Mengulik Bahaya Gaya Hidup “Mager” Warga Kota dan Efeknya Pada Risiko Diabetes

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Gaya hidup sedentari, alias kurang gerak atau mager (malas gerak) adalah masalah yang sering dialami oleh penduduk perkotaan. Bekerja di depan layar komputer sepanjang hari, kelamaan terjebak macet di jalan, atau hobi main game tanpa diimbangi olahraga merupakan bentuk dari gaya hidup sedentari.

Jika Anda salah satu orang yang sering melakukan berbagai rutinitas tersebut, Anda harus waspada. Pasalnya, gaya hidup sedentari sangat membahayakan karena membuat Anda berisiko terkena diabetes tipe 2.

Gaya hidup sedentari adalah salah satu faktor risiko diabetes

Gaya hidup sedentari menyebabkan masyarakat, terutama penduduk kota, malas bergerak. Coba ingat-ingat, dalam sehari ini, sudah berapa kali Anda menggunakan aplikasi online untuk memenuhi kebutuhan Anda? Selain itu, tilik juga, berapa banyak langkah yang sudah Anda dapatkan pada hari ini?

Ya, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, apa pun yang Anda butuhkan kini bisa langsung diantar ke ruangan kantor Anda atau depan rumah. Selain hemat waktu, Anda pun jadi tak perlu mengeluarkan energi untuk mendapatkan apa yang Anda mau.

Namun, tahukah Anda bahwa segala kemudahan tersebut menyimpan bahaya bagi tubuh Anda? Minimnya aktivitas fisik karena gaya hidup ini membuat Anda berisiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2.

Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa gaya hidup ini juga jadi salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Selain itu, data terbaru dari Riskedas 2018 menguak bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan tingkat diabetes melitus tertinggi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa gaya hidup mager amat erat kaitannya dengan tingkat diabetes di perkotaan.

posisi duduk

Gaya hidup sedentari picu resistensi insulin 

Malas gerak akibat gaya hidup sedentari bisa menyebabkan Anda mengalami resistensi insulin. Resistensi insulin sendiri merupakan kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Jika sudah mengalami resistensi insulin, tubuh Anda tidak bisa  menyerap dengan baik gula yang ada di dalam darah ke dalam sel-sel organ Anda. Akibatnya, kadar gula darah semakin meningkat di dalam darah dan Anda pun berisiko tinggi terkena diabetes.

Kondisi ini bisa semakin parah jika Anda merokok, sering minum alkohol, dan menerapkan pola makan tidak sehat seperti tinggi gula, garam, dan lemak. Sayangnya, resistensi insulin biasanya tidak memiliki gejala yang jelas. Anda bisa saja mengalami kondisi ini selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Kalau sudah parah, resistensi insulin bisa menyebabkan komplikasi serius yang membahayakan kesehatan Anda.

Cara mudah mencegah gaya hidup sedentari

Bagi masyarakat kota, mengubah gaya hidup sedentari mungkin tak mudah. Kabar baiknya, ada sejumlah tips dan rutinitas sederhana yang bisa membuat Anda lebih aktif bergerak.

Salah satu aktivitas fisik yang memungkinkan Anda bergerak lebih banyak adalah jalan kaki. Tak hanya murah meriah, jalan kaki juga bisa jadi alternatif paling mudah bagi Anda yang tidak memiliki waktu atau energi lebih untuk berolahraga.

Nah, agar terbiasa untuk jalan kaki, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan.

1. Naik-turun tangga

Mulai sekarang, cobalah untuk memilih naik tangga ketimbang naik lift atau eskalator sebagai upaya mencegah gaya hidup sedentari. Jika tempat yang Anda tuju berada di lantai yang tinggi, Anda bisa naik lift terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan naik tangga.

2. Parkir di tempat yang jauh

Selain itu, parkirkan kendaraan Anda di tempat yang jauh dari biasanya, dan berjalan kakilah menuju tempat tujuan Anda. Hal ini juga bisa diterapkan ketika Anda menggunakan angkutan umum. Turunlah satu halte sebelum tempat tujuan, sehingga Anda memiliki banyak kesempatan untuk lebih banyak berjalan dan menghindari gaya hidup sedentari.

3. Cari inspirasi di luar ruangan

Bagi pekerja kantoran, Anda juga bisa menghalau rasa bosan atau sekadar mencari inspirasi dengan berjalan kaki mengitari gedung kantor selama beberapa menit. Namun, pastikan Anda menggunakan tangga, ya! Tujuannya tentu agar Anda terhindar dari gaya hidup sedentari.

4. Pakai meja kerja berdiri

Jika sudah kelamaan duduk di kursi, Anda bisa kerja sambil berdiri. Agar nyaman, gunakan standing desk atau meja yang cukup tinggi supaya Anda bisa bekerja sambil berdiri. Anda juga bisa mengajak rekan kerja mengobrol atau meeting sambil berdiri.

5. Belanja di pusat perbelanjaan

Potongan harga yang diberikan situs belanja online memang menggoda, tapi sekali-kali belanjalah barang-barang yang Anda butuhkan langsung ke pasar atau pusat perbelanjaan. Selain bisa melihat kualitas produk yang Anda beli secara langsung, pergi ke pusat perbelanjaan juga memungkinkan Anda untuk lebih banyak bergerak. Misalnya untuk sekadar mencari-cari barang dari satu rak ke rak lainnya.

6. Beres-beres rumah

Aktivitas sederhana seperti bersih-bersih rumah ternyata juga bisa membuat Anda lebih aktif bergerak. Menyapu, mengepel lantai, atau mencuci pakaian dengan tangan dapat membantu membakar kalori yang menumpuk di dalam tubuh Anda.

Ingat, gaya hidup sedentari adalah kebiasaan buruk yang harus segera Anda ubah. Jangan tunggu nanti atau sampai menjadi penyakit diabetes, tapi mulailah sekarang juga sebelum terlambat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kaki Diabetik, Salah Satu Komplikasi Diabetes yang Bisa Berujung Amputasi

    Salah satu komplikasi yang bisa terjadi pada penderita diabetes adalah kaki diabetik. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berujung amputasi.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Mengenal Komplikasi Hiperglikemi Hiperosmolar Nonketotik (HHS) pada Diabetesi

    Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) adalah komplikasi diabetes yang disebabkan kadar gula darah yang sangat tinggi dan dapat berakibat fatal.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Penyebab Luka Diabetes Sulit Sembuh dan Cara Perawatannya

    Diabetes kering dan basah sebenarnya merujuk pada kondisi luka yang dialami. Lantas, bagaimana cara mengobati luka diabetes yang sulit sembuh?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Akantosis Nigrikans, Saat Kulit Menebal dan Menghitam Akibat Diabetes

    Akantosis nigrikans adalah gangguan kulit yang ditandai dengan kulit menebal dan menggelap. Kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda diabetes.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    merawat kulit orang diabetes

    Berbagai Perawatan untuk Menjaga Kesehatan Kulit

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    hipoglikemia adalah gula darah rendah

    Hipoglikemia

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    Batasan Kadar Gula Darah yang Normal dalam Tubuh

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    gangguan penglihatan akibat diabetes

    Berbagai Gangguan Mata yang Mungkin Terjadi Akibat Komplikasi Diabetes

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 6 menit