home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

6 Gejala Umum Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai

6 Gejala Umum Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai

Proses penurunan kepadatang tulang hingga keropos biasanya berlangsung perlahan dan tidak menunjukkan ciri-ciri fisik tertentu. Hal ini menyebabkan gejala pengeroposan tulang atau osteoporosis sering kali sulit dikenali. Biasanya, penyakit ini baru diketahui saat pasien telah mengalami patah tulang. Oleh sebab itu, perhatikanlah ciri-ciri tulang keropos berikut ini agar bisa lebih waspada.

6 gejala pengeroposan tulang (osteoporosis)

Tulang sebagai bagian dari sistem gerak terdiri dari jaringan hidup yang dapat terus memperbarui dirinya sendiri setiap kali ada kerusakan. Namun seiring usia bertambah tua, proses pembentukan jaringan tulang yang baru makin melambat. Akibatnya, tulang jadi melemah dan cepat rapuh.

Berikut adalah sejumlah gejala osteoporosis yang kerap muncul di tahap awal, tapi seringnya tidak disadari:

1. Postur tubuh yang bungkuk

Salah satu gejala tulang keropos yang perlu diperhatikan adalah postur tubuh yang semakin lama semakin membungkuk. Biasanya, kondisi ini terjadi saat terjadi patah tulang di tulang belakang.

Setelah tulang belakang patah, punggung Anda akan cenderung melengkung atau membungkuk ke arah depan. Sayangnya hal ini bisa secara perlahan terjadi tanpa disadari. Oleh sebab itu, jika Anda mengalami salah satu gejala osteoporosis ini, segera periksakan kondisi kesehatan tulang ke dokter.

2. Tinggi badan semakin menyusut

Tanda-tanda osteoporosis yang masih berkaitan dengan gejala sebelumnya adalah tinggi badan yang semakin menyusut. Saat tulang belakang melemah dan mudah patah, Anda mungkin akan kehilangan tinggi badan. Bahkan, gejala dari penyakit osteoporosis ini bisa terjadi meski tubuh Anda tidak membungkuk.

Memang benar bahwa seiring bertambahnya usia, tinggi badan akan perlahan menyusut. Akan tetapi, saat mengalami osteoporosis, proses ini akan terjadi lebih cepat. Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk rutin memeriksa tinggi badan Anda.

Jika tinggi badan menyusut hingga lebih dari 3 sentimeter (cm), ini bisa menjadi ciri-ciri dari penyakit osteoporosis yang perlu Anda konfirmasi ke dokter. Apabila kondisi ini tak segera ditangani dengan baik, kesehatan tulang Anda mungkin akan semakin memburuk.

3. Sakit punggung tanpa sebab

Gejala pengeroposan tulang lainnya adalah sakit punggung yang terjadi tanpa alasan yang jelas. Sakit punggung yang dirasakan pun bukan yang biasanya terjadi, tapi muncul secara tiba-tiba atau terasa sakit sekali.

Pasalnya, gejala sakit punggung ini bisa jadi pertanda bahwa Anda akan mengalami patah tulang belakang akibat osteoporosis. Masalahnya, pada pasien osteoporosis, patah tulang belakang bisa terjadi secara tiba-tiba atau akibat dari hal-hal yang sepele, seperti membungkuk untuk mengambil benda yang jatuh di lantai atau bersin.

Rasa sakit punggung ini bahkan bisa menyebabkan pasien osteoporosis tidak bisa bergerak karena rasa sakit yang begitu luar biasa. Oleh sebab itu, periksakan kondisi kesehatan pada dokter dan mintalah pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi tulang Anda.

4. Tulang mudah patah

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ciri atau gejala dari penyakit tulang keropos yang disebut dengan osteoporosis tulang yang mudah patah akibat suatu hal yang bisa dibilang cukup sepele.

Jika Anda berusia 50 tahun ke atas dan mengalami patah tulang akibat aktivitas atau pergerakan tubuh ringan, bisa jadi itu adalah pertanda bahwa tulang Anda telah melemah.

Adapun area tulang yang paling sering patah sebagai gejala osteoporosis yaitu:

Tulang belakang

Patah tulang belakang cenderung yang paling sering terjadi saat seseorang terkena osteoporosis. Patah tulang ini bisa menyebabkan rasa sakit yang amat mengganggu dan menyebabkan postur membungkuk (kifosis). Meski begitu, kadang patah tulang belakang bisa terjadi begitu saja tanpa gejala atau tanda yang jelas.

Tulang pinggul

Patah tulang pinggul menjadi gejala osteoporosis yang paling umum pada orang berusia 75 tahun ke atas. Patah tulang pinggul umumnya membuat seseorang perlu menjalani rawat inap dan operasi.

Proses penyembuhannya cukup lama dan bahkan bisa menyebabkan seseorang sulit atau bahkan tak bisa lagi bergerak. Meski telah diobati, masih tinggi peluangnya untuk tulang pinggung patah kembali di masa depan.

Pergelangan tangan

Patah pergelangan tangan jadi salah satu gejala osteoporosis yang kerap dialami setelah terjatuh.

Patah pergelangan tangan bisa menyebabkan Anda kesulitan menggerakkan tangan. Terutama apabila patah terjadi di sisi tangan Anda yang dominan.

Baik patah tulang belakang, pergelangan tangan, atau pinggang, tidak ada yang boleh diremehkan begitu saja. Kondisi ini perlu pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut, karena berpotensi terjadi akibat osteoporosis.

Apabila Anda didiagnosis mengalami penyakit pengeroposan tulang ini, pastikan untuk mengonsumsi obat osteoporosis yang diresepkan oleh dokter untuk mencegah terjadinya patah tulang yang lebih membahayakan kondisi kesehatan.

4. Gusi menyusut

Menurut NIH Osteoporosis and Related Bone Disease National Resource Center, osteoporosis mungkin saja berkaitan dengan kesehatan gigi dan gusi. Pasalnya, gigi dan gusi ditopang oleh tulang rahang. Maka, ketika osteoporosis menyerang, tulang rahang akan kehilangan kepadatananya, sehingga garis gusi terlihat menyusut.

Tulang rahang yang rapuh sangat berkaitan dengan gejala osteoporosis di bagian ini. Jika Anda melihat ada perubahan pada gusi, periksakan ke dokter gigi untuk melihat kondisi lebih jelasnya. Dokter biasanya akan melakukan rontgen gigi untuk melihat pengeroposan tulang yang terjadi.

Dari hasil rontgen, dokter gigi bisa menyimpulkan masalah yang Anda alami. Namun jika ternyata hasil rontgen mulut kurang jelas, dokter akan melakukan berbagai tes lanjutan untuk memastikan bahwa Anda mengalami osteoporosis atau tidak.

5. Kekuatan genggaman melemah

Penelitan yang diterbitkan di jurnal Orthopaedic Surgery menemukan bukti bahwa melemahnya kekuatan genggaman berkaitan dengan tulang rangka yang mengalami pengeroposan.

Ketika gejala ini Anda alami, jangan dianggap angin lalu. Satu atau dua kali mungkin masih terbilang wajar. Namun, jika hal ini terjadi terus menerus Anda juga perlu waspada dan memeriksakan diri ke dokter.

Kondisi ini bisa jadi gejala osteoporosis dini yang perlu diwaspadai dan kerap diabaikan, terutama pada wanita pascamenopause.

Kekuatan genggaman yang melemah bisa mendatangkan masalah lebih besar, yaitu patah tulang. Pasalnya, ketika pegangan seseorang melemah, ia akan sulit untuk menjaga keseimbangan dirinya.

Pegangan dan genggaman yang kuat menjadi cara tepat mencegah jatuh. Oleh karena itu, segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan kondisi dan mencegah keparahan osteoporosis jika memang menyerang Anda.

6. Kuku lemah dan rapuh

Mungkin Anda tak menyadari bahwa kuku yang lemah dan rapuh menandakan kesehatan tulang yang tidak lagi optimal. Kenapa begitu?

Pada dasarnya, kuku dan tulang terbuat dari mineral yang sama yaitu kalsium. Apabila kuku tampak lebih lemah dan rapuh dari biasanya, ini dapat menandakan tubuh tidak mendapat asupan kalsium yang cukup, atau tidak lagi bisa menyerap kalsium sebaik dulu.

Osteopenia, penyakit kelainan tulang tanda osteporosis

Osteopenia adalah penurunan kepadatan tulang hingga berada di bawah batas normal. Penyakit kelainan tulang ini dianggap sebagai salah satu gejala dari osteoporosis. Jika semakin parah, osteopenia dapat berlanjut menjadi osteoporosis yaitu kondisi tulang mengalami pengeroposan.

Sama halnya dengan osteoporosis, salah satu penyakit yang bisa menjadi penyebab osteoporosis ini juga tidak memiliki gejala khusus. Tak heran jika banyak penderita osteopenia yang berujung mengalami osteoporosis.

Meski begitu, sebenarnya osteopenia tidak selalu berujung menjadi osteoporosis. Apalagi jika penyakit osteopenia segera diatasi, sehingga pencegahan terhadap osteoporosis pun berhasil dilakukan.

Apabila Anda mengalami osteopenia, segera praktikkan gaya hidup sehat untuk tulang, misalnya rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan penguat tulang. Dengan begitu, Anda telah mengurangi risiko mengalami osteoporosis.

Selain itu, dokter mungkin akan meresepkan berbagai obat penguat tulang yang biasanya diberikan untuk pengobatan osteoporosis.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Li, Y. Z., Zhuang, H. F., Cai, S. Q., Lin, C. K., Wang, P. W., Yan, L. S., Lin, J. K., & Yu, H. M. (2018). Low Grip Strength is a Strong Risk Factor of Osteoporosis in Postmenopausal Women. Orthopaedic surgery10(1), 17–22. https://doi.org/10.1111/os.12360

Oral Health and Bone Disease. Retrieved 3 September 2020, from https://www.bones.nih.gov/health-info/bone/bone-health/oral-health/oral-health-and-bone-disease

Osteoporosis – Overview. Retrieved 3 September 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/osteoporosis/

Osteoporosis – Symptoms & Causes. Retrieved 3 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968

Three Warning Signs That You May Have Osteoporosis. Retrieved 3 September 2020, from https://www.iofbonehealth.org/news/three-warning-signs-you-may-have-osteoporosis

Signs and Symptoms of Osteoporosis. Retrieved 3 September 2020, from https://jeanhailes.org.au/health-a-z/bone-health/signs-symptoms-of-osteoporosis

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 10/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x