Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Perut Bagian Bawah Keras? 7 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Perut Bagian Bawah Keras? 7 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Perut bagian bawah keras biasanya muncul ketika Anda kembung atau kekenyangan. Tak jarang, kondisi ini juga bisa Anda rasakan ketika rutin melatih otot perut.

Meski demikian, kondisi ini juga menandakan gejala penyakit tertentu. Lantas, apa saja penyebabnya?

Penyebab perut bagian bawah keras

Perlu Anda ketahui, perut mengeras pada bagian bawah tidak hanya muncul akibat masalah pencernaan.

Masalah pada organ lain yang tidak berkaitan dengan sistem pencernaan, tapi terletak di dalam perut, juga bisa menyebabkan gejala ini.

Tak jarang, ada juga beberapa gejala lain yang muncul bersamaan seperti perut membuncit dan nyeri.

Inilah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan bagian bawah perut mengeras.

1. Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi yang membuat jaringan dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim.

Sama halnya dengan endometrium di dalam lahir, jaringan yang tumbuh di luar rahim akan menebal dan meluruh ketika tidak terjadi pembuahan (menstruasi).

Hanya saja, darah tidak bisa keluar melalui vagina. Darah malah mengendap di sekitar rahim sehingga bisa memicu peradangan.

Peradangan ini lama-kelamaan menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang membuat perut bagian bawah keras dan sakit.

Endometriosis juga bisa ditandai dengan gangguan haid, yakni perdarahan di luar jadwal menstruasi dan nyeri tak tertahankan atau dismenore.

2. Sindrom ovarium polikistik

Meski penyakit ini berkaitan dengan organ reproduksi, sindrom ovarium polikistik (PCOS) menyebabkan perut bagian bawah keras dan sakit saat ditekan.

PCOS disebabkan ketidakseimbangan hormon pada sistem reproduksi.

Dalam hal ini, ovarium memproduksi hormon androgen berlebih sehingga menghambat proses pematangan sel telur selama masa subur atau ovulasi. Akibatnya, sel telur tidak bisa matang dan keluar untuk dibuahi.

Sel telur yang tidak bisa matang ini akan membentuk kantung kecil berisi cairan atau kista. Lama-kelamaan, kista menumpuk dan membesar di dalam ovarium.

Penumpukan inilah yang menyebabkan perut bagian bawah terasa keras, bertambah besar, dan diikuti nyeri panggul.

Selain itu, gejala lain yang kerap muncul adalah haid tidak lancar atau berhenti, pertumbuhan rambut berlebih pada wajah atau hirsutisme, dan berat badan berlebih.

3. Peritonitis

Peradangan di lapisan pelindung organ perut (peritonitis) rupanya bisa membuat perut bagian bawah keras dan sakit saat bergerak atau ditekan.

Ada dua penyebab utama mengapa perut mengeras saat mengalami peritonitis.

Pertama, radang memicu pembengkakan dan penumpukan cairan. Kedua, peritonitis membuat sulit buang air besar dan kentut sehingga perut kembung dan mengeras.

Penyebab utama peritonitis adalah infeksi bakteri dan jamur akibat lubang di usus besar atau usus buntu yang pecah.

Selain itu, berikut ini adalah beberapa kondisi yang memicu peritonitis.

  • Infeksi saat cuci darah.
  • Penyakit radang panggul pada wanita.
  • Infeksi saat pembedahan.
  • Penumpukan cairan berisi bakteri akibat kerusakan liver atau sirosis.

4. Sindrom iritasi usus besar

Ketika Anda mengalami atau irritable bowel syndrome (IBS), Anda cenderung mengalami kembung, sembelit, atau justru diare. Perut bagian bawah pun akhirnya terasa sakit dan keras.

Penyebab utama IBS belum bisa dipahami sepenuhnya. Faktor yang paling memungkinkan adalah terganggunya bagian otak yang mengatur sistem pencernaan.

Studi yang terbit pada jurnal Techniques in Coloproctology (2014) memperkirakan perubahan aktivitas salah satu senyawa kimia otak, yaitu serotonin, berkaitan dengan kemunculan gejala IBS.

Perubahan tersebut mengganggu pergerakan usus saat mencerna makanan dan membuat Anda semakin sensitif terhadap zat tertentu dalam makanan.

5. Tumor

Tumor adalah jaringan yang terbentuk dari sel-sel yang membelah secara abnormal.

Ada dua jenis tumor yakni tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak akan membesar seperti benjolan, tetapi tidak menyebar dan mengganggu jaringan di sekitarnya.

Sementara itu, tumor ganas bisa merusak jaringan di sekitarnya atau bahkan menyebar ke organ lain. Tumor ganas ini kerap disebut dengan kanker.

Tumor bisa terbentuk di ginjal, kandung kemih, usus besar, usus buntu, ovarium, atau saluran indung telur.

Saat tumor tumbuh di salah satu organ tersebut, Anda bisa merasakan ada benjolan keras di perut.

6. Divertikulitis

Usus besar memiliki kantong-kantong kecil di dalamnya yang disebut dengan divertikula. Kantong ini lebih sering ditemukan di usus besar bagian bawah kiri.

Infeksi bakteri bisa menyerang divertikula sehingga menyebabkan peradangan atau divertikulitis. Ketika meradang, kantong ini bisa menonjol keluar dari usus besar.

Tonjolan yang muncul ini menyebabkan perut bagian bawah membesar dan tambah keras, apalagi jika sampai terbentuk benjolan nanah.

Selain infeksi, mengejan dengan keras saat buang air besar juga bisa mendorong otot usus besar. Kebiasaan ini bisa menyebabkan divertikula membesar dan membentuk tonjolan keras di perut bagian bawah.

7. Radang usus buntu

penyakit usus buntu

Radang usus buntu atau apendisitis muncul akibat infeksi virus, bakteri, atau parasit pada saluran pencernaan.

Kondisi ini juga bisa terjadi akibat penyumbatan feses di dalam saluran penghubung usus besar dan usus buntu. Terkadang, tumor juga bisa menyebabkan apendisitis.

Saat meradang, usus buntu akan membengkak. Peradangan juga menghambat aliran darah ke usus sehingga pembengkakan semakin parah.

Kondisi inilah yang menjadi penyebab perut bagian bawah besar dan keras.

Selain infeksi pencernaan, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) bisa menyebabkan radang usus buntu. Pasalnya, ISPA memengaruhi kelenjar getah bening, termasuk yang terdapat di dalam dinding usus buntu.

Cara mencegah perut bagian bawah keras

Inilah rutinitas yang harus Anda lakukan untuk menurunkan risiko berbagai penyakit di atas di kemudian hari.

  • Olahraga rutin 30 menit per hari: menyeimbangkan kadar hormon pada tubuh dan memperlancar gerakan makanan pada usus.
  • Makan kaya serat dan cukup minum air: cegah sembelit yang mengakibatkan gangguan pencernaan penyebab perut bagian bawah keras.
  • Deteksi dini penyakit saluran pencernaan: beberapa kondisi lebih rentan muncul setelah berusia 40 tahun ke atas.
  • Jaga berat badan: berat badan di atas indeks massa tubuh ideal lebih rentan memiliki masalah hormon.

Perut bagian bawah keras bisa menjadi salah satu gejala penyakit pencernaan dan organ-organ lain yang terletak di bagian bawah perut.

Jika Anda menemukan gejala-gejala penyakit lain yang menyertai, segera temui dokter untuk perawatan lebih lanjut.

Verifying...
health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Understanding Endometriosis | Endometriosis UK. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.endometriosis-uk.org/understanding-endometriosis

Endometriosis. (2009). Retrieved 15 February 2022, from https://www.healthywomen.org/condition/endometriosis/overview

Endometriosis | Office on Women’s Health. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/endometriosis

PCOS | Polycystic Ovary Syndrome | MedlinePlus. Retrieved 15 February 2022, from https://medlineplus.gov/polycysticovarysyndrome.html

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) (for Teens) – Nemours KidsHealth. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://kidshealth.org/en/teens/pcos.html

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/polycystic-ovary-syndrome-pcos

Peritonitis – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peritonitis/symptoms-causes/syc-20376247

Peritonitis. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/peritonitis

Chong, P., Chin, V., Looi, C., Wong, W., Madhavan, P., & Yong, V. (2019). The Microbiome and Irritable Bowel Syndrome – A Review on the Pathophysiology, Current Research and Future Therapy. Frontiers In Microbiology, 10. doi: 10.3389/fmicb.2019.01136

Stasi, C., Bellini, M., Bassotti, G., Blandizzi, C., & Milani, S. (2014). Serotonin receptors and their role in the pathophysiology and therapy of irritable bowel syndrome. Techniques In Coloproctology, 18(7), 613-621. doi: 10.1007/s10151-013-1106-8

Understanding and Managing Pain in Irritable Bowel Syndrome (IBS) – About IBS. (2021). Retrieved 15 February 2022, from https://aboutibs.org/treatment/understanding-and-managing-pain-in-ibs/

NCI Dictionary of Cancer Terms. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/tumor

Diverticulosis | Diverticulitis | MedlinePlus. (2021). Retrieved 15 February 2022, from https://medlineplus.gov/diverticulosisanddiverticulitis.html

Diverticulosis & Diverticulitis: Symptoms, Treatments, Prevention. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10352-diverticular-disease

Appendicitis – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543

Appendicitis. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/appendicitis

Elsesser, J. (2022). Exercise Hormones: How Exercise Can Positively Affect Hormones. Retrieved 15 February 2022, from https://blog.nasm.org/weight-loss-specialist/hormonal-balance-metabolism-exercise-can-positively-affect-hormones

Polycystic ovary syndrome (PCOS) – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2022). Retrieved 15 February 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pcos/diagnosis-treatment/drc-20353443

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Mar 07
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan