home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Polip Kolorektal

Polip Kolorektal

Polip usus besar atau polip kolorektal adalah salah satu gangguan sistem pencernaan yang perlu Anda waspadai. Jika terlambat ditangani, polip bisa berkembang menjadi kanker.

Apa itu polip kolorektal?

Polip kolorektal adalah pertumbuhan jaringan yang bertangkai dari dinding usus, yang lebih sering terjadi pada usus besar atau rektum.

Ukuran polip dapat bervariasi, dari kecil hingga besar. Semakin besar polip maka semakin besar risiko polip kolorektal berkembang menjadi kanker atau pra-kanker.

Polip dapat tumbuh dengan atau tanpa batang. Pada sebagian besar kasus, polip tanpa batang lebih berisiko untuk berkembang menjadi kanker daripada yang memiliki batang.

Ada tiga jenis polip yang paling umum tumbuh pada usus besar dan rektum, seperti polip hiperplastik, polip adenomatosa, dan polip ganas.

  • Polip hiperplastik. Jenis polip yang tidak berbahaya dan tidak berkembang menjadi kanker, tetapi bisa menimbulkan gangguan jika ukurannya terlalu besar.
  • Polip adenomatosa. Jenis polip yang terdiri dari sel-sel kelenjar yang melapisi bagian dalam usus besar dan cenderung tumbuh menjadi kanker usus besar.
  • Polip ganas. Jenis polip yang memiliki sel kanker di dalamnya dan dapat terlihat pada pemeriksaan mikroskopis.

Sebagian besar polip usus tidak bergejala. Prosedur skrining rutin, termasuk kolonoskopi dapat mendeteksi dan mencegah risiko kanker usus besar atau kanker rektum (kanker kolorektal).

Seberapa umumkah kondisi ini?

Polip kolorektal merupakan penyakit umum yang dapat terjadi pada usia berapa pun. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dan orang dewasa yang lebih tua.

Dikutip dari Mayo Clinic, kondisi ini juga lebih umum terjadi pada orang berusia 50 tahun atau lebih, obesitas, merokok, dan punya riwayat keluarga dengan polip atau kanker usus besar.

Anda dapat menurunkan peluang terkena penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko tersebut. Silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Tanda dan gejala polip kolorektal

Kebanyakan orang dengan polip kolorektal tidak menunjukkan gejala apa pun. Anda mungkin akan merasa sehat, sampai dokter menemukannya selama pemeriksaan usus besar.

Walaupun begitu, beberapa penderita polip usus besar mungkin merasakan tanda dan gejala yang paling umum, meliputi:

  • perdarahan pada area rektum,
  • warna feses menjadi merah atau kehitaman,
  • perubahan kebiasaan buang air besar, seperti diare atau sembelit,
  • kram dan nyeri perut, serta
  • anemia defisiensi besi.

Polip besar dengan tonjolan kecil yang menyerupai jari (adenoma vili) bisa menghasilkan air dan garam yang menyebabkan diare, sehingga memicu turunnya kadar kalium dalam darah (hipokalemia).

Terkadang, pertumbuhan polip pada area sekitar rektum dengan batang yang cukup panjang juga akan turun ke bawah dan terlihat menggantung mendekati anus.

Kemungkinan terdapat tanda-tanda atau gejala yang tidak tercantum di atas. Jika mempunyai kekhawatiran tertentu mengenai gejala, silakan konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan sebaiknya harus periksa ke dokter?

Kebanyakan polip kolorektal tidak bergejala. Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami perdarahan dari rektum atau merasakan gerakan yang tidak biasa di dalam usus.

Anda harus mengunjungi dokter saat polip sudah berkembang menjadi kanker. Penanganan yang lebih cepat dapat membantu Anda mencegah komplikasi yang lebih serius.

Penyebab dan faktor risiko polip kolorektal

Walaupun penyakit sistem pencernaan ini tidak diketahui pasti penyebabnya, ada sejumlah faktor risiko yang dapat memicu pertumbuhan polip pada usus besar dan rektum.

Apa saja penyebab polip kolorektal?

Para ahli berpendapat kondisi ini bisa terjadi akibat mutasi genetik tertentu yang menyebabkan sel terus memperbarui diri, bahkan ketika tubuh Anda tidak membutuhkan sel-sel baru.

Mutasi ini menyebabkan pertumbuhan jaringan abnormal dalam usus besar atau rektum, yang dapat menyebabkan terbentuknya polip.

Ada dua kategori utama polip, yakni non-neoplastik dan neoplastik. Polip neoplastik, termasuk polip hiperplastik biasanya tidak akan berkembang menjadi kanker.

Polip non-neoplastik, termasuk polip adenomatosa berpotensi menjadi kanker apabila memiliki waktu yang cukup untuk tubuh. Semakin besar polip, semakin besar risiko kanker terjadi.

Faktor apa saja yang meningkatkan risiko kondisi ini?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena polip kolorektal, antara lain:

  • berusia 50 tahun atau lebih,
  • risiko keturunan, seperti adenomatosa poliposis familial dan sindrom Peutz-Jeghers,
  • memiliki riwayat penyakit usus, seperti ulcerative colitis dan penyakit Crohn,
  • kelebihan berat badan (obesitas) dan kurangnya aktivitas fisik,
  • merokok dan minum alkohol berlebihan,
  • mengidap diabetes tipe 2, dan
  • ras, seperti orang kulit hitam yang berisiko lebih tinggi terkena kanker usus besar.

Diagnosis dan pengobatan polip kolorektal

Tujuan pengobatan gangguan ini adalah untuk mengangkat polip pada saluran cerna. Sejumlah tes diagnostik, dapat membantu dokter menentukan prosedur yang sesuai kondisi Anda.

Apa saja pemeriksaan untuk mendeteksi kondisi ini?

Tes skrining membantu Anda mendeteksi polip sebelum berkembang menjadi kanker. Dokter dapat merasakan adanya polip kolorektal dengan memasukkan jari ke dalam rektum.

Namun, polip umumnya ditemukan selama prosedur sigmoidoskopi fleksibel atau pemeriksaan bagian bawah usus besar lewat perangkat tabung dengan cahaya dan kamera (viewing tube).

Jika menemukan polip selama sigmoidoskopi fleksibel, dokter akan mendiagnosis lebih lanjut dengan prosedur kolonoskopi untuk memeriksa seluruh bagian usus besar.

Kolonoskopi memungkinkan dokter untuk melakukan pengambilan sampel jaringan (biopsi). Dokter akan menganalisis untuk melihat ada tidaknya sel kanker dari jaringan tersebut.

Apa saja pilihan pengobatan untuk polip kolorektal?

Pemeriksaan perlu dokter lakukan secara lengkap, karena biasanya terdapat lebih dari satu polip. Dokter mungkin akan melakukan prosedur pengangkatan semua polip tersebut.

Beberapa pilihan pengobatan untuk polip kolorektal umumnya bertujuan untuk mengangkat polip untuk mencegah risikonya yang dapat berkembang menjadi kanker.

Pengangkatan polip (polipektomi)

Pengangkatan polip kolorektal dokter lakukan dalam prosedur kolonoskopi yang menggunakan alat pemotong atau loop kawat listrik. Prosedur ini umumnya hanya untuk polip kecil.

Jika polip tidak memiliki batang atau ukurannya terlalu besar, dokter akan melakukan operasi laparoskopi dengan membuat sayatan kecil pada perut untuk memasukan laparoskop.

Laparoskop adalah instrumen tabung tipis panjang dengan cahaya dan kamera, yang akan masuk melalui sayatan perut untuk mengangkat polip dari usus besar.

Pengangkatan usus besar dan rektum (proktokolektomi total)

Dokter akan mengangkat usus besar dan rektum, jika dokter mendiagnosis adanya risiko kanker atau pasien menderita adenomatosa poliposis familial yang mengancam jiwa.

Prosedur ini akan mengangkat bagian usus besar atau rektum yang memiliki polip, kemudian ujung potongan usus akan dokter sambungkan kembali.

Sejumlah obat anti-inflamasi (NSAID) masih diteliti mengenai cara kerjanya dalam menghambat pertumbuhan polip pada orang dengan riwayat keluarga penderita adenomatosa poliposis.

Pengobatan di rumah untuk polip kolorektal

Beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan berikut ini mungkin bisa membantu Anda mengatasi polip kolorektal.

  • Menjaga pola makan yang sehat dengan memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian.
  • Mengurangi asupan lemak, seperti lebih sedikit makan daging merah.
  • Berhenti merokok atau hindari minum alkohol berlebihan.
  • Olahraga secara teratur dan menjaga berat badan yang sehat.

Jika memiliki pertanyaan atau keluhan lain, sebaiknya konsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Colon Polyps. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Retrieved 15 September 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/colon-polyps

Colon polyps – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2021). Retrieved 15 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-polyps/symptoms-causes/syc-20352875

Colon polyps – Diagnosis and treatment. Mayo Clinic. (2021). Retrieved 15 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-polyps/diagnosis-treatment/drc-20352881

Aarons, C. B., Shanmugan, S., & Bleier, J. I. (2014). Management of malignant colon polyps: current status and controversies. World journal of gastroenterology, 20(43), 16178–16183. https://doi.org/10.3748/wjg.v20.i43.16178

Porter, R. S., Kaplan, J. L., Homeier, B. P., & Albert, R. K. (2009). The Merck manual home health handbook. Whitehouse Station, NJ, Merck Research Laboratories. Print. Page 192

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 3 hari lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x