Dermatitis Perioral

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu dermatitis perioral?

Dermatitis perioral adalah dermatitis yang menimbulkan gejala di sekitar mulut. Penyakit ini merupakan bentuk ringan dari erupsi, yakni masalah kulit yang biasanya muncul secara cepat dan mendadak.

Meskipun ringan dan bukan penyakit kulit menular, dermatitis perioral bisa menimbulkan gejala yang cukup berat. Penderita umumnya mengeluhkan rasa gatal hebat, perih, serta panas seperti halnya gejala eksim.

Dermatitis perioral dapat menyerang semua kelompok usia, ras, serta etnis. Namun, sebagian besar penderitanya adalah perempuan berusia 16-45 tahun dan lebih jarang ditemukan pada laki-laki.

Penyebab eksim di area mulut belum diketahui secara pasti, tapi faktor eksternal dari lingkungan dipercaya menjadi pemicunya. Berdasarkan kebanyakan kasus, penyakit ini sering ditemukan pada orang yang memakai obat eksim atau salep kortikosteroid.

Gejala dermatitis di area mulut terkadang dapat menghilang tanpa pengobatan. Akan tetapi, hal ini tidak selalu terjadi. Ruam dan gatal pada mulut dapat muncul kembali sewaktu-waktu, bahkan bertambah parah dan berlangsung hingga berbulan-bulan.

Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dermatitis perioral?

Secara keseluruhan, dermatitis perioral membuat bagian kulit di sekitar mulut tampak memerah. Kemunculan gejala penyakit ini juga kerap disertai ruam kemerahan dan bintil-bintil kecil di sekitar mulut.

Biasanya ruam yang muncul tidak tampak terlalu mencolok. Bintil bisa serupa dengan warna kulit atau berwarna kemerahan menyerupai jerawat, tapi dengan tekstur yang lebih lunak. Kemunculan ruam dan bintil-bintil bisa berlangsung dalam waktu lama.

Ruam kemerahan dan bintil di sekitar mulut kadang tidak disertai gatal, tapi umumnya terasa perih. Pada beberapa kasus, kulit di sekitar mulut mungkin akan mengering, mengeras, atau terkelupas. Rasa terbakar juga bisa muncul sesekali.

Selain di sekitar mulut, jenis dermatitis yang satu ini juga bisa muncul pada area sekitar mata, pipi, hidung, dan alat kelamin. Pada alat kelamin, bagian kulit yang terdampak adalah kulit dekat anus, labia pada wanita, dan skrotum (buah zakar) pada pria.

Kapan Anda perlu periksa ke dokter?

Gejala dermatitis perioral bisa berlangsung dalam waktu yang lama dan mungkin tidak langsung tampak parah. Namun, Anda sebaiknya segera temui dokter spesialis kulit begitu menyadari kemunculan gejala penyakit ini.

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, gejala mungkin tidak akan hilang. Ruam dan bintil di sekitar mulut juga bisa bertambah parah sehingga kulit menjadi lebih rentan terinfeksi atau teriritasi. Bila sudah begini, kulit akan lebih sulit pulih seperti semula.

Penyebab

Apa yang menyebabkan dermatitis perioral?

Penyebab eksim di sekitar mulut masih belum diketahui pasti. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang diketahui memengaruhi kemunculan gejala dermatitis perioral. Faktor-faktor itu berhubungan dengan kondisi genetik, kerja hormon, dan lingkungan.

Pada sebagian besar kasus, ditemukan kaitan antara efek samping penggunaan obat kortikosteroid oles dengan penyakit kulit ini. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang diduga menjadi pemicu munculnya erupsi pada kulit.

Obat kortikosteroid memengaruhi keseimbangan bakteri dalam folikel rambut di kulit wajah. Kondisi ini akhirnya menimbulkan erupsi kulit. Ruam kemerahan dan bintil-bintil merupakan respons dari kulit terhadap kuatnya kandungan obat kortikosteroid.

Selain itu, ada pula laporan yang menyebutkan bahwa kemunculan gejala dermatitis perioral dipengaruhi oleh oleh penggunaan obat kortikosteroid semprot dan isap. Akan tetapi, mekanismenya masih belum diketahui secara pasti.

Faktor-faktor lain yang mungkin berkaitan dengan munculnya dermatitis perioral dan masih diteliti lebih jauh adalah:

  • infeksi kulit akibat jamur Candida albicans, bakteri, atau tungau jenis Demodex,
  • penggunaan pasta gigi mengandung fluor,
  • paparan produk kosmetik seperti foundation dan pelembap,
  • penggunaan jenis tabir surya tertentu, serta
  • pengaruh perubahan hormon akibat pil kontrasepsi.

Faktor-faktor risiko

Siapa yang lebih berisiko mengalami kondisi ini?

Kelompok yang paling rentan mengalami dermatitis perioral adalah perempuan berusia 16 – 45 tahun. Selain itu, di bawah ini adalah kondisi lain yang dapat meningkatkan risikonya.

  • Mengalami ketidakseimbangan hormon.
  • Memiliki alergi.
  • Menggunakan salep kortikosteroid secara rutin.
  • Menggunakan produk perawatan kulit yang mengandung pewangi.
  • Menggunakan kosmetik.
  • Mengonsumsi pil KB atau menggunakan kontrasepsi jenis lainnya.

Diagnosis

Bagaimana dokter mendiagnosis dermatitis perioral?

Dokter awalnya akan mempelajari gejala yang muncul dan melihat persebaran ruam pada kulit Anda. Dokter biasanya juga mencari tahu kondisi kulit seperti apa yang memicu munculnya gejala dan berapa lama gejala telah berlangsung.

Anda mungkin akan dianjurkan untuk menjalani berbagai tes alergi pada kulit. Prosedur ini bertujuan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit kulit lain, misalnya dermatitis kontak, rosacea, atau jerawat parah.

Dokter terkadang juga melakukan tes kultur kulit untuk mengetahui apakah terdapat infeksi. Pada kasus tertentu, pengambilan sampel kulit mungkin diperlukan bila ada gejala yang tidak biasa atau kulit tidak membaik walaupun sudah diobati.

Obat dan pengobatan

Bagaimana cara mengobati penyakit kulit ini?

Penderita dermatitis perioral perlu menghindari setiap faktor yang bisa memicu gejala. Apabila diketahui penggunaan salep kortikosteroid berpengaruh terhadap kemunculan ruam kemerahan, maka penggunaannya harus secepatnya dihentikan.

Gejala dermatitis perioral juga bisa diatasi dengan penggunaan obat-obatan dan perawatan kulit secara rutin. Namun, pengobatan seperti ini membutuhkan waktu yang lama hingga gejala betul-betul hilang.

Berikut pilihan pengobatan yang tersedia untuk dermatitis perioral.

1. Kortikosteroid

Obat kortikosteroid topikal sering digunakan untuk mengurangi gejala dermatitis, termasuk pada mulut. Untuk mengatasi gejala dermatitis perioral dengan cepat, salep dengan potensi kortikosteroid ringan bisa diberikan.

Pengobatan dengan salep kortikosteroid kuat mungkin dilakukan bila obat yang sebelumnya diberikan tidak membuahkan hasil. Meskipun ampuh, obat kortikosteroid sebaiknya tidak digunakan dalam jangka panjang karena terdapat risiko efek samping serius.

2. Antibiotik

Jika kortikosteroid justru memicu masalah pada kulit, dokter biasanya memberikan obat oles untuk peradangan yang mengandung metronidazole, clindamycin, atau eritromisin.

Namun, bila pengobatan topikal tidak membantu meredakan gejala, dokter akan memberikan obat antibiotik minum dengan tujuan mempercepat pemulihan. Selama mengonsumsi antibiotik, Anda bisa tetap menggunakan obat-obatan topikal.

Pengobatan antibiotik biasanya akan dihentikan kurang dari tiga bulan bila sebagian besar gejala telah hilang. Jenis antibiotik yang umum digunakan adalah tetracycline, doxycycline, dan minocycline.

Pengobatan di rumah

Apa saja pengobatan rumahan untuk mengatasi dermatitis perioral?

Berikut beberapa perawatan rumahan yang dapat Anda lakukan untuk mempercepat penyembuhan dermatitis perioral.

  • Tidak menggaruk atau menyentuh terlalu keras bagian kulit yang bermasalah.
  • Menghentikan penggunaan obat topikal yang mengandung kortikosteroid.
  • Menghentikan penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung pewangi selama gejala berlangsung.
  • Membersihkan muka dengan hanya menggunakan air selama gejala muncul.
  • Memilih sunscreen atau produk tabir surya dalam bentuk cair atau gel.
  • Menggunakan pelembap kulit non-kosmetik pada kulit yang bermasalah secara rutin.

Dermatitis perioral adalah penyakit kulit dengan gejala khas berupa ruam kemerahan yang muncul di sekitar mulut. Kondisi ini bersifat ringan, tapi gejalanya dapat bertahan hingga berbulan-bulan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Anda bisa mengatasi gejala penyakit ini dengan menghindari faktor-faktor pemicunya dan menjalani pengobatan. Beberapa perubahan gaya hidup dan perawatan di rumah juga dapat membantu mengurangi tingkat keparahan penyakit.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Eksim numular, dikenal juga sebagai dermatitis numularis atau eksim discoid, adalah kondisi kronis yang menyebabkan bercak berbentuk koin pada kulit.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Kulit, Dermatitis 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Bagaimana Cara Menghilangkan Bekas Eksim yang Menghitam?

Eksim tidak hanya menyebabkan gatal hebat, tapi juga bisa menimbulkan bekas di kulit. Cari tahu cara menghilangkan bekas eksim di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Kulit, Dermatitis 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pilihan Obat dan Terapi untuk Mengatasi Eksim yang Kambuh

Peradangan oleh eksim bisa menyebabkan kulit menjadi kering atau luka terbuka yang basah. Apa saja jenis obat eksim yang yang tepat untuk mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 11 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Dermatitis

Dermatitis adalah penyakit kulit yang ditandai dengan ruam bengkak kemerahan dan gatal. Cari tahu penyebab, gejala, obat, dan cara mengatasi dermatitis.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Dermatitis 11 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

intertrigo dermatitis intertriginosa

Dermatitis Intertriginosa (Intertrigo)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
dermatitis venenata

Dermatitis Venenata, Penyakit Kulit Akibat Gigitan Tomcat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Dermatitis herpetiformis

Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit