Memahami Cara Kerja dan Kegunaan Vaksin Cacar Air

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Salah satu penyakit kulit yang mudah menular adalah cacar air. Gejala penyakit cacar air umumnya ringan dan dapat mereda sendiri. Namun, risiko penularan dengan kondisi yang lebih parah akan lebih tinggi pada anak-anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin cacar air lewat program imunisasi.

Kenapa perlu mendapatkan vaksin cacar air?

Penularan cacar air dapat berlangsung dengan mudah melalui udara, paparan lendir yang dikeluarkan oleh penderita saat bersin atau batuk, dan kontak langsung dengan lenting cacar air.

Seseorang yang terinfeksi bisa terus-menerus menularkan virus mulai dari munculnya gejala demam di awal hingga lenting mengering dan mengelupas dari kulit.  Oleh karena itu, orang yang terjangkit cacar perlu di karantina dan membatasi interaksi sosial dengan orang lain sampai benar-benar sembuh.

Imunisasi dapat mencegah meluasnya penularan cacar air. Semakin banyak orang yang mendapatkan vaksin, maka semakin sedikit peluang penularan penyakit ini. Itu kenapa penting bagi setiap anak turut serta dalam program imunisasi nasional agar bisa mendapatkan perlindungan yang efektif dari cacar air.

Walaupun secara umum gejala penyakit cacar air tidak membahayakan, komplikasi penyakit ini juga bisa menyebabkan kematian. Sebelum ditemukannya vaksin, tercatat rata-rata angka kematian bisa mencapai 100 orang dari 11.000 pasien yang dirawat intensif di rumah sakit.  Dengan melakukan vaksinasi, Anda bisa memperkecil risiko tersebut.

Memang belum ada uji klinis yang menetapkan secara pasti lamanya efek perlindungan dari vaksin cacar air akan bertahan. Dari beberapa penelitian yang dicatat oleh CDC, diketahui vaksin dapat memberikan perlindungan secara efektif (90-97%) selama 7 hingga 10 tahun. Akan tetapi, imunitas tubuh terhadap infeksi VZV umumnya akan berlangsung seumur hidup.

Seseorang yang sudah pernah mendapat vaksin masih mungkin terkena cacar air meski kecil risikonya. Jikapun terinfeksi, gejala biasanya ringan dan tidak mengganggu.

Cara kerja vaksin cacar air

Penyakit cacar air disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster (VZV). Vaksin cacar air terbuat dari virus VZV yang telah dilemahkan. Artinya, komponen virus penyebab cacar air dimodifikasi dan dipastikan tidak melepaskan toksin berbahaya sehingga bisa membangun proteksi di dalam tubuh terhadap infeksi virus tersebut.

Vaksin yang dinjeksikan ke dalam tubuh akan memicu sistem imun untuk bereaksi membentuk antibodi. Dalam artikel Varicella (Chickenpox) Vaccine yang dituliskan peneliti dari Harvard Medical School, vaksin cacar air dapat mengaktivasi sel limfosit, yakni sel T, yang berperan dalam melawan replikasi virus.

Rata-rata (78-90%) antibodi akan sepenuhnya terbentuk dalam waktu 4-8 minggu setelah pemberian dosis vaksin kedua. Sementara, setelah antibodi terbentuk vaksin memiliki efektivitas mencegah terjadinya infeksi virus sebesar 70 hingga 90 persen.

Imunisasi untuk cacar air sebenarnya telah gencar dilakukan sejak tahun 1995 guna menekan jumlah penderita penyakit kulit menular ini. Mulai tahun 2005, imunisasi cacar air tersedia dalam vaksin kombinasi yang juga mengandung komponen antigen virus lainnya.

Vaksin MMRV (measles-mumps rubella and varicella) ditujukkan untuk anak-anak di bawah 12 bulan hingga 12 tahun yang ingin terhindar dari penyakit cacar air, campak, gondok, dan rubella.

Siapa yang perlu mendapatkan imunisasi cacar air?

Karena sebagian besar kasus cacar air terjadi pada anak-anak di bawah umur 13 tahun, maka anak-anak berumur kurang dari 13 tahun dan belum pernah terinfeksi sangat direkomendasikan untuk memperolehnya.

Sementara pada bayi, imunisasi cacar air sebaiknya diberikan ketika usia telah mencapai 12 bulan meskipun sebelumnya telah terinfeksi virus VZV. Namun, usia terbaik untuk memperoleh vaksin cacar air adalah sebelum usia sekolah.

Akan tetapi, bukan berarti orang yang berumur di atas 13 tahun tidak boleh mendapatkan vaksin. Orang dewasa justru sangat disarankan untuk melakukan vaksin karena cacar air pada orang dewasa yang tidak pernah terinfeksi berpotensi menyebabkan gejala lebih parah.

Selain itu, vaksin juga perlu diberikan sesegera mungkin pada orang yang baru saja terpapar oleh virus VZV. Menurut Immunization Action Coalition, vaksin berpeluang 70-100 persen mencegah terjadinya infeksi apabila diberikan dalam waktu kurang dari 72 jam setelah terpapar virus.

Kapan perlu mendapatkan imunisasi cacar air?

Imunisasi cacar air dilakukan dalam 2 kali pemberian vaksin. Hal ini berlaku baik untuk anak-anak maupun orang dewasa, tapi waktu imunisasinya berbeda.

Pada anak-anak, dosis pertama diberikan ketika berumur 12-18 bulan. Dosis vaksin selanjutnya perlu diberikan ketika abak berumur 6 tahun. Sementara orang dewasa bisa mendapatkan dosis vaksin pertama kapanpun, tapi sebaiknya sesegera mungkin.

Namun, vaksin pada orang dewasa baru akan efektif menghasilkan antibodi yang kuat untuk virus cacar air setelah imunisasi kedua yang dilakukan 4-8 minggu dari imunisasi pertama.

Efek samping vaksin cacar air

Satu hal yang mungkin menjadi kekhawatiran Anda adalah bahaya dari virus varicella-zoster yang hidup di dalam vaksin. Alih-alin mencegah, bukankah virus malah bisa turut menyebabkan penyakit?

Virus tersebut telah dilemahkan sehingga tidak akan berbalik menginfeksi tubuh Anda. Di samping itu, selayaknya konsumsi obat-obatan medis yang bisa mengarah pada dampak kesehatan tertentu, vaksin cacar air juga memiliki efek samping.

Akan tetapi efek, samping yang ditimbulkan vaksin tidaklah terlalu berarti. Vaksin ini cukup aman dan dapat ditoleransi saat bereaksi di dalam tubuh. Gangguan kesehatan umumnya disebabkan oleh pemberian injeksi.

Injeksi vaksin dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan di kulit. Efek samping yang cukup kentara biasanya terjadi dari pemberian vaksin cacar air versi lama, yaitu demam dan munculnya ruam-ruam merah di kulit.

Dalam beberapa kasus efek samping yang dampaknya cenderung sedang, reaksi vaksin di dalam tubuh juga bisa memicu terjadinya gangguan pernapasan. Namun, efek samping seperti ini sudah semakin jarang ditemukan dalam penggunaan vaksin MMRV.

Kapan perlu menunda imunisasi?

Vaksin bisa memberikan efek samping yang sangat serius apabila diberikan pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Meskipun sangat jarang terjadi, efek samping vaksin yang parah dapat menyebabkan terjadinya:

  • penurunan jumlah sel darah
  • gangguan sistem pernapasan, termasuk pneumonia
  • kerusakan sel otak
  • sindrom Reye

Belum terdapat penelitian yang dapat memastikan mekanisme apa yang menyebabkan vaksin merusak beberapa organ di dalam tubuh.

Guna menghindari terjadinya efek samping tersebut, biasanya orang yang menerima vaksin dianjurkan untuk menghindari konsumsi atau penggunaan obat yang mengandung asam salisilat.

Sebaliknya, terdapat juga orang-orang yang dianjurkan menunda vaksinasi atau bahkan tidak dianjurkan sama sekali.

Larangan imunisasi cacar air dilakukan lantaran vaksin bisa memicu terjadinya reaksi alergi yang mengancam keselamatan jiwa. Kelompok orang tersebut adalah:

  • Orang yang memiliki sistem imun yang lemah karena sedang sakit.
  • Orang yang memiliki alergi terhadap gelatin atau antibiotik jenis neomisin.
  • Orang yang mengalami alergi berat dari penggunaan vaksin sebelumnya.
  • Perempuan hamil atau perempuan yang menjalani program kehamilan.

Sebenarnya, belum diketahui secara merinci mengenai efek samping imunisasi ini pada ibu hamil yang terinfeksi cacar air maupun tidak. Jika Anda atau anak termasuk orang dengan kondisi kesehatan di atas, sebelum melakukan imunisasi hendaknya berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Bedanya Vaksin mRNA dengan Vaksin Biasa?

Vaksin konvensional tak cukup efektif mencegah penularan berbagai penyakit baru. Vaksinasi modern kini mengandalkan teknologi vaksin terbaru, yakni mRNA.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Aturan Imunisasi untuk Bayi Prematur Ini Penting Diketahui

Bayi prematur cenderung lemah dengan berat badan rendah. Apakah bayi prematur perlu mendapat imunisasi? Kapan imunisasi tersebut dapat dilakukan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Imunisasi di Tengah Pandemi COVID-19 Tetap Penting, tapi Amankah?

Imunisasi tetap perlu dilakukan saat pandemi corona guna mencegah munculnya wabah penyakit menular lainnya. Lalu, seperti apa cara aman melakukan imunisasi?

Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Coronavirus, COVID-19 16/04/2020

Apa Saja Perbedaan Cacar Air dan Campak?

Cacar air dan campak sama-sama menimbulkan ruam merah di kulit. Meski tampak mirip, keduanya berbeda. Apa saja perbedaan cacar air dan campak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Direkomendasikan untuk Anda

Salep untuk cacar air

Salep Apa yang Baik untuk Mengatasi Gatal Cacar Air?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
Jenis cacar

Setiap Jenis Cacar Berbeda Penyebabnya, Bagaimana Pengobatannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020
penyebab cacar air

Waspadai Penyebab Cacar Air dan Berbagai Faktor Risikonya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 20/05/2020
Obat tradisional cacar air dari bahan alami

5 Obat Tradisional yang Membantu Penyembuhan Cacar Air Secara Alami

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 16/05/2020