5 Obat yang Paling Sering Digunakan untuk Meredakan Batuk Karena Asma

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Beberapa orang memiliki jenis asma yang disebut batuk asma (cough-variant asthma). Penyakit asma ini ditandai dengan batuk kronis yang berlangsung lebih dari 6 atau 8 minggu. Batuk karena asma perlu ditangani dengan tepat agar tidak sampai menurunkan kualitas hidup dan produktivitas Anda. Namun, memilih obat batuk asma tidak boleh asal. Yuk, ketahui dulu apa beragam obat batuk asma yang paling umum dalam ulasan berikut.

Beragam pilihan obat batuk asma

Batuk kering maupun berdahak yang berlangsung selama lebih dari delapan minggu sama-sama bisa menjadi pertanda asma, melansir laman Kidshealth.

Batuk kronis tidak hanya menghambat aktivitas harian, tapi juga membuat sulit tidur nyenyak karena Anda akan sering terbangun di tengah malam. Maka itu, dibutuhkan pengobatan yang tepat supaya gejalanya cepat mereda dan tidak melemahkan.

Pada prinsipnya obat batuk asma sama dengan obat yang digunakan untuk meredakan gejala asma umum. Berikut adalah daftar obat-obatannya:

1. Kortikosteroid hirup

penyakit asma

Obat kortikosteroid bekerja melawan peradangan di saluran udara dan mengurangi pembengkakannya. Obat asma batuk ini harus digunakan rutin setiap hari untuk mengurangi frekuensi kekambuhan asma dan keparahan gejalanya sehingga Anda dapat terus bernapas lega.

Obat-obatan yang termasuk kortikosteroid hirup termasuk:

  • Mometasone (Asmanex Twisthaler)
  • Ciclesonide (Alvesco)
  • Beclomethasone (Qvar RediHaler)
  • Budesonide (Pulmicort Flexhaler)
  • Fluticasone (Flovent HFA)

Obat ini hanya bisa dihirup melalui inhaler atau nebulizer. Pastikan Anda tidak pinjam ataupun meminjamkan inhaler dengan orang lain. Selain karena belum tentu bersih, hal ini juga dapat meningkatkan risiko infeksi.

Kortikosteroid hirup jarang menimbulkan efek samping yang serius. Efek samping yang paling sering muncul cenderung ringan, seperti iritasi mulut dan tenggorokan, yang dapat sembuh dengan pengobatan sederhana.

2. Leukotriene modifiers

Minum obat batuk untuk ibu menyusui

Obat ini biasanya diresepkan dokter untuk mengatasi batuk karena asma yang dipicu alergi. Selain itu, obat ini dapat digunakan untuk mencegah asma yang dipicu oleh olahraga. Obat ini dapat membantu mengendalikan gejala hingga lebih dari 24 jam.

Leukotriene modifiers bekerja menghambat efek leukotriene, yaitu zat kimia yang dapat memicu gejala asma. Beberapa jenis obat leukotriene modifiers yang paling umum di antaranya montelukast (Singulair), zafirlukast (Accolate), dan zileuton (Zyflo).

3. Bronkodilator

asma saat dewasa

Bronkodilator adalah cara pemberian obat lewat jalur hirup yang bertujuan meningkatkan kapasitas paru untuk menyerap oksigen. Senyawa kimia dalam obat bronkodilator dapat melemaskan otot-otot di sekitar saluran udara untuk melonggarkannya. Hal ini akan memungkinkan gejala asma cepat mereda sehingga Anda bisa bernapas lebih lega.

Bronkodilator dapat digunakan untuk terapi jangka pendek maupun jangka panjang. Pengobatan asma yang termasuk ke dalam bronkodilator jangka pendek adalah albuterol (Proair, Proventil, Ventolin), levalbuterol (Xopenex), dan pirbuterol (Maxair).

Efek pengobatan dari bronkodilator rata-rata dapat bertahan sekitar 4-6 jam. Namun, bronkodilator jangka pendek tidak boleh digunakan lebih lama daripada instruksi yang seharusnya.

Jika Anda membutuhkan pengobatan durasi yang lebih lama, dokter dapat meresepkan bronkodilator jangka panjang seperti salmeterol (Serevent) dan formoterol (Foradil). Bronkodilator jenis ini umumnya digunakan untuk mengendalikan asma kronis, dan penggunaanya harus dikombinasikan dengan steroid hirup.

4. Obat antihistamin

obat antasida

Selain efektif untuk meredakan reaksi alergi seperti gatal-gatal, obat antihistamin juga dapat membantu mengurangi batuk asma. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi efek pelepasan histamin. Histamin adalah zat kimia yang menghasilkan respon peradangan pada tubuh, termasuk di saluran napas.

Cetirizine, diphenhydramine, dan loratadine merupakan beberapa jenis obat antihistamin yang paling umum. Namun, perlu diketahui bahwa kebanyakan obat antihistamin punya efek samping yang bikin mengantuk setelah Anda meminumnya. Oleh karena itu, pastikan Anda tidak mengoperasikan mesin atau berkendara setelah mengonsumsi obat ini.

Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya berkonsultasi terlebih dulu untuk memastikan keamanan obat ini. Obat alergi mungkin dapat berinteraksi dengan obat atau suplemen lain yang sedang Anda gunakan.

Kapan harus ke dokter?

inhaler obat hirup asma

Dalam kasus tertentu, batuk kronis dapat sembuh sendiri tanpa harus repot-repot minum obat. Namun berhubung batuk asma dapat memicu serangan asma yang parah, sebaiknya segera periksa ke dokter bila batuk yang Anda alami tidak kunjung sembuh atau malah semakin memburuk.

Beberapa obat di atas ada yang dijual bebas di apotek atau toko obat tanpa perlu menebus resep dokter. Meski begitu, pastikan Anda selalu membaca aturan pakai yang biasanya tertera pada label kemasan dengan teliti sebelum menggunakannya. Jangan ragu untuk bertanya langsung ke dokter atau apoteker bila Anda belum paham cara pakainya.

Semakin cepat penyakit Anda diobati, maka risiko komplikasinya juga akan semakin rendah. Anda sendirilah yang tahu seberapa baik tubuh Anda berfungsi. Sebaiknya jangan tunggu penyakitnya parah dulu baru berobat ke dokter.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 20, 2019 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca