home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Gejala Memburuk Hingga Kebal Obat, Ini Akibatnya Jika Lupa Minum Obat TBC

Gejala Memburuk Hingga Kebal Obat, Ini Akibatnya Jika Lupa Minum Obat TBC

Bakteri tuberkulosis (TBC) punya sifat yang “bebal” sehingga membutuhkan pengobatan antibiotik dalam jangka waktu panjang. Selain durasi, pengobatan TBC biasanya terdiri atas banyaknya jumlah obat yang perlu diminum. Akibatnya, pasien bisa lalai atau lupa minum obat sesuai jadwal. Jika hanya lupa sehari untuk minum obat TBC, mungkin dampaknya tidak terlalu besar. Namun, jika terus lupa minum obat TBC, akibat yang muncul bukan hanya merugikan kesehatannya sendiri, tapi juga orang sekitarnya.

Mengapa sering terlewat atau lupa minum obat TBC?

obat tbc

Menurut dr. Anis Karuniawati yang menjabat sebagai Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, bakteri penyebab TBC, Myobacterium tuberculosis (MTB), adalah jenis bakteri tahan asam yang tergolong sulit untuk dimatikan.

MTB memiliki sifat berbeda dengan bakteri penyebab penyakit kebanyakan. Secara umum, bakteri tuberkulosis membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk menggandakan diri menjadi dua bagian.

Lebih jauh, Anis yang ditemui pada diskusi media pada 15 November 2018 lalu itu menjelaskan bahwa di dalam tubuh, bakteri TBC bisa tertidur untuk waktu yang lama dan tidak berkembang biak. Padahal, kebanyakan antibiotik justru berfungsi saat bakteri sedang aktif.

Perkembangan bakteri yang terhitung cepat dan cara kerja antibiotik ini menjadi salah satu alasan pengobatan TBC harus diberikan jangka panjang. Aturan minum obat TBC juga menuntut kedisiplinan yang tinggi dari pasien.

Biasanya orang yang mengalami penyakit TBC diwajibkan minum kombinasi beberapa obat anti-TBC (OAT) selama 6-12 bulan. Jenis obat antituberkulosis yang diresepkan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit dan kondisi masing-masing pasien.

Tantangan lain dari pengobatan yang dilakukan jangka panjang adalah risiko munculnya efek samping obat TBC. Tak jarang kondisi kesehatan penderita bisa semakin menurun karena efek samping obat membuat mereka tidak nafsu makan atau mengalami penyakit komplikasi, seperti kerusakan hati.

Berbagai akibat lupa minum obat TBC tidak teratur

Menandai kalender sebagai aturan minum obat TBC

Sulitnya aturan minum obat TBC memang bisa membuat penderita TBC lalai menjalani pengobatan. Namun, akibat dari terus-menerus lupa minum obat TBC juga bisa fatal yang menyebabkan kegagalan pengobatan dan meluasnya penularan TBC.

Berikut ini adalah beberapa akibat yang muncul jika Anda tidak teratur minum obat TBC sesuai jadwal:

1. Efek resistansi/kebal OAT atau antibiotik

Apabila penderita TBC tidak konsisten menjalani terapi dan lupa minum obat tidak hanya sehari, Anda berisiko tinggi mengalami resistansi/kebal antibiotik. Kondisi ini dikenal dengan TBC resistan obat (TB MDR).

Artikel dalam jurnal Antibiotics menjelaskan resistansi antibiotik terjadi ketika bakteri kebal atau tahan terhadap antibiotik yang dikonsumsi. Sederhananya, obat tidak lagi mempan melawan atau menghentikan infeksi bakteri.

Biasanya penderita akan mengalami resistansi obat TBC lini pertama, seperti isoniazid dan rifampisin. Kekebalan ini membuat bakteri semakin bebas berkembang biak di dalam tubuh dan merusak jaringan-jaringan sehat.

Hal ini perlu diwaspadai karena pada dua bulan pertama pengobatan, pasien umumnya akan merasa kalau kondisi TBC yang dialaminya berangsur membaik. Kondisi ini bisa menyebabkan penderita menyepelekan aturan pengobatan TBC karena merasa cukup bugar dan kuat melakukan aktivitas tanpa harus minum obat.

2. Memburuknya gejala

Umumnya, obat lini pertama lebih ampuh untuk menghentikan infeksi bakteri. Namun, karena sudah resistan atau kebal, obat harus diganti ke lini kedua yang butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

Saat obat-obatan TBC tidak lagi ampuh membunuh bakteri, gejala TBC yang Anda alami bisa memburuk. Apabila sebelumnya kondisi Anda telah membaik dan tidak lagi mengalami gejala, besar kemungkinan gejala TBC kembali kambuh dalam bentuk yang lebih parah, seperti sering mengalami sesak napas berat dan batuk berdarah.

