MK Kabulkan Gugatan Mengubah Usia Menikah Dalam UU Perkawinan (Berapa Usia yang Tepat untuk Menikah?)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Setelah sekian lama jadi perdebatan alot, Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya mengabulkan gugatan sekelompok organisasi dan lembaga kemasyarakatan untuk menaikkan standar usia ideal menikah di Indonesia. Terlebih menurut sejumlah penelitian, batas usia menikah yang tercantum UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 sebetulnya sangat tidak ideal. Lantas, berapa seharusnya usia yang paling ideal untuk menikah, dan apa alasannya?

Benarkah semakin cepat menikah semakin baik?

Kalau dilihat dari batas usia ideal menikah yang ditetapkan undang-undang, menikah baru dibolehkan jika Anda berusia 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk perempuan. Tak mengherankan jika pernikahan di usia muda sudah menjadi pemandangan biasa di negeri ini. Bahkan terkesan hampir dimuliakan. Ironisnya, masa remaja bukanlah rentang usia menikah yang paling ideal.

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pernikahan dini di antara remaja usia belasan akhir hingga 20-an awal banyak terjadi atas alasan adat atau kehamilan di luar nikah. BKKBN juga melaporkan bahwa lebih dari 50 persen pernikahan dini berakhir dengan perceraian.

Pasalnya, banyak anak remaja yang belum cukup dewasa (dalam hal kematangan cara berpikir untuk menyelesaikan masalah) dan kurang berpengalaman untuk menghadapi konflik rumah tangga, yang tentu berbeda total dari pertengkaran saat masa pacaran.

akibat pernikahan dini

Perkawinan dini ancam kesejahteraan anak

Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) menilai bahwa pernikahan usia belia berpotensi meningkatkan angka putus sekolah dan kemiskinan akibat perampasan hak anak untuk bertumbuh kembang, meraih pendidikan, dan bekerja.

Anak remaja pada umumnya belum memiliki keuangan yang stabil dan belum yakin benar soal karir dan masa depannya. Belum lagi masih harus dihadapkan dengan tekanan dari orangtua, sekolah dan/atau kuliah.

Selain itu, ada imbas yang cukup memberatkan dari perkawinan anak pada masalah kesehatan reproduksi perempuan remaja. Pernikahan usia muda diketahui meningkatkan risiko keguguran, kematian bayi, kanker serviks, penyakit kelamin, hingga gangguan mental akibat tekanan sosial untuk memikul tanggung jawab orang dewasa di usia yang masih belia.

Berapa usia ideal menikah supaya pernikahan langgeng?

Banyak lembaga bantuan hukum nasional merasa keberatan dengan standar usia menikah UU Perkawinan yang terlalu rendah. Atas sejumlah alasan di atas, YKP dan Yayasan Pemantauan Hak Anak (YPHA) sempat meminta Mahkamah Konstitusi untuk menaikkan batas minimal usia menikah bagi perempuan menjadi 18 tahun.

Pendapat ini diamini oleh sejumlah penelitian mancanegara. Data statistik dari berbagai studi menyarankan Anda untuk sabar menunggu dalam beberapa tahun. Merangkum banyak survei dan studi berbeda, angka perceraian bisa merosot hingga 50 persen jika Anda menikah di usia 25 tahun ke atas dibanding menikah di usia awal 20-an. Persentase risikonya juga makin turun untuk setiap 1 tahun yang Anda relakan untuk menunda menikah.

Ya. Sebuah studi terbitan Journal of Social and Personal Relationship tahun 2012 mengatakan bahwa 25 tahun adalah batas usia paling ideal untuk menikah. Sementara itu, Biro Sensus AS tahun 2013 melaporkan bahwa usia ideal menikah adalah mulai usia 27 tahun untuk perempuan dan 29 untuk si pria.

Pada umumnya dapat disimpulkan bahwa usia ideal menikah terbaik adalah sekitar 28-32 tahun. BKKBN sendiri menilai usia ideal menikah untuk perempuan Indonesia seharusnya minimal 21 tahun.

menikah dilamar lamaran tunangan pasangan pilih-pilih pasangan

Semakin tua, semakin dewasa

Para ahli percaya bahwa menunda menikah sampai beberapa tahun dapat semakin menghidupkan rumah tangga yang lebih ideal dan mapan serta risiko perceraian yang lebih rendah.

Ada banyak alasan mengapa usia pertengahan 20-an hingga 30-an awal menjadi patokan usia ideal menikah yang aman. Salah satunya adalah faktor kedewasaan. Dewasa di sini bukan cuma bertambahnya umur, tapi juga dari segi kecerdasan emosional dan kematangan pola pikir.

Di usia pertengahan 20-an, Anda terhitung sudah cukup dewasa untuk memahami benar mana cinta yang dibutakan nafsu dan cinta berdasarkan ketulusan. Sebab semakin dewasa seseorang, mereka telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk berpetualang mencari jati diri dan akhirnya mengetahui pasti apa yang mereka benar-benar inginkan dalam hidup.

Mereka juga mengerti apa saja hak dan tanggung jawab yang dimilikinya demi mencapai tujuan hidup. Semakin dewasa seseorang juga bisa menandakan bahwa ia memilliki kematangan fisik dan stabilitas finansial yang mumpuni untuk menghidupi diri sendiri serta tanggungan lainnya.

Tingkat pendidikan juga pengaruhi kelanggengan rumah tangga

Meski tingkat kematangan dan finansial memainkan faktor utama, tingkat pendidikan juga sama pentingnya. Menunda pernikahan sampai setelah menerima gelar sarjana terbukti menurunkan risiko bercerai daripada pasangan yang berpendidikan rendah, menurut sebuah studi Family Relation tahun 2013.

Yang perlu dipahami, menunda menikah setelah rampung kuliah bukan semata untuk mengejar gelar. Mengenyam pendidikan setinggi-tingginya menjadi jalan terbaik buat Anda membuka wawasan terhadap dunia nyata.

Semakin banyak pula orang-orang dengan karakteristik berbeda yang akan Anda temui untuk berbincang dan bertukar pikiran. Lambat laun, ini semua dapat membentuk kepribadian, prinsip hidup, dan pola pikir Anda secara keseluruhan.

Kapan Anda siap menikah, tergantung masing-masing

Walau demikian, tentu saja keputusan untuk kapan menikah tak bisa hanya didasarkan oleh hasil survey semata. Tidak ada patokan usia ideal atau batas jangka waktu pacaran yang mampu menjamin kebahagiaan pernikahan.

Pada akhirnya, diri Anda sendirilah yang menentukan kapan waktu yang tepat bagi Anda untuk menikah. Entah itu di usia 20-an, 30-an, 40-an, dan seterusnya. Nyatanya, pernikahan dan perceraian adalah fenomena sosial yang sulit diukur hanya dengan angka.

Tak ada yang melarang untuk cepat-cepat menikah. Jika Anda dan pasangan sudah sama-sama siap lahir-batin dan juga secara finansial untuk nikah muda, tentu tidak masalah. Tapi bagi yang lainnya, tetap tak ada salahnya untuk mempertimbangkan masak-masak semua manfaat dan risikonya.

Apakah Anda memang benar siap mengarungi bahtera rumah tangga, atau hanya menikah demi gengsi dan menghindar dari pertanyaan membosankan “Kapan nikah?”

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Anda Punya Sifat Posesif? Ini Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya

Memiliki sifat posesif tidak akan pernah menguntungkan, justru ini akan merusak hubungan Anda dengan pasangan atau kerabat. Kenali apa itu posesif di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 18 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Bagaimana Cara Mengendalikan Ego yang Tinggi?

Ego adalah bagian dari kepribadian manusia yang seringkali dicap negatif. Memang, apa itu ego, dan bagaimana mengendalikan ego yang tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mental Illness (Gangguan Mental)

Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Jangan membiarkan kesepian terlalu lama menggerogoti Anda. Cari tahu cara mengatasi kesepian agar hidup Anda jauh lebih bahagia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

rasa kesepian depresi

Wabah Kesepian, Fenomena Kekinian yang Menghantui Kesehatan Masyarakat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
putus kenapa cinta memudar

4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sedih

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit