Makanan Pemicu Iritasi Usus yang Wajib Dihindari Pengidap IBS

    Makanan Pemicu Iritasi Usus yang Wajib Dihindari Pengidap IBS

    Sejumlah pantangan perlu Anda ikuti bila mengidap gangguan pencernaan, salah satunya memperhatikan daftar makanan yang dilarang untuk iritasi usus.

    Mengonsumsi jenis makanan tertentu bisa memicu dan memperparah gejala yang ditimbulkan.

    Makanan yang dilarang untuk pengidap sindrom iritasi usus

    Sindrom iritasi usus atau yang juga dikenal dengan irritable bowel syndrome (IBS) merupakan gangguan pencernaan yang memengaruhi kerja usus besar.

    Tanda dan gejala dari masalah kesehatan ini, antara lain kram, sakit perut, kembung, begah, diare, ataupun sembelit.

    Salah satu cara mengatasi IBS adalah dengan menghindari faktor pemicunya, termasuk dari makanan dan minuman yang dikonsumsi.

    Berikut ini adalah macam-macam makanan pantangan IBS yang wajib untuk Anda hindari.

    1. Gluten

    makanan mengandung gluten

    Salah satu makanan pemicu iritasi usus adalah gluten. Gluten merupakan jenis protein pada gandum dan tepung yang dapat menyebabkan masalah untuk pengidap IBS.

    Beberapa orang dengan IBS juga bisa mengalami intoleransi gluten. Sejumlah gejala intoleransi gluten mirip seperti IBS, antara lain sakit perut, kembung, mual, diare, atau sembelit.

    Oleh karena itu, sebaiknya makanan bebas gluten bila Anda memiliki penyakit iritasi usus agar terhindar dari kekambuhan gejala IBS.

    Pastikan menemukan label gluten-free pada kemasan makanan sebelum Anda membelinya.

    2. Gula dan pemanis buatan

    Beberapa jenis gula dan pemanis buatan dapat menyebabkan kram perut, kembung, begah, dan ketidaknyamanan usus bila Anda konsumsi.

    Para ahli merekomendasikan untuk menghindari konsumsi karbohidrat olahan, misalnya roti tawar, kue, dan kukis yang lebih mudah diubah menjadi gula oleh tubuh.

    Di samping itu, sejumlah pemanis buatan, seperti sorbitol, sukralosa, dan aspartam perlu dihindari karena sulit diserap tubuh, terutama bila Anda memiliki IBS.

    Pemanis ini sering Anda temukan pada berbagai produk, mulai dari permen, makanan ringan dalam kemasan, dan minuman bersoda.

    3. Susu dan produk olahannya

    Susu dan produk olahannya, seperti keju, es krim, dan mentega juga menjadi makanan yang dilarang untuk pengidap iritasi usus karena tinggi kandungan lemak.

    Lemak yang terdapat dalam produk susu ini bisa meningkatkan risiko diare pada pengidap IBS.

    Orang dengan IBS kemungkinan mengalami intoleransi laktosa. Hal ini bisa terjadi karena usus memproduksi lebih sedikit enzim laktase untuk mencerna laktosa.

    Akibatnya, kondisi yang memengaruhi sekitar 70% orang dewasa menurut Johns Hopkins Medicine ini memicu reaksi negatif, berupa sakit perut dan kembung.

    4. Serat tidak larut

    Serat pada makanan terdiri dari serat larut (soluble fiber) dan serat tidak larut (insoluble fiber).

    Makanan yang mengandung serat tidak larut, seperti pada biji-bijian, sayuran, dan buah tertentu bisa membuat gejala diare pada orang dengan IBS bertambah parah.

    Sebaliknya, makanan yang mengandung serat larut tergolong cukup aman sehingga Anda bisa menambahkannya dalam menu sehari-hari.

    Berbagai makanan sumber serat larut, antara lain kacang polong, alpukat, tahu, buah beri, mangga, jeruk, jeruk bali, dan wortel.

    5. Gorengan

    efek makan gorengan, bahaya makan gorengan, minyak goreng, menggoreng makanan

    Makanan yang melalui proses penggorengan, seperti kentang goreng dan gorengan lainnya sebaiknya Anda hindari bila mengidap IBS.

    Gorengan menjadi salah satu makanan pantangan untuk pengidap IBS karena kandungan lemak yang cukup tinggi sulit untuk dicerna tubuh.

    Pada akhirnya, makanan yang sulit tubuh cerna akan menimbulkan ketidaknyamanan pada saluran pencernaan Anda.

    Mengukus, menumis, atau memanggang menjadi sejumlah alternatif cara memasak yang lebih dianjurkan dibandingkan menggoreng dengan minyak kelapa.

    6. Makanan olahan

    Makanan olahan kurang baik untuk kesehatan karena cenderung tinggi kandungan garam, gula, dan lemak, tetapi miskin zat gizi penting.

    Konsumsi jenis makanan ini juga dapat memicu beberapa masalah kesehatan, termasuk IBS.

    Sebuah studi dalam American Journal of Gastroenterology (2018) menunjukkan sekitar 10,5% orang yang mengonsumsi makanan olahan berisiko mengalami gejala IBS.

    Oleh karena itu, jenis makanan ini termasuk makanan yang dilarang untuk pengidap IBS. Lebih baik pilih makanan segar yang dimasak sendiri agar lebih sehat.

    7. Makanan bergas

    Perut kembung karena makan makanan bergas disebabkan oleh kandungan FODMAP, yakni sekelompok karbohidrat rantai pendek dalam makanan.

    Pada pengidap IBS, jenis karbohidrat ini akan langsung menuju ke usus besar. Bakteri usus akan mencerna FODMAP dan menghasilkan gas yang memicu perut kembung.

    Beberapa jenis makanan pantangan untuk pengidap IBS ini, termasuk bawang putih, bawang bombai, brokoli, kol, dan kembang kol.

    Apabila memiliki sindrom iritasi usus, Anda bisa mencoba menjalani diet FODMAP untuk mengendalikan gejala.

    8. Kafein

    Kafein menstimulasi kontraksi usus sehingga menyebabkan diare dan memperparah gejala IBS.

    Selain kopi, beberapa makanan dan minuman lain, seperti soda, teh, cokelat, dan minuman berenergi juga mengandung kafein yang berdampak buruk bagi penderita IBS.

    Maka dari itu, usahakan untuk menghindari konsumsi kafein agar sistem pencernaan Anda tetap sehat.

    9. Alkohol

    Minuman beralkohol juga dapat menjadi pemicu sindrom iritasi usus besar. Alkohol juga dapat menyebabkan dehidrasi yang memengaruhi kerja sistem pencernaan.

    Di samping itu, efek samping alkohol bisa meningkatkan penyerapan jenis karbohidrat FODMAP. Hal ini bisa menimbulkan kekambuhan gejala IBS, seperti kram, sakit perut, dan perut bergas.

    Walaupun reaksi setiap orang berbeda, menghindari makanan yang dilarang untuk iritasi usus bisa jadi salah satu cara terbaik untuk mencegah keparahan dan kambuhnya gejala.

    Apabila Anda memiliki pertanyaan terkait IBS, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Andreas Wilson Setiawan

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 15/03/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan