Mengenal Disleksia, Gangguan Belajar yang Sering Terjadi Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Usia anak-anak adalah waktu yang tepat untuk mempelajari banyak hal. Sayangnya, banyak orangtua yang mengamati perilaku buah hati mereka sulit untuk membaca, menulis, atau mengeja. Jangan langsung dimarahi, belum tentu sebabnya adalah anak malas belajar. Bisa jadi anak mengidap penyakit disleksia. Disleksia adalah gangguan belajar paling umum yang dimiliki banyak anak di dunia. Simak ulasannya berikut ini.

Disleksia adalah jenis gangguan belajar

Apa saja manfaat membaca untuk anak? Banyak sekali. Membaca dapat membantu anak untuk memahami suatu hal, memperkaya kemampuan berbahasa dan menulis, serta merangsang imajinasi anak. Namun, bagi anak disleksia untuk mendapatkan manfaat ini perlu usaha yang sangat keras. Kenapa?

Disleksia adalah salah satu jenis penyakit mental pada anak-anak, yang dikenal juga dengan gangguan belajar. Kondisi ini membuat anak kesulitan untuk membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas.

Kemampuan berpikir mereka mungkin di atas rata-rata; mereka dapat berpikir dengan cepat dan kreatif dengan kemampuan penalaran yang kuat. Sayangnya, mereka akan tetap mengalami kesulitan dalam proses memahami pelajaran dari segi visual atau suara.

agar anak suka baca buku

Contohnya saat membaca, indra penglihatan akan mengirimkan sinyal dari gambar atau huruf yang mereka lihat dan dengar ke sistem saraf pusat, yaitu otak. Kemudian, otak akan menghubungkan huruf-huruf atau gambar tersebut dalam urutan yang benar hingga terbentuk menjadi kata, kalimat, atau paragraf yang dapat kita baca dan pahami.

Namun, anak dengan penyakit disleksia mengalami kesulitan untuk mencocokkan huruf dan gambar tersebut. Mereka akan kesulitan untuk memahami bacaan atau gambar yang dilihatnya sehingga untuk mempelajari hal selanjutnya akan jadi lebih sulit.

Apa penyebab penyakit disleksia?

dibius saat hamil

Penyebab disleksia tidak diketahui secara pasti. Namun, peneliti sepakat bahwa secara garis besar penyebab penyakit disleksia terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Genetik. Penyebab disleksia adalah cacat pada gen DCD2, ini yang paling umum. Biasanya kondisi ini diwariskan dari anggota keluarga. Kondisi yang ditandai dengan tidak berfungsinya cerebrum, yaitu bagian otak yang mengatur aktivitas berpikir dan bergerak.
  • Cedera atau kondisi lainnya. Selain faktor keturunan, penyebab disleksia adalah gangguan yang dialami anak setelah mereka dilahirkan seperti cedera otak, stroke, atau trauma lainnya.

Penyakit gangguan belajar ini juga bisa dipengaruhi oleh latar belakang etnis seseorang, terutama penggunaan bahasa. Setiap negara memiliki aturan tata bahasa, bagaimana suatu kata ditulis atau dibunyikan.

Orang dengan gangguan belajar ini mungkin akan lebih sulit untuk mempelajari bahasa Inggris, kenapa? Bahasa ini memiliki cara penulisan dan cara baca huruf yang biasanya berbeda. Contohnya, kata satu ditulis “one” tapi dibaca menjadi “wan“.

Disleksia sangat umum terjadi. Gangguan belajar ini hampir memengaruhi 20 persen populasi jumlah penduduk dan menjadi 80-90 persen penyebab dari ketidakmampuan anak dalam belajar. Anak-anak dengan kondisi ini memiliki penglihatan yang normal. Namun saat proses belajar, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami apa yang dipelajari dibanding anak normal lainnya.

Apakah penyakit disleksia bisa disembuhkan?

anak kesulitan belajar

Disleksia adalah masalah yang umum muncul pada usia anak-anak, tapi akan terus dialami hingga usia dewasa. Bahkan, banyak orang dewasa yang tidak menyadari mereka mengidap penyakit ini.

Gangguan belajar ini tidak dapat disembuhkan. Seseorang akan tetap memilikinya seriring dengan bertambahnya usia. Namun, dengan perawatan dan dukungan yang tepat, anak disleksia tetap bisa berkarya dan menjadi orang yang sukses saat dewasa seperti anak lainnya.

Apa saja tipe penyakit disleksia?

belajar bahasa asing sebagai terapi untuk anak autisme

Gangguan belajar dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Beberapa jenis yang sering digunakan untuk menggambarkan penyakit disleksia adalah:

  • Fonological dyslexia: kesulitan untuk menguraikan atau mengeja sebuah kata menjadi susunan huruf. Orang dengan disleksia tipe ini sulit untuk menuliskan kata-kata yang didengar. Jenis ini juga dikenal dengan disleksia disfonetik atau disleksia pendengaran.
  • Surface dyslexia: kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengenali kata demi kata sehingga kata-kata sulit diingat dan dipelajari. Jenis gangguan belajar ini disebut juta dengan disleksia visual atau dyseidectic dyslexia.
  • Rapid naming deficit: kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk menyebutkan angka maupun huruf yang dilihat.
  • Double deficit dyslexia: kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk memisahkan suara untuk menyebutkan huruf dan angka.
  • Visual dyslexia: kondisi yang ditandai kesulitan untuk memaknai kata yang dilihat.

Tanda dan gejala umum orang yang memiliki disleksia

manfaat baca buku untuk anak

Untuk mengetahui apakah anak atau seseorang mengidap gangguan belajar ini, Anda perlu mengenali seperti apa tanda dan gejalanya. Semua itu bisa terjadi pada usia berapa pun, tapi cenderung muncul pada masa anak-anak. Tanda dan gejala anak disleksia adalah:

1. Kesulitan belajar membaca

Banyak anak disleksia yang memiliki kecerdasan normal seperti anak lainnya. Namun, mereka kerap kali terlihat berusaha keras untuk belajar membaca. Seperti lebih lama untuk mempelajari huruf, sulit untuk mengucapkan atau menerka huruf atau angka, atau terbalik memosisikan mainan huruf.

Untungnya, ini bisa diatasi dengan pengajaran yang tepat dan dukungan dari orang-orang di sekeliling anak atau orang dengan disleksia.

2. Kemampuan berbicara yang sangat lambat

Anak dengan gangguan belajar mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar berbicara. Mereka sering salah mengucapkan kata-kata atau kesulitan untuk membedakan bunyi kata yang berbeda.

Walaupun mereka sudah belajar mengenali huruf, kemungkinan besar ia akan lupa dengan pelajaran yang sebelumnya yang sudah dipelajari.

3. Milestone tercapai lebih lama

Anak disleksia dapat belajar merangkak, berjalan, berbicara, atau mengendarai sepeda seperti biasa, tetapi lebih lambat daripada anak lain seusianya.

4. Mengalami kesulitan koordinasi

Anak disleksia mungkin akan terlihat lebih lemah dibanding teman sebanya. Mereka kadang kesulitan untuk menangkap bola, akibat koordinasi mata dengan tangan yang kurang baik. Jika koordinasi anak memang sangat buruk, kemungkinan anak memiliki kondisi lain seperti dispraksia.

5. Sulit konsentrasi dan mudah sakit

Anak-anak dengan gangguan belajar ini biasanya sulit untuk konsentrasi pada suatu hal. Kondisi ini mempersulit proses belajar dan memahami sesuatu. Selain itu, anak disleksia juga lebih mungkin terkena masalah sistem imun, seperti mudah sekali demam, memiliki alergi, eksim, atau asma.

Ciri-ciri disleksia berdasarkan usia

melatih kemampuan membaca balita

Tanda-tanda disleksia sulit dikenali sebelum anak masuk sekolah. Begitu anak mencapai usia sekolah, guru anak Anda mungkin akan menyadari adanya masalah pada anak. Keparahan kondisi berbeda pada setiap anak, tetapi kondisinya akan menjadi lebih jelas saat anak sudah mulai belajar membaca.

Jika gangguan belajar terjadi pada anak yang belum sekolah atau usia balita, kemungkinan tanda-tanda disleksia adalah:

  • Agak susah melafalkan sesuatu
  • Lambat berbicara
  • Sulit mengingat hal-hal dari film atau sesuatu yang ia sukai
  • Mengalami kesulitan untuk belajar huruf-huruf dasar (alfabet), sulit membedakan atau mengenali warna
  • Sulit membedakan kata-kata yang serupa, atau bahkan huruf yang serupa (seperti b dan d)

Jika gangguan belajar terjadi pada anak usia sekolah, kemungkinan tanda-tanda disleksia adalah:

  • Sulit mengingat nomor yang lebih dari satu angka
  • Anak akan sulit membaca, mengeja, dan menulis
  • Anak akan mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa asing
  • Sulit mengikuti arah; kanan maupun kiri
  • Bila mengerjakan sesuatu, khususnya PR, akan kurang rapi tulisan atau polanya
  • Sulit untuk menemukan kata untuk menjawab pertanyaan orang lain
  • Sulit membedakan huruf atau kata

Jika gangguan belajar terjadi pada remaja atau orang yang lebih dewasa, kemungkinan tanda-tanda disleksia adalah:

  • Kesulitan untuk mengucapkan apa yang dibaca
  • Sering salah mengucapkan nama atau kata-kata, menggunakan kata yang kurang tepat
  • Kesulitan memahami sebuah tulisan atau cerita
  • Kesulitan untuk meringkas cerita
  • Kesulitan untuk belajar bahasa asing
  • Kesulitan untuk menghafal
  • Kesulitan untuk menceritakan kembali suau kisah atau kejadian

Siapa saja yang berisiko dengan kondisi ini?

ibu hamil merokok, cucu autisme

Kondisi mental ini bisa terjadi pada siapa saja. Namun, lebih berisiko terjadi pada orang-orang dengan kondisi berikut ini:

  • Memiliki anggota keluaraga dengan penyakit gangguan belajar
  • Bayi lahir prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Selama di dalam kandungan, janin terpapar dengan nikotin, obat-obatan, alkohol, atau infeksi yang memengaruhi perkembangan otaknya
  • Kelainan pada struktur otak yang berperan dalam kegiatan mengolah kata dan proses berpikir

Apa saja yang kemungkinan terburuk yang harus dihadapi anak disleksia?

mengurangi stres pada anak remaja

Disleksia sering kali luput dari pengawasan orangtua. Bahkan, ada yang tidak menyadari memiliki penyakit ini, hingga usia dewasa. Perlu Anda ketahui bahwa orang dengan kondisi ini bisa menyebabkan sejumlah masalah, seperti:

  • Proses belajar yang bermasalah. Membaca dan menulis adalah keterampilan dasar yang harus dikuasai seseorang. Bukan hanya untuk belajar saja, tapi juga penting untuk kehidupan dewasa nanti. Anak juga bisa tidak naik kelas karena tertinggal banyak pelajaran. Ketika dewasa, pekerjaan yang bisa dilakukan pun terbatas.
  • Masalah sosial. Tanpa perawatan, kondisi ini bisa membuat anak jadi minder dengan teman-temannya. Selain itu, anak akan cenderung menarik diri dari lingkungan, memiliki masalah dalam berperilaku, cemas, dan lebih agresif.
  • Kesehatan mental jadi lebih buruk. Anak dengan kondisi ini berisiko lebih tinggi mengalami gangguan ADHD. Bila sudah memiliki kondisi ini yang perhatian dan perilaku hiperaktif yang sulit dikontrol membuat disleksia semakin sulit untuk diatasi.

Apakah perlu ke dokter?

membantu belajar anak disleksia

Belajar mengenal huruf, membaca, mengeja, menulis, dan merangkai kata biasanya sudah dipelajari oleh anak-anak prasekolah. Kemampuannya akan semakin terasah setelah memasuki sekolah dasar. Jika Anda melihat tanda-tanda anak tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik, belum tentu itu menjadi pertanda anak memiliki gangguan belajar.

Akan tetapi, pada umumnya anak dengan kondisi ini biasanya tidak dapat memahami dasar-dasar dari pelajaran yang seharusnya dimengerti oleh anak seusianya. Konsultasikan dengan dokter atau psikolog, jika Anda merasa khawatir dengan kondisi anak.

Bagaimana penyakit disleksia didiagnosis?

periksa dokter anak diagnosis

Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat terkait penyakit disleksia pada anak, Anda harus mendatangi sekolah dan menanyakan perkembangan belajar anak di sekolah. Selain itu, ada beberapa tes yang harus anak lakukan, seperti:

  • Meninjau kembali riwayat penyakit kemungkinan ada pada keluarga
  • Tes kemampuan berbicara; tanya jawab atau menceritakan kembali sebuah kejadian
  • Tes pengenalan huruf, kata, atau angka
  • Tes pemahaman makna kata dan isi bacaan
  • Tes mengeja kata dan menulis kata

Selama proses penilaian, pemeriksa harus mengesampingkan kondisi atau penyebab lain yang membuat anak mengalami kesulitan dalam belajar, seperti masalah penglihatan, gangguan pendengaran, atau kurang jelasnya intrusksi saat tes dilakukan.

Jadi, tes lain juga perlu dilakukan oleh anak, seperti tes kesehatan otak dan tes psikologi. Hal ini membantu dokter untuk mengetahui bagaimana kondisi dan fungsi otak anak sekaligus untuk memahami kesehatan mental anak.

Apa yang harus orangtua lakukan jika memiliki anak dengan disleksia?

anak perempuan kasih sayang ayah

Orangtua harusnya cepat tanggap dan peka terhadap kondisi buah hati yang mulai menunjukkan gejala atau ciri gangguan sulit belajar ini sejak dini. Hal ini dapat berimbas kepada kondisi psikologis anak yang ikut terbawa.

Anak bisa merasa depresi dan akan menurunkan kepercayaan diri serta sosialisasinya di lingkungan sekolah karena ketidakmampuannya tersebut.

Sama seperti autisme, tidak ada obat untuk menyembuhkan gangguan belajar ini. Disleksia pada dasarnya juga bukanlah penyakit berbahaya. Namun, terapi rutin bersama psikolog atau konsultan pendidikan dan anak disleksia adalah salah satu cara melatih anak bisa berlaku normal di masyarakat.

Cara meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia

cara mendidik anak balita

1. Menerapkan teknik pembelajaran yang sesuai dengan kondisinya

Karena anak dengan kondisi ini tidak bisa mengikuti proses belajar seperti anak normal, maka teknik belajar harus diubah sesuai dengan kondisi anak. Pembelajaran akan lebih melibatkan kemampuan anak untuk mendengar, melihat, dan merasakan untuk meningkatkan kemampuan membaca. Ini bisa dilakukan jika anak mengikuti home schooling.

Sementara, jika anak mengikuti sekolah umum dan merasa tertinggal banyak pelajaran, Anda bisa mendaftarkan anak ke tempat les khusus untuk membantunya membaca. Biasanya kegiatan ini diadakan oleh lembaga, yayasan, komunitas, atau Anda bisa menyewa guru privat yang bisa mengajarkan anak Anda dengan baik.

Yang terpenting, sesuaikan jadwal les dengan perkembangan belajar anak, setidaknya satu atau dua kali pertemuan setiap minggu. Jangan membuat jadwal belajar anak semakin padat, justru ini akan membuat anak jadi malas dan enggan atau bahkan sakit.

Jangan lupa untuk selalu memantau perkembangan belajar anak di sekolah, menemani, dan membantu anak untuk menyelesaikan pekerjaan sekolahnya di rumah.

2. Mendukung anak untuk terus belajar membaca

Mengajari anak untuk membaca bukan hanya peran bagi pengajar, tapi juga Anda sebagai orangtua. Semakin sering anak berlatih membaca, semakin meningkat juga kemampuannya. Jadi, akan lebih baik jika Anda juga ikut mendukung anak untuk terus berlatih membaca, misalnya:

  • Menyediakan waktu untuk membaca buku bersama.
  • Pilih buku-buku bacaan yang disukai anak.
  • Melatih anak untuk membaca buku dengan bersuara.
  • Bermain tebak kata setelah selesai membaca buku.
  • Berikan rasa nyaman dan menyenangkan bagi anak saat membaca buku bersama supaya anak tidak bosan atau menghilangkan perasan bahwa membaca adalah kegiatan yang menakutkan atau menegangkan.

3. Menunjukkan perhatian dan kasih sayang Anda sebagai orangtua

Agar anak tetap semangat untuk belajar, Anda harus menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada anak. Caranya mudah, seperti memuji atau merayakan setiap kemajuannya dalam belajar. Luangkan satu hari untuk memanjakan anak atas keberhasilannya.

Kemudian, bantu anak untuk memahami kondisinya. Dengan begitu, anak tidak akan merasa dirinya lebih buruk atau tidak beruntung dibandingkan teman-temannya. Ini penting guna membangun kepercayaan diri anak untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Tetap beri anak kebebasan untuk melakukan berbagai hal yang disukainya seperti melukis, bermain bola, atau bermain musik.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca