home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kejang Demam (Step) pada Anak, Apa yang Harus Orangtua Lakukan?

Apa itu kejang demam (step)?|Penyebab kejang demam (step)|Kemungkinan kejang demam terjadi berulang|Apakah kejang demam berbahaya?|Cara mendiagnosis kejang demam pada anak|Pertolongan pertama pada kejang demam (step)|Cara mencegah step
Kejang Demam (Step) pada Anak, Apa yang Harus Orangtua Lakukan?

Kejang pada saat anak demam (step), sering membuat orangtua khawatir. Kondisi ini sering terjadi pada sekitar 2-4 persen anak berumur 6 bulan hingga 5 tahun. Masyarakat sering menghubungkan step dengan kondisi epilepsi dan gangguan perkembangan anak. Namun, benarkah hal tersebut?

 

Apa itu kejang demam (step)?

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), step adalah kejang yang terjadi saat ada peningkatan suhu tubuh.

Biasanya, anak yang mengalami kejang demam memiliki suhu lebih dari 38°Celcius dan menyebabkan suatu proses pada luar otak.

Kondisi ini terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan gejala demam yang mendahului kejang. Gejala step yaitu:

  • anak tidak sadar saat kejang, setelah kejang kesadaran biasanya kembali,
  • kaku pada kaki atau tangan,
  • kaki atau tangan tegang dan bergerak tidak beraturan, hingga
  • mata mendelik atau berkedip-kedip.

Berdasarkan gejala yang timbul, step terbagi atas dua jenis. Pertama, kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit, tidak berulang dalam 24 jam, dan terjadi di seluruh tubuh.

Kedua, kejang demam kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit, dapat berulang dalam 24 jam, dan hanya terjadi pada salah satu bagian tubuh.

Penyebab kejang demam (step)

Belum ada penyebab pasti dari kondisi ini. Namun, mengutip dari Kids Health, beberapa kasus menunjukkan bahwa kondisi ini ada hubungannya dengan virus.

Selain itu, penyebab kejang demam atau step pada anak adalah sebagai berikut.

  • Cara otak anak yang sedang berkembang bereaksi pada kondisi demam tinggi.
  • Suhu tinggi karena adanya peradangan atau penyakit infeksi anak.
  • Faktor genetik.

Step pada setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang kejang saat suhu tubuh mencapai 38°Celcius, ada juga yang baru kejang saat suhunya lebih dari 40°Celcius.

Pada kasus yang sangat langka, step bisa terjadi sebagai efek samping imunisasi.

Kemungkinan kejang demam terjadi berulang

Pada sebagian kasus, kondisi step pada anak dapat berulang. Kemungkinan kejang berulang terutama pada tahun pertama kehidupan bayi.

Faktor yang memengaruhi risiko anak kejang demam berulang yaitu:

  • riwayat dalam keluarga,
  • usia kurang dari 12 bulan,
  • temperatur yang rendah saat kejang, dan
  • cepatnya kejang setelah demam.

Apabila ibu menemukan faktor-faktor di atas, maka kemungkinan step akan berulang sekitar 80 persen.

Sementara itu, apabila tidak ada faktor risiko, kemungkinan berulang sebesar 10-15 persen.

Apakah kejang demam berbahaya?

Sampai saat ini tidak ada laporan kematian anak karena step. Kecacatan sebagai komplikasi juga tidak pernah ada laporannya.

Perkembangan motorik, mental, dan kecerdasan pada anak yang terlahir normal, umumnya tetap normal meski pernah mengalami kondisi ini.

Kejang demam biasanya menghilang dengan sendirinya saat anak berusia 5 tahun. Kejadian epilepsi terjadi pada kurang dari 5 persen anak dengan step.

Ada beberapa hal yang membuat kejang demam memicu epilepsi, seperti:

  • adanya kelainan perkembangan sebelum terjadinya step pertama,
  • step kompleks, atau
  • riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.

Setiap faktor risiko meningkatkan kemungkinan terjadinya epilepsi sebesar 4-6 persen. Apabila ibu menemukan semua faktor, kemungkinan epilepsi meningkat sampai 10-49 persen.

Apabila kejang terjadi di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, atau setelah kejang anak tetap tidak sadar, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan.

Pemeriksaan ini untuk menentukan penyebab lain kejang seperti meningitis, ensefalitis, atau epilepsi.

Cara mendiagnosis kejang demam pada anak

Orangtua perlu membawa si kecil ke dokter bila mengalami hal ini, mengutip dari NHS.

  • Mengalami kejang demam untuk pertama kalinya.
  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit dan tidak ada tanda akan berhenti.
  • Anak kejang dan memiliki penyakit serius lainnya, seperti meningitis.
  • Anak kesulitan bernapas.

Ketika melihat tanda di atas, segera bawa si kecil ke dokter. Petugas medis akan mendiagnosis step berdasarkan kondisi yang terjadi saat itu.

Kemungkinan dokter akan melakukan pemeriksaan darah atau tes urine bila step disertai dengan penyakit serius lain.

Anak akan melakukan observasi untuk diagnosis kondisi ini di rumah sakit, bila mengalami kejang demam yang kompleks. Terutama jika bayi berusia di bawah 12 bulan (kurang dari 1 tahun).

Dokter akan melakukan beberapa tes. Pertama, electroencephalogram (EEG) untuk mengukur aktivitas kelistrikan otak anak. Bila ada pola yang tidak biasa, kemungkinan mengalami epilepsi.

Kedua, prosedur lumbar puncture atau lumbal pungsi. Ini adalah pengambilan cairan tulang belakang dan otak (serebrospinal).

Serebrospinal (CSF) adalah cairan bening yang mengelilingi dan melindungi otak dan sumsum tulang belakang.

Prosedur lumbar puncture bisa dokter gunakan untuk menentukan apakan anak mengalami infeksi pada otak atau sistem sarafnya.

Pertolongan pertama pada kejang demam (step)

Kejang demam merupakan kondisi yang umumnya tidak berbahaya sehingga orangtua tidak perlu khawatir berlebihan apabila terjadi kejang.

Berikut hal-hal yang dapat ibu lakukan saat anak kejang.

  1. Tetap tenang dan tidak panik.
  2. Pindahkan anak ke tempat aman, jauhkan dari barang berbahaya seperti barang pecah belah, benda tajam, atau sumber listrik.
  3. Longgarkan pakaian yang ketat, terutama sekitar leher.
  4. Ukur suhu anak saat kejang.
  5. Amati seberapa durasi dan apa yang terjadi saat kejang untuk data dokter saat pemeriksaan. Ibu bisa merekamnya dengan ponsel.
  6. Miringkan anak agar makanan atau minuman dalam mulut keluar sehingga tidak tersedak.
  7. Hindari memasukkan apapun ke dalam mulut anak.
  8. Hindari menahan kaki atau tangan anak dengan paksa saat kejang karena dapat menimbulkan patah tulang.
  9. Tetap bersama anak saat kejang.

Bila sebelumnya pernah kejang, dokter biasanya membekali orangtua dengan obat diazepam yang dimasukkan lewat bokong.

Berikan jika anak masih kejang dan jangan hentikan bila kejang sudah berhenti.

Cara mencegah step

Prinsip pencegahan kondisi ini adalah dengan menurunkan panas saat anak demam dengan pemberian obat pereda demam, seperti paracetamol.

Pilihlah bentuk obat cair (sirup) yang sesuai dan mudah anak-anak konsumsi. Bagi bayi yang belum bisa mengonsumsi obat oral, ibu bisa menggunakan obat melalui rektal (dubur).

Berikan anak kompres hangat, pada dahi, ketiak, atau lipatan siku. Berikan anak minum yang banyak untuk menurunkan suhu.

Sebaiknya orangtua memiliki termometer di rumah agar dapat mengukur suhu anak dan dapat memberikan pencegahan.

Bila memang anak Anda sering mengalami kejang demam, berkonsultasilah ke dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pusponegoro, Hardiono D. Widodo, Dwi Putro. Ismael, Sofyan. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2006.

Kejang Demam: Tidak Seseram yang Dibayangkan. (2014). Retrieved 30 September 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kejang-demam-tidak-seseram-yang-dibayangkan

Febrile seizures . (2017). Retrieved 30 September 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/febrile-seizures/

Febrile Seizures (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 30 September 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/febrile.html

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 15/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x