home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Keloid Bisa Muncul Secara Tiba-tiba, Ini 4 Penyebabnya

Keloid Bisa Muncul Secara Tiba-tiba, Ini 4 Penyebabnya

Keloid adalah bekas luka yang tumbuh secara berlebihan sehingga tampak lebih timbul dibandingkan permukaan kulit di sekitarnya. Jaringan keloid biasanya muncul setelah kulit pulih dari luka, tetapi ada pula keloid yang muncul secara tiba-tiba.

Jaringan keloid dapat mengganggu penampilan karena terlihat menebal dengan warna yang berbeda. Lantas, apa sebenarnya yang membuat keloid muncul bahkan tanpa luka sebelumnya?

Penyebab keloid yang muncul tiba-tiba

Pembentukan keloid merupakan respons agresif tubuh Anda ketika mengalami cedera atau luka. Pemicunya dapat berasal dari luka sayatan, operasi, terbakar, jerawat, cacar, tindik, dan suntikan vaksin.

Kasus keloid yang muncul secara spontan sangatlah jarang. Bahkan, kebenaran mengenai kondisi ini masih menjadi perdebatan. Pasalnya, belum dapat dipastikan apakah keloid memang dapat terbentuk tanpa luka sama sekali atau tidak.

Namun, sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Dermatology menemukan suatu titik terang. Peserta penelitian yang memiliki keloid tanpa luka sebelumnya ternyata memiliki penyakit genetik atau pernah mengonsumsi sejenis obat.

Berikut adalah beberapa kondisi terkait keloid yang muncul tiba-tiba:

1. Bethlem myopathy

Bethlem myopathy adalah penyakit genetik langka yang menyerang otot rangka dan jaringan ikat. Penyakit ini membuat otot dan persendian menjadi lemah sehingga pasien akhirnya akan membutuhkan alat bantu gerak.

Ciri utama Bethlem myopathy antara lain lemahnya otot lengan dan kaki bagian atas, kelebihan produksi keratin pada folikel rambut, serta pembentukan jaringan keloid. Penderita juga memiliki otot lengan bawah yang terus berkontraksi dan tampak pendek.

2. Rubinstein-Taybi syndrome

Rubinstein-Taybi syndrome adalah penyakit genetik yang ditandai dengan postur tubuh pendek, gangguan kecerdasan, serta ibu jari yang lebar.

Penderitanya pun berisiko lebih tinggi terkena tumor, baik yang dapat berkembang menjadi kanker maupun tidak.

Keloid yang muncul tiba-tiba pada penderita Rubinstein-Taybi syndrome bisa jadi merupakan tumor. Oleh sebab itu, orang yang memiliki keloid tanpa pernah mengalami luka disarankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

3. Dubowitz syndrome

Seperti kedua penyakit sebelumnya, Dubowitz syndrome merupakan penyakit genetik yang amat langka. Penyakit ini ditandai dengan pertumbuhan yang terhambat, kepala berukuran kecil, gangguan mental tingkat ringan, dan masalah kulit.

Masalah kulit yang muncul umumnya berupa eksim. Namun, tidak tertutup kemungkinan untuk terbentuknya jaringan keloid secara tiba-tiba. Kondisi ini perlu diatasi dengan pengobatan rutin bersama dokter spesialis kulit.

4. Penggunaan letrozol

Letrozol adalah obat yang digunakan untuk mengatasi kanker payudara pada wanita yang telah melewati masa menopause. Pada penelitian tersebut, peserta yang mengonsumsi letrozol mengalami pembentukan keloid baru setelah dua bulan.

Saat diminta berhenti mengonsumsi letrozol, keloid baru tidak lagi terbentuk. Beberapa uji coba selanjutnya memberikan hasil serupa, tetapi belum dapat disimpulkan apakah letrozol menjadi satu-satunya penyebab keloid yang muncul tiba-tiba.

Pembentukan keloid sebenarnya merupakan hal normal yang dapat terjadi pada banyak orang. Keloid juga dapat bertambah besar secara perlahan dan hanya bisa dihilangkan dengan prosedur khusus. Meski demikian, kondisi ini tidaklah berbahaya.

Anda justru perlu mewaspadai keloid yang muncul secara tiba-tiba. Segera periksakan kondisi Anda ke dokter untuk mengetahui penyebabnya. Kendati tidak menimbulkan bahaya langsung, jenis keloid ini dapat menandakan tumor pada kulit.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Jfri, A. and Alajmi, A. (2018). Spontaneous Keloids: A Literature Review. Dermatology, 234(3-4), pp.127-130.

Jfri, A., Rajeh, N., & Karkashan, E. (2015). A Case of Multiple Spontaneous Keloid Scars. Case reports in dermatology, 7(2), 156–160. doi:10.1159/000437249

Saroja, A. O., Naik, K. R., Nalini, A., & Gayathri, N. (2013). Bethlem myopathy: An autosomal dominant myopathy with flexion contractures, keloids, and follicular hyperkeratosis. Annals of Indian Academy of Neurology, 16(4), 712–715. doi:10.4103/0972-2327.120453

Rubinstein-Taybi syndrome. https://ghr.nlm.nih.gov/condition/rubinstein-taybi-syndrome Diakses pada 1 Juli 2019.

Dubowitz Syndrome. https://rarediseases.org/rare-diseases/dubowitz-syndrome/ Diakses pada 1 Juli 2019.

Letrozole (Femara). https://www.breastcancercare.org.uk/information-support/facing-breast-cancer/going-through-breast-cancer-treatment/hormone-therapy/letrozole-femara Diakses pada 1 Juli 2019.

Foto Penulis
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 02/11/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus