Tenang, Tes Penyakit Kelamin Itu Tak Menakutkan, Kok. Begini Prosedurnya.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ada banyak penyakit kelamin (penyakit menular seksual) yang ada di sekitar dan mengintai Anda. Ya, terdapat lebih dari 20 jenis penyakit kelamin dan rata-rata tidak akan menimbulkan gejala yang khusus ketika seseorang terserang penyakit ini pertama kali. Hal ini membuat penyakit kelamin luput dari perhatian dan membahayakan kesehatan banyak orang. Tidak sedikit orang sadar bahwa dirinya telah mengalami penyakit seks ini. Maka dari itu, setiap orang butuh melakukan tes penyakit kelamin.

Cemas akan prosedur tes penyakit kelamin di dokter? Tidak perlu khawatir, ketahui bagaimana prosedur ini dilakukan dalam ulasan berikut ini.

Siapa saja yang dicurigai kena penyakit kelamin dan harus melakukan pemeriksaan khusus?

Anjuran pemeriksaan penyakit kelamin telah dinyatakan oleh badan pencegahan dan penanggulangan penyakit, Amerika Serikat (CDC), yang mengungkapkan bahwa:

  • Orang yang berusia 13-64 tahun, harus melakukan tes HIV setidaknya satu kali.
  • Melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi klamidia dan gonore secara rutin, yang harus dilakukan oleh wanita yang sudah aktif secara seksual dan di bawah usia 25 tahun.
  • Pemerikasaan klamidia dan gonore juga berlaku pada wanita yang berusia lebih dari 25 tahun dan pernah melakukan hubungan seks (apalagi berganti-ganti pasangan).
  • Sipilis, HIV, dan hepatitis B adalah pemeriksaan yang wajib dilakukan pada wanita hamil. Sementara, klamidia dan gonore sebaiknya dilakukan pada wanita yang berencana untuk hamil.
  • Pemeriksaan kesehatan untuk sipilis, klamidia, dan gonore sebaiknya dilakukan setidaknya satu tahun sekali oleh orang yang melakukan hubungan seks dengan sesama jenis. Pemeriksaan dilakukan dalam rentang waktu 3-6 bulan.

Prosedur tes penyakit kelamin

Penyakit kelamin memang ada banyak dan beberapa di antaranya membutuhkan pemeriksaan khusus untuk tahu apakah seseorang memang positif mengalami penyakit kelamin atau tidak.

Klamidia dan gonore

Sebagian besar kasus klamidia dan gonore tidak menimbulkan gejala, maka dari itu pemeriksaan kesehatan wajib dilakukan secara rutin untuk mengetahui apakah Anda aman dari penyakit ini atau tidak. Pada wanita, biasanya pemeriksaan akan dilakukan dengan cara mengambil cairan dari vagina untuk kemudian diproses ke laboratorium.

Sementara, untuk pria, pemeriksaan ini akan dilakukan langsung dengan melihat dan meneliti jaringan penis. Dalam beberapa kasus, urine juga bisa dijadikan bahan untuk diteliti apakah terdapat klamidia atau tidak.

HIV, sipilis, dan hepatitis

Hepatitis yang dapat ditularkan melalui hubungan seks adalah hepatitis B dan hepatitis C. Keduanya merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan kanker hati. Sementara itu, HIV diketahui sebagai penyakit kelamin yang mematikan. Maka dari itu, sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak awal dengan melakukan pemeriksaan yang dilakukan setidaknya sekali seumur hidup. Anda harus melakukan pemeriksaan HIV, sipilis, dan hepatitis jika Anda:

  • Memiliki riwayat penyakit seks menular sebelumnya
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual
  • Pernah mengunakan obat-obatan terlarang
  • Berencana hamil dalam waktu dekat

Untuk pemeriksaan HIV serta hepatitis akan dilakukan dengan cara mengambil sampel darah, sementara pemeriksaan sipilis menggunakan sampel cairan genital yang akan diteliti lebih lanjut di laboratorium.

Herpes genital

Sejauh ini, tak ada tes penyakit kelamin khusus dapat mendeteksi herpes genital. Pasalnya, orang yang kena penyakit kelamin ini, pada awalnya tidak akan mengalami gejala apa pun. Namun, ketika Anda merasakan ada luka di area genital, maka mungkin saja hal itu disebabkan oleh herpes.

Untuk mendiagnosis herpes genital, dokter akan mengambil jaringan genital terluka dan kemudian diperiksa di dalam laboratorium. Terkadang pemeriksan untuk herpes juga mengambil sampel darah untuk menguatkan hasil.

HPV

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus human papillomavirus ini dapat menyebabkan penyakit kelamin maupun kanker leher rahim pada wanita. Pemeriksaan rutin HPV baru tersedia untuk kaum wanita, karena dalam hal ini populasi wanita yang diserang.

Pemeriksaan HPV dilakukan dengan pap smear dan tes HPV. Tes pap smear sudah dianjurkan untuk dilakukan secara berkala selama satu kali tiga tahun,  ketika wanita berusia 21-29 tahun.

Pada saat pemeriksaan, Anda mungkin akan diminta untuk melepas baju Anda dari pinggang ke bawah. Kemudian Anda diminta untuk berbaring di meja khusus dengan lutut ditekuk. Dokter akan memasukkan alat yang disebut dengan spekulum ke dalam vagina Anda. Alat ini berfungsi untuk melebarkan vagina Anda, sehingga dokter bisa melihat leher rahim Anda dan mengambil sampel sel-sel serviks Anda dengan alat yang disebut spatula.

Sampel sel-sel serviks Anda ini kemudian ditempatkan dalam wadah yang berisi cairan khusus (tes pap dengan cairan) atau disebarkan dalam slide kaca khusus (tes pap smear konvensional). Dan, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tunggu hasilnya satu sampai dua minggu kemudian.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit