Inflammatory bowel disease (IBD) atau yang juga dikenal dengan nama penyakit radang usus adalah sekelompok gangguan sistem pencernaan yang menyebabkan peradangan pada sistem pencernaan. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil, dan usus besar. Mereka berperan untuk mengurai makanan, mendapatkan nutrisi dari makanan, dan mengeluarkan produk sampah yang tidak diperlukan.

Apa jenis penyakit radang usus?

Dua jenis yang paling umum dari penyakit radang usus adalah ulcerative colitis dan penyakit Crohn.
Ulcerative colitis diklasifikasikan menurut lokasi peradangan dan keparahan gejala:

  • Ulcerative proctitis. Ini adalah jenis ulcerative colitis  yang paling ringan. Peradangannya sering terjadi di dekat anus.
  • Proctosigmoiditis. Peradangan terjadi pada rektum dan  ujung bawah usus besar.
  • Left-sided colitis. Peradangan meluas dari rektum melalui sigmoid dan descending colon.
  • Pancolitis. Pancolitis sering mempengaruhi seluruh usus besar.
  • Ulcerative colitis  akut. Sebelumnya disebut fulminant colitis, jenis kolitis yang jarang terjadi ini mempengaruhi seluruh usus besar.
  • Penyakit Crohn mempengaruhi orang-orang secara berbeda, tetapi biasanya menyerang ileum (bagian akhir usus kecil) dan usus besar.


Jangan tertukar antara radang usus (IBD) dan sindrom iritasi usus alias irritable bowel sydrome (IBS). IBS ditandai dengan kontraksi abnormal dinding usus, sedangkan IBD mengacu pada kondisi yang menyebabkan peradangan.

Apa saja tanda dan gejala penyakit radang usus?

Meskipun kondisinya sangat berbeda, baik ulcerative colitis dan penyakit Crohn memiliki beberapa gejala yang sama:

Nyeri perut dan kram

  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Perdarahan anus
  • Kram/kejang otot
  • Penurunan berat badan
  • Demam dan kelelahan
  • Berkurangnya nafsu makan.

Seiring waktu, peradangan pada lapisan usus menyebabkan luka. Dinding usus kemudian kehilangan kemampuan untuk mengolah makanan, limbah, dan menyerap air, sehingga menyebabkan diare. Luka kecil berkembang di usus lalu menyebabkan sakit perut dan darah dalam tinja Anda.

Hal ini dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh, seperti mata, kulit dan sendi. Penderita IBD dapat berlanjut menderita radang pada mata, gangguan kulit, dan arthritis.

Mungkin ada saat-saat ketika gejala aktif dan saat-saat ketika gejala hilang. Pada penyakit Crohn, 35% penderita yang sudah sembuh mengalami 1 atau 2 kali kambuh dalam 5 tahun setelahnya. Remisi penderita ulcerative colitis lebih tinggi, di mana 30% dari orang dalam remisi akan mengalami penyakit aktif tahun depan.

Apa penyebab dan pemicu risiko radang usus?

Tidak ada penyebab pasti dari penyakit radang usus. Beberapa faktor dapat memicu atau membuat gejala memburuk. Dua penyebab yang paling umum adalah kerusakan dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

  • Sistem kekebalan tubuh tidak normal: Sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan usus bukan bakteri dan virus.
  • Keturunan: Orang dengan anggota keluarga yang memiliki kondisi ini sering memiliki penyakit radang usus.
  • Menu makan: Menu makan yang tinggi protein daging dan ikan dapat menyebabkan keracunan sel dan luka pada usus.
  • Umur: IBD sering didiagnosis pada orang di bawah 35 tahun, tetapi bisa terjadi pada siapa saja.
  • Jenis kelamin: IBD dapat mempengaruhi kedua jenis kelamin. Tetapi lebih banyak kasus ulcerative colitis terjadi pada laki-laki, sementara penyakit Crohn lebih sering terjadi pada wanita.
  • Merokok: Merokok meningkatkan risiko penyakit Crohn juga membuat gejala lebih buruk. Namun, perokok cenderung berkemungkinan lebih besar terkena ulcerative colitis  dibanding bukan perokok dan mantan perokok.
  • Isotretinoin (Amnesteem®, Claravis®, Sotret®; sebelumnya Accutane®): Tidak ada hubungan yang jelas antara IDB dan isotretinion, tapi beberapa studi menunjukkan obat ini menjadi faktor risiko. Isotretinoin biasanya digunakan untuk mengobati kista atau jerawat.
  • NSAIDS. Obat anti-inflamasi nonsteroidal seperti ibuprofen (Advil®, Motrin IB®, dll), naproxen sodium (Aleve®, Anaprox®), natrium diklofenak (Voltaren®, Solaraze®) dan lain-lain: Obat-obat ini dapat meningkatkan risiko munculnya IBD atau memperburuk penyakit IBD yang sudah ada.

Bagaimana mengobati penyakit radang  usus?

Ada beberapa pengobatan untuk penyakit radang usus. Pengobatan sering mulai dengan obat, atau mungkin perlu dilakukan operasi jika obat-obatan tidak mempan.

Obat

Dokter Anda mungkin menyarankan obat-obatan untuk mengobati peradangan dan mengurangi gejala radang usus. Obat-obatan yang biasa digunakan adalah aminosalisilat, antibiotik (seperti metronidazole, ciprofloxacin, rifaximin), obat-obatan kortikosteroid, dan obat-obatan untuk mencegah diare maupun kram perut.

Operasi

Operasi dapat digunakan untuk menyembuhkan ulcerative colitis.  Namun, penyakit Crohn mungkin masih dapat kembali walaupun dengan operasi.

Operasi ulcerative colitis akan mengangkat seluruh usus besar dan rektum. Dokter bedah akan memasang kantong untuk menghubungkan ujung usus ke anus, yang memungkinkan Anda untuk membuang kotoran secara normal. Prosedur ini disebut ileoanal anastomosis.  Jika kantong tidak mungkin, ahli bedah akan membuat pembukaan permanen di perut dan memasangkan tas untuk mengumpulkan BAB.

Operasi penyakit Crohn tidak menyembuhkan kondisi. Kebanyakan penderita penyakit Crohn membutuhkan setidaknya satu operasi dalam pengobatan mereka. Operasi akan mengangkat bagian yang rusak dari usus dan menghubungkannya dengan jaringan sehat.

Radang usus dapat menyerang siapa saja. Sayangnya, belum ada obat untuk mengobati kondisi ini. Cara terbaik untuk mengobati penyakit radang usus adalah mencegah kambuh dan mengontrol gejala. Anda dapat menanyakan metode pencegahan dan memberitahu setiap perubahan dalam menu makan Anda.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca