9 Penyebab Diare yang Tak Boleh Disepelekan dan Cara Mengatasinya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Setiap orang, tanpa memandang usia dan jenis kelamin, bisa mengalami diare. Ada banyak penyebab diare. Mulai dari hal remeh seperti gaya hidup tidak sehat hingga tanda dari penyakit serius. Sayangnya, masih banyak orang yang menyepelekan penyakit satu ini. Padahal diare yang diabiarkan tanpa pengobatan yang tepat dapat berlangsung lama dan pada akhirnya berujung pada komplikasi serius.

Mengetahui berbagai penyebab diare dapat mengurangi risiko Anda terkena penyakit ini di kemudian

Penyebab diare yang paling sering terjadi

Penyebab diare sangat beragam, dari mulai kondisi yang sifatnya sementara hingga tanda kondisi kesehatan kronis. Berikut berbagai penyebab diare yang paling sering terjadi:

1. Infeksi bakteri

kenapa sakit perut setelah makan

Beberapa bakteri seperti shigella, salmonella, dan escherichia coli dapat menginfeksi tubuh Anda dan menyebabkan diare. Bakteri penyebab diare tersebut biasanya menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi serta kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Jadi, Anda bisa terinfeksi bakteri penyebab diare saat Anda mengonsumsi makanan yang diolah secara secara tidak higienis oleh orang yang sedang sakit diare.

Pasalnya, bisa saja orang yang terinfeksi lupa mencuci tangan setelah menggunakan toilet dan kemudian orang yang terinfeksi langsung menangani makanan, sehingga bakteri bisa berpindah ke makanan. Nah jika sistem kekebalan tubuh Anda sedang menurun, maka Anda mungkin saja terinfeksi penyakit ini.

Anak kecil mungkin akan lebih rentan terinfeksi bakteri penyebab diare karena daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

2. Infeksi virus

sakit perut dan keputihan

Beberapa infeksi virus dapat menyebabkan diare dan muntah, misalnya infeksi virus rotavirus dan norovirus. Kelompok virus tersebut sangat mudah menular dari satu orang ke orang lainnya. Penggunaan peralatan makan serta mengonsumsi minuman dan makanan yang terkontaminasi bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus tersebut. Bahkan, orang yang terinfeksi dan tidak memunculkan gejala apa pun juga dapat menularkan virus  tersebut.

3. Berwisata ke tempat tertentu

menjaga kebersihan vagina saat traveling

Tergantung pada tempat wisata yang dikunjungi, sekitar 30 sampai 70 persen wisatawan mengalami serangan diare dan muntah karena mengonsumsi makanan lokal atau air yang terkontaminasi. Hal ini biasanya disebut sebagai diare wisatawan. 

4. Obat-obatan tertentu

obat pelancar haid

Terkadang penggunaan obat-obatan tertentu dapat menjadi penyebab diare. Salah satu jenis obat-obatan yang dapat memicu diare adalah antibiotik. Meski antibiotik dapat membunuh bakteri jahat, obat ini juga dapat membunuh bakteri baik yang melindungi usus Anda.

Selain itu, obat tekanan darah, obat kanker, dan obat antasida juga bisa memicu diare. Jika Anda menggunakan salah satud ari obat-obatan tersebut dan langsung mengalami diare, segera konsultasi ke dokter.

5. Intoleransi makanan

alergi dan intoleransi makanan

Penyebab diare lainnya mungkin juga karena Anda mengalami intoleransi makanan tertentu. Intoleransi makanan terjadi ketika tubuh Anda tidak bisa mencerna jenis makanan tertentu. Makanan yang tidak bisa dicerna inilah yang menyebabkan mual, diare, kram, kembung, dan lain sebagainya. Biasanya kondisi ini terjadi dalam kurun waktu 30 menit hingga dua jam setelah Anda mengonsumsi makanan tertentu.

Intoleransi makanan bisa karena Anda tak memiliki enzim khusus yang bisa mengurangi makanan tersebut atau karena ada kondisi kesehatan tertentu. Intoleransi yang cukup banyak dialami yaitu intoleransi laktosa (gula alami pada produk susu) atau intoleransi gluten (protein alami pada gandum dan produk olahannya).

6. Keracunan makanan

Diare juga bisa terjadi akibat Anda mengonsumsi makanan kedaluwarsa yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Salmonella adalah infeksi bakteri yang umum yang dapat menyebabkan diare dan biasanya berkembang setelah Anda mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi.

7. Kondisi medis tertentu

Membedakan Jenis Sakit Perut Berdasarkan Penyebabnya

Jika Anda mengalami diare krnonis yang tak kunjung sembuh dan bersifat kambuhan, bisa jadi ini tanda kalau Anda punya masalah kesehatan tertentu. Jika diare yang Anda alami berlangsung lebih dari tiga hari, Anda mungkin mengalami salah satu kondisi di bawah ini:

  • Irritable Bowel Syndrome (IBS). Kondisi ini disebut juga dengan istilah iritasi usus yang menandakan adanya gangguan pada usus besar Anda. Biasanya kondisi ini dipicu oleh keadaan stress. Selain diare, IBS biasanya disertai dengan gejala lainnya seperti perut kembung, bergas, sembelit, kram perut, dan feses berlendir.
  • Inflammatory Bowel Disease (IBD). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan beberapa penyakit gangguan usus kronis seperti Crohn disease dan kolitis ulseratif. Kedua kondisi ini ditandai dengan adanya peradangan pada saluran pencernaan. Peradangan biasanya menyebar dari saluran pencernaan ke jaringan di sekitarnya dan menyebabkan luka di sepanjang lapisan usus besar. Itu sebabnya, diare yang disebabkan karena penyakit ini bisa disertai dengan darah.
  • Penyakit Celiac. Jika Anda memiliki penyakit Celiac, mengonsumsi makanan yang mengandung gluten akan memicu respon sistem imun untuk menyerangan jaringan sehat di usus kecil Anda. Lama-lama kondisi ini dapat merusak lapisan usus yang pada akhirnya dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi penting di dalam tubuh (malabsorbsi). Akibatnya, Anda pun akan lebih rentan mengalami diare.
  • Penyakit lainnya. Beberapa penyakit lain seperti diabetes, hipertiroidisme, penyakit Addison, dan pankreatitis kronis dapat juga menjadi penyebab diare. Jika Anda mencurigai penyebab diare karena kondisi tersebut, segera konsultasi ke dokter. Dokter akan melakukan diagnosis guna menentukan pengobatan yang terbaik sesuai dengan kondisi Anda.

Pilihan obat diare yang bisa Anda coba di rumah

Penting untuk dipahami bahwa setiap orang mungkin membutuhkan perawatan yang berebda-beda. Beberapa orang yang sakit diare mungkin harus mendapatkan perawatan di rumah sakit selama beberapa hari. Sementara beberapa orang lainnya cukup di rawat di rumah dengan istirahat total.

Namun secara umum, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit ini. Anda bisa melakukannya dengan menggunakan bahan alami dan obat diare dari dokter.

Dikutip dari Mayo Clinic, berikut beberapa cara sederhana dan efektif yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi diare. Cara ini bisa diterapkan pada anak-anak maupun dewasa.

1. Minum banyak cairan

air minum tercemar

Dalam kasus yang tidak terlalu parah, gejala diare dapat membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari. Akan tetapi, bagi beberapa orang lainnya, diare yang dialaminya mungki lebih berat. Hal ini menyebabkan timbulah berbagai masalah lain, seperti dehidrasi. Dehidrasi disebabkan karena terlalu banyak cairan yang keluar dari tubuh melalui buang air besar yang terlalu cair dan sering pada saat diare.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut, orang yang sedang sakit diare dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan cairannya. Sebaiknya Anda minum banyak cairan dari air putih, air kelapa, teh manis, air kaldu, atau oralit. Namun ingat, oralit tidak bisa menyembuhkan disentri, melainkan membantu mengobati ataupun mencegah pasien mengalami dehidrasi. Apabila tidak memungkinkan untuk membuat oralit sendiri di rumah, Anda dapat membeli oralit kemasan di apotek terdekat lalu dilarutkan dalam segelas air.

Untuk bayi yang berusia di bawah 6 bulan, Anda bisa terus memberikannya ASI eksklusif (ASI saja) untuk mencegah diare semakin memburuk. Kandungan dalam ASI dapat menghambat pertumbuhan kuman penyebab diare.

Jika Anda memiliki penyakit ginjal, jantung, atau hati dan harus membatasi cairan, bicarakan dengan dokter Anda sebelum Anda meningkatkan jumlah cairan yang Anda minum.

2. Hindari makanan tertentu

makan pedas sebelum tidur

Selama Anda sakit diare, sebaiknya Anda memerhatikan asupan makanan dengan baik. Konsumsilah makanan yang lunak, tinggi protein dan rendah serat. Hindari berbagai makanan yang sulit dicerna agar gejala diare tidak semakin memburuk. Jangan lupa, perhatikan porsi makan Anda juga.

Secara umum, berikut beberapa makanan yang harus Anda hindari selama sakit diare:

  • Makanan padat/ keras, pedas, berlemak, berminyak, mentah, berserat tinggi, dan banyak bumbu.
  • Buah dan sayur yang mengandung gas.
  • Alkohol dan kafein, setidaknya sampai 48 jam setelah semua gejala diare Anda menghilang.
  • Bila Anda memakan permen karet, hindari yang mengandung sorbitol.
  • Hindari mengonsumsi susu atau produk olahan selama 3 hari setelah gejala diare Anda hilang. Namun, Anda bisa memakan keju atau yogurt yang mengandung probiotik.

3. Pilih makanan yang mengandung probiotik

Probiotik mengandung sekumpulan bakteri hidup yang mirip dengan bakteri sehat yang umumnya ditemukan di dalam sistem pencernaan tubuh. Probiotik dapat meningkatkan jumlah bakteri sehat yang ada untuk melawan kuman dalam saluran pencernaan Anda. Bakteri ini bisa Anda temukan dalam yoghurt dan keju. Jika diperlukan, Anda juga bisa mengonsumsi suplemen probiotik.

4. Rajin cuci tangan

cuci tangan sebelum seks

Saat Anda mengalami diare, penting untuk cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. Terutama setelah Anda pergi ke kamar mandi dan sebelum makan. Pasalnya, tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang sering digunakan untuk bersentuhan dengan berbagai benda. Bersalaman dengan orang lain, membuka gagang pintung, atau memencet tombol lampu adalah beberapa contoh aktivitas yang melibatkan sentuhan tangan.

Cucilah tangan Anda menggunakan sabun dan air yang mengalir sampai benar-benar bersih. Jangan lupa, jaga pula kebersihan kuku Anda.

Jangan menularkan penyakit ini ke orang-orang di sekitar Anda. Jadi, pastikan Anda menjaga kebersihan diri Anda dan lingkungan sekitar Anda.

Pilihan obat diare dari dokter

Selain dengan mencukupi makanan berserat dan banyak minum air putih, Anda juga bisa minum obat diare dari dokter. Beberapa obat diare yang sering digunakan di antaranya:

1. Loperamide (Imodium)

obat cilazapril adalah

Salah satu obat diare yang paling sering digunakan adalah loperamide (Imodium). Obat ini bekerja dengan cara memperlambat gerak usus guna menghasilkan tekstur feses yang lebih padat. Selain itu, loperamide juga mencegah dehidrasi dengan mengurangi jumlah cairan tubuh yang keluar.

Loperamide tersedia dalam bentuk kapsul, tablet kunyah, dan obat cair (sirup). Ikuti petunjuk dokter dalam pemakaian obat ini. Bila menyalahi aturan, bisa jadi Anda malah tidak bisa buang air besar sama sekali.

2. Attapulgite

obat kencing nanah

Attapulgite adalah zat yang terkandung dalam beberapa obat diare. Attapulgite bekerja merangsang usus agar dapat menyerap lebih banyak air sehingga tekstur feses Anda akan jauh lebih padat. Selain itu, obat ini juga membantu meringankan gejala sakit perut akibat diare.

Anda bisa minum obat diare attapulgite sebelum atau sesudah makan, pilih salah satu saja. Jangan lupa juga untuk tetap minum banyak air putih untuk mencegah dehidrasi selama diare.

3. Bismuth subsalicylate (Pepto-Bismol®)

obat tbc

Bismuth subsalicylate adalah obat diare yang bekerja memperlambat perkembangan bakteri penyebab diare. Obat ini membantu memperkuat lapisan dinding lambung dan usus kecil berkat kandungan agen sitoprotektifnya. Selain itu, bismuth subsalicylates juga membantu meredakan rasa mual.

Jika feses Anda mengandung darah atau lendir, jangan gunakan obat ini. Penting untuk diperhatikan bahwa jika kondisi Anda tidak kunjung membaik dalam waktu lebih dari dua hari, atau malah makin memburuk setelah minum obat diare, segera konsultasikan lebih lanjut ke dokter.

4. Antibiotik

fakta seputar antibiotik

Seperti yang telah disebutkan di atas, diare pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun parasit yang menyerang saluran pencernaan. Inilah mengapa dokter seringkali meresepkan antibiotik sebagai salah satu obat diare.

Namun, pemberian antibiotik sebagai obat diare ini biasanya dilakukan setelah dokter melakukan tes laboratorium dengan mengambil sampel feses pasien. Ketika dokter mengetahui bahwa penyebab diare yang dialami pasien adalah infeksi bakteri, barulah dokter akan meresepkan obat antibiotik untuk menyembuhkan penyakitnya. Pasalnya, antibiotik adalah anti-bakteri, maka infeksi virus tidak dapat diobati oleh antibiotik.

Antibiotik paling ampuh ketika jumlah obat di dalam tubuh dijaga dengan tingkat yang konsisten. Maka, minum obat antibiotik yang diresepkan dokter dengan jarak waktu yang kurang lebih sama.

Lanjutkan menggunakan obat antibiotik sampai habis, meskipun gejala diare menghilang setelah beberapa hari. Berhenti minum obat terlalu dini justru dapat membuat bakteri penyebab diare tetap tumbuh, yang berakibat kambuhnya infeksi. Beritahu dokter jika kondisi gejala yang Anda alami tidak kunjung hilang atau memburuk.

Baca Juga:

Sumber