3. Penularan TBC lebih meluas

Akibat tidak disiplin dan sering lupa minum obat secara teratur, kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit TBC ke orang lain yang sehat. Bahayanya, orang lain tidak hanya terinfeksi bakteri TBC biasa. Bakteri yang resistan obat juga bisa berpindah dan menginfeksi tubuh orang lain. Akibatnya, mereka ikut mengalami kondisi TB MDR meski mungkin tidak pernah mengalami TB sebelumnya.

Sebagai gambaran, angka keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia terakhir pada tahun 2018 baru mencapai 85 persen. Dalam data Kementerian Kesehatan RI, tren keberhasilan pengobatan TBC terus menunjukkan penurunan dari tahun 2008 yang pernah mencapai 90 persen. Penyebab utamanya adalah resistansi OAT yang diakibatkan oleh tidak konsisten dan terputusnya pengobatan ataupun kelalaian seperti sering lupa minum obat TBC tepat waktu.

Dampak yang paling mengkhawatirkan dari kondisi ini, jumlah penderita tidak bisa berkurang secara drastis sehingga tingkat penularan penyakit semakin tinggi. Laporan badan kesehatan dunia, WHO, tahun 2019, menunjukkan terdapat 845 ribu kasus TBC di Indonesia. Jumlah kasus ini menduduki peringkat ketiga dunia setelah India dan Tiongkok. Sementara, penduduk yang mengalami TBC resistan obat di tahun 2018 adalah sebesar 24.000.

Bagaimana jika lupa minum obat dalam sehari?

daftar obat dan P3K liburan

Bila Anda dalam sehari lupa untuk minum obat, biasanya obat TBC tetap bisa dikonsumsi seperti biasa keesokan harinya. Namun, jangan sampai telat mengonsumsi obat lagi di hari berikutnya.

Sementara, jika Anda lupa minum obat TBC hingga dua hari berturut-turut atau lebih, cobalah menghubungi dokter Anda sebelum jadwal minum obat selanjutnya. Dokter akan memberikan petunjuk pengobatan selanjutnya.

Pasien yang menjalani pengobatan langsung di tempat rehabilitasi biasanya tidak akan kesulitan mengikuti aturan pengobatan karena adanya perawat yang mengingatkan minum obat tepat waktu.

Oleh karena itu, jika Anda melakukan pengobatan rawat jalan, konsultasikan pada dokter apabila kesulitan untuk mengingat jadwal untuk minum obat. Dokter biasanya akan memberikan saran dan aturan pengobatan yang bisa disesuaikan dengan kegiatan sehari-hari Anda.

Tips agar tidak telat minum obat TBC

Bila memang Anda sulit mengingat atau membuat diri disiplin mengikuti jadwal pengobatan, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut agar tidak lupa minum obat TBC:

  • Minum obat pada waktu atau jam yang sama setiap hari.
  • Gunakan pengingat seperti alarm yang dipasang sesuai waktu untuk Anda meminum obat.
  • Menandai kalender setiap hari guna mencatat berapa lama Anda telah mengonsumsi obat TBC.
  • Meminta bantuan dari orang-orang di sekitar Anda untuk mengingatkan atau menjadi pengawas minum obat pribadi, terutama teman atau keluarga yang tinggal satu rumah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Wawancara dengan dr. Anis Karuniawati Ph.D., Sp.MK(K) di Rumah Sakit UI pada hari Kamis, 15 November 2018.

Mayo Clinic. (2020). Tuberculosis – Diagnosis and treatment. Retrieved 8 June 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/diagnosis-treatment/drc-20351256

CDC. (2015). Staying on Track with Tuberculosis Medicine. Global Tuberculosis Institute.New Jersey.

Connolly, L., Edelstein, P., & Ramakrishnan, L. (2007). Why Is Long-Term Therapy Required to Cure Tuberculosis?. Plos Medicine, 4(3), e120. doi: 10.1371/journal.pmed.0040120

Palomino, J., & Martin, A. (2014). Drug Resistance Mechanisms in Mycobacterium tuberculosis. Antibiotics, 3(3), 317-340. doi: 10.3390/antibiotics3030317

The Lung Association. (2020). Tuberculosis | Treatment. Retrieved 8 June 2020, from https://www.lung.ca/lung-health/lung-disease/tuberculosis/treatment#:~:text=If%20you%20stop%20taking%20your,to%20your%20friends%20and%20family.

Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung sub Direktorat Tuberkulosis. (2020). Hari Tuberkulosis Sedunia 2020. Kementrian Kesehatan RI. Retrieved 8 June 2020, from https://htbs.tbindonesia.or.id/


Artikel terkait


Foto Penulis
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 04/09/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x