Berapa Banyak Garam yang Aman Dikonsumsi Anak-anak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Maret 16, 2020
Bagikan sekarang

Sebuah studi menyatakan bahwa pola makan pada anak akan tercermin saat dewasa nanti. Menciptakan kebiasaan makan makanan tanpa atau minim garam pada orang dewasa sangat sulit karena lidah orang dewasa biasanya tak menyukai makanan hambar. Maka dari itu, mengurangi kadar garam pada makanan lebih baik diajarkan sejak dini. Jika sejak kecil menu makanan anak tidak diberi garam sama sekali atau diberi garam hanya sedikit saja, anak akan terbiasa menyukai makanan minim garam saat ia dewasa nanti. Ketahui aturan pemberian garam untuk anak dalam artikel ini.

Berapa kadar garam yang dibutuhkan anak?

Umumnya bayi dan anak hanya membutuhkan sedikit garam dalam menu makanan mereka. Tetapi, karena makanan yang Anda beli seperti roti, kacang panggang, dan biskuit biasanya mengandung terlalu banyak garam, tanpa diketahui ini akan membuat anak Anda mengonsumsi garam secara berlebihan.

Kadar garam terlalu tinggi sudah sangat familiar kaitannya dengan tekanan darah tinggi di kalangan orang dewasa. Namun saat ini, sudah banyak studi khusus anak yang menunjukkan bahwa kadar garam terlalu tinggi juga dapat memengaruhi tekanan darah dan meningkatkan risiko beberapa penyakit pada anak, termasuk: tekanan darah tinggi (hipertensi), osteoporosis, gangguan pernapasan seperti asma, kanker lambung, dan obesitas. Itu sebabnya penting memperhatikan asupan garam untuk anak Anda.

Berdasarkan Angka Kecukupan Mineral yang dianjurkan untuk orang Indonesia,  kadar maksimum yang direkomendasikan dalam mengonsumsi garam untuk anak adalah:

  • Sebelum anak Anda berumur 6 bulan, anak Anda hanya membutuhkan garam yang terkandung dalam ASI atau susu formula.
  • Usia 6-12 bulan: 200 mg sodium/hari
  • Usia 1-3 tahun: 1000 mg sodium/hari
  • Usia 4-6 tahun: 1200 mg sodium/hari
  • Usia 7-9 tahun: 1200 mg sodium /hari
  • Usia 11 tahun ke atas: 1500 mg sodium/hari

Bayi yang diberikan ASI akan mendapatkan kadar garam yang cukup dari ASI. Susu formula juga mengandung kadar garam yang kurang lebih sama dengan ASI.

Tips mempersiapkan makanan rendah garam untuk anak

Saat Anda mulai memperkenalkan makanan padat, ingatlah untuk tidak menambahkan garam pada makanan yang akan Anda berikan kepada bayi Anda, karena ginjal mereka tidak dapat memprosesnya. Anda juga sebaiknya menghindari pemberian makanan cepat saji yang bukan dibuat khusus untuk bayi, seperti sereal, karena mereka mengandung kadar garam yang tinggi.

Banyak makanan anak yang mengandung garam tinggi. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memeriksa dengan cermat kandungan nutrisi sebelum Anda membeli produk bagi anak Anda. Jumlah garam umumnya dapat dihitung dari jumlah sodium atau natrium yang terkandung di dalamnya.

Sebagai gambaran, makanan yang mengandung lebih dari 0.6 gr sodium setiap 100 gr, tergolong memiliki kadar garam tinggi. Anda dapat menghitung kadar garam pada makanan dengan mengalikan jumlah sodium dengan 2.5. Sederhananya, 1 gram sodium per 100 gram makanan sama dengan 2.5 gram garam. Jadi, jika Anda mengonsumsi makanan yang mengandung 0.6 gram sodium ini berarti makanan tersebut mengandung 1,5 gram garam.

Anda dapat mengurangi jumlah garam yang diberikan pada anak Anda dengan menghindari makanan ringan yang asin, seperti keripik dan biskuit, dan mengganti dengan makanan ringan rendah kadar garam. Cobalah pilihan camilan sehat seperti buah kering, sayuran potong mentah, dan buah segar.

Dengan memastikan anak Anda tidak mengonsumsi terlalu banyak garam, Anda dapat memastikan bahwa anak Anda akan memakan sedikit garam saat beranjak dewasa. Tidak hanya itu, membatasi asupan garam untuk anak sejak dini juga akan mencegah anak Anda terkena berbagai penyakit di kemudian hari.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman untuk Ibu Menyusui yang Positif COVID-19

Pandemi COVID-19 memang meresahkan semua orang, termasuk ibu menyusui. Lantas, bagaimana dengan ibu yang positif terinfeksi coronavirus tetap menyusui?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 April 21, 2020

Bagaimana Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Bisa Memicu Hipertensi?

Menurut penelitian di tahun 2018, keadaan post-traumatic stress disorder yang dimiliki seseorang bisa memicu naiknya risiko hipertensi.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Hipertensi, Health Centers April 20, 2020

Benarkah Ada Bahaya Minum Bubble Tea untuk Kesehatan?

Apakah Anda penggemar bubble tea? Dibalik rasa manisnya, ada bahaya bubble tea terhadap kesehatan yang mengintai. Baca informasi lengkapnya di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Novi Sulistia Wati
Nutrisi, Hidup Sehat Maret 11, 2020

Tips Menyusui yang Baik Sesuai Bentuk Puting Ibu

Tidak semua ibu menyusui dengan mudah. Pada beberapa ibu, ada yang bermasalah dengan putingnya dan membuat menyusui terasa sulit.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Parenting, Menyusui Februari 23, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal tayang Mei 17, 2020
11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Tanggal tayang Mei 14, 2020
5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 4, 2020
Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal tayang April 22, 2020