7 Pilihan Obat untuk Meredakan Gejala Asma Alergi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Asma karena alergi tidak boleh disepelekan karena gejalanya tentu menghambat aktivitas harian Anda. Kondisi ini pun dapat memicu serangan asma yang parah bahkan jika Anda tidak pernah memiliki riwayat asma sebelumnya. Maka itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang bisa digunakan untuk mengatasi asma alergi.

Daftar obat asma alergi yang umum

Pengobatan asma karena alergi biasanya merupakan gabungan dari obat-obatan asma dan alergi. Beberapa dari pilihan obat ini ada yang bisa dibeli bebas, dan ada pula yang perlu pakai resep.

Namun sebelum memutuskan mengonsumsi obat apa pun, sebaiknya Anda tetap berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan cocok tidaknya dan aman tidaknya untuk kondisi Anda.

Berikut berbagai macam obat yang bisa digunakan untuk mengatasi asma alergi.

1. Bronkodilator kerja cepat

gejala ciri-ciri asma

Bronkodilator adalah pengobatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas paru untuk menyerap oksigen agar Anda bisa bernapas lebih lancar dan lega.

Obat ini dapat meredakan gejala asma dengan cepat ketika kambuh karena alergi. Efek obat ini pun dapat bertahan sekitar 4-6 jam.

Jenis obat asma alergi yang tergolong sebagai bronkodilator kerja cepat adalah albuterol (Proair, Proventil, Ventolin), levalbuterol (Xopenex), dan pirbuterol (Maxair).

2. Kortikosteroid hirup

cara mengatasi asma kambuh

Kortikosteroid hirup digunakan untuk mengurangi frekuensi kekambuhan asma, sehingga Anda perlu menggunakannya setiap hari. Dengan begitu, Anda pun bisa bernapas lebih lega dan nyaman. Guna mendapatkan manfaat dari obat ini, Anda harus menghirupnya melalui inhaler atau nebulizer.

Obat-obatan asma alergi yang termasuk kortikosteroid hirup jangka panjang termasuk luticasone, budesonide, flunisolide, ciclesonide, beclomethasone, mometasone, dan fluticasone furoate.

3. Kortikosteroid oral

Obat batuk untuk ibu menyusui yang dilarang

Bila gejala asma alergi tidak mempan diatasi dengan obat hirup, obat kortikosteroid yang diminum mungkin bisa menjadi solusi untuk Anda.

Obat kortikosteroid bekerja cepat mengurangi peradangan di saluran napas, sehingga dapat membantu meredakan serangan asma yang parah.

Pastikan Anda minum obat ini sesuai dengan anjuran dokter. Baik itu dari segi dosisnya, berapa kali harus diminum dalam sehari, hingga berapa lama obat ini harus digunakan. Pasalnya, penggunaan jangka panjang dari kortikosteroid yang sebetulnya tidak perlu dapat meningkatkan risiko efek samping berbahaya.

4. Leukotriene modifiers

perempuan mengonsumsi obat batuk

Leukotriene modifiers dapat membantu meredakan gejala alergi dan asma. Obat asma alergi ini bekerja melawan leukotrienes, zat yang dilepaskan oleh sel darah putih dalam paru-paru yang menyebabkan penyempitan saluran udara.

Beberapa jenis obat leukotriene modifiers yang paling umum di antaranya montelukast (Singulair), zafirlukast (Accolate), dan zileuton (Zyflo).

Obat ini harus didapat dengan resep dan diminum di bawah pengawasan ketat dokter. Sebab, obat asma alergi tersebut dapat meningkatkan risiko efek samping psikologis, berupa halusinasi dan kecemasan berlebihan. Dalam kasus yang serius, obat ini juga dapat memengaruhi pikiran penderitanya untuk bunuh diri.

Segera konsultasi ke dokter jika Anda merasakan reaksi yang tidak biasa dan mengganggu.

5. Obat antihistamin

meminum-obat-batuk

Asma alergi juga dapat diredakan dengan minum obat antihistamin. Obat ini efektif untuk meredakan gejala alergi seperti gatal, batuk, bersin, dan hidung tersumbat.

Obat antihistamin dibagi menjadi dua jenis, yaitu generasi pertama dan generasi kedua. Dibandingkan dengan obat generasi kedua, obat generasi pertama umumnya harus diminum berulang, khasiatnya kurang tahan lama, dan punya potensi efek samping yang lebih banyak.

Diphenhydramine dan chlorpheniramine merupakan contoh obat antihistamin generasi pertama. Sementara obat antihistamin generasi kedua yang paling umum adalah cetrizine, loratadine, dan ferofexadine.

Baik obat antihistamin generasi pertama maupun kedua harus diminum sesuai anjuran dokter atau seperti yang dijelaskan dalam kemasan obat.

6. Obat dekongestan

cara pakai obat semprot hidung

Obat dekongestan membantu melegakan hidung tersumbat yang dapat memperburuk gejala asma karena alergi. Obat ini bekerja mengecilkan pembuluh darah untuk mengurangi pembengkakan dan penyumbatan di saluran pernapasan. Dengan begitu, Anda dapat bernapas lebih lega dan nyaman.

Dekongestan tersedia dalam banyak macam, mulai dari pil, tablet, hingga semprotan hidung. Pseudoephedrine (Sudafed, Sudogest) merupakan jenis obat dekongestan pil yang paling umum. Sementara obat dekongestan dalam bentuk semprot hidung biasanya phenylephrine (Sinex) dan oxymetazoline (Afrin).

Penggunaan dekongestan jangka panjang dapat memicu efek samping yang berbahaya. Maka itu, obat ini umumnya tidak boleh digunakan lebih dari tiga hari. Pastikan Anda membaca aturan pakai yang tertera pada bungkus kemasan dengan teliti sebelum menggunakannya. Jangan ragu bertanya ke dokter atau apoteker bila Anda belum paham betul tentang cara pakai obat dekongestan.

Bagi Anda yang punya riwayat penyakit kronis, ada baiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dulu sebelum minum obat ini untuk mengobati asma alergi.

7. Imunoterapi

gaster

Asma dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat pemicu alergi yang sebenarnya tidak berbahaya. Zat tidak berbahaya ini disebut alergen. Pada orang normal, alergen tidak akan menyebabkan gejala apa pun. Sementara pada orang yang alergi, alergen dapat memicu serangkaian gejala seperti bersin, mata berair, gatal-gatal, dan gejala asma.

Selain minum obat-obatan yang sudah disebutkan di atas, orang yang punya asma alergi juga bisa melakukan imunoterapi. Imunoterapi merupakan metode pengobatan alergi yang bertujuan “melatih” sistem imun supaya tidak terlalu peka dengan alergen, sehingga tidak memunculkan reaksi abnormal.

Sayangnya, tidak semua dokter dapat melakukan imunoterapi. Hanya dokter yang memiliki spesialisasi di bidang alergi dan imunologi (imunologis) sajalah yang bisa melakukannya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 14, 2019 | Terakhir Diedit: Maret 27, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca