home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Obat-obatan untuk Mengatasi Penyakit Malaria, Mulai dari Medis hingga Alami

Obat-obatan untuk Mengatasi Penyakit Malaria, Mulai dari Medis hingga Alami

Gigitan nyamuk ternyata tak hanya meninggalkan bekas bentol, tapi juga berisiko membawa penyakit infeksi. Salah satunya adalah malaria, penyakit mematikan yang bisa menimbulkan komplikasi pada organ-organ tubuh. Agar tidak berkembang semakin parah, malaria harus ditangani dengan obat-obatan yang tepat. Simak artikel ini untuk mengetahui apa saja obat-obatan medis dan alami yang biasa digunakan untuk penyakit malaria.

Obat untuk penyakit malaria

mencegah malaria

Malaria adalah penyakit infeksi parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Ada empat jenis parasit malaria yang bisa menginfeksi manusia, yaitu P. vivax, P. ovale, P. malariae, dan P. falciparum.

Gejala malaria biasanya akan muncul 10 hari hingga 4 minggu setelah tubuh pertama kali terinfeksi parasit. Bahkan, gejala juga bisa saja baru muncul beberapa bulan kemudian. Hal ini yang menyebabkan malaria sulit didiagnosis dan baru tertangani setelah penyakit mulai menjadi semakin parah.

Tanpa pengobatan yang tepat, penyakit akibat gigitan nyamuk ini berisiko menyebabkan komplikasi yang fatal, seperti kegagalan fungsi organ, penumpukan cairan dalam paru, serta infeksi parasit menyebar hingga otak.

Oleh karena itu, penanganan penyakit ini harus dilakukan di rumah sakit dengan tenaga medis yang terpercaya. Tujuan dari pengobatan malaria sendiri adalah membasmi parasit Plasmodium yang ada di dalam tubuh untuk mencegah penyakit ini berkembang menjadi kondisi yang mematikan.

Nah, obat-obatan medis yang biasa digunakan untuk penyakit malaria terdiri dari berbagai jenis. Untuk menentukan obat mana yang harus digunakan, dokter akan mempertimbangkan berdasarkan hal-hal berikut:

  • Apa jenis malaria yang diderita
  • Tingkat keparahan gejala-gejalanya
  • Usia pasien
  • Apakah pasien sedang hamil atau tidak

Dengan kata lain, belum tentu semua kasus malaria ditangani dengan satu jenis obat yang sama. Ingat, hanya dokter yang bisa menentukan obat malaria apa yang boleh diberikan ke pasien.

Berikut adalah jenis obat-obatan yang umum diresepkan untuk pasien penyakit malaria:

1. Artemisinin-based combination therapies (ACT)

Artemisinin-based combination therapies atau ACT biasanya merupakan jenis obat yang pertama kali diberikan untuk mengatasi malaria. ACT terdiri dari kombinasi 2 obat atau lebih, yang masing-masing bekerja melawan parasit Plasmodium dengan cara berbeda.

Obat ACT biasanya dikhususkan untuk penyakit malaria yang disebabkan oleh parasit P. falciparum. Cara kerja obat ini adalah dengan membunuh parasit yang ada di dalam darah, serta mencegah jumlah parasit bertambah banyak.

Berikut adalah 5 jenis kombinasi ACT yang paling sering direkomendasikan berdasarkan pedoman WHO:

  • artemether + lumefantrine
  • artesunate + amodiaquine
  • artesunate + mefloquine
  • artesunate + SP
  • dihydroartemisinin + piperaquine

Obat ACT biasanya diberikan selama 3 hari pada pasien malaria dewasa dan anak-anak. Namun, pemakaian obat ACT untuk wanita hamil pada trimester pertama tidak diperbolehkan.

ACT diberikan dengan cara diminum, alias oral. Namun, untuk kasus malaria yang lebih parah, ACT akan diberikan melalui suntikan selama 24 jam pertama, yang setelahnya diganti dengan obat minum. Pemberian dosis obat juga biasanya berbeda-beda, tergantung pada berat badan serta kondisi kesehatan pasien.

2. Klorokuin

Klorokuin atau chloroquine phosphate adalah pilihan obat lainnya untuk mengatasi penyakit malaria.

Selain untuk mengobati malaria, klorokuin juga bisa diberikan sebagai pencegahan malaria, terutama untuk orang-orang yang akan pergi ke negara atau daerah dengan kasus malaria yang tinggi.

Dosis klorokuin untuk pengobatan malaria biasanya adalah 1 kali pemberian, lalu 6-8 jam kemudian pasien diberikan setengah dosis. Setelah itu, pasien kembali diberikan setengah dosis sehari selama 2 hari ke depan.

Sama seperti berbagai jenis obat lainnya, klorokuin juga bisa memicu beberapa efek samping, seperti:

  • sakit kepala
  • mual
  • kehilangan nafsu makan
  • diare
  • sakit perut
  • ruam kulit dan gatal-gatal
  • rambut rontok

Sayangnya, parasit malaria di beberapa negara sudah resisten alias kebal terhadap obat ini. Maka dari itu, klorokuin sebenarnya sudah tidak dianggap cukup efektif untuk mengobati penyakit ini.

3. Primakuin

Obat dengan nama generik primaquine phosphate ini juga bisa digunakan untuk mengatasi penyakit malaria. Sama dengan klorokuin, primakuin dapat diberikan pula sebagai obat pencegah malaria.

Untuk mengobati malaria, primakuin diberikan melalui mulut atau oral. Biasanya, obat ini diberikan 1 kali sehari selama 14 hari. Obat ini harus diminum setelah makan.

Efek samping yang cukup sering dilaporkan setelah minum primakuin adalah sakit perut dan mual. Oleh karena itu, dokter sangat menganjurkan Anda untuk meminum obat ini ketika perut sudah terisi.

Selain untuk mengobati dan mencegah, primakuin juga mampu mencegah kambuhnya kembali penyakit pada orang-orang yang sudah pernah terkena malaria sebelumnya.

Obat ini tergolong cukup keras dan pasien dengan kondisi kesehatan tertentu tidak boleh mengonsumsinya, seperti ibu hamil dan orang dengan defisiensi G6PD. Maka itu, dokter harus melakukan tes darah sebelum memberikan obat ini ke pasien.

4. Meflokuin

Meflokuin atau mefloquine hydrochloride adalah obat tablet yang juga diresepkan untuk sakit malaria. Anda juga bisa menggunakan meflokuin sebagai pencegah malaria, tapi tentu harus dengan resep dokter.

Sama seperti obat antimalaria lainnya, meflokuin bekerja dengan cara membunuh parasit Plasmodium yang ada di dalam tubuh. Dalam kasus malaria tertentu, seperti malaria akibat P. falciparum, meflokuin bisa dikombinasikan dengan artesunate dalam pengobatan ACT.

Obat ini aman untuk dikonsumsi orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil serta menyusui. Namun, meflokuin tidak dianjurkan untuk diberikan pada pasien penderita gangguan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, atau skizofrenia. Orang-orang dengan masalah jantung juga sebaiknya tidak menggunakan obat ini karena berisiko memperburuk kondisi jantung.

5. Doksisiklin

Doksisiklin adalah obat golongan antibiotik yang tak hanya bisa membunuh infeksi bakteri, tapi juga mengatasi infeksi parasit seperti malaria.

Selain untuk mengobati, doksisiklin dapat diberikan untuk mencegah kambuhnya malaria pada pasien yang sudah pernah terinfeksi parasit Plasmodium sebelumnya. Doksisiklin juga bisa diresepkan untuk infeksi akibat gigitan kutu, seperti penyakit Lyme.

Doksisiklin tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, serta cairan suspensi. Efek samping yang umum terjadi setelah meminum obat ini adalah kulit lebih sensitif terhadap matahari. Maka itu, pastikan Anda memakai tabir surya atau sunblock saat mengonsumsi obat ini.

Saat memakai obat doksisiklin, pastikan Anda tidak mengonsumsi produk olahan susu apa pun. Pasalnya, kandungan dalam susu dapat mengganggu penyerapan obat doksisiklin di dalam tubuh sehingga obat obat tidak dapat bekerja secara maksimal.

6. Kina

Anda tentu sudah tidak asing mendengar obat kina untuk penanganan penyakit malaria. Kina adalah obat tablet yang dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat-obatan antimalaria lainnya, seperti ACT, primakuin, atau doksisiklin.

Dosis kina untuk obat malaria biasanya adalah sebanyak 3 kali sehari selama 3-7 hari. Namun, sekali lagi, dosis obat mungkin akan berbeda-beda pada setiap pasien, tergantung kondisi kesehatannya. Meski begitu, saat ini kina sudah lumayan jarang digunakan Indonesia karena dirasa ridak seefektif pilihan obat antimalaria lainnya.

Semua obat-obatan malaria di atas tidak dapat diperoleh di apotek secara bebas. Anda harus menggunakan resep dokter dan wajib menghabiskan semua obat yang diresepkan sampai habis. Bila tidak, infeksi parasit yang diderita tidak akan sembuh sepenuhnya, dan ada kemungkinan parasit menjadi kebal terhadap obat antimalaria.

Obat-obatan herbal untuk malaria

obat maag alami

Selain obat-obatan medis atau obat apotik, malaria juga bisa ditangani dengan obat alami. Anda bisa memanfaatkan bahan-bahan tradisional atau tanaman herbal untuk mengurangi gejala-gejala malaria.

Namun, perlu diingat bahwa obat-obatan alami hanya digunakan sebagai pengobatan pendamping, bukan pengobatan utama. Jadi, Anda tetap harus periksa ke dokter dan mendapatkan pengobatan medis jika gejala-gejala malaria mulai muncul.

Berikut adalah obat-obatan herbal yang direkomendasikan untuk mengatasi penyakit malaria:

1. Kunyit

Pilihan pertama yang bisa Anda coba adalah kunyit. Bumbu dapur yang satu ini ternyata memiliki khasiat kesehatan yang beragam, termasuk membantu melawan infeksi parasit Plasmodium penyebab malaria.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah studi dari jurnal Systematic Reviews in Pharmacy tahun 2020. Dalam studi tersebut, kandungan kurkumin di dalam kunyit diyakini mampu membasmi berbagai jenis parasit Plasmodium, serta meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan infeksi dalam tubuh.

2. Kayu manis

Selain kunyit, bahan herbal lainnya yang juga bisa Anda gunakan sebagai obat malaria alami, yaitu kayu manis. Ya, rempah-rempah serbaguna dengan rasa khas ini ternyata juga dipercaya ampuh mengatasi gejala-gejala malaria.

Kayu manis mengandung zat antiparasit yang mampu menghambat perkembangbiakan parasit Plasmodium falciparum. Ditambah lagi, kayu manis memiliki sifat antioksidan yang berperan penting dalam mencegah kerusakan sel-sel dalam tubuh.

Maka itu, kayu manis direkomendasikan untuk Anda yang sedang menderita penyakit infeksi apa saja, termasuk malaria.

3. Pepaya

Buah dengan warna khas oranye ini juga diyakini ampuh mengatasi gejala-gejala malaria secara alami. Keampuhan buah pepaya terhadap penyakit malaria telah diuji dalam sebuah penelitian dari Journal of Tropical Medicine.

Dalam penelitian tersebut, pepaya dikombinasikan dengan tanaman daun Afrika (Vernonia amygdalina) untuk melihat efeknya pada tikus yang terinfeksi parasit Plasmodium.

Hasilnya, ekstrak pepaya dapat mengurangi jumlah parasit di dalam tubuh, serta mencegah kerusakan pada hati. Salah satu komplikasi yang cukup sering ditemukan pada pasien malaria adalah gagal fungsi organ hati.

Itulah tadi deretan obat medis dan alami yang bisa Anda gunakan untuk mengobati malaria. Ingat, meskipun obat herbal bisa membantu Anda mengurangi gejalanya, bahan alami itu tetap tidak dapat menggantikan obat medis karena efektivitasnya yang masih perlu diteliti lebih lanjut. Boleh-boleh saja memanfaatkan bahan alami, asalkan Anda juga konsisten mengikuti pengobatan dari dokter agar hasilnya lebih maksimal.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Guidelines for the Treatment of Malaria: Third Edition – WHO. (2015). Retrieved December 1, 2020, from https://www.who.int/docs/default-source/documents/publications/gmp/guidelines-for-the-treatment-of-malaria-eng.pdf?sfvrsn=a0138b77_2 

Malaria – MSF Medical Guidelines. (n.d.). Retrieved December 1, 2020, from https://medicalguidelines.msf.org/viewport/CG/english/malaria-16689758.html 

Malaria: Diagnosis & treatment – Mayo Clinic. (2018). Retrieved December 1, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/malaria/diagnosis-treatment/drc-20351190 

Treatment of Malaria: Guidelines for Clinicians (United States) – CDC. (2020). Retrieved December 1, 2020, from https://www.cdc.gov/malaria/resources/pdf/Malaria_Treatment_Guidelines.pdf 

Mefloquine – CDC. (n.d.). Retrieved December 1, 2020, from https://www.cdc.gov/malaria/resources/pdf/fsp/drugs/mefloquine.pdf 

Primaquine – CDC. (n.d.). Retrieved December 1, 2020, from https://www.cdc.gov/malaria/resources/pdf/fsp/drugs/primaquine.pdf 

Doxycycline – CDC. (n.d.). Retrieved December 1, 2020, from https://www.cdc.gov/malaria/resources/pdf/fsp/drugs/doxycycline.pdf 

Mefloquine – MedlinePlus. (2016). Retrieved December 1, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a603030.html 

Primaquine – MedlinePlus. (2016). Retrieved December 1, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a607037.html 

Chloroquine – MedlinePlus. (2020). Retrieved December 1, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682318.html 

Quinine – MedlinePlus. (2016). Retrieved December 1, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682322.html 

Doxycycline – MedlinePlus. (2016). Retrieved December 1, 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682063.html 

Doxycycline – NHS. (2018). Retrieved December 1, 2020, from https://www.nhs.uk/medicines/doxycycline/ 

Parvazi, S., Sadeghi, S., Azadi, M., Mohammadi, M., Arjmand, M., Vahabi, F., Sadeghzadeh, S., & Zamani, Z. (2016). The Effect of Aqueous Extract of Cinnamon on the Metabolome of Plasmodium falciparum Using (1)HNMR Spectroscopy. Journal of tropical medicine, 2016, 3174841. https://doi.org/10.1155/2016/3174841 

Rao, P. V., & Gan, S. H. (2014). Cinnamon: a multifaceted medicinal plant. Evidence-based complementary and alternative medicine : eCAM, 2014, 642942. https://doi.org/10.1155/2014/642942 

Habila, N., Ikwebe, J., Upev, VA., Okoduwa, SR., Isaac, OT. (2016). Antimalarial Potential of Carica papaya and Vernonia amygdalina in Mice Infected with Plasmodium berghei. Journal of tropical medicine, https://doi.org/10.1155/2016/8738972 

Andromeda, Ekawardhani, S., Berbudi, A. (2020). The Role of Curcumin as An Antimalarial Agent. Systematic Reviews in Pharmacy.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 08/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x