home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apa Arti Feses yang Mengambang? Kenali 7 Penyebabnya

Apa Arti Feses yang Mengambang? Kenali 7 Penyebabnya

Feses yang mengambang atau mengapung mungkin terlihat aneh, bahkan menakutkan. Sebenarnya, feses mengapung ini bisa menunjukkan masalah pencernaan tertentu.

Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan feses mengambang berikut.

Penyebab feses mengambang

Pada dasarnya, ciri feses yang mengapung bukanlah hal yang harus sangat Anda khawatirkan. Penyebab feses mengambang umumnya berasal dari asupan makanan.

Jika tidak diikuti dengan keluhan kesehatan lainnya, feses yang mengapung bukanlah masalah kesehatan yang berarti.

Meski demikian, dalam kasus tertentu, ada beberapa jenis kondisi kesehatan dengan gejala feses yang terlihat mengapung. Apa sajakah itu? Ketahui beberapa penyebabnya di bawah ini.

1. Asupan serat

manfaat buah dan sayur

Salah satu penyebab feses mengambang adalah mengonsumsi makanan berserat. Serat merupakan salah satu zat gizi yang tidak dicerna tubuh.

Jadi, serat akan melewati usus dan keluar dalam bentuk feses. Ternyata, serat mampu mengurangi kepadatan feses. Jadi, massa feses pun menjadi lebih ringan.

Kondisi feses yang mengapung akibat asupan tinggi serat ini menandakan bahwa kondisi kesehatan Anda sedang baik-baik saja.

2. Gas di saluran pencernaan

ilustrasi cara mengatasi perut kembung

Tubuh menghasilkan gas metana di dalam saluran pencernaan. Gas metana rupanya menyebabkan feses mengapung karena menurunkan kepadatan feses.

Selain itu, asupan tinggi serat, terutama yang mengandung jenis serat larut, memicu produksi gas metana.

Selama proses pencernaan, serat yang larut dalam air berjalan di sepanjang usus besar. Bakteri di usus besar akan memfermentasi serat tersebut. Proses fermentasi ini menghasilkan gas metana di perut.

3. Infeksi pada saluran pencernaan

Infeksi Bakteri E Coli

Feses mengambang juga bisa menandakan adanya masalah pada pencernaan Anda.

Beberapa bakteri jahat yang mampu menginfeksi saluran pencernaan, yaitu norovirus, Escherichia coli, maupun Salmonella. Infeksi ini membuat perut kembung dan bergas sehingga kepadatan feses pun berkurang.

Selain itu, infeksi bakteri tersebut menyebabkan peradangan pada permukaan lambung dan usus. Hal ini menyebabkan feses berminyak.

Kandungan minyak pada feses membuatnya tidak bisa menyatu dengan air sehingga tampak mengapung di air.

4. Penyakit pankreas

Komplikasi kanker pankreas

Beberapa penyakit pankreas, seperti radang pankreas (pankreatitis) hingga kanker pankreas ternyata turut menyebabkan feses mengambang.

Pankreas menghasilkan enzim lipase untuk memecah lemak. Jika pankreas bermasalah, produksi lipase juga menurun. Akibatnya, lemak pun ikut keluar bersama feses.

Kandungan lemak pada menyebabkan feses mengapung di air.

5. Mengidap sindrom iritasi usus besar

anatomi dan fungsi usus besar

Sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS) ternyata bisa menyebabkan feses mengapung.

Melansir riset yang terbit pada jurnal European Journal of Gastroenterology & Hepatology, sebanyak 26% penderita IBS kombinasi atau IBS dengan diare dan sembelit sekaligus mengalami feses yang mengambang.

IBS menyebabkan peningkatan gas di saluran cerna. Kandungan gas yang tinggi pada feses dapat meringankan massanya sehingga terlihat mengapung.

6. Intoleransi laktosa

gejala intoleransi laktosa

Umumnya, ketidakmampuan menyerap zat gizi (malabsorpsi) bisa menyebabkan feses mengapung, tak terkecuali pada penderita intoleransi laktosa.

Laktosa merupakan sejenis gula yang biasanya terdapat pada susu ataupun produk olahan susu lainnya.

Saat seseorang mengalami intoleransi laktosa, tubuhnya tidak mampu memecah laktosa dengan optimal karena memiliki kadar enzim laktase yang terlalu sedikit.

Kondisi ini berdampak pada peningkatan gas di saluran cerna. Gas bisa memengaruhi massa feses dan membuatnya menjadi lebih ringan. Alhasil, feses pun nampak mengambang.

7. Penyakit hati dan masalah empedu

batu saluran empedu

Liver atau hati menghasilkan empedu untuk mencerna lemak. Cairan empedu normalnya mengalir ke usus.

Namun, bila seseorang mengalami masalah liver, produksi empedu menjadi terlalu sedikit sehingga tubuh tidak mampu mencerna lemak dengan baik.

Lemak yang belum dicerna sepenuhnya ikut terbuang melalui feses. Nah, kandungan lemak bisa membuat feses Anda terlihat mengambang.

Tak hanya itu, batu empedu dan saluran empedu yang tersumbat menghambat aliran empedu ke usus sehingga meningkatkan risiko feses mengapung.

Ciri-ciri feses mengambang yang berbahaya

Infeksi rotavirus diare

Segera temui dokter Bila Anda melihat feses yang mengambang dengan tanda-tanda lain berikut ini.

  • Feses berminyak dan berlemak sangat banyak.
  • Warna feses sangat terang dan pucat dan berbau busuk.
  • Kulit dan bagian mata tampak menguning.
  • Warna urine menggelap.
  • Mengalami diare atau sembelit parah.
  • Berat badan turun drastis tanpa olahraga intensitas tinggi atau diet ketat.

Kondisi feses mampu menggambarkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan, tak terkecuali saat feses mengambang.

Jika feses hanya terlihat mengapung tanpa tanda-tanda lainnya, Anda tidak perlu khawatir. Hal ini menandakan asupan serat sudah mencukupi atau perut sedang kembung sedikit.

Namun, jika mengalami gejala lainnya yang membahayakan, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jadi, apakah feses Anda mengambang atau tenggelam?

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Stools – floating: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/003128.htm

Fiber. (2012). Retrieved 30 November 2021, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/carbohydrates/fiber/

Cormier, R. (1990). Abdominal Gas. Butterworths. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK417/

E. coli Gastroenteritis – Digestive Disorders – MSD Manual Consumer Version. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.msdmanuals.com/home/digestive-disorders/gastroenteritis/e-coli-gastroenteritis

Physiological Effects of Dietary Fibre. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.fao.org/3/w8079e/w8079e0l.htm

Singh, V., Yeoh, B., Chassaing, B., Xiao, X., Saha, P., & Aguilera Olvera, R. et al. (2018). Dysregulated Microbial Fermentation of Soluble Fiber Induces Cholestatic Liver Cancer. Cell, 175(3), 679-694.e22. doi: 10.1016/j.cell.2018.09.004

Overview of Malabsorption – Digestive Disorders – MSD Manual Consumer Version. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.msdmanuals.com/home/digestive-disorders/malabsorption/overview-of-malabsorption

Bouchoucha, M., Devroede, G., & Benamouzig, R. (2015). Are floating stools associated with specific functional bowel disorders?. European Journal Of Gastroenterology & Hepatology, 27(8), 968-973. doi: 10.1097/meg.0000000000000380

Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/irritable-bowel-syndrome/symptoms-causes/syc-20360016

Lactose intolerance – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lactose-intolerance/symptoms-causes/syc-20374232

Cholestasis – Liver and Gallbladder Disorders – MSD Manual Consumer Version. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.msdmanuals.com/home/liver-and-gallbladder-disorders/manifestations-of-liver-disease/cholestasis

When to worry if weight falls off without trying. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/unexplained-weight-loss/basics/causes/sym-20050700

Peraturan menteri Kesehatan republik … – kemkes.go.id. (n.d.). Retrieved November 30, 2021, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf. 

Kementerian Kesehatan. (2021). Retrieved 30 November 2021, from https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui 13/12/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro