Tahukah Anda Pernikahan dan Perceraian Dapat Menyebabkan Stroke?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pernikahan adalah salah satu keputusan paling penting dalam hidup seseorang karena berpengaruh dengan hampir setiap aspek kehidupan. Pernikahan dapat menjadi sumber cinta, kebahagiaan, dan keamanan. Namun, pernikahan juga dapat memicu stress, kecemasan, atau sakit hati dan banyak pernikahan berakhir dengan perceraian. Kesejahteraan dan stabilitas perkawinan dapat memiliki dampak penting pada kesehatan seseorang. Selain itu, telah ditunjukkan bahwa pernikahan memiliki peran penting dalam risiko stroke, yang merupakan peristiwa penting yang juga mengubah hidup Anda.

Apakah pernikahan mempengaruhi risiko stroke?

Menariknya, stabilitas perkawinan tidak hanya mempengaruhi risiko stroke pada pasangan suami-istri, tetapi juga dapat mempengaruhi anak di tahun mendatang.  Selain itu, di sisi lain, stroke berat dapat menyebabkan perubahan dalam kepribadian, dan hal ini dapat mempengaruhi kualitas dan kepuasan pernikahan.

Risiko stroke apa yang dapat terjadi karena perceraian?

Sebuah studi yang diterbitkan di Swedia melaporkan bahwa risiko stroke meningkat dalam beberapa tahun pertama setelah pernikahan berakhir. Stroke memiliki kemungkinan lebih tinggi terjadi pada pernikahan yang berakhir baik karena perceraian atau karena kematian pasangan. Kenaikan tingkat stroke mempengaruhi pria dan wanita, tapi tercatat lebih signifikan bagi laki-laki daripada perempuan. Ada beberapa penjelasan terjadinya stroke ketika pernikahan berakhir, termasuk kecemasan, kesedihan, dan pengabaikan perawatan diri.

Selain itu, perubahan gaya hidup setelah menikah dapat berbeda pada pria dan wanita dan ini bisa menjelaskan perbedaan stroke antara pria dan wanita setelah perceraian. Menariknya, pria yang tidak pernah menikah tidak menunjukkan tingkat peningkatan stroke dibandingkan dengan pria menikah, pada usia yang sama. Hal ini menunjukkan risiko stroke dipicu karena perceraian, bukan karena tidak menikah.

Apakah pernikahan yang tidak bahagia memicu risiko stroke?

Jika perceraian lebih mempengaruhi stroke pada pria daripada wanita, pernikahan tidak bahagia juga mempengaruhi jenis kelamin dengan cara yang berbeda. Sebuah penyelidikan dari The University of Colorado di Boulder melaporkan bahwa sebuah pernikahan yang tidak bahagia berdampak risiko stroke lebih besar bagi wanita, tapi tidak bagi pria.

Apa risikonya untuk anak-anak?

Anehnya, perceraian diketahui memiliki dampak jangka panjang terhadap risiko stroke bukan hanya pada pasangan yang bercerai. Sebuah studi yang diterbitkan dalam International Journal of Stroke menyimpulkan bahwa perceraian orangtua selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko stroke pada anak laki-laki yang telah dewasa tiga kali lipat. Menariknya, risiko stroke karena perceraian orangtua saat masa anak-anak tidak mempengaruhi anak perempuan ketika dewasa. Mengingat perceraian orangtua biasanya tidak secara baik-baik, anak-anak mungkin saja merasa bersalah (seolah-olah ia yang menyebabkan perceraian) dan ini terjadi dalam jangka panjang, sehingga menyebabkan stress. Namun, perlu diingat bahwa studi ini tidak menunjukkan penyebab pasti atau penyebab fisiologi di balik peningkatan stroke di antara laki-laki dewasa yang orangtuanya bercerai.

Bagaimana stroke mempengaruhi pernikahan?

Bagi pasangan yang tinggal bersama-sama, stroke tetap berisiko karena merupakan penyakit yang relatif umum. Stroke dapat menghasilkan sejumlah perubahan neurologis, termasuk perubahan kemampuan memahami perasaan orang lain dan memahami ekspresi wajah. Kurangnya respon sosial dan emosional yang sesuai dari penderita stroke bisa sangat sulit untuk pasangan, dan dapat menurunkan kepuasan pasangan yang biasanya merupakan perawat utama penderita stroke.

Apa yang harus saya ingat?

Pernikahan memainkan peran besar dalam kehidupan seseorang. Bukan sesuatu yang mengejutkan bahwa kualitas pernikahan dapat berdampak pada stroke, yang mana merupakan penyakit yang disebabkan oleh interaksi dari sejumlah faktor sosial, emosiona,l dan kesehatan yang kompleks. Menarik untuk mencermati bagaimana perkawinan dan perceraian mempengaruhi pria dan wanita secara berbeda, dan bahkan mempengaruhi anak laki-laki mereka secara berbeda dari anak perempuan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Sindrom Moyamoya, Penyakit yang Dapat Jadi Pemicu Stroke pada Anak

    Kegiatan meniup balon dapat berujung pada kematian saat orang dengan kondisi sindrom moyamoya melakukannya. Apa itu sindrom moyamoya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Stroke, Health Centers 12/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

    Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    dampak stroke pada anak

    Stroke pada Anak, Apakah Masih Bisa Sembuh?

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    apa itu kolesterol

    7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    arti kedutan

    Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    minyak esensial

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit