Mungkinkah Anak-anak Terkena Diabetes Tipe 2 (Kencing Manis)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Diabetes tipe 2 (kencing manis) dianggap sebagai penyakit khusus orang dewasa. Faktanya, memang penyakit ini lebih sering dialami orang dewasa dibanding dengan anak-anak. Namun, saat ini diabetes tipe 2 pada anak semakin sering terjadi.

Diabetes tipe 2 adalah kondisi kronis yang menggangu metabolisme glukosa (gula) dalam tubuh. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), peningkatan angka kejadian diabetes tipe 2 pada anak terjadi seiring dengan meningkatnya kasus obesitas dan kurangnya aktivitas fisik pada anak.

Mengapa anak-anak bisa memiliki diabetes tipe 2?

Penyebab utama diabetes tipe 2 pada anak-anak adalah kelebihan berat badan atau obesitas. Hubungan antara obesitas dan diabetes tipe 2 bahkan lebih kuat pada kaum muda daripada pada orang dewasa.

Anak yang kelebihan berat badan kemungkinan akan mengalami peningkatan resistensi terhadap insulin. Lalu tubuh akan berjuang untuk mengatur insulin, sementara gula darah yang tinggi dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan yang cukup serius.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), dalam 30 tahun terakhir obesitas pada anak-anak meningkat dua kali lipat dan obesitas pada remaja meningkat empat kali lipat.

Faktor genetik juga bisa berperan dalam meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada anak. Jika salah satu orangtua atau kedua orangtua memiliki diabetes ini, anak Anda berpotensi memiliki diabetes tipe 2 juga.

Gejala diabetes tipe 2 pada anak

Gejala diabetes tipe 2 tidak selalu mudah dikenali. Pada kebanyakan kasus, penyakit berkembang secara bertahap, yang menyebabkan gejala sulit dideteksi. Sekitar 40 persen anak-anak yang memiliki diabetes tipe 2 tidak menunjukkan tanda atau gejala apa pun. Namun, beberapa gejala dapat dikenali yaitu:

Mudah lelah

Jika anak Anda sering lemas, lelah, atau mengantuk tanpa aktivitas fisik berat, bisa jadi merupakan gejala diabetes. Pasalnya, diabetes tipe 2 pada anak membuat tubuhnya tidak bisa mengolah gula jadi sumber energi, hanya disimpan saja dalam darah. Akibatnya, anak tidak punya energi yang cukup untuk beraktivitas.

Rasa haus yang berlebihan

Gampang haus padahal sudah minum air yang cukup mungkin saja menunjukkan gejala diabetes tipe 2 pada anak.

Sering buang air kecil

Kadar gula yang berlebihan dalam aliran darah bisa menyerap cairan dari jaringan tubuh. Hal ini membuat anak Anda lebih sering buang air kecil. Ditambah lagi, anak jadi mudah haus dan minum lebih banyak.

Sering merasa lapar

Anak-anak dengan diabetes tidak memiliki hormon insulin yang cukup untuk memberi bahan bakar bagi sel tubuh mereka. Sehingga membuat anak-anak menjadi lebih sering merasa lapar.

Luka yang susah sembuh

Lama atau sulitnya penyembuhan luka yang ada pada anak merupakan salah satu tanda anak Anda memiliki diabetes tipe 2.

Kulit jadi lebih gelap

Jika anak Anda menderita diabetes tipe 2, Anda mungkin akan melihat beberapa area kulit anak Anda menjadi gelap, ini disebut juga dengan acanthosis nigricans. Resistensi insulin dapat menyebabkan kulit menjadi gelap, seperti pada ketiak dan leher.

Bagaimana mendiagnosis diabetes tipe 2 pada anak?

Diabetes tipe 2 pada anak-anak memerlukan tes oleh dokter anak untuk dikenali dengan benar. Jika dokter anak Anda mencurigai diabetes tipe 2, dokter akan melakukan tes glukosa darah, tes toleransi glukosa, atau tes A1C.

Terkadang, dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk mendapatkan diagnosis positif untuk diabetes tipe 2 untuk anak. Anda juga dianjurkan untuk minta pendapat dokter lain (second opinion) untuk memastikan diagnosis.

Faktor risiko diabetes tipe 2 pada anak

Risiko penyakit diabetes tipe 2 pada anak akan meningkat jika:

  • Seorang saudara kandung atau kerabat dekat lainnya juga memiliki diabetes tipe 2.
  • Menunjukkan tanda-tanda resistensi insulin, termasuk bercak-bercak gelap pada kulit.
  • Anak Anda tidak aktif. Semakin tidak aktif anak Anda, semakin besar risiko terjadinya diabetes tipe 2. Aktivitas fisik membantu anak mengendalikan berat badannya, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel anak Anda lebih responsif terhadap insulin.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca