7 Penyebab Gusi Bernanah yang Perlu Anda Waspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Gusi bernanah tidak boleh disepelekan. Selain membuat nyeri tak karuan, kemunculan kantong nanah di gusi dapat menyebabkan infeksi yang parah. Oleh karena itu, penting mengetahui penyebab gusi bernanah untuk mencegah terjadinya komplikasi serius pada area gigi dan mulut Anda.

Beragam penyebab gusi bernanah

Nanah adalah cairan berwarna putih kekuningan, kuning kecoklatan atau kehijauan. Cairan nanah mengandung protein, sel darah putih, bakteri, dan jaringan mati.

Kemunculan benjolan nanah di dalam jaringan gusi disebut abses periodontal. Penyebab gusi bernanah adalah ketika terjadinya infeksi bakteri di ruang antara gusi dan gigi.

Ada sejumlah kondisi yang membuat bakteri masuk ke dalam mulut dan menjadi penyebab gusi bernanah. Di antaranya:

1. Oral fistula

gusi bernanah

Oral fistula adalah rongga atau saluran tidak normal yang ada di sekitar hingga ke dalam jaringan gigi. Kondisi ini menyebabkan gigi berlubang dan mengalami peradangan.

Bila gigi Anda berlubang, bakteri dan sisa-sisa makanan dapat masuk ke dalam akarnya. Alhasil, terjadilah peradangan di sekitar akar gigi dan gusi. Kuman dan bakteri dalam lubang gigi tersebutlah yang menjadi penyebab gusi bernanah.

Infeksi di gusi dapat cepat menyebar karena berdekatan dengan pembuluh darah. Bila tidak segera ditangani, kantong nanah dapat meluas ke jaringan mulut bahkan menyebabkan infeksi di tulang sekitar wajah.

2. Karies gigi

penyebab gusi bernanah

Penyebab paling sering terjadinya kondisi gusi bernanah adalah gigi busuk (karies) yang tidak diobati. Karies adalah kerusakan yang terjadi sebelum gigi berlubang.

Bakteri di dalam mulut akan menghasilkan asam yang dapat mengikis lapisan gigi. Lapisan gigi yang terus terkikis ini lama-lama dapat menyebabkan rongga atau lubang.

Bila rongga di lapisan terluar gigi (enamel) masih kecil, Anda mungkin tidak merasakan nyeri yang berarti. Namun, rasa sakit intens bia muncul bila rongga makin membesar dan pembusukan sudah menjalar sampai lapisan terdalam gigi (dentin).

Selain menyebabkan rasa nyeri, infeksi dari pembusukan gigi ini dapat menyebar ke area sekitar gusi. Akibatnya, penumpukkan nanah di jaringan gusi dan di bawah akar gigi sangat mungkin terjadi.

Dalam kasus yang serius, infeksi akibat gigi busuk juga dapat menyebabkan kematian jaringan gigi.

3. Penyakit gusi

penyebab gusi bernanah

Penyakit gusi disebabkan oleh penumpukan plak gigi di sekitar gusi. Plak adalah lapisan lengket yang terdiri dari bakteri dan sisa-sisa makanan yang menempel di permukaan gigi.

Ketika plak dibiarkan terus menumpuk, peradangan dapat terjadi. Peradangan yang disebabkan bakteri dalam plak bisa terasa menyakitkan dan mengakibatkan gusi membengkak, merah, dan berdarah.

Hal ini juga dapat menyebabkan pembusukan gigi dan gusi menjadi lebih sensitif dari biasanya. Dalam istilah medis kondisi ini disebut dengan gingivitis.

Jika gingivitis tidak diobati, penyakit gusi yang lebih serius bisa menyebabkan gusi bernanah atau abses gusi. Abses gusi juga dapat terjadi karena kantung periodontal terlalu dalam.

Kantung periodontal adalah ruang yang terbentuk di sekitar gigi akibat penyakit gusi. Kantung ini dapat dipenuhi oleh bakteri yang menyebabkan pembentukan nanah pada jaringan gusi.

Kodisi ini juga akan menimbulkan rasa sakit atau nyeri gigi dan membuat bau mulut kronis.

4. Daya tahan tubuh yang lemah

sakit gigi

Sistem imun yang lemah ternyata juga dapat menjadi penyebab gusi Anda bernanah.

Ketika sistem kekebalan tubuh lemah, tubuh Anda tidak dapat melawan bakteri penyebab infeksi. Akibatnya, Anda akan lebih rentan terkena berbagai infeksi di tubuh. Termasuk infeksi yang terjadi dalam mulut.

Kondisi ini dapat diperparah bila Anda sendiri jarang sikat gigi dan tidak merawat kesehatan gigi dengan baik. Mulut yang kotor memungkinkan bakteri penyebab penyakit makin berkembang biak lebih banyak.

Pertumbuhan bakteri yang berlebihan dapat membuat gusi Anda meradang dan membengkak. Bila dibiarkan terus-terusan, kantong nanah di gusi dapat muncul.

Orang dengan diabetes dan penyakit kanker lebih mudah mengalami infeksi di gusi karena sistem imunnya cenderung lemah.

Bila Anda punya riwayat penyakit yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, rutinlah periksa ke dokter gigi. Dengan begitu, Anda dapat terhindar dari sejumlah masalah gigi dan mulut di kemudian hari.

Hal-hal yang meningkatkan penyebab gusi bernanah

1. Jarang sikat gigi

gusi bernanah

Jarang atau bahkan malas untuk melakukan sikat gigi? Bisa jadi hal inilah menjadi penyebab gusi Anda bernanah.

Sisa-sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi atau di permukaan gigi yang tidak dibersihkan dengan baik dapat membentuk plak. Pada intinya, kebersihan gigi yang buruk membuat lapisan plak semakin cepat menebal dan mengeras.

Seiring waktu, plak yang dibiarkan terus menumpuk dapat memicu peradangan pada gusi dan menjadi penyebab gusi bernanah.

2. Cara sikat gigi yang salah

Coba teliti lagi, sudah benarkah cara Anda menyikat gigi? Teknik menyikat gigi yang salah juga bisa jadi faktor penyebab gusi bernanah, lho!

Apalagi jika Anda menyikat gigi dengan sekuat tenaga. Selain tidak efektif, menyikat gigi terlalu keras justru dapat menyebabkan gusi berdarah.

Hal yang sama juga terjadi bila Anda terlalu buru-buru atau justru terlalu kencang menarik ulur benang ketika flossing. Ya, cara flossing yang salah dapat menjadi penyebab gusi Anda luka dan berdarah.

Gusi terdiri dari jaringan lunak yang tipis. Tak heran bila gesekan atau benturan yang keras dapat menyebabkan gusi ter luka dan berdarah. Luka ini dapat memicu munculnya kantung abses.

Rajin sikat gigi dan flossing memang baik. Akan tetapi, pastikan Anda melakukan dengan cara yang tepat. Dengan begitu, gigi dan gusi Anda senantiasa sehat.

3. Merokok

dampak merokok

Center for Diseases Control and prevention (CDC) mengatakan perokok aktif dua kali lebih berisiko mengalami penyakit gusi (periodontitis) ketimbang nonperokok.

Pada prinsipnya, semakin banyak rokok yang diisap setiap hari maka semakin besar pula risiko Anda mengalami penyakit gusi. Apalagi bila kebiaimsaan ini sudah Anda lakukan sejak dulu.

Kandungan bahan kimia yang beracun dan berbahaya dalam rokok dapat memicu pertumbuhan bakteri jahat di dalam mulut. Nah, hal inilah yang membuat Anda lebih mudah terkena infeksi sehingga menyebabkan gusi meradang, bengkak, dan pada akhirnya bernanah.

Di sisi lainnya, merokok juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Sistem imun yang lemah membuat jaringan gusi yang sudah terlanjur rusak menjadi lebih sulit untuk diperbaiki.

Itu sebabnya, perokok lebih rentan mengalami berbagai masalah gusi dan gigi.

Komplikasi gusi bernanah

gusi bernanah

Kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri yang tak tertahankan di area gusi yang bermasalah. Gusi Anda juga menjadi kemerahan dan mengalami pembengkakan.

Bila kantong nanah pecah, Anda dapat merasakan sensasi tidak enak di dalam mulut. Aroma mulut Anda juga terasa menyengat seperti berbau busuk.

Kantong nanah yang tidak mengering memungkinkan bakteri untuk menyebar ke jaringan mulut lainnya. Jika pada saat itu sistem kekebalan tubuh Anda sedang lemah, risiko penularan infeksi ke orang lain akan semakin meningkat.

Infeksi gusi yang dibiarkan terus-terusan juga dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti sepsis. Sepsis adalah kondisi gawat darurat yang harus segera mendapat perawatan medis.

Kondisi ini memengaruhi fungsi tubuh dan merusak sistem organ Anda. Sepsis dapat merenggut nyawa bila penderitanya telat dibawa ke dokter.

Maka dari itu, bila Anda mengalami kondisi ini, segera periksa ke dokter gigi. Pemeriksaan fisik dan tes lab mungkin dibutuhkan untuk mengetahui penyebab pasti gusi bernanah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Efek Bleaching untuk Memutihkan Gigi, Adakah yang Perlu Diwaspadai?

Beberapa orang memilih bleaching untuk memutihkan gigi. Namun adakah efek bleaching gigi yang perlu diwaspadai?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Perawatan Gigi, Gigi dan Mulut 24 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Manfaat Berkumur Dengan Air Garam

Selain untuk menyedapkan rasa masakan, garam juga bermanfaat untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Oral, Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 24 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Usia Berapa Gigi Lansia Akan Mulai Ompong?

Orang tua lebih rentan mengalami gigi ompong. Lantas, pada usia berapa gigi lansia akan mulai ompong dan bagaimana cara mencegah kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Perawatan Oral, Gigi dan Mulut 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Permen Karet yang Mengandung Xylitol Bisa Cegah Gigi Berlubang?

Kandungan xylitol dalam permen karet bebas gula diklaim dapat membantu mencegah gigi berlubang. Berikut penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Perawatan Oral, Gigi dan Mulut 17 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

proses pasang behel

Bagaimana Proses Pemasangan Behel atau Kawat Gigi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit
obat alami dan tradisional sakit gigi berlubang

7 Obat Alami untuk Mengatasi Sakit Gigi Berlubang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
jenis tambal gigi

4 Jenis Tambalan Gigi dan Prosedur Pemasangannya di Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
sakit kepala setelah cabut gigi

Kenapa Bisa Sakit Kepala Setelah Cabut Gigi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit