Diabetes Meningkatkan Risiko Rematik Hingga 20 Persen

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 10/02/2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Diabetes dan rematik adalah dua penyakit yang berbeda. Akan tetapi, penyakit diabetes dapat meningkatkan risiko rematik hingga sebesar 20 persen apabila tidak ditangani dengan baik. Di sisi lain, risiko diabetes pun meningkat jika Anda menderita rematik. Simak informasi berikut untuk mengetahui hubungan antara kedua penyakit ini.

Hubungan antara diabetes dan rematik

Diabetes memang tidak secara langsung menyebabkan rematik. Para ahli pun belum bisa menjelaskan hubungan keduanya secara pasti. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang diduga berperan penting. Berikut di antaranya:

1. Diabetes tipe 1 dan rematik adalah penyakit autoimun

Sumber: The Conversation

Sistem kekebalan tubuh berfungsi membunuh mikroba penyebab penyakit. Namun, sistem ini terkadang keliru menyerang jaringan tubuh yang sehat dan menyebabkan kerusakan jaringan atau organ. Kondisi inilah yang disebut sebagai penyakit autoimun.

Diabetes tipe 1 dapat meningkatkan risiko rematik karena keduanya adalah penyakit autoimun. Pada diabetes tipe 1, sel-sel kekebalan tubuh menyerang jaringan pankreas. Akibatnya, pankreas tidak bisa memproduksi cukup insulin guna mengontrol gula darah. 

Penyakit autoimun cenderung menyerang lebih dari 1 bagian tubuh, termasuk jaringan persendian. Risiko diabetes tipe 1 dan rematik bahkan dapat meningkat sekaligus bila Anda memiliki gen yang menjadi penyebab keduanya.

2. Diabetes dan rematik memiliki faktor risiko yang sama

obat berhenti merokok

Dilansir dari laman Arthritis Foundation, risiko diabetes dan rematik dapat bertambah akibat beberapa faktor yang sama. Sejumlah faktor bersifat genetik dan tidak bisa diubah, tapi ada pula faktor-faktor terkait gaya hidup yang masih bisa diperbaiki.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diabetes dan rematik serta bersifat tetap antara lain kondisi genetik, pertambahan usia, serta jenis kelamin. Sementara itu, faktor yang masih bisa diubah yakni pola makan, obesitas, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik.

3. Diabetes menyebabkan peradangan

osteoarthritis lutut radang sendi lutut

Diabetes tipe 2 terjadi saat tubuh tidak lagi mampu merespons hormon insulin sehingga gula darah meningkat drastis. Kondisi ini lambat laun bisa menyebabkan obesitas. Jika ini terjadi, lemak yang menumpuk dapat melepaskan senyawa penyebab peradangan.

Senyawa tersebut adalah sitokin. Sitokin berfungsi melancarkan komunikasi antara tiap sel-sel imun dalam melawan bibit penyakit. Namun, pada kasus rematik, sitokin tidak menyerang bibit penyakit, melainkan jaringan sendi yang sehat.

Rematik disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik saja sudah bisa memicu penyakit ini. Bila Anda mengalami diabetes tipe 2 dan obesitas, peradangan yang disebabkan oleh kedua kondisi tersebut akan meningkatkan risiko rematik.

Mencegah rematik akibat diabetes

olahraga untuk penderita fibromyalgia

Ada dua cara yang dapat membantu Anda mencegah rematik akibat diabetes, yakni menjalani gaya hidup sehat dan minum obat-obatan yang diperlukan.

Gaya hidup sehat mencakup pola makan, mengendalikan berat badan, dan aktivitas fisik.

Aktivitas fisik khususnya, sangat bermanfaat untuk mencegah radang sendi karena beberapa alasan. Olahraga membuat badan Anda lebih lentur dan lincah, menurunkan kadar gula darah, serta menjaga berat badan dalam rentang yang menyehatkan.

Jangan lupa berkonsultasi dengan dokter guna memantau kadar gula darah dan kondisi persendian Anda. Jika terdapat tanda-tanda peradangan sendi, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk meredakan peradangan agar tidak bertambah parah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tunda Dulu ke Rumah Sakit Selama Wabah, Ini Tips untuk Diabetesi Selama di Rumah

Diabetesi termasuk golongan yang rentan terjangkit virus COVID-19. Selain lakukan upaya pencegahan, jaga juga kadar gula darah di rumah dengan tips berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Coronavirus, COVID-19 30/04/2020 . Waktu baca 4 menit

6 Manfaat Jalan Kaki untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes perlu mengontrol diabetesnya. Salah satu yang bisa dilakukan, yaitu jalan kaki. Apa manfaat jalan kaki bagi penderita diabetes?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Diabetes, Health Centers 26/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Saja Camilan yang Boleh Dimakan Penderita Diabetes dalam Sehari?

Memilih camilan untuk penderita diabetes tidak boleh sembarangan. Selain perlu memperhatikan kandungan nutrisinya, jumlahnya pun tidak kalah penting.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Diabetes, Health Centers 24/04/2020 . Waktu baca 3 menit

Panduan Makan untuk Orang yang Punya Riwayat Diabetes

Risiko diabetes pada orang dengan riwayat keluarga akan meningkat sehingga perlu upaya untuk mencegah diabetes dengan menjaga dan memilih makanan sehat.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Diabetes, Health Centers 23/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat radang sendi terbaru

Diklaim Ampuh, Ini Obat Radang Sendi Terbaru Temuan Ilmuwan Inggris

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 23/06/2020 . Waktu baca 4 menit
penyakit kulit diabetes

5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit
penderita diabetes meninggal covid-19

Studi: 1 dari 10 Pasien COVID-19 dengan Diabetes Berisiko Meninggal Dunia

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 10/06/2020 . Waktu baca 5 menit
diabetes dan kanker hati

Diabetes Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Hati, Ini Tips Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 16/05/2020 . Waktu baca 4 menit