Osteoporosis Pada Wanita: Penyebab, Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

The International Osteoporosis Foundation memperkirakan 200 juta wanita di dunia saat ini memiliki osteoporosis. Statistik umum bahkan menyebut wanita terbilang empat kali lebih rentan mengalami osteoporosis ketimbang pria. Mengapa osteoporosis lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dan bisakah risiko ini dicegah?

Penyebab wanita lebih rentan terkena osteoporosis

Tulang adalah organ yang dapat terus memperbarui dirinya sendiri. Artinya, sel dan jaringan tulang baru akan selalu dibuat otomatis untuk menggantikan bagian lama yang rusak.

Proses regenerasi tulang cenderung berlangsung cepat di usia muda, sehingga massa tulang pun akan terus bertambah. Namun, proses ini akan perlahan melambat seiring terus bertambahnya usia; terutama setelah 30 tahun. Semakin tua usia kita, massa tulang akan lebih cepat hilang daripada yang dibuat.

Osteoporosis adalah kondisi yang terjadi saat tulang Anda melemah dan kehilangan kekuatannya secara perlahan. Akibatnya, tulang menjadi lebih keropos dan rapuh sehingga risiko patah tulang pun meningkat.

Selain karena usia, ada banyak faktor lainnya yang membuat osteoporosis lebih rentan terjadi pada wanita dibanding pria; misalnya:

1. Ras

Berbagai penelitian menyebutkan, wanita Asia berisiko lebih tinggi mengalami osteoporosis ketimbang pria beretnis sama dan wanita dari etnis lainnya. Faktor penyebabnya yang paling umum adalah rendahnya asupan kalsium harian karena sekitar 90% wanita Asia memiliki intoleransi laktosa.

Intoleransi laktosa menyebabkan mereka tidak bisa mengonsumsi produk susu hewani, yang notabene merupakan sumber utama kalsium dari makanan. Padahal, kalsium berperan penting untuk membangun massa dan mempertahankan kerangka tulang yang kuat.

Tak hanya itu. Rata-rata wanita etnis Asia memiliki postur kerangka tubuh yang relatif lebih kecil ketimbang pria sebangsanya dan wanita etnis lain. Ini membuat massa tulang mereka lebih rendah daripada rata-rata massa tulang orang-orang lainnya di seluruh dunia. Itu kenapa wanita Asia berisiko lebih besar untuk mengalami tulang keropos akibat osteoporosis.

2. Kerangka tulang lebih kecil

Secara fisiologis, wanita memiliki postur kerangka yang lebih kecil dan massa tulang yang lebih rendah daripada pria.

Pertumbuhan tulang wanita pun umumnya mencapai kapasitas maksimalnya pada usia 18 tahun. Setelah lewat usia tersebut, tulang wanita masih terus berkembang tapi berlangsung secara lambat dan sedikit-sedikit dari sebelumnya.

Maka mulai usia 30 tahun ke atas, efek pengeroposan akibat osteoporosis akan lebih terlihat cepat terjadi pada wanita karena massa tulang mereka tidak lagi meningkat.

3. Hormon

Tubuh pria dan wanita sama-sama memproduksi hormon estrogen. Hormon estrogen itu sendiri berperan membantu membangun dan mempertahankan massa tulang.

Wanita secara umum memproduksi lebih banyak estrogen ketimbang pria. Namun, kadar estrogen yang diproduksi akan menurun drastis ketika wanita masuk usia menopause. Ketika produksi estrogen berkurang sangat banyak, tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Faktanya, seorang wanita bisa kehilangan hingga 20 persen dari total massa tulangnya dalam 5-7 tahun setelah menopause. Jika tulang Anda cepat keropos, Anda berpeluang lebih tinggi untuk mengalami osteoporosis.

Ini adalah tiga faktor terbesar yang membedakan kenapa osteoporosis lebih sering terjadi pada wanita ketimbang pria.

Faktor yang meningkatkan risiko osteoporosis pada wanita

Selain ketiga penyebab utama di atas, wanita akan akan lebih rentan lagi mengalami osteoporosis bila:

  • Memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur
  • Tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan berturut-turut (amenore)
  • Menstruasi pertamanya mulai lebih cepat dibanding normalnya (menarche dini)
  • Pernah menjalani operasi angkat indung telur (indung telur adalah tempat produksi hormon estrogen)
  • Mengalami menopause lebih cepat
  • Berat badan yang terlalu kurus atau di bawah ideal menurut skor BMI (Hitung berat Anda di kalkulator BMI Hello Sehat)
  • Ada riwayat osteoporosis dalam keluarga
  • Tidak mendapatkan cukup asupan kalsium dan vitamin D
  • Jarang berolahraga
  • Menderita gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa yang bisa melemahkan tulang
  • Merokok, karena merokok menurunkan kepadatan tulang
  • Punya penyakit lain seperti diabetes, radang usus, Celiac, dan depresi yang bisa meningkatkan risiko osteoporosis pada wanita
  • Minum obat-obatan tertentu untuk mengatasi masalah kesehatan kronis seperti radang sendi, asma, lupus, atau penyakit tiroid
  • Minum terlalu banyak alkohol dalam sehari, dan berlangsung dalam jangka panjang.

Namun, seorang wanita bisa saja mengalami osteoporosis meski tidak memiliki satu pun dari faktor risiko tersebut. Konsultasikan ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Gejala osteoporosis pada wanita

Osteoporosis pada wanita kerap tidak menunjukkan gejala berarti. Penurunan kekuatan dan kepadatan tulang berlangsung perlahan yang umumnya jarang disadari.

Seiring waktu, efek pengeroposan tulang akibat osteoporosis dapat memunculkan gejala awal seperti melemahnya kekuatan genggaman, nyeri punggung tiba-tiba, dan tinggi badan yang menyusut (ditandai dengan badan yang makin membungkuk).

Namun, osteoporosis sering terlambat diketahui sampai ada salah satu tulang yang patah karena cedera ringan (yang umumnya tidak berakibat demikian). Patah dapat terjadi di bagian tulang mana pun, tapi paling sering di pinggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang (vertebra). Patah tulang di daerah ini bisa terjadi kapan pun termasuk saat beraktivitas. 

Ketika tulang yang patah memulih, Anda cenderung akan tetap mengalami kesulitan untuk berdiri dan duduk tegap. Tulang belakang yang keropos atau patah karena osteoporosis juga akan membuat postur bahu miring saat berdiri dan tulang belakang melengkung. Dua hal ini semakin membuat postur badan Anda terlihat mengecil karena tidak bisa berdiri tegap.

Cara mencegah osteoporosis pada wanita

Wanita pasti menua dan mengalami menopause. Ini adalah faktor risiko osteoporosis yang mungkin tidak akan bisa dihindari.

Namun, tidak semua wanita usia menopause pasti akan mengalami osteoporosis jika tahu bagaimana caranya menjaga kesehatan tulang sedari muda.

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis terjadi pada wanita sejak dini, yaitu:

1. Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D

Kalsium merupakan mineral utama yang dibutuhkan tubuh untuk membangun tulang yang kuat.Tanpa kalsium, tulang akan lebih mudah rapuh dan patah. Sementara itu, vitamin D dibutuhkan untuk memaksimalkan penyerapan kalsium dan fosfor di dalam tubuh.

Anda bisa mendapatkan asupan kalsium dari susu, ikan sarden, ikan teri, tahu, edamame, sayuran hijau tua seperti bayam dan kangkung, susu kedelai, dan lain sebagainya. Menurut Kemenkes RI, setiap wanita perlu mengonsumsi sekitar 1000-1100 mg kalsium per harinya. 

Untuk asupan vitamin D, Anda otomatis mendapatkannya tanpa perlu susah payah dari paparan sinar matahari. Paling baik berjemur mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 2 sore, setidaknya 5 sampai 15 menit saja untuk dua sampai tiga kali seminggu 

Selain itu, Anda juga bisa mendapatkan sumber asupan vitamin D dari minyak ikan cod, salmon, hati sapi, kuning telur, susu, jamur kancing, dan lainnya.

Biasakan untuk mengonsumsi sumber kalsium dan vitamin D setiap hari sedari muda agar terhindar dari osteoporosis di usia tua.

2. Olahraga

Sama seperti otot, tulang Anda akan menjadi lebih kuat jika Anda rutin melatihnya. Namun, tidak semua jenis olahraga didesain untuk menguatkan tulang.

Untuk mencegah osteoporosis pada wanita, mulailah dengan rutin melakukan latihan beban (weight bearing exercise) dan latihan kekuatan otot sedari muda.

Latihan beban yang dimaksud di sini bukan semata olahraga angkat beban, melainkan olahraga aerobik, naik turun tangga, lompat tali, jogging, tai chi, jalan santai, yoga, dan lain sebagainya. Latihan beban Dua akan memacu tubuh Anda bergerak melawan gravitasi untuk mendorong pembentukan tulang baru yang lebih kuat dan padat.

Latihan kekuatan otot juga penting demi mencegah osteoporosis. Selain tentunya menguatkan otot, latihan ini akan membuat tubuh Anda lebih kokoh namun fleksibel sehingga menurunkan risiko cedera akibat terjatuh. Beberapa contoh latihan kekuatan otot yang bisa Anda coba adalah push up, sit up, dan angkat beban menggunakan dumbbell.

Jika Anda telah memiliki penyakit kronis tertentu, sebaiknya konsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum Anda mencoba olahraga yang telah disebutkan di atas.

3. Berhenti merokok dan minum alkohol

Jika Anda merokok, sebaiknya hentikan kebiasaan ini mulai sekarang. Merokok dapat mengganggu penyerapan kalsium oleh tulang sehingga tulang Anda tidak dapat berfungsi dengan baik.

Kandungan senyawa di dalam rokok bisa menurunkan kepadatan tulang dan melemahkannya. Selain itu, wanita perokok kerap mengalami menopause lebih awal dari yang seharusnya.

Perokok wanita bahkan lebih berisiko terkena masalah kesehatan lainnya setelah menopause daripada yang tidak merokok. Berbagai masalah kesehatan ini mungkin dapat berkontribusi lebih terhadap risiko osteoporosis Anda nantinya.

Begitu pula dengan minuman beralkohol. Alkohol mengganggu penyerapan kalsium sehingga membuat tulang lebih rentan keropos.

4. Rajin makan sayur dan buah

Sayur dan buah kaya akan nutrisi penting yang menguntungkan bagi tulang, seperti kalsium, magnesium, kalium, vitamin K, vitamin C, dan protein.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Bone Mineral mengungkapkan, orang yang rutin makan sayur dan buah berisiko lebih kecil untuk mengalami patah tulang dibanding mereka yang jarang makan sayur dan buah.

5. Tidur yang cukup

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of The American Geriatrics Society mengungkapkan hubungan antara tidur dan osteoporosis.

Dari hasil penelitian didapatkan bukti bahwa wanita berusia lebih dari 50 tahun yang terbiasa tidur kurang dari enam jam risikonya lebih tinggi untuk mengalami osteoporosis. Untuk itu, usahakan untuk selalu tidur tak kurang dari 7-8 jam per harinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pijat Prostat, Benarkah Bisa Atasi Masalah Prostat dan Seksual?

Dewasa ini, pijat prostat mulai banyak dicari. Banyak yang yakin pijat ini bisa jadi solusi berbagai keluhan di area prostat. Apa memang benar?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Urologi, Prostat 05/08/2020 . Waktu baca 6 menit

Nafsu Seks Siapa yang Lebih Besar? Pria atau Wanita?

Semua orang punya nafsu seks yang berbeda. Namun apakah benar nafsu seks pria lebih besar dari wanita? Simak apa kata hasil penelitian.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Manfaat Virgin Coconut Oil untuk Kesehatan

Tak hanya efektif memangkas gelambir lemak perut, manfaat virgin coconut oil alias minyak kelapa dara sangat menakjubkan untuk kesehatan.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Fakta Unik 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

5 Ramuan Alami Terbaik untuk Mengatasi Rambut Kering

Rambut kering memang bikin penampilan terlihat kusam. Mari simak cara mengatasi rambut kering menggunakan 5 bahan alami pada penjelasan di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Rambut Rontok, Hidup Sehat 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengobati infeksi saluran kencing obat cefixime antibiotik

7 Pengobatan Alami Mengobati Infeksi Saluran Kencing

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 8 menit
penyebab infeksi saluran kencing

Berbagai Penyebab Penyakit Infeksi Saluran Kencing yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
kesehatan kandung kemih

Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Kandung Kemih bagi Pria dan Wanita?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
manfaat ginseng buat pria

Ginseng Korea: Benarkah Ampuh Atasi Berbagai Masalah Seksual Pria?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 4 menit