5 Tes Kesehatan Wajib untuk Pria Sebelum Menikah

    5 Tes Kesehatan Wajib untuk Pria Sebelum Menikah

    Pernikahan merupakan salah satu momen penting dalam hidup banyak orang. Dalam persiapan pernikahan, satu hal yang tak boleh terlewatkan yaitu mengikuti tes kesehatan sebelum menikah untuk pria.

    Selain medical check-up, rangkaian tes ini juga mencakup berbagai pemeriksaan fisik, genetik, hingga mental. Simak lebih lanjut manfaat dan prosedurnya di bawah ini.

    Pentingnya menjalani tes pranikah untuk pria

    Pengalaman Azoospermia, 9 tahun tak kunjung dikaruniai anak

    Kebanyakan kalangan mungkin lebih mengenal ragam cek kesehatan sebelum menikah untuk wanita. Namun, pria sebenarnya juga wajib menjalani serangkaian tes medis ini.

    Ini karena baik pihak pria dan wanita sama-sama punya andil untuk “mewarisi” suatu kondisi atau penyakit tertentu pada keturunannya nanti.

    Premarital check-up bisa membantu Anda mengetahui risiko dari penyakit menular, seperti HIV/AIDS dan hepatitis B, serta kelainan genetik, seperti thalasemia dan hemofilia.

    Mengetahui kondisi kesehatan dari setiap calon mempelai tentu membantu dalam menyusun perencanaan untuk membangun rumah tangga yang lebih matang.

    Dengan begitu, Anda bisa mengambil keputusan yang lebih baik setelah mengetahui risiko kesehatan yang mungkin dialami oleh diri Anda, pasangan, dan calon anak.

    Ragam tes kesehatan pria sebelum menikah

    komponen darah tes darah

    Meski bisa dilakukan sebelum merencanakan kehamilan, tes kesehatan untuk pria sebaiknya dilakukan beberapa bulan menjelang pernikahan.

    Hal ini diharapkan dapat membuat mempelai pria mengetahui gambaran umum kondisi fisik dan mentalnya sehingga lebih siap menghadapi rumah tangga.

    Berikut ini merupakan jenis-jenis tes pranikah untuk pria yang setidaknya wajib untuk Anda lakukan.

    1. Tes darah

    Darah menyimpan banyak informasi tentang si empunya tubuh. Jenis tes darah yang umumnya dilakukan sebelum menikah ialah pemeriksaan darah lengkap (complete blood count/CBC),

    Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kesehatan individu secara umum dan mendeteksi risiko penyakit, seperti anemia, polisitemia vera, maupun leukemia.

    Golongan darah dan rhesus juga tidak lupa diperiksa. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kecocokan rhesus dan efeknya terhadap ibu dan bayi.

    Jika calon pasangan memiliki rhesus yang berbeda, kemungkinan ibu akan mengandung anak dengan rhesus yang berbeda pula.

    Hal ini dapat berbahaya bagi kesehatan calon anak dalam kandungan karena bisa merusak sel darah, menyebabkan anemia, dan kecacatan organ.

    Selain itu, tes darah HbA1C juga dapat mendeteksi risiko gangguan metabolik, seperti diabetes, serta mengukur kadar kolesterol, trigliserida, HDL, dan LDL dalam tubuh Anda.

    2. Tes penyakit kelamin

    Menjalani tes penyakit kelamin sebelum dan setelah menikah merupakan cara yang ideal bagi pasangan suami-istri untuk saling terbuka seputar status kesehatan seksualnya.

    Ini bukan soal masalah kecurigaan dan ketidakpercayaan semata, seperti kecurigaan mengenai pasangan yang “main belakang”, melainkan soal menghargai satu sama lain.

    Selain itu, tes kesehatan sebelum dan sesudah menikah ini juga menjadi faktor penting untuk pria dan wanita bila ingin terus mengarungi bahtera rumah tangga yang berkualitas.

    Pemeriksaan ini mampu mendeteksi berbagai penyakit menular seksual, seperti sifilis, gonore, HPV, dan HIV yang umumnya tidak menunjukkan gejala.

    Jika tidak dideteksi dini, penyakit kelamin bisa menyebabkan ketidaksuburan dan bahkan kanker. Beberapa penyakit kelamin yang diturunkan selama kehamilan juga dapat menyebabkan cacat lahir.

    3. Tes genetik

    tes genetik

    “Bakat” penyakit bisa diturunkan dari orangtua kepada anak. Dalam beberapa kasus, penyakit keturunan juga bisa meloncati satu generasi, misal dari kakek-nenek langsung ke cucunya.

    Tes genetik bisa mendeteksi apakah Anda memiliki penyakit yang bisa diturunkan ke anak-cucu kelak. Ini juga membantu menilai seberapa besar risiko keturunan Anda untuk mengidapnya.

    Adapun, beberapa penyakit genetik yang cukup umum diturunkan yakni asma, penyakit jantung, diabetes, kanker, dan gangguan mental.

    Sejumlah penyakit langka, seperti Down syndrome, buta warna, thalasemia, dan anemia sel sabit, juga bisa dideteksi lebih dini untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

    4. Cek kesuburan

    Masalah ketidaksuburan bukan menjadi beban yang hanya ditanggung oleh pihak perempuan. Laki-laki juga memiliki risiko yang sama besarnya.

    Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Reproductive Biology And Endocrinology (2015) bahkan memperkirakan 20–30% masalah ketidaksuburan berasal dari pihak laki-laki.

    Itu sebabnya, calon mempelai pria juga harus menjalani tes kesuburan, salah satunya melalui prosedur analisis air mani untuk memeriksa kualitas spermanya.

    Apabila hasilnya menampilkan kelainan sperma yang bisa menyebabkan pria tidak subur, dokter dapat membantu Anda dan pasangan merencanakan kehamilan lewat cara-cara lain.

    Salah satunya dengan prosedur ICSI (intracytoplasmic sperm injection), yakni program bayi tabung yang umumnya ditujukan untuk pria dengan gangguan kesuburan.

    5. Konseling dan dukungan psikologis

    Konseling psikologi juga menjadi runutan tes kesehatan sebelum menikah bagi pria yang tidak boleh terlupakan. Ini bertujuan menilai kesiapan mental Anda untuk menjadi kepala keluarga.

    Apabila psikolog menemukan tanda-tanda pada diri Anda yang berpotensi memicu stres dalam rumah tangga, ia bisa menyarankan Anda untuk menjalani terapi lebih lanjut.

    Konseling juga penting untuk mendeteksi risiko masalah mental, terutama mengenali tanda-tanda depresi pada pria. Depresi merupakan penyakit yang bisa menimpa siapa saja.

    Selain itu, adanya riwayat depresi di dalam keluarga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi pada anak pada kemudian hari.

    Jika Anda ragu untuk menjalani tes pranikah bagi pria secara mandiri, ada baiknya untuk meminta didampingi oleh calon istri.

    Calon istri mungkin mampu menceritakan secara lebih baik tentang kondisi kesehatan Anda, baik kepada dokter maupun psikolog yang menangani diri Anda.

    Anda bisa mendatangi rumah sakit atau laboratorium klinik tepercaya dan terdekat dari lokasi Anda untuk mendapatkan tes kesehatan pranikah ini. Pilih laboratorium pilihan Anda dan booking via Hello Sehat.

    Kesimpulan

    • Tes kesehatan sebelum menikah atau premarital check-up pada pria dapat menggambarkan kondisi kesehatan dan mencegah penularan penyakit pada pasangan dan calon anak.
    • Para pria, pemeriksaan kesehatan ini umumnya terdiri dari tes darah, tes genetik, tes penyakit kelamin, tes kesuburan, dan konseling psikologi.
    • Hubungi dokter atau kunjungi klinik, rumah sakit, dan laboratorium yang menyediakan layanan premarital check-up bila Anda hendak mengikutinya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    7 Jenis Tes dalam Cek Pra-Nikah yang akan Dijalani Calon Pengantin. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Retrieved 28 September 2022, from https://promkes.kemkes.go.id/7-jenis-tes-dalam-cek-pra-nikah-yang-akan-dijalani-calon-pengantin

    Premarital Screening. Ministry of Health – Kingdom of Saudi Arabia. (2022). Retrieved 28 September 2022, from https://www.moh.gov.sa/en/HealthAwareness/Beforemarriage/Pages/default.aspx

    Complete Blood Count (CBC). MedlinePlus. (2022). Retrieved 28 September 2022, from https://medlineplus.gov/lab-tests/complete-blood-count-cbc/

    STD testing: What’s right for you?. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 28 September 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sexually-transmitted-diseases-stds/in-depth/std-testing/art-20046019?pg=2

    Bener, A., Al-Mulla, M., & Clarke, A. (2019). Premarital screening and genetic counseling program: Studies from an endogamous population. International Journal Of Applied And Basic Medical Research, 9(1), 20. https://doi.org/10.4103/ijabmr.ijabmr_42_18

    Puri, S., Dhiman, A., & Bansal, S. (2016). Premarital health counseling: A must. Indian journal of public health, 60(4), 287–289. https://doi.org/10.4103/0019-557X.195860

    Agarwal, A., Mulgund, A., Hamada, A., & Chyatte, M. (2015). A unique view on male infertility around the globe. Reproductive Biology And Endocrinology, 13(1). https://doi.org/10.1186/s12958-015-0032-1

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 4 weeks ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa