home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Korioamnionitis, Infeksi Air Ketuban yang Perlu Diwaspadai

Korioamnionitis, Infeksi Air Ketuban yang Perlu Diwaspadai
Apa itu korioamnionitis?|Tanda-tanda infeksi pada cairan ketuban|Penyebab korioamnionitis|Siapa yang paling berisiko mengalami korioamnionitis?|Komplikasi akibat korioamnionitis|Bagaimana korioamnionitis didiagnosis?|Pengobatan korioamnionitis|Cara mencegah infeksi air ketuban

Air ketuban adalah cairan yang mengelilingi dan melindungi janin di dalam rahim. Cairan ketuban yang sehat ikut memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan selama kehamilan. Namun, bagaimana jika ada infeksi pada cairan ketuban (korioamnionitis)? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa itu korioamnionitis?

KPD adalah ketuban pecah dini

Mengutip dari Stanford Children’s Health, korioamnionitis adalah masalah air ketuban ketika cairan terkena infeksi bakteri.

Nama korioamnionitis diambil dari gabungan kata selaput cairan ketuban (korioamnion) dan peradangan (itis).

Bakteri menginfeksi lapisan chorion (membran luar), amnion (kantung cairan), dan cairan ketuban yang mengelilingi janin.

Infeksi bakteri dapat dimulai dari daerah vagina, anus, dubur, kemudian naik ke dalam rahim ibu.

Tanda-tanda infeksi pada cairan ketuban

posisi tidur ibu hamil saat korioamnionitis

Korioamnionitis tidak selalu menunjukkan gejala, tetapi beberapa ibu hamil dengan kondisi ini bisa menunjukkan tanda-tanda seperti:

  • demam,
  • jantung berdebar (takikardia),
  • berkeringat,
  • rahim menjadi lebih lunak jika disentuh,
  • vagina mengeluarkan keputihan dengan warna yang tidak biasa dan bau yang tidak sedap, dan
  • perut terasa sakit.

Bila merasakan dan mengalami hal di atas, segera hubungi dokter.

Penyebab korioamnionitis

bayi turun ke panggul

Penyebab korioamnionitis yang paling sering adalah bakteri yang menumpuk di vagina.

Infeksi lebih sering terjadi ketika kantung ketuban sudah pecah dalam waktu lama, sebelum janin lahir.

Saat ketuban sudah pecah dalam waktu lama dan bayi tidak keluar, memungkinkan bakteri di vagina naik ke dalam rahim.

Bakteri penyebab korioamnionitis adalah bakteri E. coli, kelompok bakteri streptokokus B, dan bakteri anaerob.

Chorioamnionitis bisa terjadi pada 1-2 persen ibu hamil. Wanita yang mengalami korioamnionitis harus melahirkan bayinya segera karena dapat menyebabkan kelahiran prematur atau infeksi serius.

Siapa yang paling berisiko mengalami korioamnionitis?

air ketuban dan urin

Faktor yang dapat meningkatkan risiko korioamnionitis adalah sebagai berikut.

  • Kelahiran prematur karena ketuban pecah dini.
  • Selaput janin pecah (air ketuban rusak) dalam jangka waktu yang lama.
  • Ibu berusia muda kurang dari 21 tahun.
  • Hamil untuk pertama kalinya.
  • Proses kelahiran berlangsung dalam waktu yang lama.
  • Ibu menjalani pemeriksaan vagina saat persalinan (pada wanita yang mengalami pecah ketuban).
  • Mengalami infeksi menular seksual.
  • Pemantauan kondisi janin atau rahim yang berlebihan.
  • Mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Ibu hamil perokok aktif.

Wanita hamil yang pernah mengalami ketuban pecah dini (KPD) memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami infeksi cairan ketuban.

Penyebab infeksi cairan ketuban karena bakteri mudah menginfeksi kantung ketuban setelah kantung ketuban pecah.

Komplikasi akibat korioamnionitis

korioamnionitis infeksi cairan ketuban

Ibu hamil dan janin dengan kondisi korioamnionitis bisa mengalami komplikasi kehamilan.

Komplikasi bisa terjadi pada ibu hamil juga janin di dalam kandungan. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu hamil karena karioamnionitis yaitu sebagai berikut.

  • Bakteremia, infeksi dalam aliran darah yang dapat menyebabkan sepsis yang membahayakan nyawa ibu.
  • Endometritis atau infeksi pada endometrium (lapisan rahim).
  • Pembekuan darah di daerah panggul dan paru-paru.
  • Perdarahan berat saat persalinan yang juga bisa disebabkan oleh uterus atonia.
  • Melakukan persalinan dengan operasi caesar.

Sementara itu, bayi yang lahir dari ibu yang mengalami korioamnionitis juga bisa mengalami komplikasi dari infeksi bakteri. Komplikasi yang bisa dialami bayi baru lahir adalah:

Penyebab komplikasi di atas adalah infeksi darah pada ibu hamil (bakteremia) yang menyebabkan bayi lahir lebih awal bahkan kematian.

Bagaimana korioamnionitis didiagnosis?

berapa kali periksa kandungan

Dikutip dari Cleveland Clinic, ada beberapa cara mendiagnosis infeksi cairan ketuban, yaitu:

Pengambilan sampel cairan ketuban dilakukan untuk mendeteksi bakteri yang terkandung di dalamnya.

Pengobatan korioamnionitis

korioamnionitis infeksi air ketuban

Perawatan dan pengobatan infeksi cairan ketuban tergantung pada gejala, usia, kesehatan ibu hamil, dan seberapa parah kondisinya.

Jika ibu hamil mengalami tanda-tanda korioamnionitis, seperti takikardia, demam, atau keputihan yang tidak biasa, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Ibu hamil yang mengalami pecah ketuban sebelum waktunya (ketuban pecah dini), baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, juga sebaiknya segera periksakan ke dokter kandungan.

Kalau infeksi sudah sangat serius dan dapat membahayakan keselamatan bayi, mungkin bayi harus dilahirkan segera.

Setelah bayi lahir, Anda dan bayi juga akan diberi antibiotik agar infeksi yang disebabkan oleh bakteri tidak berkembang.

Cara mencegah infeksi air ketuban

tanda bahaya kehamilan

Mengutip dari University of Rochester Medical Center, pemberian antibiotik bisa menurunkan risiko korioamnionitis, terutama bila Anda mengalami ketuban pecah dini.

Anda juga bisa mencegah infeksi ini dengan mengurangi jumlah pemeriksaan vagina, sebelum dan selama persalinan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Tommy’s – Intrauterine infection (chorioamnionitis). (2020). Retrieved 25 September 2020, from https://www.tommys.org/pregnancy-information/pregnancy-complications/intrauterine-infection-chorioamnionitis

default – Stanford Children’s Health. (2020). Retrieved 25 September 2020, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=chorioamnionitis-90-P02441

Aljerian, K. (2020). Chorioamnionitis: Establishing a correlation between clinical and histological diagnosis. Indian Journal Of Pathology And Microbiology63(1), 44. doi: 10.4103/ijpm.ijpm_464_19

(2020). Retrieved 25 September 2020, from https://www.seattlechildrens.org/globalassets/documents/healthcare-professionals/neonatal-briefs/the-effects-of-maternal-chorioamnionitis-on-the-neonate.pdf

Chorioamnionitis – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center . (2020). Retrieved 25 September 2020, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=P02441

Chorioamnionitis: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment. (2021). Retrieved 17 February 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12309-chorioamnionitis

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Riska Herliafifah
Tanggal diperbarui 05/03/2021
x