backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Mengenal Jenis-Jenis Operasi untuk Mengobati Penyakit Crohn

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 24/01/2022

Mengenal Jenis-Jenis Operasi untuk Mengobati Penyakit Crohn

Penyakit Crohn adalah kondisi peradangan yang menyebabkan dinding usus menebal sehingga menghalangi makanan untuk lewat. Operasi penyakit Crohn biasanya menjadi prosedur yang dianjurkan bila pengobatan dan perawatan lainnya gagal.

Kapan operasi untuk penyakit Crohn dibutuhkan?

Seseorang kemungkinan membutuhkan operasi untuk penyakit Crohn (Crohn’s disease) apabila terdapat bagian dari usus yang mengalami penyumbatan parah.

Usus kecil merupakan bagian yang paling sering terpengaruh. Meski begitu, setiap bagian dari usus Anda bisa mengalami gangguan pencernaan ini.

Bagian usus yang terserang Crohn’s disease akan mengalami peradangan sehingga menyebabkan usus mengeras dan tersumbat. 

Saat penyumbatan memburuk dengan cepat, Anda membutuhkan operasi darurat. Selain itu, dokter bisa merekomendasikan operasi ini bila Anda memiliki kondisi sebagai berikut.

  • Respons buruk terhadap obat untuk penyakit Crohn.
  • Terdapat fistula atau lubang yang terbentuk dalam usus atau antara usus dan organ lain.
  • Terbentuknya abses atau rongga berisi nanah dekat daerah anus atau tempat lain.
  • Perdarahan hebat pada usus. 
  • Penyakit berisiko atau sudah berkembang menjadi kanker usus besar.

Beragam jenis operasi penyakit Crohn

laparoskopi

Sebelum menjalani prosedur ini, dokter akan memberikan anjuran tentang makanan, minuman, dan konsumsi obat-obatan sebelum operasi.

Pasien akan melakukan operasi perut untuk penyakit Crohn tergantung pada lokasi dan tingkat keparahannya seperti berikut ini.

1. Strikturplasti

Prosedur pembedahan ini bertujuan untuk memperluas area yang sempit dalam bagian usus halus yang terkena penyakit Crohn. 

Dalam strikturplasti tidak ada bagian usus yang dihilangkan. Bahkan untuk kasus striktur (penyempitan) yang sangat pendek tindakan ini dapat dilakukan dengan kolonoskopi.

2. Reseksi usus

Dokter akan memilih melakukan reseksi usus daripada strikturplasti bila terjadi penyempitan panjang di usus atau ada penyempitan yang lokasinya berdekatan pada usus halus.

Operasi untuk penyakit Crohn ini dilakukan dengan mengangkat bagian usus yang rusak, lalu menyatukan kedua ujung bagian sehat yang tersisa. Gabungan ini disebut sebagai anastomosis.

3. Reseksi ileocaecal

Crohn’s disease cukup umum terjadi pada bagian akhir usus halus (ileum terminal) dan bagian pertama usus besar (sekum).

Pada kondisi penyumbatan penyakit Crohn yang parah, kedua bagian ini perlu dihilangkan melalui operasi. Ahli bedah lalu menggabungkan ujung usus halus yang sehat langsung dengan usus besar pasien.

4. Hemikolektomi kanan terbatas

Selain usus halus, penyakit Crohn juga bisa menyerang usus besar (kolon). Bagian yang umum terkena adalah kolon kanan atau asenden yang memanjang ke atas.

Apabila bagian pertama dari kolon asenden terpengaruh, ahli bedah akan mengangkatnya sebelum bergabung dengan sisa usus besar lainnya.

5. Kolektomi dengan ileostomi

Kolektomi adalah prosedur pengangkatan usus besar. Untuk penyakit Crohn yang menimbulkan kerusakan parah pada usus besar, terkadang ahli bedah perlu mengangkat sebagian atau seluruh kolon.

Dalam prosedur ini, ahli bedah akan membuat lubang pada dinding perut untuk membawa ujung usus kecil keluar yang disebut ileostomi atau stoma.

Stoma akan dipasangkan sebuah tas untuk mengumpulkan sisa-sisa pencernaan pasien.

6. Kolektomi dengan anastomosis ileorektal

Apabila rektum tetap sehat, kolektomi juga dapat dilakukan dengan anastomosis ileorektal.

Ahli bedah akan mengangkat usus besar dan menggabungkan ujung usus kecil ke rektum. Operasi untuk penyakit Crohn ini umumnya kurang direkomendasikan.

Pasalnya, operasi menyebabkan feses cenderung menjadi sangat cair dan pasien perlu lebih sering ke toilet untuk buang air besar.

7. Proktokolektomi dengan ileostomi

Proktokolektomi adalah prosedur pengangkatan usus besar, rektum, dan saluran anus pada pasien Crohn’s disease yang parah.

Ahli bedah akan membuat ileostomi untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan. Kantong ini harus pasien kosongkan sepanjang hari.

Penyakit Crohn juga bisa disertai dengan abses dan fistula sehingga dokter perlu mengobatinya untuk mencegah infeksi lanjutan dalam saluran pencernaan.

Umumnya, operasi perut untuk penyakit Crohn dilakukan dengan laparoskopi. Teknik ini akan menggunakan sayatan kecil untuk memasukkan instrumen bedah ke dalam perut.

Jenis operasi bedah ini lebih efisien daripada operasi bedah terbuka dengan risiko efek samping minimal dan pemulihan yang lebih cepat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah operasi penyakit Crohn

Umumnya, Anda bisa pulang setelah 5–10 hari di rumah sakit. Anda mungkin membutuhkan waktu hingga tiga bulan sampai pulih sepenuhnya. 

Dokter juga akan meminta Anda untuk kontrol secara rutin. Pemeriksaan rutin meminimalkan risiko komplikasi, seperti infeksi, kebocoran sambungan, hingga usus tersumbat.

Selain itu, Anda akan mendapatkan anjuran pascaoperasi untuk membantu pemulihan dengan melakukan hal-hal berikut ini.

  • Pertahankan diet seimbang yang mencakup makanan yang disarankan dokter atau ahli gizi. Pasien kolektomi dan proktokolektomi umumnya dianjurkan makan makanan rendah serat untuk 6–8 minggu pertama.
  • Berolahraga secara teratur sesuai dengan persetujuan dokter untuk membantu pulih kembali ke aktivitas normal secepat mungkin.
  • Minum air putih lebih banyak dapat membantu tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
  • Konsumsi makanan dalam porsi kecil dan lebih sering setiap hari, serta ingatlah untuk selalu mengunyah secara menyeluruh.
  • Pertimbangkan minum suplemen multivitamin dan mineral untuk membantu penyerapan nutrisi yang terganggu akibat penyakit Crohn.

Apabila Anda memiliki pertanyaan terkait operasi penyakit Crohn ini, konsultasikanlah dengan dokter untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 24/01/2022

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan