Apa itu abses gigi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu abses gigi?

Abses gigi adalah kantong atau benjolan berisi nanah yang terbentuk di sekitar gigi akibat infeksi bakteri. Kondisi ini dapat muncul di bagian gigi mana pun dengan alasan yang berbeda-beda.

Ada tiga jenis abses gigi tergantung dari tempat kemunculannya, yaitu:

  • Abses gingival: hanya terjadi pada jaringan gusi dan tidak berdampak pada gigi atau ligamen gusi.
  • Abses periodontal: biasanya dimulai dari struktur jaringan tulang penunjang di sekitar gigi.
  • Abses periapikal: terjadi saat kantong nanah terbentuk di akar gigi.

Abses gigi butuh ditangani oleh dokter. Jika tidak, kondisinya bisa bertambah parah dan mengakibatkan kerusakan jaringan tulang gigi.

Seberapa umumkah abses gigi?

Abses gigi adalah masalah yang umum. Kondisi ini dapat dialami anak-anak dan orang dewasa.

Anda dapat mencegah kondisi ini dengan menghindari faktor risiko yang ada. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala abses gigi?

Gejala utama abses gigi adalah rasa nyeri berdenyut di mulut yang mungkin sangat menyakitkan. Rasa sakitnya bisa muncul tiba-tiba dan akan tambah parah di malam hari. Nyeri pun bisa menjalar hingga telinga, tulang rahang, dan leher.

Berikut tanda dan gejala khas abses gigi lainnya yang perlu Anda perhatikan:

  • Nyeri di area yang ditumbuhi abses, terutama saat menggigit atau disentuh
  • Gigi jadi sensitif terhadap makanan serta minuman yang panas dan dingin
  • Gusi bengkak, kemerahan, dan terasa lunak
  • Rasa anyir di mulut
  • Bau mulut yang tidak sedap
  • Tidak enak badan
  • Susah menelan (disfagia)
  • Bengkak di wajah, pipi, atau leher

Ketika infeksi mulai menjalar ke bagian tubuh lainnya, Anda mungkin akan demam dan merasa tidak enak badan.

Dalam kasus yang parah, Anda mungkin akan sulit membuka mulut. Alhasil aktivitas seperti mengunyah, menelan, berbicara, bahkan bernapas bisa jadi terasa sangat menyiksa.

Mungkin masih ada gejala lainnya yang belum disebutkan. Bila Anda khawatir akan gejala tertentu, segera hubungi dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas atau Anda punya pertanyaan tertentu, segera bicarakan dengan dokter Anda. Tubuh setiap orang berbeda, karena itu diskusikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan metode diagnosis dan perawatan terbaik untuk Anda.

Penyebab

Apa penyebab abses gigi?

Kebanyakan abses gigi terjadi sebagai komplikasi infeksi bakteri di gigi dan mulut. Bakteri jahat yang biasanya tinggal dalam plak akan menginfeksi dan mencari jalur untuk menyerang gigi.

Abses periapikal

Bakteri masuk ke gigi melalui lubang-lubang kecil yang disebabkan oleh karies. Karies terbentuk pada enamel gigi (lapisan luar gigi yang keras). Karies akhirnya memecah jaringan di bawah enamel gigi, yang disebut dentin.

Bila hal ini terus terjadi, akhirnya lubang tersebut akan sampai ke bagian gigi yang lunak bernama pulp. Infeksi pulp disebut dengan pulpitis.

Seiring pulpitis makin parah, bakteri akan menembus tulang yang menyangga gigi (tulang alveolar). Alhasil, terbentuklah abses periapikal.

Abses gusi

Bakteri yang hidup di plak bisa menginfeksi gusi sehingga menyebabkan penyakit periodontitis. Kondisi ini menyebabkan gusi meradang, sehingga ligamen gusi (jaringan yang mengelilingi akar gigi) akan terlepas dari pangkal gigi.

Lepasnya ligamen gusi akan menciptakan lubang kecil yang mudah kotor dan sulit dibersihkan. Semakin banyak bakteri yang tinggal di lubang tersebut, abses gusi pun akan terjadi.

Selain kondisi mulut yang kotor, abses gusi juga bisa disebabkan karena efek samping dari operasi atau prosedur medis lainnya pada gigi dan mulut.

Bahkan dalam beberapa kasus, kerusakan gusi bisa berujung jadi abses gusi meskipun tidak mengalami periodontitis.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor risiko abses gigi?

Beberapa hal di bawah ini dapat membuat Anda lebih rentan mengalami abses gigi.

1. Jarang menyikat gigi

Kebersihan gigi yang buruk karena Anda jarang menyikat gigi merupakan penyebab utama berbagai masalah gigi dan mulut. Sisa-sisa makanan yang tertinggal di permukaan atau di sela-sela gigi dapat membentuk plak.

Kalau Anda jarang menyikat gigi, plak akan terus-terusan menumpuk dan menyebabkan pembusukan. Pembusukan inilah yang memicu abses gigi.

2. Cara sikat giginya salah

Anda mungkin merasa sudah rajin menyikat gigi setiap hari. Namun, sudah benarkah cara menyikat gigi Anda? Teknik menyikat gigi yang salah bisa jadi faktor penyebab abses tanpa pernah disadari.

Kesalahan yang paling sering adalah menyikat gigi terlalu keras atau kencang-kencang. Menyikat gigi terlalu keras justru merusak gigi dan gusi Anda. Tekanan yang kuat pada gigi dapat mengikis enamel dan membuat gigi lebih sensitif.

Hal yang sama juga terjadi bila Anda terlalu kencang menarik-ulur benang ketika flossing. Gusi Anda terdiri dari jaringan lunak yang tipis. Ini artinya, gesekan atau benturan yang keras dapat menyebabkan gusi terluka dan berdarah. Nah, luka inilah yang dapat memicu munculnya kantung abses.

Anda memang dianjurkan untuk menyikat gigi dan flossing secara teratur. Namun, pastIkan Anda melakukannya dengan cara yang tepat supaya gigi dan gusi pun senantiasa sehat.

3. Merokok

Center for Diseases Control and prevention (CDC) mengatakan perokok aktif dua kali lebih berisiko mengalami penyakit gusi (periodontitis) ketimbang nonperokok.

Pada prinsipnya, semakin banyak rokok yang diisap setiap hari maka semakin besar pula risiko Anda mengalami penyakit gusi. Apalagi bila kebiaimsaan ini sudah Anda lakukan sejak dulu.

Kandungan bahan kimia yang beracun dan berbahaya dalam rokok dapat memicu pertumbuhan bakteri jahat di dalam mulut. Hal inilah yang membuat Anda lebih mudah terkena infeksi yang dapat menyebabkan gusi meradang, bengkak, dan pada akhirnya bernanah.

Di sisi lain, merokok juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Sistem imun yang lemah membuat jaringan gusi yang sudah terlanjur rusak menjadi lebih sulit untuk diperbaiki.

Itu sebabnya perokok lebih rentan mengalami berbagai masalah gusi dan gigi.

Obat dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis abses gigi?

Abses gigi dapat didiagnosis dengan pemeriksaan fisik. Pertama-tama, dokter akan meminta Anda untuk membuka mulut. Dengan menggunakan alat khusus dokter akan mengamati satu per satu keadaan gusi dan gigi Anda.

Selama pemeriksaan, dokter mungkin akan menanyakan perihal riwayat kesehatan gigi Anda. Dokter juga dapat menanyakan seputar kebiasaan Anda dalam merawat gigi.

Beberapa obat memiliki efek samping yang memengaruhi gigi Anda. Maka itu, beri tahu dokter semua obat-obatan yang sedang rutin Anda minum. Entah itu obat dengan atau tanpa resep dokter, suplemen makanan atau obat herbal.

Bila diperlukan, dokter dapat merontgen gigi Anda dengan sinar X. Rontgen gigi dapat memberikan gambaran kondisi rongga mulut Anda lebih detail. Termasuk di mana lokasi infeksi berada dan apa kemungkinan penyebab abses gigi yang Anda alami.

CT Scan juga dapat dilakukan bila infeksi sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Bagaimana abses gigi diobati?

Hanya dokter gigi yang bisa menangani abses gigi. Pengobatannya mungkin meliputi prosedur-prosedur di bawah ini. 

1. Insisi drainase abses

Abses yang muncul harus disayat supaya terbuka sehingga nanah yang mengandung bakteri bisa keluar dan kering. Anda mungkin diberikan bius lokal supaya tidak merasakan sakit selama proses berlangsung.  

2. Perawatan saluran akar (root canal)

Perawatan akar kanal gigi juga bisa dilakukan untuk menghilangkan kantong nanah di  gigi. Gigi yang bermasalah akan dilubangi agar nanahnya bisa keluar. Jaringan yang rusak akan disingkirkan dari pulp gigi. Kemudian, untuk mencegah infeksi, bagian yang berlubang akan ditambal.

Abses pun akan mengering dan lubang dibersihkan. Permukaan akar gigi akan dihaluskan dengan scaling di bawah tepi gusi. Hal ini akan membantu gigi cepat sembuh sekaligus mencegah infeksi.

3. Cabut gigi

Pasien dengan abses gigi dan infeksi yang sering terjadi mungkin harus menjalani operasi untuk mengangkat jaringan yang rusak. Biasanya prosedur ini dilakukan oleh dokter gigi bedah mulut.

Kalau abses gigi masih terjadi lagi setelah operasi, gigi tersebut mungkin akan dicabut.

4. Obat antibiotik

Dokter dapat meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi menyebar ke gusi, rahang, atau bagian lainnya. Antibiotik efektif melawan dan membunuh bakteri penyebab infeksi.

Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter. Pastikan Anda minum obat antibiotik sesuai anjuran. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik.

Biasanya dokter juga meresepkan obat antibiotik untuk orang dengan sistem imun yang lemah.

5. Obat pereda nyeri

Obat pereda nyeri yang dijual bebas bisa membantu mengurangi nyeri. Namun, baca informasi yang tertera pada kemasan obat. Ingat, obat pereda nyeri hanya bisa membantu mengendalikan rasa sakit, bukan mengobati penyakit. Anda tetap harus pergi ke dokter gigi.

Obat-obatan yang boleh dikonsumsi antara lain aspirin, ibuprofen, atau paracetamol (acetaminophen). Namun, beberapa obat tidak direkomendasikan bagi pasien dengan kondisi tertentu.

  • Ibuprofen tidak dianjurkan bagi orang dengan asma dan tukak lambung.
  • Aspirin tidak boleh diberikan untuk anak berusia di bawah 16 tahun, ibu hamil, atau wanita yang sedang menyusui.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi abses gigi?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi abses gigi.

  • Menyikat gigi secara perlahan dengan pasta gigi yang mengandung fluoride.
  • Gunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang sangat lembut.
  • Hindari membersihkan gigi dengan benang gigi (floss) di area yang sakit.
  • Hindari makanan atau minuman yang panas.
  • Hindari makanan atau minuman yang tinggi gula dan terlalu asam.
  • Kunyah makanan di sisi mulut yang tidak terlalu sakit.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: Desember 6, 2017 | Terakhir Diedit: Juli 24, 2019

Sumber