Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Lebih Sering Menguap? Ini 7 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Lebih Sering Menguap? Ini 7 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Pernahkah Anda merasa menguap berlebihan padahal sudah cukup tidur belakangan ini? Ternyata sejumlah masalah kesehatan ringan hingga cukup serius bisa menjadi penyebab sering menguap yang perlu Anda waspadai.

    Apa itu menguap?

    mengatasi mengantuk setelah makan

    Menguap adalah kegiatan yang tidak Anda sadari. Gerakan tubuh ini bisa terjadi begitu saja atau disebut juga sebagai gerakan involunter.

    Hal ini umumnya terjadi sebagai respons rasa kantuk yang Anda alami. Tak heran, Anda sering menguap setelah bangun atau sebelum tidur.

    Dikutip dari Sleep Foundation, menguap merupakan gerakan yang tubuh lakukan untuk mendinginkan suhu otak yang terlalu panas.

    Saat menguap, secara alami Anda akan meregangkan rahang serta meningkatkan aliran darah ke leher, wajah, dan kepala.

    Anda juga secara tidak sadar menarik napas dalam-dalam dan membuat cairan tulang belakang serta darah mengalir dari otak ke tubuh bagian bawah. Hal ini membuat mulut terbuka lebar dan angin dari luar pun masuk mendinginkan otak.

    Oleh karena itu, seseorang akan lebih sering menguap ketika berada di tempat bersuhu panas ketimbang tempat dingin.

    Kapan menguap bisa dianggap berlebihan?

    Rata-rata manusia dengan kondisi sehat menguap 5–10 kali dalam sehari. Namun, belum ada batasan berapa banyak menguap yang bisa dikatakan berlebihan.

    Dalam beberapa studi kasus, orang dengan kondisi tertentu bisa menguap berlebihan hingga 100 kali dalam sehari.

    Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk penggunaan obat-obatan atau masalah kesehatan yang mendasarinya.

    Kondisi apa yang menyebabkan sering menguap?

    Menguap berlebihan bisa menunjukkan gangguan pada kesehatan Anda. Beberapa kondisi yang menjadi penyebab sering menguap seperti berikut ini.

    1. Kurang tidur

    penyebab insomnia penyebab tidak bisa tidur, penyebab susah tidur

    Kebiasaan begadang atau menunda waktu tidur bisa membuat tubuh Anda merasa kelelahan.

    Hutang tidur dan jam tidur yang terus Anda kurangi dari waktu ke waktu pada akhirnya dapat menyebabkan rasa kantuk dan menguap berlebihan.

    Anda tentu bisa mengatasi masalah kurang tidur ini dengan tidur cukup dan menghindari kebiasaan begadang pada malam hari.

    2. Efek samping obat-obatan

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efek samping pengobatan tertentu bisa menyebabkan seseorang menguap berlebihan.

    Kondisi ini umumnya menjadi efek samping yang jarang terjadi akibat konsumsi obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

    Obat SSRI merupakan obat antidepresan untuk mengobati depresi dan gangguan kecemasan.

    Sejumlah jenis obat yang dilaporkan menyebabkan efek ini, termasuk duloxetine, clomipramine, fluoxetine, citalopram, sertraline, dan paroxetine.

    3. Gangguan tidur

    Menguap dan mengantuk berlebihan mungkin terkait gejala gangguan tidur, seperti sleep apnea atau narkolepsi.

    Sleep apnea merupakan masalah yang muncul ketika tidur dan mengalami kesulitan bernapas yang membuat Anda terbangun di malam hari.

    Sementara itu, narkolepsi adalah gangguan tidur akibat sistem saraf. Hal ini mengakibatkan Anda bisa tidur kapan saja dan di mana saja secara tidak terkendali.

    Jika mengalami kedua gangguan ini, Anda akan sering menguap karena terganggunya waktu tidur. Akibatnya, akan timbul kelelahan dan rasa kantuk yang berlebihan.

    4. Serangan jantung

    Serangan jantung terjadi saat organ jantung tiba-tiba tidak mendapatkan aliran darah kaya oksigen sehingga fungsinya menjadi terganggu.

    Kondisi ini umumnya terjadi karena aterosklerosis, yakni pembuluh darah yang tersumbat akibat plak-plak yang terbentuk dari lemak yang membuat aliran darah tidak lancar ke jantung.

    Saat mengalami serangan jantung Anda bisa merasakan gejala, seperti sakit dada, berkeringat, mual, gangguan pernapasan, serta kelelahan.

    Oleh karena itu, sering menguap bisa menjadi pertanda awal masalah jantung karena Anda akan merasa sangat kelelahan.

    5. Multiple sclerosis

    saraf kranial

    Berbagai gangguan neurologis dapat membuat sering menguap, termasuk multiple sclerosis.

    Multiple sclerosis adalah masalah kronis yang menyerang sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang).

    Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan mengatur suhu tubuh. Hasilnya, orang tersebut akan menguap untuk mengatur suhu tubuh kembali normal.

    Sekitar 80% orang dengan multiple sclerosis mengalami gejala kelelahan berat. Hal inilah yang juga akan menyebabkan seseorang menguap berlebihan.

    6. Stroke

    Stroke adalah rusaknya sel-sel otak akibat pembuluh darah ke otak tersumbat. Hal inilah yang membuat otak kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga sel-sel otak mulai mati.

    Sebuah studi dalam Frontiers In Neuroscience menemukan bahwa pasien stroke lebih sering menguap setidaknya lebih dari tiga kali dalam 15 menit.

    Kondisi ini dapat disebabkan karena luka yang terjadi pada otak akibat stroke. Lalu, muncul iritasi pada sistem saraf yang kemudian meningkatkan suhu pada otak.

    Sebagai respons tubuh untuk mendinginkan suhu otak, pasien stroke akan menguap secara berlebihan.

    7. Epilepsi

    Kondisi yang menyebabkan sering menguap lainnya adalah epilepsi. Masalah pada otak ini bisa menimbulkan gejala kejang-kejang yang tak terduga dan sering berulang.

    Ada berbagai berbagai hal yang menyebabkan kondisi ini, termasuk gangguan dan masalah otak sejak kecil atau trauma yang menimbulkan kerusakan otak.

    Beberapa studi menemukan bahwa orang yang sering kali menguap berlebihan mungkin saja memiliki masalah pada otak, salah satunya terkait epilepsi.

    Kapan harus periksa diri ke dokter?

    Jika merasa menguap berlebihan yang tidak biasa, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

    Dokter akan menanyakan tentang kebiasaan tidur, riwayat kesehatan, dan gejala lainnya yang Anda rasakan.

    Tes medis tertentu juga bisa dokter Anda sarankan untuk mengetahui penyebab lain kondisi ini, seperti pemeriksaan EEG dan MRI.

    Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) mengukur aktivitas listrik otak untuk mendiagnosis gangguan neurologis, termasuk epilepsi atau kerusakan otak.

    Sementara itu, pemeriksaan MRI akan membantu dokter menilai tubuh Anda. Hal ini mampu mendeteksi sejumlah penyebab, seperti multiple sclerosis atau masalah jantung.

    Bagaimana cara mengatasi sering menguap?

    Pengobatan harus didasari kondisi yang menyebabkannya. Jika sering begadang dan kurang tidur, tentu Anda perlu memperbaiki jam tidur ke depannya.

    Pasien yang minum obat antidepresan mungkin perlu menyesuaikan dosisnya. Jangan pernah mengubah atau berhenti minum obat tanpa persetujuan dokter Anda.

    Dokter akan merekomendasikan obat atau teknik untuk mengatasi sering menguap akibat gangguan tidur. Anda bisa menggunakan alat bantu pernapasan, rutin berolahraga, dan tidur teratur.

    Sementara itu, masalah jantung dan gangguan neurologis tentu harus segera Anda obati untuk mencegah komplikasi serius.

    Segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat untuk mengatasi kondisi sering menguap.


    Ingin mendapatkan berat badan ideal?

    Yuk konsultasikan masalahmu dengan ahli gizi atau berbagi tips bersama di Komunitas Berat Badan Ideal!


    health-tool-icon

    Kalkulator BMI (IMT)

    Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

    Laki-laki

    Wanita

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Causes of Excessive Yawning. Sleep Foundation. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.sleepfoundation.org/physical-health/excessive-yawning

    Yawning excessive. MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/003096.htm

    Khawaja, H., Sanjel, A., Upadhyay, E., & Khawaja, I. (2021). Antidepressant-Induced Yawning. The Primary Care Companion For CNS Disorders, 23(2). https://doi.org/10.4088/pcc.20l02713

    Erkoyun, H. U., Beckmann, Y., Bülbül, N. G., İncesu, T. K., Kanat, N. G., & Ertekin, C. (2017). Spontaneous yawning in patients with multiple sclerosis: A polygraphic study. Multiple sclerosis and related disorders, 17, 179–183. https://doi.org/10.1016/j.msard.2017.06.012

    Wasade, V. S., Balki, I., Bowyer, S. M., Gaddam, S., Mohammadi-Nejad, A. R., Nazem-Zadeh, M. R., Soltanian-Zadeh, H., Zillgitt, A., & Spanaki-Varelas, M. (2016). Controllable yawning expressed as focal seizures of frontal lobe epilepsy. Epilepsy & behavior case reports, 6, 61–63. https://doi.org/10.1016/j.ebcr.2016.08.005

    Gallup, A. (2014). Abnormal yawning in stroke patients: the role of brain thermoregulation. Frontiers In Neuroscience, 8. https://doi.org/10.3389/fnins.2014.00300

    Massen, J. J., Dusch, K., Eldakar, O. T., & Gallup, A. C. (2014). A thermal window for yawning in humans: yawning as a brain cooling mechanism. Physiology & behavior, 130, 145–148. https://doi.org/10.1016/j.physbeh.2014.03.032

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Dec 09, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro