Memahami Bagaimana Penyakit Bisa Diturunkan ke Anak Cucu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin sudah sering melihat contoh nyata pada orang-orang di sekitar Anda, bahwa bakat penyakit bisa diturunkan dari orangtua ke anak. Bahkan dalam beberapa kasus, penyakit keturunan juga bisa meloncati satu generasi. Jadi justru cucunya yang kena penyakit yang sama dengan kakek atau neneknya.

Namun, apakah seseorang sudah pasti akan mengidap penyakit yang diidap oleh orangtua atau kakek neneknya? Mengapa penyakit tertentu bisa loncat dari kakek nenek langsung ke cucu, bukan anaknya sendiri? Berikut penjelasannya.

Bagaimana penyakit genetik bisa muncul dalam tubuh?

Sebelum menjelaskan bagaimana anak dan cucu Anda nantinya mungkin mendapat penyakit warisan dari Anda sendiri, pahami dulu bagaimana penyakit genetik bisa terbentuk dalam tubuh manusia.

Berbeda dengan penyakit influenza atau demam berdarah dengue (DBD), penyakit genetik tidak semata-mata disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dari luar. Penyebabnya yaitu kerusakan pada gen dalam tubuh Anda.

Kerusakan gen terjadi apabila tubuh terpapar radikal bebas dan bahan-bahan kimia yang lantas mengubah kode genetik Anda. Selain itu, kerusakan gen juga bisa terjadi kalau Anda mengalami stres berat.

Karena ada gen yang rusak, maka sel-sel dalam tubuh Anda tidak bisa berfungsi normal. Inilah yang mengakibatkan munculnya penyakit. Mulai dari penyakit genetik yang cukup umum seperti asma, penyakit jantung, diabetes, kanker, dan depresi hingga penyakit genetik langka seperti Down syndrome dan buta warna.

pengaruh genetik terhadap wajah bayi

Bagaimana penyakit bawaan bisa diturunkan ke anak cucu?

Gen yang ada di dalam tubuh Anda dibentuk dari kombinasi gen ayah dan gen ibu. Nantinya, gen yang paling dominanlah yang akan menentukan kondisi fisik dan psikologis Anda. Misalnya ayah Anda gemar merokok sejak Anda belum lahir. Racun dan bahan kimia dari rokok pun menyebabkan kerusakan pada gen ayah. Kerusakan tersebut akhirnya memicu kanker paru.

Gen ayah yang sudah rusak tersebut akan terbawa oleh sel sperma. Bila gen ini sifatnya cukup kuat dan dominan, gen ini akan tetap hidup dalam janin yang terbentuk dari pertemuan sel sperma dan sel telur. Maka, ketika Anda lahir, Anda sudah mewarisi bakat penyakit kanker paru dari gen ayah.  

Risiko kanker paru jadi makin besar kalau Anda menjalani gaya hidup yang bisa memicu penyakit ini. Misalnya Anda terpapar asap rokok ayah sejak kecil atau Anda sendiri merokok.

Penyakit keturunan bisa melompati satu generasi

Jangan salah, penyakit keturunan tak cuma diwarisi oleh anak saja, melainkan oleh cucu atau bahkan cicit Anda kelak. Sebagai gambaran, kakek Anda mengidap asma. Namun, ibu Anda ternyata tidak mewarisi penyakit ini dari kakek. Justru Anda sebagai cuculah yang akhirnya kena penyakit asma. Ini berarti penyakit tersebut melompati generasi kedua, yaitu ibu Anda, dan langsung ke generasi ketiga, yaitu Anda sendiri.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sederhananya, tubuh ibu Anda hanya menjadi “tuan rumah” bagi gen penyebab asma. Gen ini hanya menumpang pada tubuh ibu, tidak menyerang dalam wujud penyakit. Entah karena gen ini tidak dominan dalam tubuh ibu atau karena faktor lain seperti gaya hidup sehat.

Namun, gen penyebab asma tidak lantas hilang begitu saja. Ayah Anda mungkin punya gen yang serupa. Akibatnya, Anda mendapatkan kombinasi gen penyebab asma dari ayah dan ibu. Gen tersebut berubah jadi dominan dalam tubuh Anda sehingga Anda pun kena penyakit asma bawaan.

Pada akhirnya, gen memang tidak bisa lompat generasi. Gen akan terus dibawa turun-temurun. Penyakit itu sendirilah yang mungkin lompat satu generasi.  

apa itu nutrigenomik

Mungkinkah saya menghindari penyakit bawaan dalam keluarga?

Sampai saat ini belum ada ilmu pengetahuan yang mampu menghentikan perkembangan penyakit keturunan dalam tubuh seseorang. Akan tetapi, Anda masih punya kesempatan untuk menunda atau mencegah perkembangan penyakit keturunan.   

Caranya adalah dengan menghindari pemicu penyakit (faktor risiko). Misalnya dengan menjalani gaya hidup dan pola makan sehat sedini mungkin.

Bila Anda sudah tahu ada riwayat penyakit tertentu dalam keluarga, waspadai gejala-gejalanya dan segera periksa ke dokter kalau ada keluhan. Semakin cepat Anda mendeteksi penyakit keturunan, semakin besar peluang Anda mengobati atau mengendalikan penyakit tersebut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit