home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbahayakah Jika BAB Anda Berlendir?

Berbahayakah Jika BAB Anda Berlendir?

Lendir merupakan zat yang diproduksi tubuh yang dapat memengaruhi kerja tubuh. Namun, sebagian orang mungkin bertanya-tanya bagaimana jika BAB berlendir? Apakah hal tersebut normal terjadi? Berikut ulasannya.

Apa fungsi lendir di dalam tubuh?

Lendir adalah cairan yang diproduksi oleh jaringan untuk melapisi dan melindungi organ tertentu seperti mulut, hidung, sinus, tenggorokan, paru-paru, dan usus.

Lendir berfungsi untuk mengurangi kerusakan organ tubuh tertentu yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Teksturnya yang licin dan lengket bisa menjadi perangkap bagi partikel asing yang tidak sengaja masuk ke dalam tubuh.

Di dalam usus, lendir berfungsi untuk melindungi lapisan dalam usus dan melicinkan permukaannya. Selain itu, lendir dapat melindungi usus dari asam lambung atau cairan lainnya yang bisa mengiritasi.

Lendir yang sehat berwarna bening dan tipis. Kadang juga berwarna putih dan kekuningan. Namun, beberapa faktor seperti penyakit, diet, dan juga faktor lingkungan bisa memengaruhi tekstur, jumlah, serta warna lendir.

Kapan lendir pada feses dianggap tidak normal?

fakta buang air besar wanita

Buang air besar atau BAB berlendir pada dasarnya normal. Namun, lendir yang terlihat di feses dalam jumlah banyak bisa menjadi pertanda adanya masalah.

Memang, BAB yang mengandung lendir belum tentu menandai adanya masalah kesehatan yang serius. Namun jika keberadaannya meningkat dan terjadi terus-menerus, Anda harus mulai waspada dan memeriksakan diri ke dokter.

Lendir yang menandakan masalah kesehatan serius juga biasanya disertai dengan gejala lainnya seperti:

  • adanya darah atau nanah pada feses,
  • sakit perut,
  • kram perut, dan
  • lebih sering atau lebih jarang buang air besar.

Oleh karena itu, walaupun terkesan menjijikkan, Anda perlu sedikit lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh melalui keberadaan lendir di feses.

Penyebab BAB berlendir

Menurut World Journal of Gastroenterology, peradangan pada sistem pencernaan biasanya akan membuat produksi lendir dalam feses berlebih.

Selain itu, beberapa masalah kesehatan lain juga bisa menjadi penyebab BAB berlendir. Berikut di antaranya.

1. Kolitis ulseratif

Kolitis ulseratif menandakan adanya peradangan kronis pada selaput lendir di usus besar dan rektum. Biasanya dinding usus besar akan terluka, berlendir, berdarah, hingga bernanah.

Jika lendir yang dihasilkan terlalu banyak, maka kemungkinan besar lendir akan ikut bersama dengan feses saat dikeluarkan.

2. Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan penyakit pencernaan umum yang memengaruhi kerja usus besar. Pada IBS, kontraksi otot yang terjadi saat makanan melewati usus besar terbilang tak normal.

Kadang, terlalu banyak kontraksi bisa menyebabkan diare, tetapi jika terlalu sedikit justru menyebabkan sembelit. Kontraksi otot yang tidak teratur atau berselang ini biasanya menyebabkan rasa sakit.

Pada penderita IBS, lendir seringkali diproduksi berlebihan oleh usus besar dan dikeluarkan melalui feses.

Studi menunjukkan bahwa pria dengan IBS cenderung memiliki lendir di feses lebih banyak dibandingkan dengan wanita yang mengalami IBS. Lendir juga akan terlihat lebih banyak saat Anda mengalami diare akibat IBS.

3. Penyakit Crohn

Penyakit Crohn merupakan penyakit radang usus kronis. Peradangan dapat memengaruhi setiap bagian dari sistem pencernaan, dari mulut ke bagian belakang, tapi paling sering terjadi di bagian terakhir yaitu pada usus kecil (ileum) atau usus besar (kolon).

Biasanya, orang dengan penyakit ini akan mengalami sakit perut yang menyakitkan dan BAB berlendir atau berdarah.

4. Fistula ani

Fistula ani merupakan penyakit karena infeksi pada kelenjar anal yang menyebabkan terbentuknya nanah di sekitar anus.

Kondisi ini sering terjadi pada orang dengan penyakit Crohn, terutama di daerah perineum (pada pria terletak di antara skrotum dan anus, pada wanita terletak di antara anus dan vagina).

Sedangkan fistula anal adalah saluran kecil yang menghubungkan abses di dalam anus dengan kulit di sekitar anus. Kondisi ini disebabkan oleh kumpulan nanah yang terjebak di lubang anus. Kedua penyakit ini bisa membuat BAB berlendir.

5. Alergi makanan

Jika Anda memiliki alergi makanan tertentu seperti kacang-kacangan, laktosa, gluten, dan makanan lainnya, maka hal ini bisa menjadi kemungkinan terjadinya BAB yang berlendir.

Sebab, beberapa makanan tertentu dapat menimbulkan ketidaknyaman pada sistem pencernaan yang akan mengakibatkan kembung, diare, ruam, dan sembelit. Akibatnya, kontraksi otot di usus tidak dapat dihindarkan.

6. Infeksi bakteri

Infeksi bakteri biasanya disebakan oleh bakteri seperti Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan Yersinia. Bakteri-bakteri tersebut sering menjadi penyebab keracunan makanan dan infeksi lainnya.

Gejala-gejalanya adalah diare, kram, muntah, mual, hingga demam. Karena kontraksi inilah maka lendir yang ada di dalam usus bisa ikut keluar saat Anda BAB.

7. Cystic fibrosis

Cystic fibrosis merupakan kelainan genetik yang dapat menyebabkan produksi lendir berlebih di dalam tubuh. Kondisi yang mengancam jiwa ini paling sering menyerang paru-paru.

Namun, beberapa kasus menunjukkan penyakit ini juga bisa menyerang saluran pencernaan. Dalam kasus ini, lendir bisa menghalangi lubang atau saluran dalam pankreas Anda.

Penyumbatan ini mencegah enzim mencapai usus Anda. Akibatnya, usus Anda tidak bisa sepenuhnya menyerap lemak dan protein. Hal ini bisa menyebabkan diare berkepanjangan, berbau busuk, berlendir, dan berminyak.

Bagaimana dokter mendiagnosis BAB berlendir?

Untuk mendiagnosis kelebihan lendir pada feses, dokter biasanya akan memulai dengan pemeriksaan fisik dan tes darah. Hasil tes ini akan menjadi acuan untuk melihat masalah utama yang menyebabkan BAB berlendir.

Jika hasil pemeriksaan fisik tidak dan darah tidak cukup kuat, dokter biasanya akan melakukan serangkaian tes pendukung seperti:

  • tes kultur feses (mengambil sampel feses),
  • tes urine,
  • kolonoskopi,
  • endoskopi,
  • sinar X, MRI panggul, atau CT scan, serta
  • uji elektrolit keringat.

Perawatan dan pengobatan untuk BAB berlendir

Karena kejadiannya bisa didasari oleh berbagai macam penyakit pencernaan lain, hasil pemeriksaan yang telah dilakukan akan dijadikan acuan dalam memberikan pengobatan yang tepat.

Jika Anda positif mengidap penyakit tertentu, dokter akan melakukan perawatan yang sesuai dengan penyakit penyebab BAB berlendir.

Selain menjalani perawatan medis, Anda juga perlu melakukan perubahan pada kebiasaan sehari-hari guna membantu pemulihan kondisi Anda. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan.

  • Meningkatkan asupan cairan dengan minum air lebih banyak.
  • Mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung probiotik seperti yogurt, tempe, dan kimchi.
  • Menghindari konsumsi makanan yang asam dan pedas.
  • Mengonsumsi lebih banyak makanan yang kaya serat.

Selama menjalani langkah-langkah di atas, Anda baiknya turut waspada dan lebih peka terhadap berbagai perubahan yang Anda rasakan pada tubuh, terutama bila gejala mulai memengaruhi kebiasaan buang air besar.

Bila ada keluhan yang mengganggu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi kepada dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fyderek, K., Strus, M., et al. (2009).Mucosal bacterial microflora and mucus layer thickness in adolescents with inflammatory bowel disease. World Journal of Gastroenterology, 15(42), 5287-5294. Retrieved 19 January 2021.

Mucus in Stool: A Concern? (2020). Mayo Clinic. Retrieved 19 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/mucus-in-stool/expert-answers/faq-20058262

Mucositis. (2020). National Health Service. Retrieved 19 January 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/mucositis/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Tanggal diperbarui 03/02/2021
x