat hamil:

1. Infeksi pada cairan ketuban

Salah satu risiko yang bisa terjadi jika pakai IUD saat hamil adalah infeksi pada cairan ketuban (chorioamnionitis).

Infeksi ini ditandai dengan plasenta yang terpisah dari dinding rahim.

Wanita yang hamil pakai KB spiral bisa berisiko untuk mengalami infeksi pada cairan ketuban ini.

Infeksi ini menyerang cairan ketuban yang berfungsi untuk melindungi bayi selama di dalam rahim.

Chorioamnionitis tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi fatal bagi ibu dan janin di dalam kandungan.

2. Kelahiran prematur

Risiko lain yang juga bisa Anda alami jika tetap pakai IUD saat hamil adalah kelahiran prematur.

Wanita yang masih pakai IUD saat sedang mengandung berisiko hingga 5 kali lebih besar untuk melahirkan bayi prematur.

Sementara wanita yang hamil tanpa menggunakan IUD memiliki risiko yang lebih kecil.

Saat wanita dinyatakan hamil masih menggunakan IUD tetapi segera dilepas, kemungkinan kelahiran prematur memang akan berkurang.

Namun, bukan berarti kemungkinan melahirkan secara prematur tidak akan terjadi sama sekali.

Artinya, kemungkinan Anda untuk melahirkan prematur selama kehamilan nantinya tetap ada.

3. Keguguran

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu risiko Anda pakai KB spiral saat hamil bisa menyebabkan Anda mengalami keguguran.

Untuk mencegah terjadinya keguguran, Anda dianjurkan untuk segera melepaskan IUD.

Namun, proses pelepasan IUD juga bisa membuat Anda mengalami keguguran saat hamil. Sayangnya, jika IUD tidak dilepas, risiko keguguran juga dapat semakin besar.

Jadi, mau tak mau, risiko ini tergolong hal yang sulit untuk dihindari.

4. Kehamilan ektopik

Pakai IUD saat hamil juga berisiko menyebabkan kehamilan ektopik. Bahkan, ada sekitar 0.1% pengguna IUD yang mengalami kehamilan ektopik.

Melansir dari UT Southwestern Medical Center, kehamilan ektopik adalah kondisi di mana sel telur yang difertilisasi atau dibuahi di luar rahim, misalnya di tuba falopi.

Kondisi ini berisiko menyebabkan memengaruhi kesehatan Anda. Kehamilan ektopik juga dikenal dengan hamil di luar kandungan.

Kebanyakan kasus hamil ektopik selalu berakhir dengan keguguran. Itu sebabnya, hamil dengan IUD harus terus dipantau oleh dokter untuk mencegah kerusakan permanen pada sistem reproduksi wanita.

Bila Anda mengalaminya, segera konsultasikan ke dokter.

Dokter kemungkinan akan melakukan tes darah 1 kali dan dilanjutkan lagi setelah 48 jam kemudian untuk memastikan kondisi hormon hCG (hormon kehamilan) terus meningkat.

Bila demikian, ini tandanya kehamilan Anda masih dapat dipertahankan dan bukan termasuk hamil anggur (pembentukan plasenta yang tidak normal).

Tugas utama IUD adalah untuk mencegah kehamilan. Jadi, tentu ibu dan calon bayi bisa punya risiko bila hamil saat masih pakai IUD.

Dalam kasus ini, biasanya dokter kandungan akan menyarankan agar IUD segera dikeluarkan demi menjaga keselamatan dan kesehatan bayi dan Anda saat hamil.

5. Abruptio plasenta

Kondisi lain yang bisa terjadi bila pakai KB spiral saat sedang hamil adalah abruptio plasenta.

Abruptio plasenta ditandai dengan plasenta yang lepas dari rahim sebelum proses persalinan.

Hal ini dapat terjadi karena IUD yang masih menempel di dalam rahim sehingga memengaruhi perkembangan bayi.

Singkatnya, risiko telat menstruasi atau hamil saat pakai IUD memang ada, tetapi sangat jarang terjadi.

Jika Anda hamil saat pakai KB spiral, segeralah temui dokter dan lakukan pemeriksaan rutin untuk memantau kemungkinan munculnya komplikasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sanders, A., & Sanders, B. (2018). Retained intrauterine devices in pregnancy. Canadian Medical Association Journal, 190(14), E440-E440. https://doi.org/10.1503/cmaj.171059

McNicholas, C., Maddipati, R., Zhao, Q., Swor, E., & Peipert, J. (2015). Use of the Etonogestrel Implant and Levonorgestrel Intrauterine Device Beyond the U.S. Food and Drug Administration–Approved Duration. Obstetrics & Gynecology, 125(3), 599-604. https://journals.lww.com/greenjournal/Fulltext/2015/03000/Use_of_the_Etonogestrel_Implant_and_Levonorgestrel.11.aspx

Ozgu-Erdinc, A., Tasdemir, U., Uygur, D., Aktulay, A., Tasdemir, N., & Gulerman, H. (2014). Outcome of intrauterine pregnancies with intrauterine device in place and effects of device location on prognosis. Contraception, 89(5), 426-430.https://doi.org/10.1016/j.contraception.2014.01.002

Micks, E., Raglan, G., & Schulkin, J. (2015). Bridging progestogens in pregnancy and pregnancy prevention. Endocrine Connections, 4(4), R81-R92. https://doi.org/10.1530/EC-15-0093

American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2021). Long-Acting Reversible Contraception: Implants and Intrauterine Devices. Retrieved 27 January 2021, from https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-bulletin/articles/2017/11/long-acting-reversible-contraception-implants-and-intrauterine-devices

UT Southwestern Medical Center. (2021). What happens if I get pregnant with an IUD? | Your Pregnancy Matters |. Retrieved 27 January 2021, from https://utswmed.org/medblog/pregnancy-iud/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal diperbarui 21/01/2021
x